NovelToon NovelToon
Di Pacarin Brondong Kaya

Di Pacarin Brondong Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deg-degan

Begitu pintu kamar akhirnya ditutup rapat dari luar dan suara langkah kaki Bu Arin perlahan menjauh menuruni tangga, Juna langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia bersandar di balik pintu sambil mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega, seolah baru saja lolos dari kejaran monster daster.

Melihat situasi sudah aman, kepala Kayla perlahan muncul dari balik selimut tebal. Rambut panjangnya sudah awut-awutan mirip singa habis bangun tidur, dan wajahnya merah padam karena kepanasan.

"Gila ya lo, Jun! Jantung gue hampir pindah ke ginjal tahu nggak!" omel Kayla langsung duduk sambil membetulkan rambutnya yang berantakan. "Eksperimen apaan yang lo ceritain ke Bu Arin? Mengeluarkan keringat setan? Maksud lo, gue setannya?!"

Juna yang masih bersandar di pintu hanya bisa meringis tipis. "Ya lagian lo bongsor banget, kalau gua bilang buntelan baju kotor juga Bu Arin kagak bakal percaya."

"Heh, bocil SMA! Badan gue ini ideal ya, sembarangan aja lo bilang bongsor!" Kayla mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di dada. "Lagian lo kenapa nggak kunci pintu, sih? Kalau Bu Arin nekat narik selimut tadi, reputasi gue sebagai mahasiswi teladan di kosan ini bisa hancur lebur dalam satu detik!"

Juna tidak membalas omelan panjang lebar itu. Ia mulai melangkah pelan kembali ke arah ranjang. Namun, baru dua langkah berjalan, tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut luar biasa kencang. Pandangannya mendadak buram dan berputar. Juna mengerang pelan sambil memegangi pelipisnya, tubuhnya limbung dan langsung terduduk lemas di tepi ranjang.

Kayla yang tadinya masih sibuk nyerocos meluapkan kekesalannya, seketika langsung terbungkam. Melihat perubahan ekspresi Juna yang menahan sakit, raut wajah Kayla berubah total menjadi panik.

"Eh... Jun? Lo kenapa?" Kayla dengan cepat merangkak mendekat di atas kasur, mengikis jarak di antara mereka. Karena terlalu khawatir, Kayla refleks mendekatkan wajahnya ke wajah Juna untuk memastikan keadaan cowok itu. Jarak mereka begitu dekat, hingga Kayla bisa merasakan deru napas Juna yang terasa sangat panas.

"Jun, lo denger gue, kan? Duh, muka lo makin pucat banget asli," ujar Kayla panik. Ia benar-benar bingung dan tidak tahu harus memberikan pertolongan pertama seperti apa untuk orang yang demamnya seburuk ini.

Khawatir kondisi Juna semakin kritis, Kayla berinisiatif mengambil ponselnya yang ada di saku celana. "Udah, jangan banyak gerak dulu. Gue nggak tahu harus ngapain, mending gue panggil dokter sekarang ya!"

Baru saja Kayla menyalakan layar ponselnya, tangan kanan Juna yang terasa sangat hangat bergerak perlahan, menahan pergelangan tangan Kayla agar cewek itu tidak menekan nomor telepon.

"Gak usah... nggak usah panggil dokter, Kay," bisik Juna parau dengan mata setengah terpejam.

"Nggak usah gimana?! Badan lo udah kayak teko listrik mendidih begini masih sempat-sempatnya ngeyel!" omel Kayla, tetap keras kepala. Ia mencoba melepaskan cengkeraman lemah Juna dari pergelangan tangannya. "Gue tetep mau telepon dokter, biar lo diperiksa. Diem lo!"

Kayla sudah mulai menempelkan ponselnya ke telinga, bersiap menunggu nada sambung. Namun, tepat pada detik itu, Juna tidak lagi memiliki tenaga untuk berdebat. Tubuh cowok itu melemas, dan sedetik kemudian, ia menjatuhkan kepalanya pasrah di atas pundak Kayla.

Deg!

