Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
Malam semakin larut di Zermatt. Suhu udara di luar chalet kayu mereka merosot drastis hingga minus tiga derajat Celsius. Badai salju tipis mulai menyapu kaca jendela, namun di dalam kamar tidur utama, kehangatan dari perapian batu alam menyelimuti atmosfer ruangan yang temaram.
Percakapan singkat dengan Profesor Adrian di kafe tadi siang rupanya meninggalkan percikan kecemburuan yang membakar pelan di dalam dada Narendra. Dokter bedah itu tidak pernah suka melihat tatapan kagum pria lain tertuju pada istrinya—bahkan jika itu adalah mentor akademis Nayla sekalipun.
Nayla baru saja keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur sutra berpotongan rendah berwarna hitam. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah terurai di bahunya.
Belum sempat Nayla melangkah mendekati meja rias, sepasang lengan tegap Narendra sudah mengunci pinggangnya dari belakang dengan sangat erat. Pria itu menyandarkan dada bidangnya di punggung Nayla, menghirup dalam-dalam aroma wangi bunga yang menguar dari kulit hangat istrinya.
"Naren..." gumam Nayla pelan, terkejut dengan dekapan yang mendadak itu.
Narendra tidak menjawab. Pria itu memutar tubuh Nayla dalam satu gerakan cepat hingga punggung Nayla membentur pintu kayu kamar mandi. Narendra mengungkung tubuh mungil istrinya, menatap lurus ke dalam manik mata Nayla dengan kilatan mata elang yang menggelap—penuh gairah dan dominasi mutlak yang tak lagi ditahan.
"Malam ini kamu milik aku sepenuhnya, Nayla," bisik Narendra. Suara baritonnya sangat rendah, serak, dan berbahaya.
Sebelum Nayla sempat merespons, bibir Narendra sudah menyambar bibir manis istrinya tanpa ampun.
Ciuman Narendra malam ini terasa jauh lebih liar, intens, dan menuntut daripada malam-malam sebelumnya. Bibirnya membakar bibir Nayla dengan keahlian yang memabukkan, memagutnya begitu dalam hingga Nayla kehabisan napas dan hanya bisa melenguh pelan di dalam pertautan mereka. Jemari kekar Narendra menyusuri punggung halus Nayla, meremas pinggangnya, lalu mengangkat tubuh mungil wanita itu ke dalam gendongannya tanpa memutuskan ciuman panas mereka sedikit pun.
Nayla melingkarkan kedua kakinya di pinggang tegap Narendra, membalas ciuman suaminya dengan kepasrahan penuh. Kehangatan kulit Narendra yang bertelanjang dada bergesekan langsung dengan gaun sutranya, mengirimkan getaran panas yang membakar seluruh sarafnya.
Narendra membawa Nayla ke atas tempat tidur king-size, menjatuhkan tubuh mereka di atas kasur empuk berseprai tebal. Pria bedah itu mengungkung Nayla di bawahnya, menatap wajah istrinya yang merona hebat dengan napas terengah-engah.
Tangan kekar Narendra melepas tali gaun tidur sutra Nayla dalam sekali sentakan lembut namun tegas. Bibirnya turun menyusuri rahang, leher jenjang, hingga tulang selangka Nayla, meninggalkan jejak-jejak kecupan hangat yang dalam dan posesif di setiap jengkal kulit mulus istrinya.
"Naren... pelan-pelan..." desah Nayla pasrah, jemari mungilnya mencengkeram erat bahu berotot suaminya saat gairah Narendra yang liar menenggelamkan mereka berdua.
Malam itu, di tengah badai salju Zermatt yang menggigilkan, Narendra menyerahkan seluruh gairah dan rasa cintanya tanpa sisa—memanjakan, menguasai, dan mengunci keberadaan Nayla sebagai belahan jiwanya hingga menjelang fajar menyingsing.
**
Sinar matahari dingin menembus celah jendela. Narendra terbangun lebih dulu saat merasakan hawa panas yang tidak wajar menguar dari tubuh wanita di dalam dekapannya.
