NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Serigala di Dua Medan

Suasana di dalam ruang perpustakaan pribadi kediaman megah Wirawan Dirgantara terasa begitu sunyi dan sarat akan wibawa. Di luar jendela besar yang menghadap ke arah taman dalam, hujan gerimis mulai membasahi dedaunan, menciptakan ketenangan yang dingin.

Wirawan duduk tenang di balik meja kayu jati, menatap sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang berdiri di hadapannya dengan sikap hormat yang mutlak.

Pria itu adalah Banyu Permana, pemegang kendali operasional rahasia yang mengomandoi sisa-sisa aset dan strategi pemulihan Dirgantara Perkasa dari balik layar.

Di dunia luar, sejak pengumuman pailit yang menggemparkan itu, publik mengira imperium bisnis tersebut telah runtuh.

Namun di kediaman ini, di bawah koordinasi rahasia Banyu, seluruh jaringan bisnis tersembunyi milik Wirawan sebenarnya masih berdenyut kencang, bergerak rapi seperti mesin yang menunggu waktu untuk melompat kembali.

"Bagaimana perkembangan di dua lini, Banyu?" tanya Wirawan, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi ketegasan seorang maestro.

Banyu menyerahkan selembar dokumen ringkas yang terenkripsi.

"Tuan Muda Elang menunjukkan progres yang luar biasa di luar prediksi kita, Pak. Malam itu, tim kita terpaksa membersihkan tiga preman di depan angkringan secara senyap. Dan siang ini di kampus, Tuan Muda berhasil menggagalkan jebakan yang dirancang oleh kelompok Wijaya Samudra untuk menjatuhkan mahasiswi bernama Citra Kencana. Tuan Muda bergerak sendiri, menggunakan instingnya, tanpa memicu keributan."

Wirawan menarik napas panjang, dan seulas senyum kepuasan yang teramat tipis terukir di wajahnya yang mulai dihiasi keriput usia.

"Anak itu... dia mulai belajar melihat esensi bahaya sebelum badai datang. Skenario kebangkrutan buatan kita membuahkan hasil. Lalu, bagaimana dengan Bramantyo?"

Raut wajah Banyu berubah sedikit melunak, ada nada simpati yang tertahan saat ia menjawab.

"Pak Bramantyo hidup tenang di pinggiran kota, dekat makam mendiang Ibu. Beliau membuka agen kelontong sembako kecil-kecilan dengan sisa tabungannya. Penghasilannya sangat minim, Pak, tapi jiwa bisnisnya tetap berjalan. Setiap pagi, beliau selalu membersihkan makam Ibu dan terlihat sangat menyesali kesalahan masa lalunya."

Wirawan memejamkan matanya sejenak. Ada denyut kesunyian yang dalam di rongga dadanya.

"Bagus! Sengaja aku membiarkan uang tabungannya tersisa, agar dirinya bisa berpikir. Biarkan dia di sana untuk sementara waktu. Tanah keras adalah guru terbaik untuk membersihkan sifat kesombongan darah dagingku. Terus awasi mereka berdua, Banyu. Jangan biarkan Rania atau sirkelnya menyadari bahwa kita memegang kendali penuh atas papan catur ini dari rumah ini."

"Baik, Pak. Perintah dilaksanakan," jawab Banyu sebelum membungkuk hormat dan melangkah keluar dari ruangan.

*

Sementara itu, di belahan kota yang lain, mendung sore hari Jakarta yang pekat seolah menjadi latar bagi amarah yang membakar ulu hati Wijaya Samudra.

Setelah dipermalukan secara telak oleh Elang di dalam ruang kelas beberapa jam lalu, harga diri Samudra sebagai penguasa sosial fakultas runtuh berkepingkeping. Rasa malu yang menumpuk di depan Natasha kian bermutasi menjadi dendam kesumat yang tak tertahankan.

Pukul 16.30 sore, di sebuah area parkir liar yang sepi di belakang pasar induk lokal tempat Surya dan Elang biasa berbelanja logistik angkringan, deru mesin motor berkapasitas silinder besar memecah keheningan.

Samudra berdiri bersandar pada motor sport merahnya, dikelilingi oleh lima orang anggota geng motor pribadinya yang mengenakan jaket kulit hitam dengan wajah kasar penuh gertakan.

