NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Kejar-kejaran, Tameng Lendir, dan Gigitan Katana

"Sepertinya aku harus menyingkirkan si pengawal terlebih dahulu," gumam Melati pelan.

Melati perlahan melangkah ke tepi atap. Tanpa ragu, ia menjatuhkan tubuhnya ke bawah, meluncur bebas menuju jalanan. Jubah transparannya dan sulur-sulur rambutnya berkibar liar diterpa angin, sementara tangan kanannya sudah menggenggam gagang katana di pinggang.

Di bawah sana, Jin yang sedang berjalan mendadak membeku.

Insting tempur tingkat tinggi yang ditempanya selama bertahun-tahun di kekaisaran menjeritkan sinyal bahaya. Bulu kuduknya meremang. Ada niat membunuh yang luar biasa pekat meluncur dari arah atas!

"Menjauhlah, Yang Mulia!" teriak Jin.

Tepat sepersekian detik sebelum ujung katana Melati menembus ubun-ubunnya, Jin melompat menghindar ke samping sambil mendorong tubuh Kahlia.

BUMMM!

Melati menghantam trotoar batu berlapis keramik itu dengan keras, menciptakan kawah kecil dan kepulan debu pekat.

"Ada apa, Jin?!" pekik Kahlia panik, terhuyung dibantu oleh Lyra yang tak kalah terkejut.

Dari balik kepulan debu, sesosok bayangan melesat maju tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Melati langsung menerjang Jin dengan kecepatan luar biasa.

TING! TRANG!

Bunga api memercik terang di tengah jalanan kota saat Jin menangkis tebasan mematikan katana Melati menggunakan sebilah combat knife baja yang selalu dia bawa.

Jin mengertakkan giginya menahan beban serangan yang begitu berat. "Apa kau orang suruhan Nereon?!" desis Jin.

"Orang mati tak perlu tahu," balas Melati dingin. Katana di tangannya berputar merobek udara, melancarkan tebasan beruntun yang memaksa Jin terus mundur untuk bertahan hidup.

Melihat pertarungan tingkat tinggi yang jelas bukan kelas kurir antar-galaksi, insting bertahan hidup Lyra langsung menyala. Pilot berlengan enam itu segera menyambar lengan Tuan Putri Kahlia.

"Ayo, Tuan Putri! Kita menjauh dari sini sekarang juga!" tarik Lyra panik.

"Jin!" teriak Kahlia, wajahnya pucat pasi melihat pengawalnya didesak hebat.

"Dia pasti bisa jaga diri! Ayo lari!" paksa Lyra, menyeret Kahlia menerobos keramaian pejalan kaki yang mulai menjerit ketakutan melihat pertarungan sengit di tengah trotoar.

Lyra dan Kahlia berlari sekuat tenaga menyusuri lorong-lorong metropolis bergaya medieval-futuristik tersebut. Deru napas mereka memburu.

"Seperti yang Kapten Arka duga, cepat atau lambat orang yang mengincar Anda pasti akan datang," ucap Lyra terengah-engah sambil terus berlari. "Kita harus cari kantor polisi, atau mending kita lari balik ke pelabuhan! Aku harus menelpon Kapten!"

"Tapi bagaimana dengan Jin...?" isak Kahlia panik.

"Sudah tugasnya untuk melindungi Anda!" balas Lyra praktis.

Namun, belum sampai dua blok mereka berlari, langkah Lyra mendadak terhenti paksa. Rem sepatunya berdecit menahan laju.

Di ujung jalan setapak yang sepi itu, seorang wanita bertopi caping dengan jubah transparan sedang berjalan pelan menyongsong mereka. Melati memutar katananya dengan santai untuk membersihkan sisa debu, lalu menyarungkannya kembali.

Lyra menelan ludah. "Sial... dia cepat sekali."

Kahlia melebarkan mata. Wajahnya seketika pucat ketika menyadari pembunuh itu sudah berhasil menyusul dan memotong jalan mereka.

"Jin... bagaimana dia bisa...?" suara Kahlia bergetar, membayangkan nasib pengawalnya yang berhasil dilewati secepat itu.

"Jangan bengong! Ayo kita putar arah ke kapal kargo saja!" Lyra menarik kembali tangan Kahlia, berbalik, dan berlari ke persimpangan lain.

Melati hanya tersenyum tipis melihat keduanya terus berusaha melarikan diri.

