NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Gaun Putih dan Niat Hitam

Hari yang paling ditakuti sekaligus dinantikan itu akhirnya benar-benar tiba. Langit pagi kota Jakarta cerah tanpa awan, seolah ikut menyambut pesta pernikahan megah yang digelar oleh keluarga besar Dirgantara. Sebuah hotel bintang lima yang paling mewah di pusat kota telah disewa sepenuhnya. Karpet merah dibentangkan dari pintu lobi hingga menuju aula utama, sementara rangkaian bunga mawar putih dan lily segar yang diimpor langsung dari luar negeri menghiasi setiap sudut ruangan, menyebarkan aroma harum yang menenangkan.

Namun, ketenangan sama sekali tidak dirasakan oleh Kinanti Larasati. Di dalam ruang rias eksklusif pengantin wanita, gadis itu duduk diam di depan cermin besar yang dikelilingi oleh lampu-lampu sorot. Tiga orang perias profesional sedang sibuk memoles wajah dan menata rambutnya.

Setengah bulan perawatan intensif yang diberikan Baskara benar-benar membuahkan hasil yang magis hari ini. Ditambah dengan polesan riasan pengantin yang natural namun berkelas, wajah Kinanti terlihat sangat manglingi. Kulitnya yang putih tampak bercahaya, dipadukan dengan kebaya pengantin modern berwarna putih brokat dengan ekor panjang yang menjuntai indah. Rambut hitam gelombangnya disanggul anggun dengan hiasan melati yang wangi. Saat menatap pantulan dirinya di cermin, Kinanti hampir tidak mengenali sosok gadis desa yang dulu selalu berkutat dengan ember dan sabun cuci pakaian.

"Ya Allah, Nak... kamu cantik sekali," bisik Ibu Helnawati yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang rias. Air mata haru mengalir di pipi wanita paruh baya itu. Beliau mengenakan kebaya seragam yang sangat apik, begitu pula dengan Bapak Adriani yang tampak gagah mengenakan beskap.

Kinanti menoleh, lalu tersenyum manis sebuah senyuman tulus yang jarang sekali dia perlihatkan belakangan ini. Dia menggenggam tangan ibunya yang gemetar. "Terima kasih, Bu. Ibu dan Bapak juga terlihat sangat hebat hari ini," jawab Kinanti lembut, berusaha menyembunyikan badai kecemasan yang berkecamuk di dalam dadanya.

Pintu ruang rias mendadak terbuka dengan kasar, merusak momen haru tersebut. Natasha melangkah masuk dengan gaun pesta berwarna merah marun yang sangat mencolok dan riasan wajah yang tebal. Remaja itu menatap Kinanti dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilat kecemburuan yang sempat melintas di matanya saat melihat betapa cantiknya Kinanti hari ini, namun dengan cepat dia menyembunyikannya di balik senyuman sinis.

"Nikmati saja menit-menit terakhirmu bertingkah seperti seorang ratu, Gadis Kampung," bisik Natasha pelan saat dia berjalan melewati kursi Kinanti, sengaja memastikan suaranya hanya didengar oleh calon ibu tirinya. "Karena sebentar lagi, kamu akan tahu apa rasanya dipermalukan di depan seluruh kelas atas Jakarta."

Kinanti tidak berkedip, apalagi membalas. Dia hanya menatap datar ke arah Natasha melalui cermin. Sikap tenang Kinanti yang tidak terpengaruh oleh gertakannya membuat Natasha mendengus kesal dan langsung keluar dari ruangan, bersiap untuk menunggu kedatangan maminya yang berjanji akan membawa kehancuran.

Tepat pukul sepuluh pagi, aula utama hotel dipenuhi oleh ratusan tamu undangan yang terdiri dari para pejabat, pengusaha sukses, dan kaum sosialita rekan bisnis Baskara dan Juragan Ramli. Atmosfer ruangan mendadak hening dan sakral saat alunan musik instrumental pengantin mulai bergema.

Di ujung altar pernikahan, Baskara Dirgantara berdiri dengan sangat gagah. Pria matang itu mengenakan setelan jas pernikahan hitam yang dijahit khusus, membuat tubuh tegapnya terlihat kian berwibawa. Wajah tampannya tampak datar dan dingin seperti biasa, namun sepasang mata elangnya terus menatap lurus ke arah pintu masuk aula.

Pintu kayu besar itu terbuka perlahan. Kinanti melangkah masuk didampingi oleh Bapak Adriani. Begitu sosok Kinanti terlihat, terdengar suara bisik-bisik kekaguman yang tertahan dari seluruh penjuru aula. Para tamu undangan berbisik-bisik, terpesona oleh kecantikan alami dan aura anggun yang dipancarkan oleh pengantin wanita Baskara.

