NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permohonan Maaf

Safa mendatangi kamar Vino dengan wajah sendunya. Dia melihat Vino dipelukan Johan lalu perlahan menghampiri mereka.

Safa berlutut disamping ranjang Vino memohon ampun pada Johan.

"Vino, Daddy.... Mommy minta maaf" Suaranya pecah di akhir kalimat. "Aku udah jadi orang jahat, maafin aku Han. Jangan ceraikan aku. Aku mohon Han".

Vino melihat Safa yang bersimpuh disamping ranjang merasa kasihan.

"Papah... Mommy salah apa? Apa Mommy harus dihukum seperti ini?" Matanya yang polos menatap Johan penuh pertanyaan dan menuntut jawaban.

"Iya, Mommy pantas dihukum" Suara Johan pelan namun tegas.

Vino turun dari kasur memeluk ibunya yang terus berlutut sambil menangis. Safa dengan cepat membalas pelukan anaknya yang selama ini sering terabaikan.

"Maafin Mommy" Isak tangis Safa semakin menyayat hati Johan.

Tak dipungkiri, dulu Johan sangat menyayangi Safa hingga meninggalkan Alana. Namun, dendam menjadikan Safa orang yang tak punya empati. Ia selalu ingin Alana merasakan apa yang Safa rasakan dulu. Hingga Safa tak pernah memberi izin Johan bertemu dengan Cia, anak dari Alana.

"Aku bisa maafin kamu, namun aku tak bisa menjamin ketika Rafa dan Alana tahu kamu dalang dari semua ini". Suara Johan berat berharap memaafkan istrinya adalah keputusan yang benar.

"Makasih Han... Aku akan datang ke rumah Alana, aku akan menyerahkan diri apapun keputusan Alana dan Rafa, aku akan terima".

Hening sejenak

"Tolong jangan ceraikan aku. Jangan pisahkan aku dengan Vino. Aku sayang kalian berdua, aku gak mau kehilangan kamu kedua kalinya Han. Aku mohon" Safa semakin terisak.

Johan dengan mudah goyah, ia begitu mencintai Safa dari dulu. Saat masih bersama Alana, ia tak pernah merasa ikut sesak jika Alana menangis, namun Safa? Safa segalanya baginya, mengingat perjuangan mereka bersama dimasa lalu dengan penuh perjuangan dan air mata, serta kecaman dari orangtua masing-masing membuat Johan membatalkan perceraian dengan Safa.

"Bangun lah, aku gak akan ninggalin kamu. Kamu ibu dari anak aku, Vino. Aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian" Ucapnya sambil mengusap air mata Safa.

Safa kini duduk di kasur Vino, air matanya masih mengalir deras.

"Mommy sama Papah gak akan pisah?" Tanya Vino polos "Vino gak harus pilih mau ikut siapa kan? Kita masih tinggal bareng kan Pah?" Timpalnya lagi.

"Iya sayang, dengan satu syarat" Sahut Johan tegas.

"Apa?" Safa menatap lurus Johan

"Perbolehkan aku, bertemu Cia kapan saja"

Mendengar syarat yang diajukan Safa tersentak namun kali ini ia tak bisa berkutik. Safa mengangguk pelan meski ada rasa tak ikhlas ia menyetujuinya.

"Bawa Vino juga setiap bertemu Cia".

Pinta Safa pada Johan.

"Mereka harus dekat satu sama lain karna mereka sedarah" Tambahnya lagi.

"Kamu yakin?"

"Iya, mulai sekarang aku akan menganggap Cia sebagai anakku juga. Aku akan menyerahkan diri kepada Alana dan Rafa". Safa berdiri dan melangkah ke kamarnya.

Dikamar, Vino dan Johan saling tatap sambil tersenyum.

"Pah... Vino dan Kakak Cia beneran boleh ketemu?" Mata Vino berbinar menatap Johan.

Johan mengangguk sambil tersenyum lalu memeluk anaknya itu.

_____

Dua hari berlalu, Rafa dan Alana kini sudah pulang dari rumah sakit. Orangtua Alana membantu merawat Alana dan Rafa, bergantian dengan Dirga, ayah Rafa.

"Makasih ya mah, udah mau rawat kita" Ucap Alana pada ibunya.

"Sama-sama sayang, kalo gitu mama sama papa pulang dulu ya kamu istirahat." Mamanya Alana mengecup puncak kepala putrinya lalu bergegas pulang.

"Makasih, mah pah" Ucap Rafa sambil tersenyum

kepada mertuanya itu.

"Cepat sembuh ya. Ingat, kalo udah pulih jangan lupa kasih kita cucu lagi ya" Papa Alana bercanda dengan Rafa hingga membuat Rafa tersipu.

