Namaku Hilya Nafisah. Lahir dari keluarga sederhana dipelosok desa. Mendapat jodoh diperantauan dengan orang kaya raya. Hidup berkecukupan, semua yang ku inginkan terpenuhi.
Namun hidup tidak selalu melulu tentang uang. Aku mendapat suami yang kaya harta namun miskin hati. Selalu cuek dan dingin serta selalu mengabaikan ku. Akankah aku kuat untuk terus bertahan? Memilih cinta atau harta?
dimanakah aku akan menemukan kunci bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon an-nashihah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Jalan Kakek
Kini semua sudah sampai di rumah sakit. Kakek sedang ditangani dokter,kami menunggu dengan jantung berdebar tak karuan. Sudah hampir satu jam kami menunggu, dokter belum keluar juga dari pintu tertutup rapat itu. Mas Faris sudah bagai setrikaan , mondar-mandir didepan pintu dengan perasaan cemasnya.Keluarga satu-satunya yang tinggal disini sedang sakit. Berulang kali dia menarik rambutnya sendiri dengan penuh rasa frustasi, hingga rambut yang biasanya tersisir rapi berantakan tak karuan.
Waktu terus berjalan dengan pasti,tak peduli apapun yang terjadi. Sudah satu setengah jam berlalu, rasanya satu setengah jam menunggu dengan penuh rasa cemas bagai setahun, lama sekali. Semua mata menatap satu titik, pintu. Menunggu pintu terbuka.
Pintu terbuka, semua yang hadir berdiri mendekat pada dokter yang keluar dengan wajah yang selalu tersenyum, entah kabar apa yang tersimpan dibalik senyum itu. Bahagia atau duka.
"Gimana keadaan kakek saya, dok?" Tanya mas Faris mewakili pertanyaan kami semua. Yang lain melihat dokter, menunggu jawaban dari pertanyaan yang telah diwakilkan.
Dokter itu hanya melihat kami satu-persatu, dan pandangannya berhenti saat melihat mas Faris lagi.
"Faris, kakekmu ingin bicara denganmu dan istrimu." Dokter yang biasa menangani kakek menjelaskan kesehatan kakek yang terus menurun. "Tapi jangan bicara yang membuatnya bersedih, karna itu akan berpengaruh besar padanya. Dengarkan ucapannya dan bicaralah yang membuatnya bahagia." Perasaan ku jadi tak enak mendengar peringatan itu.
Mas Faris hanya mengangguk kemudian masuk keruangan ,aku mengikutinya dari belakang, begitupun dengan dokter yang menanganinya.
Tampak kakek yang terbaring lemas, matanya sayu namun bibirnya tersenyum tulus dengan berbagai macam alat tertempel dibadannya. Kakek yang selalu ceria kini tak berdaya, meskipun ditengah kesakitannya kakek tak pernah mengeluh, selalu berusaha tersenyum apapun yang terjadi. Kakek tangguh yang aku kenal dan selalu baik pada semua orang, meskipun tak semua membalas kebaikannya dengan kebaikan pula, namun kakek tak pernah membenci ,selalu berlapang dada memaafkan.
"Kakek.." panggilku saat disampingnya ku genggam tangan keriputnya, air mataku terus menetes.Sedih melihat kakek seperti ini.
"Cucu kakek nggk boleh cengeng. Kakek tak suka melihat orang menangis dan kakek nggk bisa berbuat apa-apa. Apalagi menangisnya karna kakek." Suara kakek terdengar lemah, dan masih berusaha tersenyum.
Ku hapus air mataku. ku berusaha tersenyum kepada kakek meskipun berat. Tak ingin membuat kakek sedih dengan melihatku menangis. Biasanya kakek selalu bisa membuatku tersenyum lagi saat bersedih, dengan candanya atau dengan cerita-cerita nyelenehnya.
"Berbahagialah sayang." Ucap kakek melihatku dengan tatapan teduhnya.
Bagaimana mungkin aku bisa bahagia dengan keadaan kakek seperti ini? Mataku membasah lagi, ku pejamkan mataku erat, menahan agar air mata tak jatuh lagi. Mas Faris yang berdiri disisi kakek yang lain nampak gurat kesedihan diwajahnya, meskipun tanpa air mata, dia terlalu pandai menyimpan rasanya sendiri tak mau menangis didepan orang banyak. Sama saat perginya bunda, beginilah dia, diam, diam , dan diam.
"Aku akan berusaha untuk selalu bahagia kek, asalkan kakek sembuh. Kakek adalah orang yang kuat." jawabku berusaha meyakinkannya untuk bahagia.
Kakek hanya tersenyum membalas ucapanku dan gantian melihat mas Faris yang hanya diam. Dokter hanya berdiri di depan pintu tak jauh dari kami, mengawasi dan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Tak banyak pasien yang lainkah? Entahlah, aku pun tak tahu seberapa banyak dokter disini.
