bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMARAH(2)
Terluka dan bahagia itu beda tipis. Rasanya sama-sama di rasa dan membekas di jiwa.
Perbedaannya Cuma satu, yaitu luka mengakibatkan sakit sedangkan bahagia mengakibatkan rasa senang. Keduanya harus dalam porsi yang pas, seorang manusia harus merasakan keduanya berimbang tanpa ada yang kelebihan.
Karin pov
Aku menatap datar sarapan yang tersaji di depanku. Wajahku sembab dan mataku bengkak. Ini di akibatkan karena aku menangis sampai tertidur di kasurnya Devan. Kupijit asal kepalaku yang sakit karena pusing,
“Karin.... Aku benar-benar minta maaf....-“ aku menatap Devan tajam dan dingin. Ini sudah kesekian kalinya dia mengecewakanku.
“Apa itu bisa di maafkan?! Kau menyuruh anak buahmu sendiri untuk memukulmu! Punggungmu memar dan lenganmu memerah, bahkan ada darah beku di sekitar tulang rusukmu! Aku hampir mati melihat kondisimu yang kau bilang itu tidak apa-apa!!!” kataku berang dengan intonasi suara yang naik.
Kupejamkan mata menahan amarah. Aku kali ini benar-benar naik pitam karena tindakkannya barusan jika bukan pak fet yang menjelaskan kronologinya padaku, maka aku sudah pergi dari Devan karena salah paham dia dihajar brutal oleh Bramasta.
Apa dia tidak tahu seberapa khawatirnya diriku ketika melihat dia terluka? Bahkan untuk luka gores saja, hatiku sakit dan langsung menyalahkan diri, andai saja aku tidak di sisinya.... Dia tidak akan terluka seperti ini.
Aku menangkup wajahku dengan ke dua tangan. Ingin rasanya kucurahkan semua rasa sesak dan sakitku pada Devan. Namun kembali lagi, aku tidak ingin dia terluka. “Bramasta, pak fet sudah menceritakannya padaku,” ujarku dengan suara yang teredam. Ku ubah dudukku yang tadinya tegak ke santai-bersandar pada sandaran kursi di belakangku.
Aku pun melepas tanganku yang ada di wajah. Dan ku tatap Devan dengan serius kali ini.
“pak fet mengatakan jika rencana Arthur lebih menguntung-“
“tidak” aku menatap Devan kali ini. Suaranya yang berat dan atmosfer yang terpancar darinya membuatku bergidik ngeri. Namun, saku tidak akan pernah takut dengan yang namanya Devan.
Aku menatap Devan datar sedang kan dia melihatku dengan tajam. Kulipat tanganku dan kusilangkan kaki, duduk sesantai mungkin agar tidak mudah terintimidasi oleh tatapannya.
“Aku tetap akan mengikuti rencana Arthur,-“
“tidak, aku bilang kau tidak bisa ikut”
“Kenapa? Bukankah dia mengincarku?”
“aku tidak mengizinkanmu” aku menantang Devan dengan wajah marah dan kesal. Aku tidak menerima penolakan untuk saat ini, apa lagi persetujuannya untuk mengikutsertakanku atau tidak dalam rencana mereka.
“Aku tetap akan pergi bersama kalian” kali ini amarahku sudah mulai memuncak. Apa dia pikir aku adalah salah satu gadis lemah yang harus di selamatkan? Siapa Devan? Dia tidak tahu aku.
Dia tidak tahu bagaimana aku menghadapi Bramasta selama ini. 10 tahun! Aku mengenal Bramasta sebagai pria bejat 10 tahun lamanya! dan selama itu pula aku berhasil mempertahankan keutuhan anggota tubuhku. “aku tidak meminta izin darimu Devan, aku akan tetap ikut, dengan atau tanpa izin darimu” kataku mantap dan tegas.
Aku bangkit dari dudukku. Tak kuhiraukan Devan yang duduk terpaku dan termenung kaku atas ucapanku barusan. Pagi ini adalah pagi pertama kami yang di selimuti aura permusuhan yang sebenarnya. Bahkan aku pun tak menyentuh sarapanku sama sekali, tidak seperti biasanya.
Nafsu makanku lenyap seketika.
“Kau tidak akan pergi untuk melaksanakan rencana itu,”
“Aku sudah bilang jika aku tidak membutuhkan izin darimu” ucapku sembari melangkahkan kaki ke luar dari ruangan makan ini. Menyesakkan rasanya jika berada satu ruangan dengan Devan yang sedang marah.
***
Devan pov
“sial! Sial! Sial! Brengsek!”
Aku memukul dengan keras meja kerjaku dengan ke dua tangan. Tak kupedulikan rasa panas dan perih yang di timbulkan. “kenapa kau memberi tahu rencana Arthur pada Karin?” tanyaku dengan menatap tajam pak fet. Ingin sekali kubunuh pria tua ini.
“menurut saya lebih rasional dan menguntungkan jika nona Karin ikut dalam rencana kali ini.”
