Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Nayla di goda cowok
📍 MY STYLE BUTIK
"Jadi yang mengantarmu di depan butik tadi pagi itu suamimu?"
"Kak, tolong rahasiakan kalau aku sudah menikah ya. Pernikahanku memang cukup disorot publik, tapi Kak Shela menyembunyikan identitasku supaya aku bisa bekerja di sini. Tolong rahasiakan juga soal Ethan Spencer Argantara dari yang lain ya."
"Karena kau teman dekat dan rekomendasi Kak Shela, aku tak bisa menolak. Sepupuku bilang Ethan Spencer Argantara suamimu itu pewaris tunggal hotel mewah Element World. Itu benar-benar nyata?"
Nayla mengangguk pelan. Dia justru merasa tak nyaman menjadi istri pewaris tunggal perusahaan raksasa itu.
"Ya ampun... jadi itu benar?"
"Aku menikah karena perjanjian bisnis. Keluargaku hanya punya perusahaan tekstil kecil yang hampir bangkrut. Kami butuh dana besar, dan orang tua Ethan bersedia membantu perusahaan keluargaku."
"Maafkan aku, pasti itu sangat berat ya? Menikah karena perjodohan pasti tidak mudah." Yuri menggenggam tangan Nayla. Dia tahu betul rasanya, dia pun pernah mengalaminya, dan pernikahannya kandas setelah bertahan Dua tahun.
"Terima kasih, Kak. Sekarang aku sedang berusaha memahami situasi ini. Aku ingin membangun hubungan yang lebih baik dengan suamiku. Sekalipun akhirnya tidak berhasil, setidaknya aku sudah berusaha, kan?"
"Benar. Kamu harus menjadi istri yang baik. Ngomong-ngomong, pegawai lain bilang suamimu sangat tampan. Aku jadi menyesal tidak datang lebih pagi supaya bisa melihatnya tadi."
"Ah, Kak Yuri bisa saja~" Wajah Nayla memerah malu karena ledekan bosnya.
Sore itu, saat Nayla sedang memeriksa manekin dan menata etalase depan, ponsel di saku blazernya berdering. Dia segera mengangkat telepon.
"Halo~"
"Kamu masih di butik atau sudah pulang?"
Nayla mengernyit heran. Kenapa baru jam lima sore Ethan sudah menanyakan keberadaannya?
"A... aku masih di butik. Memangnya ada apa menanyakan begitu?" Dia makin bingung kenapa suaminya tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Tetap di sana. Aku akan segera ke butik sekarang."
"Eh, ada apa? Kenapa ke sini? Ethan..."
Belum sempat Nayla bertanya lebih lanjut, sambungan telepon langsung diputus sepihak. Dia sedikit kesal karena sifat Ethan yang selalu semaunya sendiri.
"Ish, dia itu selalu saja begitu. Kenapa tidak menjelaskan dulu tujuannya mau ke sini?"
"Permisi, Kak Nayla."
Nayla yang masih menggerutu kesal tiba-tiba terinterupsi. Dia berbalik dan tersenyum pada pelanggan yang datang seminggu lalu dan memesan setelan jas khusus.
"Maaf, apakah pesanan jasku sudah siap tadi? Kak Yuri menelepon pagi tadi."
Nayla sedikit terpaku melihat senyum manis pria muda di depannya. Dia menjadi gugup dan membalas membungkuk sopan.
"Eh, jas... jasnya sepertinya sudah siap."
"Nona Nayla, maaf kalau mengganggu pekerjaanmu."
"Tidak apa-apa. Mari ke ruang ganti supaya Bapak bisa mencobanya."
"Panggil David saja, jangan sungkan."
Nayla tersenyum, berjalan di depan diikuti pria tampan itu.
"Kak Yuri bilang kamu baru sebulan bekerja di sini?"
"Benar. Dan aku masih harus banyak belajar soal desain." Nayla merapikan kancing lengan kemeja yang sedang dicoba David. Sejak tadi David terpesona, tak menyangka sepupunya merekrut pegawai muda secantik ini.
"Bagian kerahnya biar aku bantu pasangkan."
"Terima kasih. Kalau desainernya kau, pasti hasilnya bagus."
Sementara itu, Ethan baru saja masuk ke pintu kaca butik yang sore ini cukup ramai. Dia mencari keberadaan Nayla di dalam dan berdecak karena istrinya tak terlihat di mana-mana.
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu, Tuan?"
"Oh, iya. Apakah Nayla Atmaja masih ada di sini?"
Seva, pegawai di sana, menatap terpesona pria berjas abu-abu yang tampan dan rapi itu.
"Nayla sedang melayani tamu sebentar. Saya panggilkan dulu."
"Biarkan aku ke sana. Tunjukkan saja di mana ruangan istriku bekerja."
Istri??
Seva hampir memekik kaget, menutup mulutnya. Teman barunya ternyata sudah menikah, dan suaminya luar biasa tampan.
"Ba... baiklah, silakan ikuti saya, Tuan."
Ethan mengangguk dengan wajah tenang, lalu berjalan di belakang Seva.
"Sudah rapi ya."
"Terima kasih, Nayla. Lain kali aku pesan jas padamu saja. Desainmu bagus sekali."
"Sama-sama. Aku senang Bapak puas dengan hasilnya." Nayla tersenyum senang. Ini karya pertamanya dan pelanggan puas, tentu saja dia ikut bahagia.
"Ngomong-ngomong, kau sudah punya pacar belum?"
Tangan Nayla yang sedang melipat jas ke dalam kantong plastik terhenti. Dia menoleh kaget saat David tiba-tiba berdiri tepat di belakangnya dan mengusap rambut panjangnya. Penampilan Nayla yang kini lebih feminim dan anggun memang terlihat sangat cantik, membuat pria itu tak kuasa menahan kekagumannya.
"Saya..."
"Kalau belum, aku bersedia menjadi kekasihmu. Bagaimana? Aku serius."
"Pak David, maaf... jangan seperti ini..."
"Aku sungguh belum pernah menyukai wanita secepat ini. Kau membuatku jatuh cinta hanya dengan melihatmu sekali seminggu." Nayla menggeleng gelisah. Astaga, apa-apaan ini? Dia mendapat pernyataan cinta dari pria lain, padahal dia adalah istri orang lain.