NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Rahasia yang Hanya Milik Kita Berdua

Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya. Di dalam mobil, Aditya duduk diam, punggungnya bersandar di kursi, tapi pikirannya melayang jauh, hatinya terasa berat seolah ada batu besar yang diletakkan di dalam dadanya. Tangan kanannya terus menyentuh saku baju tempat ia menyimpan amplop berisi semua bukti dan kebenaran itu—benda yang jika dilihat oleh orang lain, bisa mengubah seluruh jalan hidup Luna dalam sekejap.

Di satu sisi ia lega. Ardiansyah sudah pergi, berjanji tidak akan pernah kembali, tidak akan pernah mengganggu mereka lagi. Ancaman sudah hilang, bahaya sudah berlalu, dan Luna tidak akan pernah tahu apa-apa. Ia akan tetap hidup tenang, bahagia, tanpa harus merasakan rasa sakit, kekecewaan, atau malu jika tahu kenyataan yang sebenarnya.

Tapi di sisi lain... rasa bersalah itu terus saja menggerogoti hatinya. Ia baru saja memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran dari wanita yang ia cintai, wanita yang ia janjikan akan selalu jujur dan terbuka dalam segala hal. Ia tahu, jika Luna sampai tahu suatu hari nanti, mungkin ia akan marah, mungkin ia akan kecewa, mungkin ia akan merasa dikhianati... tapi Aditya rela menanggung semua risiko itu. Baginya, lebih baik ia yang menanggung beban berat ini sendirian, daripada melihat wanita itu terluka sedikit pun.

"Apakah semua berjalan lancar, Tuan?" tanya sopirnya memecah kesunyian, ia melihat dari kaca spion bahwa wajah tuannya terlihat berbeda—bukan lagi wajah tegas dan penuh amarah seperti saat berangkat tadi, melainkan wajah yang lelah, penuh pikiran, tapi juga lembut.

Aditya mengangguk pelan, suaranya terdengar rendah. "Ya. Semuanya sudah selesai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."

Begitu mobil memasuki halaman kediaman Tanudjaya, ia melihat sosok wanita yang sudah ia rindukan seharian itu berdiri di teras depan, menunggu kedatangannya. Luna mengenakan gaun berwarna putih lembut, rambutnya terurai indah diterpa angin sore, dan begitu melihat mobilnya berhenti, wajah wanita itu langsung bersinar, matanya berbinar bahagia, dan ia segera berlari kecil mendekatinya.

Begitu Aditya turun dari mobil, Luna langsung berhenti tepat di hadapannya, menatapnya dari atas ke bawah, memastikan lelaki itu benar-benar baik-baik saja, tidak ada luka, tidak ada apa-apa.

"Tuan... kamu baik-baik saja? Tidak apa-apa terjadi? Dia... dia sudah pergi kan? Dia tidak akan datang lagi?" tanyanya bertubi-tubi, tangannya dengan lembut menyentuh lengan, bahu, bahkan wajah Aditya, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa lelaki itu kembali dengan selamat.

Melihat ketakutan dan kekhawatiran di wajah Luna, semua beban berat di hati Aditya seolah langsung berkurang setengahnya. Ia tersenyum—senyum paling lembut, paling tulus, dan paling hangat yang hanya bisa ia berikan untuk wanita ini seorang saja. Ia langsung menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya, memeluknya erat sekali, menempelkan wajahnya di ceruk leher Luna, menghirup aroma wangi bunga kesukaan wanita itu yang selalu menjadi ketenangan baginya.

"Tenanglah, sayangku... semuanya sudah berakhir. Dia sudah pergi, berjanji tidak akan pernah kembali, tidak akan pernah mengganggu kita lagi. Kamu aman sekarang. Tidak ada lagi bahaya, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Mulai hari ini, kamu bisa tidur nyenyak, tenang, damai... selamanya," bisik Aditya tepat di samping telinga Luna, suaranya lembut namun penuh kepastian.

Luna terasa lega luar biasa. Seluruh rasa cemas, takut, dan gelisah yang ia rasakan sejak semalam perlahan lenyap, berganti dengan rasa damai yang luar biasa. Ia membalas pelukan itu sekuat tenaga, memeluk pinggang Aditya erat-erat, seolah takut jika ia melepaskannya, momen bahagia ini akan hilang begitu saja.

"Syukurlah... terima kasih Tuan... terima kasih sudah menyelamatkanku lagi..." bisiknya dengan suara bergetar karena rasa haru. "Aku tidak tahu harus berbuat apa jika sesuatu terjadi padamu... kamu adalah segalanya bagiku, Tuan. Segalanya."