Baskara sendiri sempat tertegun selama beberapa detik. Napasnya tertahan melihat bagaimana gaun putih itu melekat sempurna di tubuh ramping Kinanti, dan bagaimana wajah gadis sewot itu kini menjelma menjadi sosok wanita yang teramat sangat cantik. Ada rasa kepemilikan yang mendalam yang tiba-tiba menghentak dada Baskara. Dia milikku sekarang, batin Baskara tegas.

Prosesi ijab kabul dan janji suci berlangsung dengan sangat khidmat. Di hadapan penghulu dan para saksi, Baskara mengucapkan kalimat kabul pernikahan dengan suara yang berat, lantang, dan tegas dalam satu tarikan napas tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Sah!" suara para saksi menggema.

Detik itu juga, Kinanti Larasati resmi menjadi Nyonya Dirgantara yang sah. Juragan Ramli yang duduk di barisan depan tampak menghapus air mata bahagianya, tersenyum puas karena janji masa lalunya telah tertunaikan. Sementara di sudut lain, Natasha menatap ayahnya dengan cemas, terus-menerus memeriksa ponselnya menanti pergerakan dari Chynthia.

Setelah prosesi akad selesai, acara langsung berlanjut ke resepsi pernikahan yang mewah. Kedua mempelai kini telah berdiri di atas pelaminan yang megah, bersalaman dengan para tamu penting yang mengantre untuk memberikan ucapan selamat.

 Kinanti berusaha tersenyum ramah meskipun kakinya mulai terasa pegal akibat sepatu hak tinggi yang harus dia kenakan.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tepat saat antrean tamu mulai lengang, pintu aula utama tiba-tiba didorong terbuka dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman yang mengejutkan seluruh isi ruangan.

Semua mata seketika tertuju ke arah pintu. Seorang wanita dengan gaun malam berwarna hitam berpotongan rendah yang sangat mewah dan glamor melangkah masuk dengan dagu terangkat angkuh. Itu adalah Chynthia, mantan istri Baskara. Tidak sendirian, di belakang Chynthia tampak beberapa orang fotografer dan wartawan infotainment yang sengaja dia bayar untuk meliput aksinya.

Suasana gedung yang semula hangat mendadak berubah menjadi sangat tegang dan riuh oleh bisikan-bisikan gunjingan dari para tamu. Natasha yang melihat kedatangan maminya langsung tersenyum puas penuh kemenangan di bawah panggung pelaminan.

Chynthia melangkah dengan anggun namun penuh keangkuhan menaiki anak tangga pelaminan. Tatapannya yang tajam dan sarat akan kebencian langsung tertuju pada Kinanti.

"Baskara! Aku tidak menyangka seleramu sudah merosot sejauh ini sampai-sampai kau mau menikahi seorang gadis kampung yang menjijikkan!" seru Chynthia dengan suara yang sengaja dikeraskan agar menggema ke seluruh penjuru aula, memotong jalur musik yang langsung dihentikan oleh operator.

Bapak Adriani dan Ibu Helnawati yang duduk di kursi keluarga besar seketika gemetar. Wajah ibu Helnawati pucat pasi, air matanya menetes karena syok dan malu dituduh secara terang-terangan di depan ratusan orang kaya.

Chynthia kemudian berbalik menghadap ke arah para tamu undangan dan para wartawan yang mulai menyalakan lampu kilat kamera mereka. Wanita licik itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dari dalam tasnya.

"Hadirin sekalian! Jangan tertipu oleh wajah polos pengantin wanita ini!" teriak Chynthia dengan nada dramatis. "Gadis bernama Kinanti ini, bersama dengan orang tuanya yang miskin, adalah komplotan penipu yang gila harta! Mereka sengaja memanfaatkan utang masa lalu dan menjebak Juragan Ramli agar dinikahkan dengan Baskara demi menguras harta keluarga Dirgantara! Bahkan, aku punya bukti foto bahwa gadis kampung ini sebenarnya sudah memiliki kekasih gelap di kampungnya dan sengaja menjual dirinya pada mantan suamiku demi uang!"