"Faris cepatlah bertindak, jangan terlalu lama menunggu dan jangan terlalu lama memutuskan sesuatu, Agar tidak menyesal nantinya. Jangan sampai terlambat." Nasehat kakek pada mas Faris. Aku tak tahu apa maksudnya, urusan lelaki mungkin atau ada masalahkah dalam pekerjaannya? Mas Faris tak pernah memilihku untuk menjadi teman ceritanya. Kakek yang lebih tau ada masalah apa, karna kakek yang selalu menjadi tempat curhat mas Faris.
Aku masih diam, selalu gagal menerka-nerka . Mas Faris malah melihatku sesaat, kemudian kembali melihat kakek dan menganggukkan kepalanya yakin.
"Faris janji kek. Faris akan berusaha agar tak ada penyesalan." Jawab mas Faris mantab. Kakek hanya tersenyum dan kembali melihatku.
"Kakek titip Faris ya, dia sudah nggk punya siapa-siapa disini." Pesan kakek padaku dengan suara yang semakin melemah hampir tak terdengar.
Apaan artinya coba? Orang sebesar itu dititipin ke aku? Nggk kebalik ni? Tapi aku mencoba berpikir positif aja. Dalam keadaan segenting ini rasanya otakku tak mampu berpikir dengan baik, atau aku memang dari dulu malas berpikir jadi tak mampu mencerna dengan baik apa yang sedang dibahas .
"Ris, bahagi,,," suara kakek semakin menghilang, dan kini tak lagi melanjutkan ucapannya, dibarengi matanya yang tertutup rapat dengan senyum yang masih ada.
"Kakek,,,, bangun kek." Panggil kami serempak, semua mulai panik. Aku goyangkan lengan kakek perlahan dengan terus memanggilnya, berharap kakek kan bangun lagi dan mau berbicara lagi. Namun nihil, kakek masih terpejam , dan layar monitor pendeteksi jantung bergerak lambat sekali. Dokter mendekat dengan cepat dan memanggil asisten dan para perawatnya.
"Keluar! " Perintah dokter kepadaku dan mas Faris yang masih berdiri dan menggoyang badan kakek pelan sambil terus memanggil namanya. Salah satu perawat menarikku yang masih tak bergerak dan menyeretku keluar begitu pun dengan mas Faris yang masih menyuarakan nama kakek. Membiarkan dokter menangani kakek tanpa ada yang mengganggu.
"Gimana kakek? Kenapa?" Pertanyaan orang-orang yang menunggu diluar dengan suara panik dan cemas, khawatir dengan keadaan kakek.
"Berdoalah untuk kebaikan kakek." Jawabku pada semua anak yang dekat dengan kakek.
Semua kembali terdiam menunggu, tak ada yang mau memulai mengakhiri keheningan. Sibuk dengan pemikiran dan prasangka masing-masing, sambil berdoa dan berdzikir dalam hati. Hingga suara adzan Dzuhur mengudara, tak ada yang berniat meninggalkan tempat, masih betah duduk ditempatnya menunggu kabar dari dalam.
"Sholat dulu yuk, berdoa untuk kakek." Suara Hamzah memecah keheningan.Semua mata menatap padanya dan mengangguk setuju.
"Giliran aja, aku nggk mau disini kosong tak ada yang menunggu." Sahut mas Faris .
Akhirnya sholat bergantian, ada yang menjaga kakek dan ada yang sholat dimushola rumah sakit. Aku ikut giliran pertama yang sholat, ingin segera berdoa dan mengadu pada sang pemilik jiwa setiap hamba. Dan masih ada tiga orang yang menunggu.
Aku jadi yang terakhir keluar mushola dari rombongan tadi, banyak sekali yang ku ceritakan pada Allah. Namun ku lihat belum ada mas Faris datang untuk bergantian menunaikan kewajiban. Hingga aku sampai di depan ruangan kakek tadi semua sedang menangis tersedu. Bahkan mas Faris yang dari tadi ku lihat menyimpan semua kesedihannya kini ikut meneteskan air mata, meskipun tanpa Isak dan raungan. Hanya beberapa anak-anak remaja yang menagis sambil memanggil nama kakek,kemudian semua berjalan memasuki ruangan.
Aku penasaran, meskipun belum ada penjelasan air mataku ikut menetes, kemungkinan terburuk melintas di kepalaku. Aku ikut masuk kedalam ditempat kakek ditangani tadi, ku lihat semua alat bantu yang tadi terpasang sudah terlepas. Badanku langsung terasa lemas bagai tak bertulang, ambruk duduk melantai dengan isakan, yang lain menghampiri kakek yang terbaring dengan mata terpejam rapat.