Narendra membuka matanya sentak. Sepasang mata elangnya seketika menangkap raut wajah Nayla yang pucat, bibirnya yang sedikit kering, dan kedua pipinya yang merona merah akibat demam tinggi. Nayla meringkuk kaku di dada bidang Narendra, tubuhnya gemetaran hebat di balik selimut tebal.
"Sayang?" panggil Narendra panik. Suara baritonnya yang biasa tenang kini penuh dengan nada cemas yang nyata.
Narendra menempelkan telapak tangannya di dahi dan leher Nayla. Panas. Kulit istrinya terasa sangat hangat.
"Naren... dingin..." gumam Nayla lirih dengan suara yang amat serak. Mata beningnya terbuka sayu, menatap suaminya dengan tatapan manja dan lemas.
Rasa penyesalan yang luar biasa besar seketika menghantam dada Narendra. Dokter bedah itu merutuki dirinya sendiri karena telah bertindak terlalu ganas dan tidak sabaran semalam hingga membuat istrinya yang kelelahan fisik itu jatuh sakit.
"Maafkan aku, Sayang... maafkan aku," bisik Narendra penuh penyesalan. Pria itu menyelimuti tubuh Nayla hingga batas leher, lalu bergegas bangkit dari tempat tidur.
Dalam waktu singkat, naluri seorang dokter spesialis dan suami menyatu dalam diri Narendra. Ia mengambil termometer digital, kompres hangat, serta kotak obat-obatan darurat yang selalu dibawanya dalam perjalanan.
Narendra mendudukkan dirinya di tepi ranjang, memangku kepala dan punggung Nayla agar bersandar nyaman di dada bidangnya. Ia mengukur suhu tubuh Nayla. 38,5 derajat Celsius.
"Apa aku terlalu kasar semalam, hm?" bisik Narendra lembut, mengusap pelipis Nayla yang berkeringat dingin lalu menempelkan kain kompres hangat di sana.
Nayla menggeleng pelan di dada suaminya. Jemari lemasnya meraba dan mencengkeram erat kemeja santai yang dikenakan Narendra, enggan dilepaskan.
"Bukan... cuma capek aja, Naren..." cicit Nayla manja, menyembunyikan wajah panasnya di perpotongan leher hangat Narendra. "Tapi kamu emang ganas banget semalam... sakit semua tahu badan aku..."
Narendra menghembuskan napas panjang, merengkuh tubuh mungil istrinya makin rapat, mencium pucuk kepala Nayla berulang kali dengan kelembutan yang amat dalam.
"Iya, maaf. Aku yang salah, Sayangku," bisik Narendra serak, membiarkan jemari panjangnya mengusap punggung Nayla yang tertutup selimut. "Sekarang kamu minum obat dulu, ya?"
"Gak mau minum obat... pahit," keluh Nayla makin manja, menggelengkan kepala di dada suaminya seperti anak kecil.
Narendra tersenyum tipis—senyuman sangat manis dan memanjakan yang hanya ada untuk istrinya. Pria itu mengambil cangkir air hangat dan obatnya, meminum obat itu ke dalam mulutnya sendiri, lalu menunduk untuk menyalurkan obat dan air tersebut langsung ke dalam mulut Nayla melalui ciuman yang sangat lembut dan perlahan.
Nayla tertegun, menelan obat itu tanpa sadar di dalam pertautan bibir mereka.
Setelah obat tertelan sempurna, Narendra mengurai ciumannya, mengusap sudut bibir Nayla dengan ibu jarinya. "Masih pahit?"
Pipi Nayla yang tadinya merah karena demam kini makin membara karena malu. "Dasar dokter licik..." gumamnya pelan, namun tetap menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Narendra.
"Tidur lagi, hm? Aku gak akan ke mana-mana. Aku temani kamu di sini seharian," bisik Narendra, terus mengusap rambut panjang istrinya hingga napas Nayla perlahan kembali teratur dan wanita itu tertidur lelap di dalam pelukan hangat sang suami.