Mendengar tuduhan keji yang keluar dari mulut Chynthia, riuh bisik-bisik di dalam aula semakin memuncak. Beberapa rekan bisnis Baskara mulai menatap sinis ke arah keluarga Kinanti. Kinanti sendiri merasakan darahnya berdesir hebat karena amarah yang memuncak. Tangannya mengepal erat di balik gaun pengantinnya. Dia tidak peduli jika dirinya dihina, tetapi melihat ibunya yang hampir pingsan karena dituduh sebagai penipu gila harta, Kinanti tidak akan tinggal diam.

Namun, sebelum Kinanti sempat melangkah maju untuk menyuarakan pembelaannya, sebuah tangan besar yang hangat dan kokoh tiba-tiba menggenggam jemarinya yang gemetar.

Baskara melangkah maju satu langkah. Dengan gerakan yang sangat protektif, pria tegap itu menarik tubuh Kinanti ke belakang punggungnya, menyembunyikan sang istri sepenuhnya dari pandangan tajam Chynthia dan sorotan kamera wartawan.

Baskara menatap mantan istrinya dengan sepasang mata elang yang memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Tidak ada kepanikan di wajah tampannya, yang ada hanyalah ketenangan dingin yang teramat mengintimidasi. Pria itu kemudian meraih mikrofon yang berada di dekat meja pelaminan.

"Kau salah membawa mainan ke acaraku, Chynthia," ucap Baskara dengan suara rendah yang menggema kuat melalui pengeras suara, sanggup membungkam seluruh riuh bisik-bisik di dalam aula dalam sekejap.

Chynthia sedikit tersentak melihat reaksi Baskara yang sama sekali tidak terpengaruh oleh bukti palsu yang dibawanya. Seringai di wajah licik wanita itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa cemas yang tiba-tiba merayap di dadanya saat melihat senyuman sinis yang terukir di bibir dingin Baskara.

Baskara menoleh sedikit ke arah bawah panggung pelaminan, tepat ke arah orang kepercayaannya yang sudah bersiap di dekat pintu samping. "Rian... bawa masuk orang yang sudah kau tangkap tadi malam. Orang yang dibayar oleh Chynthia untuk membuat foto dan dokumen palsu ini."

Mendengar perintah mutlak dari Baskara, wajah Chynthia seketika berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat. Di bawah panggung, Natasha yang semula tersenyum puas kini mendadak lemas dengan tubuh yang bergetar hebat. Mereka berdua tidak pernah menyadari bahwa setiap langkah licik mereka selama setengah bulan ini sebenarnya telah berada di dalam genggaman dan pengawasan penuh seorang Baskara Dirgantara.

Suasana di dalam aula mewah itu seketika mencekam. Detik-detik berikutnya terasa berjalan begitu lambat saat Rian, kepala keamanan kepercayaan Baskara, melangkah masuk ke dalam aula. Dia tidak sendiri. Rian menggandeng paksa seorang pria bertubuh kurus dengan kamera yang mengalung di lehernya, serta seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai editor foto bayaran di dunia underground ibu kota. Kedua orang itu berjalan menunduk dalam-dalam dengan wajah yang dipenuhi ketakutan.

Chynthia yang melihat kedua orang itu dibawa ke depan pelaminan langsung melangkah mundur. Tas mewah di genggamannya bergetar hebat. "Ba-Baskara... apa-apaan ini?! Siapa mereka?!" tanyanya, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak terdengar panik, meski matanya menyiratkan ketakutan yang amat sangat.

Baskara tidak langsung menjawab. Pria matang itu menyerahkan mikrofonnya sejenak kepada Rian. Dengan sigap, Rian menghubungkan sebuah diska lepas (flashdisk) yang dibawanya ke operator laptop utama gedung.

Bzzzt...

Layar proyektor raksasa di belakang pelaminan yang semula menampilkan foto-foto pranikah romantis Baskara dan Kinanti seketika berubah. Layar itu kini menampilkan rekaman video CCTV yang sangat jernih di sebuah kafe remang-remang, bertanggal tiga hari yang lalu. Di dalam video itu, terlihat sangat jelas Chynthia sedang menyerahkan seoper amplop tebal berisi uang tunai kepada kedua pria yang baru saja dibawa masuk oleh Rian. Tidak hanya itu, suara Chynthia yang sedang memerintahkan mereka untuk merekayasa foto Kinanti dengan pria lain agar terlihat seperti wanita murahan, terdengar sangat jelas melalui pengeras suara aula.

“Buat foto editan ini sehalus mungkin. Aku ingin semua orang percaya kalau jalang kecil ini sudah menjual dirinya demi uang. Hancurkan martabatnya di hari pernikahan,” suara Chynthia di dalam rekaman itu menggema, memotong seluruh sisa pembelaan yang mungkin tersisa di kepala wanita licik itu.

