NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Berubah Menjadi Neraka Dunia

Plak!

​Tamparan keras berkecepatan tinggi itu mendarat telak di pipi mulus Alessa, menciptakan suara dentuman daging yang menggema luhur di dalam ruang tamu yang pengap. Saking kerasnya hantaman itu, tubuh ringkih Alessa terpelanting, berputar setengah lingkaran di udara sebelum akhirnya terjerembab ke lantai ubin semen yang dingin dan berdebu. Sudut bibirnya yang tipis dan merah muda langsung pecah, mengeluarkan setitik darah segar yang mengalir perlahan, meninggalkan rasa asin sekaligus anyir yang menusuk di lidahnya.

​"Anak sialan! Di mana kamu sembunyikan sisa uang belanja bulan ini, hah?! Jangan pura-pura tuli kamu, Alessa!" raung Rian.

​Napas kakaknya itu memburu tidak beraturan, seperti banteng terluka yang kehilangan akal sehat. Bau alkohol murahan jenis oplosan menguar pekat dari mulut dan pori-pori kulitnya, memenuhi rongga udara rumah dan membuat lambung Alessa bergejolak mual. Sepasang mata Rian tampak merah meradang, dipenuhi oleh kegilaan dan keputusasaan seorang pecandu judi akut yang baru saja kehilangan seluruh taruhannya di meja judi gelap pinggiran kota. Rambutnya berantakan, bajunya kusut, dan aura iblis begitu kental memancar dari tubuhnya.

​Alessa mencengkeram dadanya yang mendadak sesak, mencoba menghirup oksigen yang seolah sengaja menjauh dari paru-parunya. Rasa sakit yang berdenyut-denyut di pipi kirinya luar biasa menyiksa, namun itu sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya dinding hati nuraninya.

​“Mamma, Papà... kenapa kalian tega meninggalkan Alessa sendirian di dunia yang kejam ini bersama monster ini?” jerit Alessa dalam hati, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, membuat pandangannya terhadap sekeliling menjadi buram dan berbayang.

​Dua tahun lalu, rumah ini adalah definisi dari surga kecil yang paling hangat. Setiap sudutnya dipenuhi tawa, aroma masakan masakan rumahan, dan pelukan hangat dari kedua orang tua mereka. Namun, sebuah kecelakaan tragis di jalan tol telah merenggut nyawa ayah dan ibu mereka dalam sekejap mata. Sejak hari pemakaman yang kelabu itu, struktur kehidupan mereka runtuh total. Rian, yang dulunya adalah sosok kakak laki-laki pelindung yang penuh kasih, perlahan menjelma menjadi monster akibat depresi, utang yang menumpuk, dan pelarian ke dunia hitam. Rumah masa kecil mereka yang penuh memori indah kini telah resmi bermutasi menjadi inferno—sebuah neraka dunia sejati yang mengurung Alessa dalam lingkaran setan siksaan, makian, dan air mata yang tiada akhir.

​"Aku... aku tidak punya uang lagi, Kak... Per favore (tolong), dengarkan aku dulu," bisik Alessa dengan suara parau yang bergetar hebat, menahan rasa sakit yang menjalar ke rahangnya. "Uang yang tersisa kemarin benar-benar sudah habis untuk membayar tagihan listrik yang menunggak tiga bulan dan membeli obat salep untuk memar di lenganku yang kemarin... Aku tidak bohong, Kak."

​"Bohong! Dasar anak haram jadah, pintar sekali kamu bersilat lidah!"

​Tanpa belas kasih sedikit pun, Rian melangkah maju dan menjambak rambut panjang hitam kecokelatan milik Alessa dengan sangat kasar. Tarikan itu begitu kuat hingga memaksa kepala Alessa mendongak paksa, memperlihatkan wajahnya yang luar biasa cantik namun dipenuhi rona ketakutan yang teramat sangat. Alessa meringis kesakitan, kedua tangannya refleks mencengkeram pergelangan tangan Rian yang sekasar parutan kelapa, mencoba sekuat tenaga mengurangi tekanan yang seolah-olah ingin mencabut seluruh kulit kepalanya.