**
Sinar matahari siang membiaskan cahaya keemasan yang menembus tirai kamar kayu di Zermatt. Keheningan dalam ruangan hanya diisi oleh suara deru napas Nayla yang mulai stabil dan teratur.
Narendra masih setia berada di posisi yang sama sejak pagi tadi. Pria tegap itu tidak bergeming sedikit pun, menjadikan dada bidangnya sebagai sandaran paling nyaman untuk kepala istrinya. Tangan kanannya tak berhenti mengusap perlahan punggung Nayla yang terbungkus selimut tebal, sementara tangan kirinya secara berkala mengganti kain kompres di dahi wanita itu.
Setelah dua jam terlelap dalam dekapan hangat suaminya, kelopak mata Nayla perlahan terbuka. Rona merah di pipinya mulai berkurang, menandakan demamnya perlahan turun.
Nayla mendongak sedikit, menemukan wajah tegas Narendra yang sedang menatapnya tanpa jeda. Tatapan mata elang yang biasanya memancarkan aura dingin mematikan itu kini dipenuhi rasa cemas dan kelembutan yang teramat dalam.
"Masih pusing, Sayang?" bisik Narendra dengan suara baritonnya yang serak. Tangannya terulur menyapu helai rambut yang menempel di dahi hangat Nayla.
Nayla menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan pipinya di telapak tangan kekar suaminya. "Udah mendingan banget, Naren. Obat licik kamu tadi pagi ternyata manjur."
Narendra menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Ketenangan akhirnya kembali ke raut wajahnya. Ia menunduk, mencium kening Nayla lama sebelum mengukur kembali suhu tubuh istrinya dengan termometer digital. 37,2 derajat Celsius.
"Suhunya sudah turun," gumam Narendra. "Tapi kamu harus tetap istirahat total. Hari ini gak ada agenda keluar villa."
"Tapi aku lapar..." cicit Nayla manja, menarik-narik ujung kemeja Narendra. "Mau sup ayam hangat buatan kamu."
Narendra sempat menaikkan satu alisnya. Seorang Narendra Adiwijaya, pimpinan operasional rumah sakit besar yang biasanya memegang pisau bedah dan dokumen miliaran rupiah... kini diminta memegang pisau dapur untuk membuat sup ayam?
Nayla menatap suaminya dengan mata bening yang berkilat pasrah dan manja. "Gak mau sup buatan koki resto villa... maunya buatan Suami. Boleh, kan?"
Lumpuh sudah seluruh ketegasan Narendra. Tidak ada satu pun pertahanan sang Dokter Bedah yang sanggup bertahan menghadapi tatapan manja dari istrinya.
"Boleh, Nyonya Adiwijaya," jawab Narendra mengalah, tersenyum tipis seraya mengusap puncak kepala Nayla. "Apapun untuk kamu. Tapi kamu tunggu di kasur, jangan turun sebelum aku kembali."
"Baik, Dok!" sahut Nayla terkekeh pelan.
Tiga puluh menit kemudian.
Di dapur bersih villa bergaya rustic itu, pemandangan luar biasa langka sedang terjadi. Narendra berdiri di depan kompor dengan apron kain yang membalut tubuh tegapnya. Kemeja hitamnya tergulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengan bawahnya saat ia dengan sangat teliti memotong wortel dan kentang.
Cara Narendra memotong bahan makanan benar-benar mencerminkan akurasi seorang spesialis bedah—setiap irisan wortel memiliki ketebalan yang persis sama, seolah diukur dengan jangka sorong
Nayla yang bosan sendirian di kamar perlahan melangkah keluar sambil menyelimuti tubuhnya dengan kain syal tebal. Ia berdiri di ambang pintu dapur, menyandarkan tubuhnya di kusen kayu sambil memperhatikan punggung lebar suaminya yang sibuk mengaduk kaldu sup.
"Nayla? Kenapa turun?" tegur Narendra langsung begitu mendengar langkah kaki halus istrinya, tanpa perlu membalikkan badan.
Nayla berjalan mendekat, menyusupkan kedua tangannya dari belakang untuk memeluk pinggang tegap Narendra. Ia menyandarkan dagunya di punggung lebar suaminya, menghirup aroma maskulin yang menenangkan.
