Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: DMAM
BAB 7: DMAM
Dua minggu berlalu. Strategi Bu Rosma untuk "mendiamkan" Dimas mulai membuat pria itu kehilangan kesabaran. Rengekan Dimas di rumah semakin menjadi-jadi setiap harinya.
Sore itu, untuk mengobati rasa bosan anak tunggalnya, Bu Rosma menemani Dimas berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota.
Dimas berjalan dengan wajah ditekuk, sambil mendorong troli belanja berisi pakaian-pakaian bermerek yang baru saja dibelikan ibunya.
"Dimas, lihat kemeja ini. Bagus kan buat kamu?" tawar Bu Rosma lembut.
"Gak usah, Mi. Dimas gak butuh kemeja," jawab Dimas malas. "Mami katanya mau urus Aisyah? Kok sampai sekarang Aisyah gak telepon Dimas? Katanya Mami mau bikin Aisyah mau nikah sama Dimas?"
"Sabar, sayang. Segalanya butuh proses. Mami sudah kunci semua jalan rezeki keluarganya. Sebentar lagi pasti ibunya jatuh sakit atau kehabisan uang, terus mereka bakal—"
Kalimat Bu Rosma terhenti seketika. Matanya membelalak menatap ke arah toko buku besar di lantai dua mal tersebut.
Di sana, Aisyah sedang berdiri di depan kasir. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu dengan jilbab senada, sambil memegang sebuah kantong kertas berisi buku-buku latihan soal baru yang baru dibelinya dari hasil mengajar les privat.
"Aisyah!" jerit Dimas kegirangan.
Sebelum ibunya sempat mencegah, Dimas sudah berlari kencang memotong kerumunan pengunjung mal, dan meninggalkan troli belanjanya begitu saja.
"Dimas! Tunggu, Dimas!" pekik Bu Rosma panik, seraya menyingsingkan gaun mewahnya dan ikut berlari mengejar anak tunggalnya itu.
"Aisyah!" panggil Dimas heboh saat sudah berada tepat di belakang gadis itu.
Aisyah yang baru saja menerima uang kembalian dari kasir terkejut dan berbalik. Matanya melebar melihat Dimas berdiri di depannya dengan napas yang terengah-engah, disusul Bu Rosma yang datang dengan wajah merah padam dan napas yang memburu.
"Mas Dimas... Tante Rosma..." gumam Aisyah dingin, lalu mengambil langkah mundur untuk menjaga jarak.
"Aisyah! Kamu ke mana aja?" tanya Dimas dengan mata berbinar-binar tanpa memikirkan tempat. "Aku kangen banget sama kamu! Kamu kok gak pernah balas pesan aku? Kamu tau gak, aku di rumah pusing banget, gak mau makan gara-gara mikirin kamu!"
Aisyah menatap pria dewasa di depannya itu dengan rasa prihatin. "Mas Dimas, tolong jaga sikap di tempat umum. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sejak malam itu."
"Tapi aku masih mau nikah sama kamu, Aisyah!" seru Dimas polos tanpa malu diperhatikan oleh pengunjung mal sekitar. "Mami juga udah janji kok bakal atur semuanya biar kita bisa nikah!"
Aisyah mengalihkan pandangannya pada Bu Rosma yang kini berdiri di samping Dimas dengan dada naik turun karena menahan malu dan amarah.
"Oh, jadi ini cara Tante 'mengurus' semuanya?" tanya Aisyah, dengan menatap lurus ke dalam mata Bu Rosma. "Dengan cara mematikan pesanan katering Ibu saya? Memfitnah saya di depan komite sekolah? Apakah itu cara keluarga kaya menyelesaikan masalah?"
Wajah Bu Rosma memerah. Ia lalu menarik lengan baju Dimas ke belakang tubuhnya.
"Jangan asal bicara kamu ya, Aisyah!" gertak Bu Rosma. "Kamu tidak punya bukti kalau saya yang melakukan itu! Dan kamu, jangan sok suci! Kalau kamu memang tidak butuh uang, kenapa kamu masih berkeliaran di mal mewah begini? Mau cari mangsa pria kaya lainnya?!"
Aisyah tersenyum tipis mendengar omong kosong Bu Rosma, sebuah senyuman yang sangat tenang namun sanggup meruntuhkan keangkuhan Bu Rosma.
"Saya ke sini membeli buku pelajaran untuk anak-anak didik saya menggunakan uang hasil keringat saya sendiri dari mengajar les privat hingga malam, Tante," jawab Aisyah runtut. "Bukan menggunakan uang jajan dari orang tua di usia hampir tiga puluh tahun."
Beberapa pengunjung mal yang menyimak perdebatan itu mulai berbisik-bisik sambil menutupi mulut mereka. Dimas pun mendadak salah tingkah, hingga mukanya berubah menjadi merah padam karena sindiran Aisyah yang begitu telak memukul harga dirinya di depan umum.
"Kamu... kurang ajar sekali mulut kamu!" bentak Bu Rosma seraya mengacungkan jarinya ke wajah Aisyah.
"Tante Rosma," potong Aisyah tegas dan menyela ucapan wanita itu. "Dengar baik-baik. Mau Tante tutup seribu pintu rezeki kami, Allah punya jutaan pintu rezeki lain untuk hamba-Nya yang mau berusaha jujur. Dan untuk Mas Dimas..."
Aisyah menatap Dimas dengan pandangan lurus.
"Belajarlah jadi laki-laki sejati, Mas. Lepaskan tangan ibumu, keluarlah ke dunia luar, cari uang dengan keringatmu sendiri, dan rasakan bagaimana rasanya menjadi dewasa. Sebelum Mas Dimas bisa melakukan itu, Mas hanya akan jadi beban bagi wanita mana pun yang Mas nikahi."
Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Aisyah membetulkan posisi tasnya, lalu mengangguk santun pada pengunjung sekitar, dan melangkah pergi dengan anggun meninggalkan ibu dan anak itu di tengah lorong mal.
"Aisyah! Aisyah, tunggu!" jerit Dimas hendak mengejar, namun lengannya dicengkram amat kuat oleh ibunya.
"Lepaskan dia, Dimas!" bentak Bu Rosma histeris. "Kamu tidak dengar bagaimana dia menghina kamu di depan semua orang?! Dia bilang kamu bukan laki-laki! Dia bilang kamu cuma beban!"
"Tapi itu karena Mami!" teriak Dimas balik, yang meluapkan kekesalannya.
Pria itu menghempaskan cengkraman tangan ibunya hingga terlepas. "Aisyah benar! Mami yang selalu ikut campur! Mami yang bikin Aisyah benci sama Dimas! Dimas malu, Mi! Malu!"
Dimas berbalik dan berlari meninggalkan ibunya di tengah mal, tanpa menghiraukan panggilan histeris Bu Rosma yang bergema di seluruh lantai.
"DIMAS!!"
Bu Rosma berdiri sendirian di tengah kerumunan orang yang menatapnya dengan pandangan menyindir.
Hatinya gemetar hebat. Rasa malu, amarah, dan dendam membakar seluruh kesadarannya. Rencana halus untuk menekan ekonomi Aisyah ternyata gagal total karena gadis itu memiliki mental yang jauh lebih tegar dari yang ia perkirakan.
"Aisyah..." bisik Bu Rosma dengan mata memerah dan gigi yang terkatuk rapat. "Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu belum tau siapa Rosma sebenarnya. Kalau cara halus tidak bisa membuatmu berlutut, maka aku akan gunakan cara yang bakal menghancurkan hidupmu sekalian!"
Bersambung...