Nizam adalah seorang santri tingkat senior sekaligus pengurus di suatu pondok pesantren, tanpa disadari hatinya mulai berdebar disaat ia melihat seorang santriyah yang tidak diketahui olehnya yang bernama Zayin.
Zayin adalah seorang santriyah pemalu dan jarang memperlihatkan dirinya di lingkungan pondok pesantren, tetapi ia sedang dekat dengan Azij seorang rois di ponpes itu.
Azij adalah teman Nizam, Azij adalah seorang rois di pondok pesantren itu, ia satu asrama dengan Nizam.
Akan kah cinta antara Nizam dan Zayin terjalin dan hidup bersama, atau malahan Azij yang akan mendapatkan cinta Zayin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khotibul Umam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 26
Malam pun tiba, Nizam yang tadi dapat secuil kertas dari Nayla pergi ke kantor untuk rapat mendiskusikan soal buat acara imtihan, Nizam pun mengajak Reza dan Iqbal untuk pergi bersamanya ke kantor.
"Zam mau kemana lo?." Sahut Mail yang melihat Nizam pergi dengan Reza dan Iqbal.
"Mau rapat gue, mau bikin soal buat imtihan." Timpal Nizam sambil melangkahkan kakinya.
"Gue ikut Zam, gue juga ada rapat sama panitia." Timpal Mail sambil mengikuti Nizam.
Mereka pun melangkahkan kakinya bersama-sama, ketika sampai ditempat rapat panitia, Nizam bertemu dengan Azij yang dari kantor yang menuju tempat rapat diadakan, mereka berdua saling menatap dengan penuh nafsu dan saling mengepalkan tangan masing-masing.
"Bego lo, udah sana pergi jangan diladeni." Sahut Mail yang menyadari tingkah Nizam dan Azij, sambil memukul kepala Nizam dan menarik tangan Azij kedalam tempat diadakannya rapat.
"Sakit bego Mail." Timpal Nizam sambil mengusap kepalanya.
"Itu lihat si Zayin udah datang, lihatin lo lagi tuh." Timpal Mail cuek sambil masuk kedalam tempat diadakannya rapat.
Nizam pun melihat kearah kantor, dan benar saja Zayin, Asih dan Nayla menuju arah kantor. Nizam pun tersenyum ke Zayin sambil melangkahkan kakinya ke arah kantor, tetapi Zayin membalasnya dengan muka marah karena melihat Nizam dan Azij seperti mau berantem. Sesampainya di depan kantor Reza dan Iqbal masuk terlebih dahulu kedalam di ikuti Nayla dan juga Asih, sedangkan Nizam menunggu Zayin yang cemberut kepadanya berada dibelakang Asih untuk masuk terlebih dahulu sebelum dirinya.
"Jangan cemberut dong Neng, gak berantem kok, tanyain aja ke Mail." Sahut Nizam berbisik sambil mengikuti Zayin masuk ke kantor.
"Awas bohong." Timpal Zayin sambil berbisik masih cemberut ke Nizam.
"Siapa yang bohong Yin?." Sahut asih keheranan.
"Eh gak ada kok Sih, tadi Kang Nizam." Timpal Zayin malu-malu.
"Heuh dasar kalian ngobrol main bisik-bisik." Timpal Asih sambil duduk.
"Maaf Teh Asih." Timpal Nizam tersenyum.
Mereka pun memulai rapat nya untuk menentukan soal buat imtihan, sedangkan Mail sedang memimpin rapat buat pelaksanaan acaranya. Acara rapat yang dipimpin Mail pun selesai sekitar jam dua belas malam, semua santri yang menjadi panitia pulang ke asrama masing-masing. Mail yang mengetahui Nizam belum pulang pergi menemui Nizam dikantor, Mail mengikuti langkah Azij yang asramanya dekat kantor, sesampai nya didepan kantor Mail yang melihat Azij hendak masuk kedalam kantor langsung mencegah Azij, karena takut ada perkelahian diantara Azij dan Nizam.
"Eh Zij mendingan lo jangan ke kantor dulu untuk sekarang, lo masuk aja ke asrama terus tidur." Sahut Mail sambil menarik tangan Azij.
"Memang kenapa jagan ke kantor kan gue rois, suka-suka gue lah ill."Timpal Azij yang kesal karena mengetahui ada Zayin didalam kantor, ditambah Nizam juga ada didalam, yang membuat Azij cemburu walau Zayin bukan miliknya.
"Eh gak bisa gitu Zij, kalau lo masuk ke kantor, lo pasti bakalan berantem sama si Nizam, udah masuk asrama aja, atau mau gue laporin ke Pak Yai tentang ini, lo pasti malu kan." Timpal Mail mengancam Azij.
Azij pun mengurungkan niat nya masuk kedalam kantor karena ancaman Mail, walaupun tidak rela tapi dirinya tidak bisa mengelak ancaman Mail. Mail yang berhasil menghalangi Azij, kemudian masuk kedalam kantor, semua yang ada didalam kantor matanya tertuju ke arah Mail. Sedangkan Asih terlihat senang karena Mail datang, Mail pun saling berbalas senyum dengan Asih dan menghiraukan yang lain.
