"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Kemana Mas?
*
*
*
Isana menggenggam erat ujung kasur, saat rasa nyeri itu kembali datang, lebih kuat dari sebelumnya. Rasa nyeri itu datang sekali saat ia selesai menunaikan sholat isya. Kemudian kembali lagi, dengan ritme tak beraturan.
Napasnya memburu, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Perutnya yang membesar terasa mengeras, memaksa tubuhnya berjuang lebih keras membentuk pertahanan.
"Ya Allah..." lirihnya, menahan gemuruh sakit yang menjalar dari pinggang hingga ke perut bagian bawah.
Ia menundukkan kepala, berusaha mengatur napas seperti yang diajarkan dokter. Namun setiap kali kontraksi datang, rasa sakit itu membuat tubuhnya bergetar. Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya.
Ia raih ponsel yang layarnya masih terbuka, menampilkan kursor berkedip pada kontak yang ia beri nama, Mas Andreas ♥️
Dicobanya lagi panggilan telpon ke nomor tersebut. Namun nihil, telpon selalu berada dalam notifikasi memanggil. "Kemana kamu Mas? Apa kamu sendang sibuk sekali, hingga mengabaikan panggilan istri yang sedang bertaruh melahirkan anakmu ini?" lirihnya.
Tangannya perlahan mengusap perutnya.
"Nak... sebentar lagi kita bertemu, ya?" bisiknya dengan suara bergetar.
Tak kunjung mendapat jawaban, pada panggilan di nomor suaminya itu, Isana berinisiatif untuk menelpon mertuanya. Karna jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, hanya berselang dua rumah saja.
"Assalamualaikum, Ma."
Suara Isana bergetar, saat telpon itu tersambung.
"Wa'alaikumsalam, ada apa Isa? Apa kamu kontraksi?"
Nada cemas dari Dewi, yang sudah menebak saat panggilan telpon dari menantunya itu.
"Iya, Ma. Sejak setelah Isya tadi, kontraksinya semakin lama semakin sering."
"Ya, kamu tunggu dulu ya. Mama sama Papa akan langsung ke sana. Kita ke Rumah Sakit Pusat." Dewi memutuskan telpon itu segera.
Isana menganggukkan kepala, meski itu tidak terlihat oleh Dewi.
Kontraksi berikutnya datang lebih cepat. Isana memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan yang hampir lolos. Dadanya naik turun, berusaha tetap kuat meski rasa sakit seolah meremukkan setiap sendi di tubuhnya.
Deru suara mobil terdengar. Derit pintu pagar, membuat Isana bernafas lega. Sudah di pastikan itu adalah suara mertuanya, yang barusan ia telpon.
"Isa?!"
Dewi berteriak, bahkan langkah kakinya belum sepenuhnya masuk ke dalam rumah.
"Isa? Di mana kamu?!"
Langkah Isana tertatih, dengan sisa tenaga yang terus menipis, ia berusaha bangkit dan berdiri. Namun, saat berdiri, ia merasakan sesuatu keluar dari bawah sana.
Cairan keruh merembes di antara paha kemudian turun ke kaki jenjangnya. Isa tidak tahu itu apa, hanya saja dari artikel yang pernah ia baca juga penjelasan singkat dari dokter, cairan keruh itu bernama ketuban. Jika cairan itu pecah, berarti pertanda kelahiran sang buah hati semakin dekat.
"Mama, Isa di kamar!" sahutnya, sebisa mungkin bersuara keras.
Dewi yang datang bersama Beni suaminya, tergopoh-gopoh masuk ke kamar sumber suara Isana.
"Ya ... Allah Isa. Ketubannya sudah pecah!" Dewi mendekat, wajah paniknya tidak bergeser sedikit pun.
"Andreas mana?!" Beni yang sejak tadi menegang, tatapannya menyapu ruangan, mencari-cari kemana keberadaaan anak laki-laki nya itu.
"Mas Andreas, sepertinya sedang sibuk Pa. Dari tadi aku hubungi tidak bisa." Isana menjawab sambil meringis, menahan nyeri luar biasa yang ia tidak tahu pusatnya dimana. Karna ia merasakan nyeri itu menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ayo kita ke Rumah Sakit, Pa. Isa harus cepat ditangani."
