NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Jasmine mengerjapkan matanya berulang kali. Ia mencengkeram tali tas ransel Bryan yang bergantung di pundaknya, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akibat kelelahan pasca turnamen di London. Namun, pria yang berdiri di sana nyata adanya. Struktur rahangnya yang tegas, pundaknya yang lebar, hingga cara uniknya menyisir poni depan ke samping saat berpikir, semuanya mutlak milik Liam. Pria yang beberapa jam lalu masih mengenakan kemeja linen santai sambil mengomeli bebek putih peliharaannya yang nakal di tepi danau. Di hadapan Liam, dua orang perawat senior berbaju seragam biru muda tampak berdiri tegak dengan sikap yang sangat sopan. Mereka masing-masing memegang sebuah papan klip berisi tumpukan berkas rekam medis yang cukup tebal.

"Dokter Liam, semua data riwayat observasi pasien anak dari ruang rawat inap melati sudah saya sinkronisasikan dengan jadwal konsultasi psikoterapi sore ini," ujar salah satu perawat dengan nada suara yang sangat formal dan penuh rasa hormat.

"Baik. Pastikan jadwal terapi untuk pasien anak di ruangan 304 tidak bentrok dengan jadwal visitasi sore saya, Sus," balas Liam. Nada suaranya bariton, sangat dingin, berat, dan dipenuhi otoritas seorang profesional medis yang mutlak. Tidak ada sisa-sisa kehangatan renyah yang biasanya menyapa Jasmine dengan sebutan ‘Penembak Jitu’. Suara itu terdengar begitu berjarak, seolah memancarkan dinding pembatas tak kasat mata yang sangat tebal. "Lalu, bagaimana dengan laporan resep obat penenang dari ruang farmasi lantai dasar?"

"Sudah diverifikasi oleh kepala apoteker, Dok. Semua sudah sesuai dengan instruksi yang Dokter berikan pada lembar pemeriksaan digital tadi pagi," jawab perawat lainnya dengan sigap.

Jasmine menahan napasnya, tubuhnya merapat di balik pilar dinding agar tidak tertangkap oleh sudut mata Liam. Pikirannya mendadak berputar hebat, mencoba memproses kepingan teka-teki yang baru saja runtuh di hadapannya. Papan nama kuningan yang tersemat di dada kiri jas putih Liam berkilau tertimpa cahaya lampu koridor, menampilkan ukiran huruf balok yang sangat jelas. dr. Liam Buana Darel, Sp.K.J., M.Psi.

Darel.

Nama itu seketika memicu memori Jasmine tentang sejarah tempat ia berpijak saat ini. Rumah sakit tempat mereka membawa Bryan ini merupakan sebuah kompleks institusi medis swasta paling elite dan terpandang di pusat kota, yang seluruh cabangnya dimiliki oleh satu keturunan keluarga dokter terbesar di tanah air, Keluarga Darel. Nama besar Darel sudah sangat melegenda di dunia kedokteran Indonesia. Ke mana pun mata memandang di dalam gedung bertingkat ini, plang-plang nama dokter senior selalu diakhiri dengan nama keluarga tersebut. Jasmine teringat brosur digital yang pernah ia lihat di lobi utama tadi, pendiri utama yayasan ini adalah seorang profesor kedokteran umum, yang kemudian menurunkan bakat medisnya kepada anak-anaknya yang kini memegang posisi vital di rumah sakit ini. Mulai dari dokter spesialis penyakit dalam senior, kepala divisi bedah, hingga dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) alias dokter kandungan terkenal yang menangani persalinan kaum selebritas. Semuanya adalah keturunan keluarga Darel.

Saat ini, barista jangkung seberang jalannya yang setiap hari berlumuran bubuk kopi dan sibuk mengurus seekor bebek konyol, ternyata adalah bagian dari keluarga itu. Dokter Liam Buana Darel. Seorang dokter spesialis kedokteran jiwa, seorang psikiater sekaligus psikolog klinis berdarah biru di dunia medis. Jasmine merasakan lututnya mendadak lemas. Selama ini ia mengira Liam hanyalah seorang pria santai yang memilih hidup damai di tepi danau untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kota besar dengan membuka usaha kafe bunga yang estetik. Ia mengira ruang tenang di Floraison Cafe hanyalah sebuah bisnis kecil yang kebetulan berlokasi di seberang rumahnya. Betapa naifnya dirinya. Semua aroma terapi yang menenangkan sarafnya, semua jenis teh herbal yang disuguhkan Liam saat ia merasa stres, hingga cara Liam mengajaknya mengobrol dengan metode yang sangat tertata namun tidak menggurui, semuanya adalah keahlian klinis dari seorang dokter jiwa papan atas.