"Eh ill ngapain lo kesini." Sahut Nizam keheranan melihat Mail masuk sambil cengengesan.
"Mau ikutan rapat Zam, kan gue ketua pelaksana, masa gue gak boleh tau." Timpal Mail sambil mendekati kawannya Nizam.
"Emang gak boleh Mail Surmail, kan ini dokumen rahasia, walaupun gue tau lo gak bakal bocorin." Timpal Nizam cuek.
"Iya udah gue disini aja dipojok ya Zam, sambil ngawasin, lagian di asrama sepi gak ada lo." Timpal Mail sambil memasang wajah menyedihkan.
"Gimana yang lain, apa tidak mengapa?." Sahut Nizam kepada yang lainnya.
"Tidak mengapa kok Zam." Timpal Reza di ikuti anggukan kepala oleh yang lainnya.
"Tuh kan boleh, lo nya aja Zam." Timpal Mail sambil duduk dipojok dekat Nizam.
"Gue tau kemauan lo, itu kan." Timpal Nizam cuek sambil melirik Asih.
Mail pun cuma tersenyum dan menganggukan kepalanya, bahwa maksud kawannya itu benar. Diskusi pun dilanjutkan kembali sampai jam dua dini hari, dan soal baut acara imtihan pun, mereka pun pulang keasram masing-masing, tetapi Nizam mengantarkan dahulu Zayin, Asih dan Nayla ke asrama putri karena sudah sangat larut malam.
"Mail, Za, Bal, kalian pulang duluan ya!, Gue nganterin dulu, tidak apa-apa kan?." Sahut Nizam seraya melangkah bersama Zayin, Asih dan Nayla.
"Oke deh." Timpal Reza dan Iqbal melangkahkan kakinya keasrama mereka.
"Gue ikut sama lo Zam." Timpal Mail sambil memberi kode ke Nizam.
"Iya udah cepat, kasian udah malam." Timpal Nizam mengetahui maksud dari Mail.
Akhirnya mereka berlima berjalan menuju asrama santriyah, Nizam asyik mengobrol dengan Zayin, Asih asyik mengobrol dengan Mail sementara Nayla berjalan paling depan sendiri, Nizam dan Mail pun tidak takut di tegur sama keluarga pesantren karena memiliki alasan yang cukup kuat buat mengelak, apa lagi rapat yang dilakukan Nizam sudah diberi izin Pak Yai. Setelah sampai diasrama santriyah wilayah bawah, Zayin pun pamit masuk kedalam kepada Nizam begitu pula Asih yang pamit kepada Mail sedangkan Nayla sudah masuk duluan. Setelah dari mengantar Zayin, Asih dan juga Nayla, Mail dan Nizam bergegas keasramanya diwilayah bawah sambil tertawa bahagia. Karena kesempatan seperti itu sangat jarang terjadi, Nizam dan Mail pun sampai diasrama, mereka pun langsung tidur karena sudah sangat ngantuk. Sementara Zayin dan Asih masih asyik mengobrol walaupun disekitarnya sudah pada tidur, kemudian datang Nayla menghampiri Zayin dan Asih.
"Kenapa Nay?." Sahut Asih yang menyadari Nayla datang menghampirinya.
"Aku gak bisa tidur Sih, ikutan disini lah sama kalian, boleh?." Timpal Nayla.
"Boleh dong, sini tiduran Nay." Timpal Zayin menyuruh berbaring didekatnya.
"Eh Sih kamu juga ada hubungan lanjut sama Mail ya?." Sahut Nayla penasaran.
"Hehe iya Nay, begitulah." Timpal Asih malu-malu.
"Yah kalian gak ajak-ajak aku." Timpal Nayla cemberut.
"Kamu mau Nay." Timpal Zayin.
"Iya lah Yin, siapa yang gak mau kalau ada orang yang perhatian sama dirinya sendiri." Timpal Nayla.
"Aku pasangin sama kang Reza mau gak?, Baik kok Nay, pinter lagi." Timpal Zayin meyakinkan Nayla.
"Kok kamu tau Yin?." Timpal Nayla heran.
"Iya dong, kan kang Reza kakak kelas aku waktu SMA." Timpal Zayin.
Merekapun terus berbincang bersama, sampai akhirnya tertidur dengan sendirinya.
kaget loh dari cerita rawa ke Romansa 😁
semoga bagus ceritanya👍
mampir juga di novel aku yaaa
gadis muslimah tomboy jatuh cinta hadiiir memberi dukungan 😊
jadi ingat waktu itu di pesantren...👍👍👍👍👍👍👍👍💖💖💖💖💖💖💖🙃
sy pikir msh jauh ceritanya
jangan lupa feedback ke ceritaku ya
"Kekasih Simpanan Tuan Muda"
makasih 😍