Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Kunci Kedua
Kunci itu lebih berat daripada bentuknya.
Sekar menyimpannya di dalam kotak kecil tempat ia menaruh benda-benda yang tidak boleh dilihat orang lain. Ponsel rahasia. Kartu nama Elvin Ong. Lipatan kertas dari Renard. Sekarang kunci besi tua itu ikut berada di sana, dingin dan diam, seolah tahu ia bukan sekadar alat membuka pintu.
Ia adalah izin.
Dan izin dari Renard Liem lebih berbahaya daripada perintah.
Selama dua hari, Sekar tidak menggunakannya.
Ia membawa kunci itu di saku saat ke ruang makan. Ia merasakan sudutnya menekan kulit saat Celine tersenyum kepadanya. Ia menyentuhnya diam-diam ketika Kevin mengeluh tentang laporan Liem Group yang tidak ia mengerti. Setiap kali logam kecil itu ada di genggamannya, Sekar teringat kalimat di kertas.
Kunci ini hanya ada dua. Satu di tanganku.
Pada hari ketiga, Renard pergi sejak pagi.
Hans tidak memberi tahu ke mana. Hanya mengatakan, "Tuan tidak akan kembali sebelum malam."
Sekar mengangguk seperti informasi itu tidak berarti apa-apa.
Setengah jam kemudian, ia berdiri di depan gerbang kecil Rumah Tua.
Gerbang besi itu berada di sisi belakang, tertutup sebagian oleh tanaman rambat. Selama ini Hans selalu membukakannya dari dalam. Hari itu, untuk pertama kalinya, Sekar memasukkan kunci sendiri ke lubangnya.
Bunyi klik kecil terdengar.
Tidak dramatis. Tidak seperti pintu rahasia dalam cerita. Tetapi bunyi itu membuat jantung Sekar berdegup terlalu keras.
Ia masuk.
Rumah Tua di siang hari terasa berbeda. Cahaya jatuh dari jendela tinggi, menyentuh lantai kayu yang sudah dipoles ulang. Debu tipis menari di udara. Tidak ada Renard, tidak ada Hans, tidak ada suara perintah rendah yang biasanya membuat rumah ini terasa seperti wilayah orang lain.
Untuk pertama kalinya, Sekar bisa mendengar rumah ini bernapas.
Ia berjalan pelan ke ruang kerja.
Pintu tidak terkunci.
Ruang itu rapi seperti biasa. Rak buku tinggi menempel di dinding. Meja kayu besar menghadap jendela kebun. Di sudut, ada lampu baca dan kursi kulit tua. Namun tanpa Renard di dalamnya, ruang itu tidak lagi tampak seperti markas perang. Ia tampak seperti ruang milik seseorang yang pernah mencoba hidup normal.
Di atas meja ada cangkir kopi kosong, sebuah pena tua, dan buku catatan tertutup. Sekar tidak menyentuh buku itu. Ia hanya melihat bekas tekanan di kertas kecil di sampingnya, garis-garis pendek seperti orang yang sempat menulis lalu membatalkan. Rumah ini penuh hal yang tidak jadi dikatakan.
Di rak bawah, ia menemukan satu buku anak berbahasa Inggris. Sampulnya sudah kusam. Cerita tentang rubah kecil yang mencari jalan pulang. Sekar hampir tertawa karena kebetulan itu terlalu aneh, lalu ia melihat nama kecil di halaman pertama.
Ren.
Tulisan anak-anak. Miring. Keras kepala.
Ia menutup buku itu kembali dengan hati-hati.
Di dinding sebelah kiri, Sekar melihat foto-foto yang belum pernah ia perhatikan.
Yandy berdiri di laboratorium, mengenakan jas putih, tertawa ke arah seseorang di luar kamera. Michelle duduk di meja seminar, rambutnya digelung sederhana, tangan memegang pena. Ada satu foto keluarga di pantai. Renard remaja berdiri di antara mereka dengan wajah kaku, tetapi Michelle memegang lengannya erat, sementara Yandy tampak berusaha membuat telinga kelinci di belakang kepala putranya.
Sekar tersenyum tanpa sadar.
Renard pasti membenci foto itu.
Justru karena itu, mungkin ia menyimpannya.
Ada kehangatan yang tertinggal di foto-foto itu. Tidak besar. Tidak manis berlebihan. Hanya bukti bahwa sebelum darah, pengkhianatan, dan Eclipse, pernah ada keluarga yang saling mengenal cara tertawa masing-masing.
Sekar berdiri lama di depan foto Michelle.
"Papa pernah menolongmu," bisiknya.
Wajah perempuan itu tidak menjawab. Tetapi senyumnya membuat Sekar merasa, untuk sesaat, Ardy tidak sendirian dalam cerita masa lalu yang kusut itu.
Ponselnya bergetar.
Bukan ponsel rahasia. Ponsel biasa.
Pesan dari Celine masuk di grup keluarga kecil yang dibuat Nyonya Lima.
Ci Feli, nanti sore kamu ada di Paviliun Mei? Aku mau main sebentar. Ada teman yang paham seni, katanya ingin lihat Lukisan Mei Dingin dari jauh. Cuma lihat, kok.
Sekar membaca pesan itu dua kali.
Teman yang paham seni.
Ia hampir bisa melihat tangan Celine bergerak mendekati perangkap.
Sekar mengetik balasan yang sengaja lambat.
Maaf, sore ini aku kurang enak badan. Lain kali saja.
Balasan Celine datang cepat.
Aduh, sayang. Ya sudah, cepat sembuh ya, Ci.
Terlalu cepat. Terlalu manis.
Beberapa menit kemudian, pesan pribadi masuk dari Kevin.
Kata Celine kamu terlalu sensitif soal lukisan. Jangan bikin masalah kecil jadi ribet.
Sekar menatap layar sampai bibirnya hampir tersenyum. Kevin bahkan tidak sadar dirinya sedang dipakai sebagai palu untuk mengetuk pintu yang tidak bisa dibuka Celine sendiri.
Ia tidak membalas Kevin.
Sekar mengambil ponsel rahasia dan mengirim laporan singkat kepada Renard.
Celine ingin membawa orang untuk melihat lukisan. Aku menolak.
Balasan Renard tidak langsung datang.
Sekar menunggu beberapa menit, lalu keluar dari ruang kerja. Ia bermaksud kembali ke kebun, tetapi matanya menangkap koridor samping yang belum pernah ia lewati.
Koridor itu lebih gelap daripada bagian lain rumah. Jendelanya tertutup tirai tebal. Udara di sana lebih dingin, berbau kayu lama dan sesuatu yang samar seperti logam.
Di ujung koridor ada pintu.
Pintu kayu tebal, tanpa hiasan. Terkunci. Pada permukaannya terdapat goresan dalam, bukan satu atau dua, tetapi banyak. Garis-garis panjang turun dari bagian tengah pintu sampai mendekati lantai.
Sekar berhenti.
Goresan itu tidak terlihat seperti bekas dipindahkan. Tidak seperti bekas perabot.
Ia terlihat seperti bekas kuku. Atau cakar. Atau tangan yang pernah mencoba keluar dengan putus asa.
Udara di tenggorokannya mengering.
Ponsel rahasia bergetar di genggamannya.
Renard membalas.
Bagus. Jangan biarkan siapa pun menyentuh lukisan sebelum waktunya.
Sekar menatap pintu itu.
Untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan kunci, Rumah Tua tidak terasa seperti izin.
Ia terasa seperti peringatan.