Mendengar kata-kata itu, hati Aditya terasa perih, tapi juga terasa hangat dan penuh cinta. Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Luna dengan kedua tangannya, menatap wajah wanita itu lekat-lekat—menatap mata indah, hidung mungil, bibir merah muda, setiap inci wajah yang ia kenal luar dalam, wajah yang menjadi sumber kebahagiaan sekaligus kekuatan terbesarnya.

"Jangan pernah berterima kasih padaku, Luna. Aku melakukan ini semua bukan karena aku mau menyelamatkanmu... tapi karena aku tidak bisa hidup tanpamu. Kalau sesuatu terjadi padamu, berarti separuh nyawaku juga akan ikut mati. Ingat itu baik-baik ya..." ucap Aditya lembut, lalu ia mencium kening Luna lama sekali, penuh kasih sayang, penuh rasa sayang yang tak terkira.

Malam itu, suasana di rumah besar itu kembali seperti sedia kala—tenang, damai, hangat, penuh ketenangan yang selama ini mereka miliki. Semua orang kembali tersenyum, bergerak santai, seolah kejadian menakutkan semalam hanyalah mimpi buruk yang sudah berlalu dan tak akan pernah datang lagi.

Malam itu juga, mereka makan malam berdua di teras belakang, di tempat favorit mereka—tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu sore hingga malam, ditemani cahaya lampu remang, suara gemerisik daun, dan udara sejuk yang menenangkan. Luna bercerita banyak hal: tentang rencananya untuk mengembangkan yayasan amal, tentang bagaimana ia ingin membantu anak-anak yatim dan orang miskin, tentang keinginannya suatu hari nanti bisa pergi berkeliling dunia bersama Aditya, melihat tempat-tempat indah, mengalami hal-hal baru berdua.

Aditya hanya duduk di sana, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu dengan perhatian penuh, sesekali tersenyum, sesekali mengangguk, tapi di dalam hatinya ia berjanji dalam hati: Semua yang kamu inginkan, sayangku... aku akan usahakan semuanya. Aku akan berikan kamu segalanya, kebahagiaan apa pun yang kamu mau, selama aku masih mampu bernapas.

Saat malam sudah makin larut, mereka berdua duduk di ayunan kayu besar di bawah pohon tua itu, Luna duduk di antara kedua kaki Aditya, bersandar nyaman di dada bidang lelaki itu, merasakan detak jantungnya yang teratur dan kuat—suara yang menjadi jaminan teraman baginya di seluruh dunia.

"Tuan..." panggil Luna pelan, suaranya hampir seperti bisik, terdengar manis dan lembut di telinga Aditya.

"Ya, sayang?" jawab Aditya, tangannya dengan lembut menyisir rambut panjang Luna, membelai lembut punggung wanita itu, seolah sedang membelai benda paling halus dan berharga di dunia ini.

"Aku... aku sudah besar sekarang ya? Aku sudah tidak lagi gadis kecil yang lemah, takut-takut, dan tidak berdaya seperti dulu..." ucap Luna perlahan, wajahnya sedikit berubah menjadi malu, pipinya memerah cantik diterpa cahaya bulan. "Dan... dan semua bahaya sudah selesai, semua masalah sudah beres, tidak ada lagi yang perlu kita takutkan. Tuan... kapan... kapan kita akan menikah? Aku... aku sudah siap menjadi istri Tuan, menemanimu seumur hidup, mengurus rumah tangga kita, membahagiakan Tuan... selamanya."

Jantung Aditya berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. Tatapannya menatap langit malam yang penuh bintang, tapi pikirannya kembali melayang pada isi amplop di dalam lemari kerja kamarnya—kebenaran yang bisa mengubah segalanya, rahasia yang jika diketahui orang lain, bisa membuat Luna tidak berhak lagi atas nama keluarga ini, tidak berhak atas harta ini, bahkan bisa membuat banyak orang memandangnya dengan pandangan yang berbeda.

Tapi... apa bedanya itu semua?

Bagi Aditya, Luna tetaplah Luna. Wanita yang ia cintai, wanita yang ia inginkan menjadi pendamping hidupnya, wanita yang akan ia nikahi, tidak peduli siapa orang tuanya, tidak peduli apa nama keluarganya, tidak peduli apa pun rahasia masa lalunya.

Ia memutar tubuh Luna hingga wanita itu menghadap ke arahnya, lalu ia menatap mata Luna dalam-dalam, tatapan yang penuh cinta, janji, dan kesetiaan yang tak akan pernah pudar sampai mati.