"Itu mereka!" desis salah satu anak buah Samudra, menunjuk ke arah dua siluet pemuda yang baru saja keluar dari gerbang pasar sembari memikul dua kardus besar berisi pasokan logistik angkringan.

Surya berjalan di depan dengan langkah santai, sementara Elang mengikuti dari belakang dengan langkah kaki yang kaku dan agak pincang akibat sisa kram latihan kuda-kuda semalam. Begitu mereka melangkah masuk ke lorong sepi yang diapit oleh ruko-ruko kosong, lima motor sport langsung bergerak cepat, menutup jalur depan dan belakang, mengunci ruang gerak mereka dalam seketika.

Samudra turun dari motornya, melangkah maju dengan sebilah pipa besi yang sengaja diseret di atas permukaan semen, menimbulkan suara derit yang mematikan.

"Mau lari ke mana lo, pangeran sate usus?" gertak Samudra, matanya merah memancarkan kebencian.

"Siang tadi di kampus lo bisa berlagak sombong di depan dekanat. Tapi di sini, nggak ada yang bisa menyelamatin lo. Dan gue akan buat kaki lo tambah pincang lagi!" Ancam Samudra dengan sebilah pipa besi ditangannya.

Surya langsung menurunkan kardus logistiknya ke atas tanah, mengambil posisi pasang badan di depan Elang dengan tangan yang meraba balok kayu pengganjal roda yang sengaja ia selipkan di pinggang celananya.

"Loh, Sam! Samudra! Anak mami kok beraninya mainnya keroyokan begini? Kalau berani, satu lawan satu maju sini hadapi arek Malang!" tantang Surya dengan urat leher yang menegang.

Namun, Elang justru menepuk pundak Surya perlahan, memaksanya untuk sedikit mundur.

Elang melangkah maju satu langkah, menapakkan kaki kanannya dengan kokoh di atas tanah basah. Meskipun otot pahanya terasa seperti terbakar hebat akibat gerakan mendadak ini, ia mengingat dengan sempurna setiap baris instruksi refleks dari Citra semalam: Kunci fokus lo. Buang semua distorsi di sekeliling lo.

"Surya, jaga logistik kita. Biar gue yang urus bajingan ini," ucap Elang, suaranya terdengar sangat tenang, dingin, dan bebas dari getaran rasa takut.

Melihat ketenangan Elang yang tidak wajar, Samudra kian kalap.

"Mati lo, an-jing!" teriaknya sembari melompat maju, mengayunkan pipa besinya dengan hantaman keras dari atas, mengincar pelipis kiri Elang.

Dalam hitungan milidetik, saraf refleks Elang yang telah ditempa oleh puluhan hantaman ranting kayu Citra setiap malam bergerak mendahului logikanya.

Poros tubuhnya diturunkan drastis membentuk kuda-kuda rendah yang stabil, menghindari jalur ayunan pipa besi Samudra hanya dalam jarak beberapa jengkal. Di saat yang sama, lengan bawah kiri Elang bergerak naik, melakukan tangkisan bersih yang menepis pergelangan tangan Samudra dengan kekuatan penuh.

Brak!

Tangkisan Elang membuat berat badan Samudra limbung ke depan. Tanpa membuang waktu, Elang memanfaatkan perputaran pundaknya untuk melayangkan satu pukulan pendek yang lurus tepat bersarang di ulu hati Samudra.

Bugh!

Samudra langsung menekuk tubuhnya, matanya melotot menahan rasa sakit yang luar biasa hebat hingga seluruh pasokan oksigen di paru-parunya lenyap seketika.

Pipa besi di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas semen. Pemuda manja itu tersungkur berlutut di hadapan Elang, megap-megap seperti ikan yang kehabisan air di atas trotoar kotor.

"Kurang ajar! Serang dia!" perintah salah satu anak buah geng motor yang melihat bos mereka langsung tumbang dalam satu gerakan.

Empat orang preman sirkel Samudra melompat turun dari motor mereka, bergerak mengepung Elang dengan senjata tajam dan rantai besi yang berputar di udara. Elang mengunci posisinya, bersiap menahan hantaman fisik berikutnya di tengah keterbatasan otot kakinya yang kram.