Kayla langsung mematung seketika. Ponsel di tangannya perlahan turun, hampir saja merosot kalau dia tidak menggenggamnya erat. Jantungnya mendadak berdegup sangat kencang, suaranya sampai berisik di dalam dadanya sendiri.

Di bahu mungilnya, Kayla bisa merasakan dengan sangat jelas dahi Juna yang sangat panas menempel di leher dan pundaknya. Napas Juna yang berat berembus hangat di kulit leher Kayla, membuat bulu kuduknya meremang. Rasanya aneh, tapi ada sedikit rasa hangat yang mendadak menjalar ke dalam hatinya.

Kayla mengembuskan napas pelan. Melihat Juna yang sama sekali tidak bertenaga seperti ini, perlahan ia mengangkat tangan kirinya yang bebas. Sempat ada ragu selama beberapa detik, sebelum akhirnya Kayla memberanikan diri mendaratkan jemarinya di atas rambut hitam Juna yang halus.

Dengan pelan Kayla mulai mengusap kepala cowok itu. Ia menyisir lembut rambut Juna dengan jari-jarinya, mencoba menyalurkan rasa nyaman untuk membantu meredakan denyut kencang di kepala Juna yang sedang menahan sakit.

"Dasar bocil..." bisik Kayla sangat pelan, suaranya melembut, jauh dari nada galak yang biasa ia gunakan. "Kalau sakit tuh bilang, jangan sok kuat terus di depan orang."

Juna tidak menyahut, namun ia tampak menikmati elusan lembut tangan Kayla di kepalanya. Erangan ringkihnya perlahan mereda, digantikan oleh hela napas yang lebih relaks. Sentuhan tangan Kayla seolah menjadi obat penenang alami bagi kepalanya yang sedang berdenyut kencang.

Setelah membiarkan Juna bersandar beberapa saat di pundaknya hingga napas cowok itu terdengar lebih stabil, Kayla perlahan bergerak.

"Jun, tiduran ya? Biar lo bisa istirahat lebih enak," bujuk Kayla lembut.

Dengan sangat hati-hati, Kayla menuntun tubuh Juna agar kembali berbaring telentang di atas kasur empuknya. Begitu kepala Juna mendarat di atas bantal, Kayla segera menarik selimut tebalnya kembali, menyelimuti tubuh cowok itu sampai ke batas dadanya.

Hening.

Kini Kayla hanya diam saja memandangi wajah laki-laki di hadapannya itu yang sudah tertidur lelap.

Ia kemudian meraih mangkok sereal di atas nakas dan mencucinya. Setelah memastikan kamar itu sudah bersih dan tak ada barang yang tertinggal, tak lupa Kayla menaruh obat-obatan yang sempat dirinya bawa di kantong celananya kemudian meletakan benda itu di nakas samping ranjang Juna.

"Jangan lupa minum obatnya. Gue mau balik dulu, bye," ucap Kayla kepada laki-laki itu sebelum meninggalkan kamar, entah dia dengar atau tidak ya sudah lah.

Kayla menutup pintu kamar perlahan dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu menuju koridor kos belakang tempatnya berada.

Ada satu yang masih mengganjal di kepala gadis itu, rasa penasarannya dengan masalah Juna dan sang ayah. Dan wajah pria itu, terasa familiar. Sepertinya Kayla pernah melihat wajah pria itu, entahlah dimana.

"Siapa ya, apa jangan-jangan pernah jadi klien papa? Atau jangan-jangan temen papa?" gumam Kayla.

Kayla menghentikan langkahnya, ia mencoba mengingat memori di kepalanya untuk beberapa saat.

"Pak David! Bener Wiliam David!"

1
Arin
Udah gak usah dengerin tuh si mantan. Cuman mau gertak aja sama kamu Kayla. Jangan mau balikan lagi ya
Arin
Hari apesmu Kayla.... memang gak boleh pindah kos-kosan.... 🤣🤣🤣🤣
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan
Arin
Saingan Juna malah ikut kos disana juga😁😁😁. Makin seru persaingan buat menarik Kayla
Arin
Lah ibu.... orang cuman jalan berduaan diributin. Itu sebelah kamar Kayla apa kabar??? Lagi mendesah bersama..... Udah halal apa belum???? 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!