"Kangen..." bisik Nayla tanpa dosa.
Narendra terkekeh rendah. Ia mematikan kompor, lalu memutar tubuhnya dalam lingkaran pelukan Nayla. Ditatapnya wajah manis istrinya yang kini terlihat jauh lebih segar.
"Baru ditinggal setengah jam udah kangen, hm?" goda Narendra, membelai pipi halus Nayla.
"Biarin. Kan udah sah," sahut Nayla membela diri, menyunggingkan senyum jahil. "Lagian aromanya wangi banget. Potongan wortelnya kok rapi banget sih, Naren? Kamu masak sup apa lagi melakukan rekonstruksi jaringan?"
Narendra tertawa pelan—suara tawa renyah yang amat memanjakan telinga, kemudian menuntun istrinya untuk duduk di meja makan. "Sup nya dimakan sampai habis. Setelah itu kamu harus istirahat lagi."
Narendra menyendokan sedikit kaldu hangat, meniupnya pelan-pelan sebelum menyuapkannya ke mulut Nayla. Nayla menyesap kaldu itu dengan mata berbinar.
"Enak banget!" puji Nayla tulus. "Ternyata selain pinter bedah pasien, suami aku pinter bedah bumbu dapur juga."
"Asal yang makan kamu," balas Narendra mantap. Ia menyentuh dagu Nayla, menunduk dan mengecup bibir istrinya yang masih bernoda kaldu hangat dengan kelembutan yang sangat manis.
Sore harinya, mereka duduk bersama di sofa ruang tengah villa, berselimut kain wol tebal di depan perapian yang menyala hangat. Di luar, salju kembali turun menutupi lembah Zermatt.
Nayla berbaring santai dengan kepala bersandar di paha Narendra. Tangan kekar Narendra tanpa henti mengelus rambut panjang istrinya, sementara tangan satunya memegang tablet khusus yang menampilkan laporan rutin RS Medika Adiwijaya yang dikirim oleh Gibran.
"Naren," panggil Nayla lirih.
"Ya, Sayang?" jawab Narendra tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.
"Gibran bilang apa di chat?"
Narendra meletakkan tabletnya di meja, lalu menunduk menatap Nayla. "Dia cuma bilang operasi toraks tadi siang lancar. Dan... dia nanya kapan kita pulang karena dia kelimpahan tugas memimpin rapat konsulen."
Nayla tertawa kecil. "Kasihan Dokter Gibran. Pasti dia ngomel-ngomel di Jakarta."
"Biarkan saja," sahut Narendra santai, menyusuri garis bibir Nayla dengan ibu jarinya. "Dia sudah aku kasih bonus liburan bulan depan. Sekarang waktu aku cuma buat kamu."
Nayla meraih tangan Narendra, mengecup telapak tangan kekar suaminya penuh cinta. "Makasih ya, Naren... buat semuanya. Buat supnya, perhatiannya, dan kesabaran kamu ngadepin aku yang sakit hari ini."
Narendra menatap lurus ke dalam manik mata bening istrinya. Tatapan mata elangnya menyalurkan rasa cinta dan komitmen yang tak tergoyahkan.
"Kamu gak perlu terima kasih untuk hal yang memang sudah jadi hak kamu, Sayang" bisik Narendra rendah. "Menjaga kamu, memanjakan kamu, dan membuat kamu bahagia adalah tugas utama aku seumur hidup. Jadi, sakit atau sehat... kamu tetap ratu di hidup aku."
Nayla tersenyum haru, menarik leher Narendra mendekat untuk mendaratkan kecupan hangat di bibir pria itu—sebuah momen kedamaian sempurna yang mengunci kebahagiaan mereka di tengah dinginnya pegunungan Swiss.
Nayla sakit dimanjain Naren, kalo aku sakit dimanjain siapa yaa? Wkwkwk
Jangan lupa like, comment, dan rate ya temann, jangan lupa follow jugaa nanti ak follback
Baiiiiii