Seluruh tamu undangan seketika riuh rendah. Suara kasak-kusuk yang tadinya menyudutkan Kinanti, kini berbalik total menjadi tatapan jijik dan kecaman yang ditujukan langsung kepada Chynthia. Para wartawan yang semula mengarahkan kamera ke arah Kinanti, kini dengan beringas membalikkan lensa mereka dan menghujani Chynthia dengan lampu kilat yang bertubi-tubi.

"Itu fitnah! Rekaman itu palsu! Baskara, kau sengaja menjebakku!" jerit Chynthia histeris, mencoba menutupi wajahnya dari jepretan kamera para wartawan.

Baskara kembali mengambil mikrofon dari tangan Rian. Pria itu menatap mantan istrinya dengan pandangan yang sedingin es, seolah sedang melihat seonggok sampah yang tidak berharga.

"Aku sudah memperingatkanmu melalui Rian setengah bulan yang lalu, Chynthia. Jangan pernah mengusik ketenanganku, dan jangan pernah menyentuh apa yang sudah menjadi milikku," ucap Baskara, suaranya yang berat dan penuh penekanan terdengar sangat mematikan. "Foto-foto yang kau bawa adalah palsu, dan semua orang di ruangan ini sudah melihat kebenarannya. Kau tidak hanya mempermalukan dirimu sendiri, tapi kau juga sudah resmi melakukan tindakan pencemaran nama baik secara sengaja."

Baskara menoleh ke arah dua petugas kepolisian berpakaian preman yang rupanya sudah menunggu di dekat pintu masuk sejak tadi. "Petugas, silakan bawa wanita ini keluar dari acaraku. Proses hukum dia sesuai dengan bukti-bukti yang sudah saya serahkan tadi malam."

"Tidak! Lepaskan aku! Baskara! Aku ini mami dari anakmu! Natasha, tolong Mami, sayang!" teriak Chynthia histeris saat kedua petugas polisi itu memegangi lengannya dan menyeretnya keluar dari aula pelaminan secara paksa. Teriakan histeris Chynthia lambat laun menghilang seiring tertutupnya pintu aula.

Di bawah pelaminan, Natasha berdiri mematung dengan wajah yang memucat bagaikan kertas. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat. Dia tahu, setelah maminya tertangkap, dialah yang akan menghadapi kemarahan papanya. Natasha melirik ketakutan ke arah pelaminan, dan benar saja, sepasang mata elang Baskara kini sedang menatap lurus ke arahnya dengan pandangan penuh kekecewaan dan peringatan keras. Natasha menunduk dalam-dalam, menyadari bahwa posisinya di rumah kini tidak akan pernah sama lagi.

Setelah drama yang menegangkan itu berakhir, Baskara berbalik sepenuhnya menghadap Kinanti. Pria itu menurunkan pandangannya, menatap lekat-lekat mata bening sang istri yang masih menyiratkan sisa-sisa keterkejutan dan kemarahan. Baskara perlahan mengangkat tangannya, lalu dengan lembut merapikan sedikit helai rambut Kinanti yang sempat terurai di dekat pipinya.

Kinanti mendongak, menatap dada tegap Baskara yang berada tepat di depannya. Untuk pertama kalinya, rasa benci dan kesal di dalam dada gadis itu sedikit mencair, digantikan oleh rasa aman yang tak disangka-sangka. Pria dingin dan pemaksa di depannya ini ternyata benar-benar menepati janjinya untuk melindunginya dan keluarganya dari badai apa pun.

Baskara menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Kinanti dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Sudah kubilang, kan? Jangan khawatirkan apa pun. Mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa merendahkanmu atau keluargamu lagi, Nyonya Dirgantara."

Kinanti merapatkan bibirnya, menatap wajah tampan Baskara yang kini berada sangat dekat. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, lalu membalas bisikan itu dengan nada datar andalannya namun dengan kilat mata yang tegas. "Terima kasih, Tuan Pemaksa. Tapi jangan mengira karena tindakan ini, aku akan langsung tunduk dan menurut padamu di rumah nanti."

Mendengar tantangan kecil yang keluar dari bibir istrinya, Baskara justru terkekeh rendah sebuah tawa penuh kemenangan yang membuat ketampanannya meningkat berkali-kali lipat. Pria itu menggenggam erat tangan hangat Kinanti, lalu berbalik bersama-sama untuk menghadapi para tamu undangan yang kini bertepuk tangan riuh, menyambut dimulainya lembaran baru kehidupan mereka yang penuh intrik dan debaran tersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!