​"Wajah cantikmu yang mirip boneka ini sama sekali tidak ada gunanya kalau tidak bisa menghasilkan uang untukku! Dengar ya, Alessa! Besok malam, kalau aku tidak bisa melunasi utang taruhanku kepada rentenir pasar, aku tidak akan segan-segan menyerahkanmu kepada muncikari di pelabuhan! Mereka pasti mau membayar mahal untuk barang sepertimu!" teriak Rian tepat di depan wajah Alessa, ludahnya menciprat ke mana-mana, membawa hawa kemarahan yang membakar.

​Cacian, makian, hinaan fisik, hingga ancaman untuk dijual ke tempat pelacuran sudah menjadi menu makanan sehari-hari yang harus ditelan Alessa dengan paksa. Mendengar ancaman yang semakin hari semakin gila itu, seketika sebersit rasa amarah yang membara mulai menyelinap di antara rasa takut di dalam dada Alessa. Mengapa? Mengapa harus dia yang menanggung semua dosa, keserakahan, dan kegilaan yang dilakukan oleh Rian? Apa salahnya kepada dunia hingga dia harus dilahirkan untuk menjadi samsak hidup bagi kakak kandungnya sendiri?

​Dia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya, ingin mengambil vas bunga di dekatnya dan memukulkannya ke kepala Rian yang bebal itu, ingin membalas setiap rasa sakit yang dia terima. Namun, kenyataan pahit bahwa fisik Alessa terlalu ringkih dan trauma mendalam yang mengakar di otaknya seketika mengunci rapat-rapat seluruh keberanian yang sempat memercik. Dia kembali lumpuh. Pada akhirnya, Alessa hanya bisa menangis pasrah, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang lebam, sementara tubuhnya diseret tanpa ampun di atas lantai kasar menuju bagian belakang rumah.

​Rian membuka pintu kayu kecil di bawah kolong tangga dengan kasar, lalu melemparkan tubuh Alessa ke dalamnya seperti melemparkan sekarung beras busuk. Tubuh Alessa menghantam tumpukan kardus bekas dan perkakas tua yang berdebu.

​"Malam ini kamu tidur di sini tanpa makan! Renungkan semua kesalahanmu!"

​Brak!

​Pintu kayu itu dibanting dari luar dengan kekuatan penuh, disusul suara anak kunci yang diputar dengan kasar. Kegelapan total langsung menyergap Alessa dalam sekejap mata. Ruangan bawah tangga itu sangat sempit, pengap, berdebu, dan dipenuhi aroma apek dari barang-barang yang tidak terpakai.

​Alessa meringkuk, melipat kedua lututnya erat-erat ke dada, lalu memeluk dirinya sendiri dalam upaya sia-sia untuk mencari sedikit kehangatan di tengah dinginnya malam dan kejamnya takdir. Tangisnya yang semula tertahan kini pecah sejadi-jadinya. Isak tangis yang menyayat hati terdengar memenuhi ruangan sempit itu, beradu dengan suara detak jantungnya yang berpacu liar. Dadanya naik turun dengan sangat tidak teratur, menahan rasa sesak yang luar biasa hebat hingga setiap tarikan napas terasa laksana duri-duri tajam yang menusuk ke dalam paru-parunya. Emosi kesedihan yang mendalam, rasa kehilangan orang tua yang belum pulih, ditambah rasa sakit fisik yang bertubi-tubi benar-benar mencekik jiwanya hingga ke titik nadir terendah. Dia merasa benar-benar hancur, kotor, dan tak berharga.

​Namun, di tengah-tengah drama kehidupan yang begitu tragis dan menguras air mata itu, sebuah pemandangan aneh tiba-tiba menarik perhatian Alessa yang sedang menangis sesenggukan. Melalui celah cahaya bulan yang samar-samar menembus lubang ventilasi kecil, Alessa melihat sekelebatan bayangan hitam kecil yang bergerak-gerak di atas kepalanya.

​Dia mendongak perlahan dengan mata yang masih basah dan hidung yang memerah. Ternyata, seekor kecoak berukuran cukup besar, lengkap dengan dua antena panjangnya yang bergoyang-goyang aktif, sedang merayap santai di langit-langit tripleks yang bocor tepat di atas posisinya berada.

​Alessa terdiam sejenak. Isak tangisnya mendadak berhenti. Dia menatap kecoak itu, lalu menatap pintu kamar yang dikunci dari luar.