"Luna..." ucap Aditya pelan, suaranya berat, lembut, dan sangat menyentuh hati. "Dengarkan aku baik-baik ya. Bagiku, kamu sudah menjadi istriku sejak lama. Sejak hari pertama aku melihatmu, sejak hari pertama aku tahu aku mencintaimu, hatiku sudah milikmu sepenuhnya, dan hatimu sudah menjadi milikku selamanya. Urusan surat, upacara, pernikahan... itu hanya soal waktu, hanya soal tanda tangan di atas kertas, hanya soal memberitahu dunia bahwa kita milik satu sama lain."

Aditya mengangkat tangan Luna, mencium punggung tangan itu lama sekali, lalu menatap kembali wajah wanita itu.

"Kita akan menikah. Sebentar lagi. Aku akan mengadakan pernikahan terindah, paling megah, paling indah yang pernah ada. Aku akan membuat semua orang tahu... kamu adalah wanita yang paling beruntung, dan aku adalah lelaki yang paling beruntung di dunia ini karena bisa memilikimu. Tidak ada yang bisa menghalangi kita. Tidak ada rahasia, tidak ada masa lalu, tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita. Ingat itu ya? Tidak akan pernah ada."

Mendengar janji itu, hati Luna terasa penuh, hangat, dan bahagia sekali. Ia mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca karena rasa haru, lalu ia mendekatkan wajahnya, mencium pipi, pipi, hingga akhirnya mencium bibir Aditya dengan ciuman yang malu-malu namun penuh cinta, penuh rasa sayang, dan penuh harapan akan masa depan yang indah di hadapan mereka.

Aditya membalas ciuman itu dengan lembut, penuh rasa cinta yang meluap, membiarkan dirinya tenggelam dalam kelembutan wanita yang menjadi seluruh hidupnya ini.

Malam itu, saat Luna sudah kembali ke kamarnya dan tertidur pulas dengan perasaan paling tenang dan bahagia, Aditya masih duduk di ruang kerjanya sendirian. Di hadapannya tergeletak amplop cokelat itu—isi yang menjadi satu-satunya rahasia besar yang akan ia simpan selamanya, rahasia yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada Luna sekalipun.

Ia membuka kembali semua kertas itu, membacanya sekali lagi, lalu dengan tenang ia membakarnya satu per satu di dalam asbak logam besar itu. Kertas-kertas tua, surat-surat, bukti-bukti, semuanya perlahan terbakar menjadi abu, hilang menjadi asap yang naik ke atas, hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa, tidak ada jejak, tidak ada bukti, seolah-olah rahasia ini tidak pernah ada di dunia ini sejak awal.

Aditya menatap abu yang tersisa itu, lalu tersenyum tipis.

"Ini sudah selesai... batinnya bergumam dalam hati. Semua yang tertulis di sini sudah mati, sudah hilang, tidak akan pernah ada yang tahu. Bagiku, bagimu, bagi dunia... kamu adalah Luna Tanudjaya, cucu kandung Arthur Tanudjaya, pewaris sah keluarga ini, wanita yang aku cintai, wanita yang akan aku nikahi, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Tidak akan pernah ada."

Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar, melihat ke arah kamar Luna yang lampunya sudah mati—tanda wanita itu sudah tidur nyenyak, aman, damai.

"Maafkan aku, Luna... aku menyembunyikan ini darimu. Tapi aku melakukan ini semua hanya untukmu. Aku rela menjadi satu-satunya orang yang tahu kebenaran ini, menjadi satu-satunya orang yang menyimpan beban ini... asalkan kamu bisa tetap bahagia, tetap aman, tetap menjadi dirimu sendiri. Apa pun yang terjadi, apa pun yang akan datang... ingat satu hal saja: aku akan selalu ada di sisimu. Selamanya."

Malam itu, bintang-bintang bersinar terang di langit, seolah menjadi saksi bisu dari janji cinta abadi itu—cinta yang lebih kuat dari masa lalu, lebih kuat dari rahasia, lebih kuat dari apa pun yang ada di dunia ini.

Namun Aditya belum tahu... bahwa meskipun semua bukti sudah dibakar, meskipun Ardiansyah sudah pergi, meskipun semuanya terasa aman dan tenang... takdir masih menyimpan satu kejutan lagi. Satu hal yang tak pernah ia duga, satu orang yang tak pernah ia sangka, yang suatu hari nanti akan datang kembali, dan sekali lagi akan mengguncang dunia mereka berdua.

Tapi untuk saat ini... biarlah semuanya baik-baik saja. Biarlah kebahagiaan ini terus berlanjut, selamanya.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
😄👍
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!