Beni mengangguk, gegas menuruti perintah sang istri. Meski raut wajah kecewanya tidak bisa ia tutupi, karna anak laki-lakinya justru tidak ada ketika calon cucunya ingin melihat dunia.
Dewi dan Beni memapah Isana menuju mobil yang pintunya sudah terbuka. Anton supir pribadi mereka sudah siap dibelakang kemudi, ketika beberapa perlengkapan bayi dan lahiran Isana sudah ia masukkan ke dalam bagasi.
"Cepat, Ton. Kita harus cepat sampai ke arumah Sakit Pusat !" seru Dewi, yang tak lagi bisa menunggu.
Anton mengangguk, kepiawaiannya mengemudi membawa mobil SUV hitam itu membelah jalan raya Jakarta dengan kemacetannya yang menggila.
Dunia berputar terlalu lambat bagi Isana. Kontraksi berulang yang semakin sering itu menuntut nya untuk terus berjuang habis-habisan. Segala cara ia lakukan, termasuk mengatur nafas, seperti yang dokter Syarifah ajarkan. Dokter spesialis kandungan, yang sejak awal kehamilan, Isana selalu berkonsultasi dengannya.
***
Tangisan bayi memenuhi ruang bersalin.
Dokter Syarifah, menghembuskan nafas lega. Seorang bayi laki-laki lahir. Lengkap, tidak ada kekurangan apa-apa.
"Alhamdulillah Isana, anak kamu laki-laki." ujar Dokter Syarifah, mendekatkan bayi laki-laki ke wajah Isana.
Namun kelegaan diwajah dokter Syarifah itu tidak bertahan lama. Ia mendadak membeku. Melihat Isana kehilangan kesadarannya.
Darah yang mengalir di bawah tubuh wanita itu tidak berhenti. Bahkan semakin banyak. Senyum di wajah para perawat perlahan menghilang. Tangisan bayi yang baru lahir kini terdengar kontras dengan suara alarm monitor yang mulai berbunyi nyaring.
"Dok, tekanan darahnya menurun!" pekik salah satu perawat.
Dokter Syarifah menyerahkan bayi laki-laki yang menangis nyaring itu pada perawat. Serta merta fokusnya beralih pada Isana.
"Isa? Isana, kamu bisa dengar saya?!"
Wajah Isana yang beberapa menit lalu masih mampu berteriak menahan kontraksi, kini berubah pucat seperti kertas. Bibirnya kehilangan warna. Kelopak matanya terlihat semakin berat.
"Isana, tetap buka mata. Dengarkan saya."
Tak ada jawaban. Hanya napas pendek yang terdengar putus-putus.
Jantung Dokter Syarifah berdebar semakin keras. Isana sedang kehilangan terlalu banyak darah.
"Siapkan transfusi sekarang!"
Perintah itu meluncur begitu cepat hingga beberapa perawat langsung berlari keluar ruangan.
Tangan Syarifah mulai dipenuhi darah saat berusaha menghentikan sumber perdarahan. Namun darah itu terus mengalir.
Suasana ruang bersalin berubah mencekam. Tak ada lagi senyum. Yang terdengar hanyalah langkah kaki terburu-buru, suara alat medis, dan tatapan cemas setiap orang yang berada di dalam ruangan.
"Tekanan darah turun lagi, Dok!"
Kalimat itu menghantam dada Syarifah seperti palu. Ia menoleh. Angka pada monitor membuat tenggorokannya kering kerontang. Rasa takut mulai merayap masuk.
Rasa takut melihat seorang ibu muda yang baru saja berjuang membawa kehidupan ke dunia, justru kehilangan hidupnya sendiri di hadapan mereka.
Keringat dingin merembes di pelipisnya. Sarung tangan yang ia kenakan sudah basah oleh darah. Di tengah bunyi monitor yang semakin tidak menenangkan, satu kenyataan yang membuat napasnya terasa sesak.
Isana tergeletak tanpa ada gerakan sedikit pun. Perjuangan antara hidup dan mati dari seorang perempuan berstatus istri, demi panggilan Ibu dari mulut kecil yang lucu.
Saat dimana kehadiran seorang suami, begitu diharapkan menemani setiap prosesnya. Namun Isana tidak mendapatkan itu semua, bahkan Isana tidak tahu ... di mana suaminya berada.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