Namun, sebelum pertumpahan darah kian meluas, sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor yang sejak tadi mengintai dari kejauhan tiba-tiba melaju kencang, melakukan manuver drift yang tajam yang memotong ruang tengah lorong sepi tersebut.

Pintu mobil terbuka, dan dua orang pria bertubuh tegap mengenakan pakaian serba hitam tanpa atribut turun dengan gerakan kilat yang terlatih.

Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, menggunakan teknik pelumpuhan taktis yang bersih, kedua pria misterius itu menghantamkan serangan kilat ke titik saraf pergelangan tangan para anggota geng motor, membuat senjata mereka terlepas dan memaksa mereka semua mundur ketakutan.

"Pergi! Bawa bos kalian enyah dari tempat ini!" perintah salah satu pria berbaju hitam dengan suara bariton yang dingin.

Melihat pertarungan orang-orang misterius tersebut, para anggota geng motor Samudra yang ketakutan langsung memungut tubuh Samudra yang masih lemas, menaikkannya ke atas motor, lalu melaju pergi meninggalkan lorong sepi dengan kecepatan penuh.

Kedua pria berbaju hitam itu melirik sekilas ke arah Elang, memberikan satu anggukan kepala yang sangat samar sebagai pesan tersembunyi, sebelum kembali masuk ke dalam sedan hitam dan melaju pergi menghilang di balik tikungan ruko kosong.

Surya menatap pemandangan itu dengan mulut terbuka lebar, lalu menoleh ke arah Elang dengan tatapan tak percaya.

"Gila, Sam! Lo beneran sudah bisa merubuhkan Samudra dalam satu pukulan? Dan... orang-orang baju hitam itu siapa lagi? Kenapa mereka selalu muncul di saat yang tepat?"

Elang mengatur napasnya yang memburu, menatap telapak tangannya yang memar.  "Gue nggak tahu siapa mereka, Sur. Tapi satu hal yang pasti... latihan dari Citra semalam benar-benar menyelamatkan hidup gue hari ini."

**

Di belahan sudut pinggiran kota yang lain, keheningan senja mulai merayap pekat di sekitar kompleks Pemakaman Umum Giriloyo.

Bramantyo melangkah menyusuri jalan setapak tanah merah yang sepi setelah menyelesaikan tugas sorenya membersihkan makam mendiang ibunya.

Langkah kaki paruh bayanya terasa berat setelah seharian mengangkat karung beras di toko agen sembakonya yang sederhana.

Namun, tepat saat ia melangkah melintasi rimbunnya pohon kamboja tua yang berbatasan langsung dengan area semak-semak luar pemakaman, sebuah suara jeritan melengking yang tertahan mendadak memotong sunyinya malam.

"Lepas! Tolong... jangaaaaan! Tolong!"

Suara parau seorang gadis yang sedang ketakutan setengah mati terdengar begitu putus asa, disusul oleh suara tawa sinis dan kasarnya tarikan kain dari dua orang pria mabuk yang tampaknya merupakan preman kampung setempat.

Insting keturunan Dirgantara di dalam diri Bramantyo seketika bergolak.

Tanpa memedulikan rasa lelah di tubuhnya, ia berlari menembus kegelapan semak menuju ke arah sumber suara. Di sana, di bawah bayangan pohon tua yang gelap, ia melihat seorang gadis berparas cantik dengan pakaian sederhana yang koyak di bagian bahu sedang ditekan ke atas tanah oleh seorang preman bertubuh dekil, sementara preman kedua berjaga sembari menenggak minuman keras murah.

Gadis itu adalah Sekar, anak yatim piatu berusia awal dua pukul tahun yang hidup dalam garis kemiskinan di kampung yang sama dengan Bramantyo.

Ayah dan ibunya telah meninggal beberapa tahun lalu akibat sakit tanpa biaya medis, meninggalkan Sekar sebatang kara untuk bertahan hidup di tengah kerasnya lingkungan pinggiran kota.

Bramantyo sering melihat gadis itu membeli kebutuhan pokok di toko sembakonya, dan ia tahu betul Sekar adalah tetangga dekat rumah petaknya yang berkelakuan baik.