Mau lari ke mana dia? batin Melati tenang. Tidak akan ada lagi yang bisa melindunginya di si...

Langkah Melati tiba-tiba tertahan. Otaknya teringat pada perkataan Nereon. Eksekutif Hyperson itu pernah mewanti-wanti bahwa ada seorang keamanan ras Grovax di dalam kapal kurir tempat sang putri berlindung.

Sial. Wajah Melati sedikit mengetat. Ia baru teringat peringatan Nereon tentang seorang Grovax yang menjadi bagian keamanan kapal kurir itu. Kalau sampai aku berhadapan dengannya sekarang, urusannya bakal merepotkan.

Tanpa membuang waktu lagi, Melati melesat mengejar kedua wanita itu.

Di sisi lain kota, Lyra dan Kahlia terus berlari menembus alun-alun. Dari arah berlawanan, dua sosok kru GPS yang sangat familiar tampak sedang berjalan santai sambil membawa sabak digital. Itu adalah Febri dan Eve, yang baru saja menyelesaikan tugas mengantar paket logistik di pusat kota.

"Eh? Eh? Bu Lyra sama Yang Mulia kenapa lari-larian siang bolong begini?" tegur Febri, tubuh jelinya bergoyang bingung.

Melihat rekan kerjanya, mata Lyra langsung berbinar penuh harap.

"Feb!! Lindungi kami! Jadilah tameng, Feb! Noh kita dikejar assassin!" teriak Lyra sambil bersembunyi di balik punggung slime hijau tersebut.

Eve memiringkan kepalanya bingung. "Assassin?"

"Udah jangan banyak tanya! Minggir!" pekik Lyra, tak mau mengambil risiko. Ia kembali menarik tangan Kahlia dan melanjutkan pelarian mereka.

Febri mengerutkan dahi jelinya. Ia melirik ke belakang dan melihat Melati melesat lurus ke arahnya dengan katana terhunus. Hawa dingin merayapi inti tubuh Febri, namun demi harga diri pria di hadapan gadis cantik, ia pantang mundur.

"Aduh, Mas Feb! Itu pembunuhnya beneran datang!" seru Eve mulai panik.

"Tenang saja, Eve. Mundurlah, biar aku yang..."

Febri merentangkan kedua tangan lendirnya untuk menghadang. Namun, jangankan menyelesaikan kalimatnya yang sok heroik, mata Febri bahkan gagal menangkap pergerakan pedang Melati.

SRAAAATT!

Tanpa mengurangi kecepatannya sedikit pun, Melati menerjang melewati Febri dalam satu kedipan mata, menebas vertikal tepat di tengah-tengah. Tubuh slime Febri terbelah dua dengan sangat presisi. Melati sama sekali tidak peduli dan terus melesat mengejar Kahlia.

"Mas Feeeeb!!!" jerit Eve histeris melihat rekan kerjanya terpotong dua.

"Ukh... setidaknya..." lirih Febri dengan suara serak-serak basah ala aktor drama sekarat. "...kematianku ditemani oleh ras Seraphi yang sangat cantik... wleek..."

Febri menjulurkan lidahnya ke samping dan memejamkan mata, pura-pura mati.

Eve, yang tadinya panik, perlahan menghentikan jeritannya. Gadis anggun bercahaya keemasan itu menatap potongan tubuh Febri dengan raut wajah luar biasa datar.

"Jangan drama gitu ah, Mas Feb," tegur Eve bosan. "Slime dari Bima Sakti kan anatominya nggak punya organ vital. Nggak akan mati lah cuma gara-gara dibelah jadi dua begitu."

Mendengar itu, dua belahan tubuh Febri langsung mencair dan menyatu kembali dalam hitungan detik. Febri kembali berdiri utuh dengan wajah cemberut.

"Ah, kamu ini nggak bisa diajak dramatis dikit," gerutu Febri merusak suasana. "Udah tau aku lagi caper."

Di pelataran Pelabuhan Antariksa Kota Lumba-Lumba.

Napas Lyra dan Kahlia sudah nyaris habis saat mereka tiba di area kargo yang sibuk. Beruntung bagi mereka, dari kejauhan tampak dua sosok familiar sedang berjalan ke arah kapal membawa tas-tas belanjaan berisi bahan makanan. Bu Maya yang menjulang setinggi tiga meter dan Sarah si gadis ubur-ubur.

"Bu Mayaaaa!!! Tolong!!!" jerit Lyra histeris.