"Terima kasih, Sus. Kalian boleh kembali ke meja administrasi. Saya akan memeriksa sisa berkas ini di ruangan saya," suara berat Liam kembali terdengar, menandai berakhirnya instruksi medis tersebut.

"Baik, Dokter Liam. Permisi." Kedua perawat itu membungkuk hormat sebelum membalikkan badan dan berjalan menjauh menyusuri koridor kanan.

Liam menghela napas panjang setelah kedua perawat itu pergi. Ia memegang berkas medis di tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak perlahan membetulkan letak kerah kemeja formal biru mudanya yang terasa sedikit kaku di bawah balutan jas putih dokternya. Ia membalikkan tubuhnya dengan perlahan, berniat melangkah menuju sebuah pintu kayu ek jepang yang besar di ujung koridor, pintu yang di sampingnya terpasang plang kaca eksklusif bertuliskan Ruang Praktik Spesialis & Konsultasi Privat - dr. Liam Buana Darel, Sp.K.J., M.Psi.

Namun, baru dua langkah Liam mengayunkan kaki panjangnya, pergerakannya mendadak terkunci total. Sepasang mata teduhnya yang biasanya selalu memancarkan ketenangan kini melebar sempurna karena rasa terkejut yang sangat nyata. Di ujung lorong tersebut, berdiri Jasmine dengan wajah pucat, tangan yang gemetar memegangi ransel, dan sepasang mata bulat yang menatap jas putih dokternya dengan tatapan yang dipenuhi oleh ribuan pertanyaan tak terjawab. Kedua netra mata mereka bertemu di dalam kesunyian koridor lantai tiga Darel Hospital. Waktu seolah berhenti berputar selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa. Liam membisu. Untuk pertama kalinya sejak Jasmine mengenal pria itu, Liam kehilangan kata-kata kasualnya. Senyuman miring yang biasanya selalu bertengger di wajah tampannya kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi wajah yang sangat rumit, sebuah perpaduan antara rasa bersalah, kecemasan yang mendalam, dan ketakutan bahwa dinding kenyamanan yang ia bangun bersama Jasmine di tepi danau akan runtuh seketika akibat terungkap identitasnya ini.

"Jasmine..." suara Liam keluar dalam bisikan yang sangat pelan, tidak lagi sedingin saat ia berbicara pada perawat tadi, melainkan kembali berubah menjadi suara lembut penuh perhatian yang sangat familier di telinga Jasmine.

Jasmine melangkah maju satu langkah, kakinya terasa sangat berat di atas karpet tebal. Mata indahnya beralih dari wajah tampan Liam, turun menatap papan nama kuningan di dada kiri pria itu, lalu beralih menatap plang besar di samping pintu ruang praktik.

"Dokter... Liam Buana Darel?" bisik Jasmine, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi yang mendadak membuncah di dalam dadanya. "Darel Hospital... jadi semua tempat ini... adalah milik keluarga Kakak? Kakak... Kakak bukan seorang barista biasa?"

Liam menarik napas panjang, menyisir rambut hitam berponinya ke belakang dengan jemarinya yang ramping, sebuah gestur tubuh yang biasa ia lakukan jika sedang berada dalam situasi tekanan psikologis yang tinggi. Ia melihat bagaimana kerapuhan kembali membayangi wajah gadis di depannya, sebuah kerapuhan yang selama ini selalu ia coba sembuhkan dengan secangkir teh di kafenya.

"Kayaknya penyamaran aku sebagai warga sipil biasa di tepi danau udah berakhir dengan sangat tragis hari ini, hm?" ucap Liam perlahan. Ia mencoba menyisipkan sedikit nada gurauan khasnya untuk mencairkan ketegangan, namun senyuman tipis yang terukir di bibirnya kali ini terlihat sangat kaku dan dipenuhi rasa bersalah.

Liam berjalan mendekati Jasmine dengan langkah yang sengaja diperlambat, memastikan jas putih dokternya tidak menimbulkan kesan intimidasi yang lebih besar bagi gadis itu. "Jasmine, dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya sama kamu. Alasan kenapa aku ada di sini, mengenakan pakaian kaku ini, dan alasan kenapa aku memilih untuk enggak kasih tau yang sebenarnya sejak awal pertemuan kita di seberang jalan rumah kamu."

Jasmine hanya diam, menatap ujung sepatu datarnya sendiri sambil meremas tali ransel Bryan semakin kuat. Pikirannya kosong. Ia merasa seperti baru saja menemukan sebuah kejadian tidak terduga di dalam alur kehidupan nyatanya. Pria yang selama ini menjadi tempat perlindungan paling aman dari kejaran obsesi kaku Axel, pria yang selalu membebaskannya dari dunia game, ternyata adalah bagian dari keluarga medis Darel yang luar biasa agung, seorang penyembuh jiwa profesional yang mengawasinya dari balik dinding kaca kafe.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!