“menguntungkan kau bilang! Sudah berapa kali ku bilang padamu jika Karin bukanlah barang!” aku mengepalkan tangan menahan amarah. Bisa-bisanya dia menggunakan Karin seperti menggunakan produk yang menguntungkan.
Aku menegakkan kepalaku. Tatapanku yang membunuh terbaca jelas di matanya. Walaupun pak fet masih menunjukkan wajahnya yang datar, namun aku bisa membaca ketakutan disana.
“jika Karin tidak mau menuruti perkataanku, tubuhmu akan kugantung di ruangan bawah tanah, aku akan melihat seberapa rakusnya ‘dia’ menikmati kulit tua pucatmu ini” ucapku dengan suara dingin yang tak terbantahkan. Seharusnya ini sudah menjadi peringatan jelas bagi si mantan pembunuh bayaran Alfred.
Wajahnya yang tiba-tiba bertambah pucat dan juga keringat dingin yang keluar dari setiap pori-pori kulit wajahnya. Sangat terlihat jelas bahwa dia ketakutan. Aku menunjukkan senyum tenangku. Dan tentu saja pria tua ini tau apa yang harus ia lakukan.
Aku memandangnya dengan serius. Entah kenapa rasanya aku benar-benar ingin mencekik lehernya kali ini. Meremukkan tulang-tulang tua itu, dan menjemur kulit pucatnya di terik panasnya matahari. Dan jangan lupakan organ tubuhnya yang sudah tua itu, aku penasaran bagaimana caranya ‘dia’ menikmati rasa pahit dari empedu dan juga rasi anyirnya usus.
“Aku benar-benar penasaran, bagaimana ‘dia akan membongkar tengkorakmu dan mencari cara untuk menikmati otakmu itu”
“sa-saya akan segera membujuk nona Karin!”
“Aku harap kali ini kau berhasil, karena bagiku tidak ada yang namanya memberi kesempatan ke dua” ucapku dingin.
Kuhembuskan nafas meredam kembali emosiku. Ini untuk pertama kalinya.... Tatapan Karin dingin padaku. Seolah-olah dia membenciku.
Kuusap wajahku dengan kasar dan ku duduki kursi kerjaku lagi. Bahkan aku pun tidak bisa fokus bekerja hanya karena mengingat Karin seperti menentangku. Awalnya aku panik ketika Karin hendak pergi dari hidupku dan mengakhiri kontraknya. Hanya karena melihatku terluka, dia berpikir hidupku dalam bahaya karena Bramasta.
Namun pria tua itu menjelaskan bahwa aku terluka karena kegilaanku sendiri untuk mendapat perhatian darinya. Ingin sekali ku bungkam mulut lancangnya itu. Namun niatku terhenti ketika melihat wajah leganya Karin.
Kuputar kuraiku 180 derajat, membuatku membelakangi meja. Kucoba lagi redam rasa sesak di sekitaran jantungku. Kucoba menghentikan rasa hantaman di kepalaku dengan memijitnya pelan. Namun entah kenapa rasanya semakin parah.
Aku ingin menemui Karin namun, dia tidak membuka pintu kamar kami sama sekali. Pertanda dia tidak mau di ganggu. Bisa saja ku buka pintu itu dengan kunci cadangan yang di berikan pak fet kemarin, namun urung niatku mengingat betapa marahnya Karin padaku.
Ku sandarkan tubuhku dan kuabaikan rasa sakit dipunggungku. “Seharusnya aku mendengarkan bajingan itu kemarin ”sesalku.
“aku benar-benar tidak tahan lagi.”
Aku menghembuskan nafas berat. Sesak di dadaku sudah bertambah parah. Kepalaku bahkan sangat sakit sekarang, aku memerlukan Karin saat ini!
Aku bangkit dari dudukku dan melangkah keluar dari ruang kerjaku. Kali ini aku memang sengaja tidak ke kantor dan mengerjakan semuanya di rumah karena khawatir Karin akan pergi.
Sial, aku lupa jika aku menyuruh pak fet untuk membujuk Karin, kemungkinan pasti sekarang mereka sedang berbicara sekarang. Aku tidak menghiraukan itu lagi ketika rasa sakit di kepala dan dadaku bertambah. Aku sedikit berlari menuju lift dan menekan tombolnya sangat cepat. Peluhku sudah tak terbendung lagi, sakitnya kepala dan juga dadaku.
Ketika lift akhirnya berdenting dan berhenti di lantai 2, aku keluar dan langsung membuka pintu ruangan kamar ini yang ternyata sudah tidak di kunci lagi.
Aku masuk sembari menetralkan nafasku yang memburu. Ku telusuri ruangan ini setiap incinya. Namun aneh....
“Karin?” aku membelalakkan mata panik. Karin tidak ada di ruangan ini sama sekali!
Aku yang terlanjur panik langsung saja membuka kamar mandi. Ternyata dia juga tidak ada di sini, ku telusuri bagian balkon, dan hasilnya juga kosong. Ke mana gadisku pergi?
“Tuan! Nona, nona Karin!-“
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..