Bu Maya dan Sarah menoleh bersamaan.

"Heee? Ada apa ini lari-larian, Mbak Lyra?" tanya Bu Maya, dahinya berkerut melihat Tuan Putri ikut terseret panik.

"Kami dikejar assassin!!" lapor Lyra terengah-engah.

Sarah menutup mulutnya tak percaya. "Haa?! Jadi beneran ya kata Kapten kalau perusahaan Hyperson itu ngincar tuan Putri Kahlia?!"

"Aku juga tidak tahu apa wanita itu utusan mereka atau bu..." Kahlia berusaha menjelaskan.

Namun sebelum kalimatnya selesai, derap langkah senyap tiba-tiba berhenti tak jauh dari mereka. Melati sudah berdiri tegak di tengah pelataran pelabuhan, katananya sudah terhunus di tangan.

Insting bertahan hidup bekerja seketika. Lyra, Kahlia, dan Sarah tanpa dikomando langsung berlari ke belakang tubuh raksasa Bu Maya, menjadikan sang Executive Chef itu sebagai dinding perlindungan mutlak mereka.

Melati memelankan langkahnya. Matanya menatap sosok wanita raksasa berkulit batu vulkanik hitam yang berdiri menutupi sasarannya. Pendar merah-oranye lava terlihat menyala dari retakan-retakan tubuh Bu Maya.

Sialan, umpat Melati di dalam kepalanya, mulai merasa frustrasi. Nereon si keparat itu sama sekali tidak bilang kalau di kapal kurir ini ada ras Belial! Apa-apaan sih kapal kargo ini? Kenapa banyak sekali mengangkut ras-ras alien kuat?!

Meski tahu lawannya memiliki fisik sekeras intan, Melati tidak punya pilihan. Ia harus menyelesaikan misi ini sekarang. Mengandalkan kecepatan penuhnya, Melati menghilang dari pandangan.

WUZ!

Dalam sepersekian detik, ia melompat sangat tinggi ke udara, membidik kelemahan tunggal makhluk besar: kepala. Melati menghunuskan ujung katananya lurus menukik, mengincar tepat di antara dua mata keemasan Bu Maya.

Namun, Bu Maya sama sekali bukan ibu-ibu jompo biasa. Koki kepala itu mengangkat wajahnya. Ia tidak menghindar. Ia tidak menangkis dengan tangannya.

Tepat saat mata pedang tajam itu hanya berjarak satu sentimeter dari hidungnya, Bu Maya membuka mulut raksasanya dan mengatupkan rahangnya sekuat tenaga.

KLANG!!!

Suara benturan logam bergema keras. Bunga api memercik terang.

Melati melebarkan matanya syok. Katananya yang mampu membelah baja, kini tersangkut, digigit erat-erat oleh deretan gigi tajam milik Bu Maya. Sang koki iblis itu menatap tajam Melati dari jarak sedekat itu. Rahang batu vulkaniknya bahkan tidak meninggalkan goresan sedikit pun.

Sadar pedangnya terjepit mati, Melati mengambil keputusan dalam persekian detik. Menggunakan momentum tubuhnya di udara, ia mengayunkan kakinya dan menendang telak wajah batu Bu Maya.

Tendangan itu cukup kuat untuk membuat gigitan sang koki sedikit melonggar. Melati menarik lepas pedangnya dan melakukan salto ke belakang, mendarat dengan aman beberapa meter dari posisi mereka.

Keributan luar biasa, dari kejaran assassin hingga wanita raksasa yang menggigit pedang, langsung memancing perhatian warga sekitar dan para pekerja dock. Dalam hitungan detik, area pelabuhan itu dikerumuni oleh puluhan orang yang berbisik-bisik panik. Melati kini berada di tengah kerumunan. Orang-orang sudah mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan beberapa di antaranya bahkan mengeluarkan perangkat komunikasi untuk memanggil keamanan.

Tak lama kemudian, seorang petugas kepolisian ras Zennor menerobos kerumunan. Pria pucat berwajah tegas itu menaruh satu tangan di atas sarung pistol blasternya, matanya langsung tertuju pada wanita yang memegang katana di tengah pelataran. Di dadanya tersemat nametag bertuliskan: GABRIEL.

"Ada keributan apa ini?!" teriak Gabriel dengan suara yang tegas, menatap tajam ke arah Melati yang memegang pedang, lalu beralih menatap Bu Maya dan rombongannya.

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena HIATUS
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!