​Dengan gerakan pelan, Alessa menghapus air mata dan ingusnya menggunakan ujung lengan bajunya yang sudah robek dengan kasar. Dia mendengus pelan, lalu berkomat-kamit dengan suara yang serak dan parau akibat terlalu banyak menangis.

​"Heh, kecoak..." bisik Alessa, nadanya mendadak datar dan penuh kepasrahan yang absurd. "Gue saranin mendingan lu cepat-cepat terbang keluar dari rumah ini sekarang juga deh, sebelum kakak gue yang gila di luar sana tahu kalau lu ada di sini."

​Kecoak itu berhenti bergerak, seolah-olah sedang mendengarkan petuah dari sang gadis cantik yang malang.

​Alessa melanjutkan bisikannya dengan nada sarkasme yang kental, "Serius, gue kagak bercanda. Kalau sampai Rian lihat lu punya sayap yang agak mengilap begini, gue jamin besok pagi lu bakal ditangkap, dimasukkan ke dalam toples, terus dibawa ke pasar taruhan buat digadaikan jadi modal main judi slot. Mending lu selamatkan nyawa lu yang berharga itu, kawan. Beban hidup di rumah ini terlalu berat buat ukuran serangga sekecil lu."

​Setelah mengucapkan kalimat yang luar biasa tidak masuk akal itu, Alessa tiba-tiba mendengus dan melepaskan tawa getir yang pelan namun terdengar geli. Tawa yang sangat absurd di tengah kondisi tubuhnya yang babak belur dan disekap di dalam gudang gelap. Namun, bagi Alessa, humor sarkasme dan komedi gelap seperti inilah yang menjadi satu-satunya benteng pertahanan psikologis terakhir yang dia miliki. Dia sadar betul, jika dia terus-menerus meratapi nasibnya tanpa menyelipkan sedikit pun kegilaan komedi ke dalam pikirannya, maka jiwanya pasti sudah hancur dan dia akan berakhir di rumah sakit jiwa sejak satu tahun yang lalu. Menertawakan kemalangan sendiri adalah cara Alessa untuk tetap waras, cara dia memberi tahu dunia bahwa meskipun fisiknya disiksa habis-habisan, jiwanya yang jenaka tidak akan pernah bisa dijajah oleh siapa pun.

​Di luar kamar, terdengar suara dentuman keras lainnya. Rupanya Rian sedang meluapkan amarahnya dengan menendang kursi ruang tamu karena tidak menemukan sepeser uang pun di dalam rumah, disusul oleh sumpah serapah dengan kata-kata kotor yang sangat tidak pantas didengar.

​Alessa kembali menyandarkan kepalanya ke dinding tripleks yang lapuk. Rasa sakit di sudut bibirnya kembali berdenyut saat dia mencoba tersenyum kecut. Dia memejamkan mata perlahan, merasakan perih yang membakar di pipinya, sementara sisa-sisa air mata dingin masih membekas di kulitnya. Di dalam kegelapan dan kesendirian itu, kemarahan yang tadinya sempat padam kini kembali mengendap di dasar hatinya, perlahan-lahan mengkristal menjadi sebuah tekad yang bulat.

​“Aku harus pergi dari tempat ini,” batinnya dengan sangat teguh. “Entah bagaimana caranya, entah besok atau lusa, aku harus melarikan diri dari neraka ini. Aku tidak sudi mati konyol di tangan kakak kandungku sendiri.”

​Malam itu, di dalam ruangan bawah tangga yang pengap, Alessa tertidur dalam posisi meringkuk dengan perut yang keroncongan, ditemani oleh seekor kecoak di atas langit-langit, dan sebuah mimpi tentang kebebasan yang terasa sangat jauh, sejauh bintang-bintang di langit Italia yang sering diceritakan oleh mendiang ibunya sewaktu kecil. Dia tidak pernah tahu, bahwa roda takdir yang luar biasa besar sedang bergerak mendekat, siap menjemputnya dan melemparkannya ke dalam pelukan seorang pria yang akan mengubah seluruh penderitaannya menjadi sebuah dongeng kemewahan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Namun sebelum malam indah itu tiba, dia harus melewati sisa-sisa badai di neraka ini terlebih dahulu.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!