________

Sore hari Safa dan Johan mendatangi rumah Rafa dan Alana.

Diruang tamu, ada rasa canggung menyelimuti Safa dan Alana.

"Pak Rafa, Alana.. Maksud kedatangan kami kesini, bukan sekedar menjenguk. Tapi kami mau menyerahkan diri..."

"Aku" Safa memotong kalimat Johan.

"Aku dalang penusukan Rafa, dan ini semua murni aku. Gak ada campur tangan antara Johan atau siapapun". Jelasnya pancar mengakui perbuatannya. "Aku yang bayar orang, dan targetku.... Alana".

"Gila kamu, orang macam apa sih kamu? Tega nyakitin orang sampe mau hilangin nyawa orang lain?" Rahang Rafa mengeras menahan emosi.

"Apa salah istri saya? Kamu mau Johan balik sama kamu, sudah Alana kasih. Dan Alana kini sedang menikmati hidupnya masih kamu usik? Saya akan jebloskan kamu ke penjara". Timpal Rafa lagi.

"Aku tahu salah, aku cemburu.. Aku takut Alana mengambil Johan kembali. Aku terlalu membenci Alana, maafkan aku".

Safa berlutut dihadapan Alana, memohon maaf.

Alana hanya diam, ia masih mencerna kalimat dan pengakuan Safa.

"Safa, kita temenan dulu. Bahkan sahabatan, tapi kenapa sekarang jadi hancur? Kamu hampir bunuh aku karna cemburu?"

Alana membuka suara pada akhirnya.

"Aku minta maaf Na, maafin aku" Safa masih berlutut didepan Alana.

"Bawa dia ke kantor polisi sekarang". Tegas Rafa pada Johan.

"Oke, aku akan menyerahkan diri ke kantor polisi tanpa harus dipaksa. Kalian boleh menjebloskan aku ke penjara. Tapi... Aku titip Vino, Alana".

Alana tersentak saat Safa menyebutkan nama anaknya. Alana terfikirkan kehidupan Vino tanpa Safa.

"Kita bicara lagi nanti. Hari ini aku capek, aku mau istirahat. Kalian berdua pulang" Alana memutar kursi rodanya.

"Sayang, nggak bisa gini dong. Safa udah hampir bunuh kamu, kamu mau lepasin dia gitu aja?" Rafa menahan Alana.

"Kita bicarakan lagi nanti, Mas. Aku perlu istirahat, aku juga gak mau gegabah ngambil keputusan". Sahut Alana lalu pergi.

"Pak Rafa, mungkin benar Alana butuh istirahat. Dan apa masalah ini akan ditunda sampai Alana siap atau tetap mau ke polisi?" Tanya Johan hati-hati membuat jantung Safa hampir berhenti berdetak.

"Kita bicara lagi nanti, lihat dulu kondisi Alana. Kalo besok dia siap, besok kita akan bicarakan lagi". Rafa memberi Alana kesempatan istirahat.

sekaligus memberi peringatan kepada Johan dan Safa "Jika kalian kabur terutam kamu Safa" mata Rafa menatap lurus Safa

"Saya gak akan segan-segan untuk menjebloskan kamu kedalam penjara. Terlebih, dua orang suruhan kamu sudah berada di genggaman tangan saya".

Kalimat Rafa penuh ancamam tersembunyi untuk Safa, membuat Safa sedikit gemetar dan menunduk.

"Saya gak akan kabur, aku akan menyerahkan diriku sendiri jika kalian ragu dengan permintaan maafku" Tegas Safa meski bibirnya gemetar.

Safa dan Johan pulang, meninggalkan kediaman Rafa dan Alana. Dimobil Johan memijat pelipisnya mengkhawatirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Ia pernah bermasalah dengan Rafa.

"Rafa emang pemaaf tapi itu dulu, gue gak jadi dipenjara karna dibantuin bokap gue dan bokap Alana. Apa dipermasalahan ini dia akan menjadi pemaaf juga?" Batin Johan berisik.

"Han.. Kalo seumpama mereka pengen aku dipenjara, aku siap Han. Tapi Vino, aku titip Vino sama kamu ya" Kalimat Safa terdengar memohon menyayat hati Johan.

"Semoga mereka masih berbesar hati, tapi kesalahan ini fatal. Aku ragu Rafa bisa memaafkan kamu, tolong jadikan ini pelajaran buat kamu. Ada Vino yang masih butuh kamu"

Johan melirik ke arah Safa yang masih menangis, merasa bersalah dengan sikap dan tindakannya yang nyaris melenyapkan nyawa Alana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!