"Hei! Bajingan! Lepaskan dia!" teriak Bramantyo dengan suara menggelegar yang sarat akan sisa-sisa wibawa seorang mantan CEO besar.

Kedua preman kampung itu tersentak kaget, memalingkan wajah mereka yang merah akibat pengaruh alkohol ke arah Bramantyo.

"Jangan ikut campur, tua bangka sialan! Pergi dari sini kalau lo masih mau pulang bawa nyawa!" gertak preman yang memegang botol minuman, melangkah maju sembari memecahkan botol tersebut di atas batu nisan, menjadikannya sebilah senjata tajam yang berkilat di kegelapan.

Bramantyo tidak memiliki keahlian bela diri kanuragan seperti yang sedang dipelajari anaknya, namun kerasnya didikan Wirawan Dirgantara di masa muda membuatnya menolak untuk menjadi seorang pengecut di depan tindakan kriminal sekeji ini.

Pria mabuk itu menerjang maju, mengayunkan pecahan botolnya secara membabi buta ke arah dada Bramantyo.

Dengan refleks penyelamatan yang nekat, Bramantyo menggeser tubuhnya ke kanan. Meskipun lengan kemeja pudar miliknya sempat robek dan kulit lengan atasnya tergores hingga mengeluarkan darah segar, ia berhasil menangkap pergelangan tangan si preman.

Menggunakan seluruh berat badannya yang tertempa akibat kerja keras mengangkat karung sembako beberapa minggu ini, Bramantyo menghantamkan sikut kirinya tepat ke arah hidung preman tersebut.

Prak!

Preman pertama langsung terjatuh ke atas tanah merah, memegangi wajahnya yang mengucurkan darah segar sembari mengerang kesakitan.

Melihat rekannya tumbang, preman kedua yang tadinya menindih Sekar langsung bangkit berdiri, merogoh sebilah pisau lipat kecil dari saku celananya. Namun, melihat ketegasan mata Bramantyo yang menyala penuh amarah aristokrat yang menakutkan, ditambah dengan luka berdarah di lengan Bramantyo yang sama sekali tidak membuat pria paruh baya itu mundur selangkah pun, nyali preman kampung itu mendadak ciut.

"Sialan! Ayo kabur! Orang tua ini gila!" teriak preman kedua, menarik tubuh temannya yang terluka untuk bersama-sama melarikan diri membelah lebatnya semak pemakaman menuju kegelapan malam.

Suasana kembali sunyi. Hanya suara napas Bramantyo yang terengah-engah yang tertinggal di area kuburan tua tersebut.

Bramantyo buru-buru membalikkan tubuhnya, berlutut di samping Sekar yang masih menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang bergetar hebat akibat syok yang mendalam. Dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh rasa hormat, Bramantyo melepaskan jaket kain pudar miliknya, lalu menyampirkannya ke atas bahu Sekar yang terbuka untuk menutupi pakaian gadis itu yang robek.

"Nggak apa-apa... lo sudah aman sekarang, Sekar. Mereka sudah pergi," ucap Bramantyo, suaranya melembut, memancarkan figur seorang pelindung yang tulus.

Sekar mendongakkan wajahnya yang basah oleh air mata, menatap mata hangat pria paruh baya yang merupakan tetangga kelontongnya tersebut.

Di tengah garis kemiskinan dan kesendirian hidupnya selama ini, kehadiran pertolongan dari Bramantyo malam itu terasa seperti seberkas cahaya kemanusiaan yang teramat berharga di dalam jiwanya yang rapuh.

Bramantyo membantu Sekar berdiri dengan perlahan, membiarkan gadis itu bertumpu pada lengan kanannya yang sehat saat mereka melangkah meninggalkan kompleks pemakaman yang sepi menuju ke arah perkampungan.

1
Darma
semangat
Alia Chans
Hadir thor, ceritanya keren
like+ bunga🌹🤭





kalo berkenan mampir ya thor😉
Mamah Nissa: siap kk
total 1 replies
Agus Hidayat
waoh filosofinya the best banget kak👍😍
Mamah Nissa: makasih kk. mohon bimbingannya ya masih tahap belajar
total 1 replies
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!