NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009: Grup Keluarga Meledak

Grup Keluarga Prasetyo meledak pukul tujuh malam.

Sari sedang duduk di kontrakan, menempelkan label harga baru pada beberapa barang stok kios yang akan dibawa Ayu besok pagi, ketika ponselnya berbunyi tanpa henti.

Awalnya ia mengabaikan.

Lalu nama Nadia muncul di layar.

"Bu, grup keluarga ramai sekali."

"Tentang apa?"

"Mas Raka menulis panjang. Katanya Ibu membuat dia dan Mas Bayu menandatangani surat utang. Tante Dewi bilang Ibu memperlakukan anak seperti orang asing. Ibu Sri bilang Ibu sudah lupa diri sejak punya pengacara."

Sari menempel label terakhir. "Kamu sudah makan?"

Nadia terdiam. "Bu, ini serius."

"Makan juga serius."

"Aku sudah makan."

"Bagus. Screenshot semua."

"Sudah."

Sari membuka grup itu.

Pesan Raka paling panjang.

Raka: Saya tidak pernah menyangka Mama akan memperlakukan anak sendiri seperti debitur. Kami datang baik-baik, meminta bantuan sementara, tapi Mama malah menyuruh kami menulis pengeluaran dan tanda tangan. Sejak Mama menggugat cerai, Mama seperti bukan orang yang kami kenal.

Tante Dewi: Sabar, Ka. Ibumu sedang emosi. Perempuan kalau marah kadang tidak mikir panjang.

Ibu Sri: Inilah akibat terlalu banyak mendengar omongan orang luar. Anak sendiri dibuat malu. Dulu Sari tidak pernah begini.

Bayu tidak menulis apa-apa.

Sari membaca semua sampai selesai.

Dadanya tidak panas. Ia hanya merasa heran melihat betapa mudah orang-orang itu melupakan kronologi.

Ia mengetik pelan.

Sari: Karena semua ingin bicara di grup, saya jawab di grup.

Pesan langsung berhenti.

Beberapa nama muncul sedang mengetik, lalu hilang lagi.

Sari melanjutkan.

Sari: Raka dan Bayu datang meminta uang. Saya tidak menolak sepenuhnya. Saya meminta mereka menulis kebutuhan dan menandatangani pinjaman tanpa bunga. Mereka sudah dewasa, punya keluarga, punya penghasilan. Kalau itu dianggap mempermalukan, maka selama ini saya yang dipermalukan setiap kali harus membayar tagihan orang dewasa tanpa pernah diganti.

Raka langsung membalas.

Raka: Ma, kenapa harus dibuka di sini?

Sari: Karena kamu membuka dulu.

Tante Rini: Tetap saja, Sar. Anak itu darah daging. Jangan hitung-hitungan.

Sari: Saat saya dikafani, darah daging saya ada di resepsi ayahnya. Saya juga belajar dari sana bahwa hubungan darah tidak otomatis berarti tanggung jawab.

Grup kembali sunyi.

Nadia mengirim pesan pribadi.

Nadia: Bu, napas dulu.

Sari membalas pribadi.

Sari: Ibu sedang napas.

Lalu ia kembali ke grup.

Ibu Sri: Kamu selalu mengungkit itu. Orang sudah minta maaf, kenapa tidak bisa memaafkan?

Sari: Saya bisa memaafkan tanpa kembali menjadi dompet.

Bayu akhirnya muncul.

Bayu: Ma, aku tidak keberatan tanda tangan. Aku memang salah kelola uang. Jangan jadi ribut begini.

Sari menatap pesan itu agak lama.

Bayu masih lemah. Masih mudah mencari celah. Tapi setidaknya malam ini ia tidak bersembunyi di balik kakaknya.

Raka: Kamu diam saja, Yu. Jangan bikin Mama makin merasa benar.

Bayu: Tapi memang aku yang pinjam uang.

Raka tidak langsung membalas.

Sari hampir meletakkan ponsel ketika pesan baru muncul dari nomor Hendra.

Hendra: Kamu puas membuat anak-anak melawan keluarga sendiri?

Sari membaca tanpa emosi. Ia lalu menyalin pesan itu ke grup.

Sari: Hendra baru mengirim ini. Saya jawab di sini saja agar tidak ada versi berbeda. Anak-anak tidak melawan keluarga. Mereka hanya mulai belajar melihat fakta.

Hendra masuk ke grup beberapa detik kemudian.

Hendra: Kamu jangan sok paling benar. Kamu juga punya salah. Kamu menampar orang di resepsi, mempermalukan saya, mempermalukan Ratna.

Sari: Saya menampar suami yang menikah saat istrinya dikafani dan perempuan yang berdiri di sampingnya. Kalau kamu ingin memakai kata malu, pakailah dari awal kejadian.

Hendra: Kamu drama.

Sari membuka galeri. Ia memilih satu foto: dirinya di rumah duka, kain putih masih membungkus tubuh, Nadia menangis di sampingnya. Foto itu diambil salah satu kerabat dan sudah beredar, tetapi ia belum pernah mengirim sendiri.

Ia kirim ke grup.

Sari: Ini drama?

Tidak ada yang membalas selama hampir satu menit.

Lalu Nadia mengirim video pendek dari resepsi. Hendra menggenggam tangan Ratna, pembawa acara meminta mereka bertukar cincin.

Nadia: Ini bukan drama?

Raka: Nadia, hapus.

Nadia: Tidak.

Hendra: Kamu anak durhaka.

Sari langsung mengetik.

Sari: Jangan sebut Nadia durhaka. Dia satu-satunya anak yang ada saat saya membuka mata.

Nadia tidak membalas, tapi Sari tahu anaknya menangis.

Di kontrakan kecil itu, suara kipas angin berputar pelan. Label harga berserakan di meja. Di luar, anak-anak gang tertawa mengejar bola plastik.

Di layar ponsel, keluarga Prasetyo sedang mencoba mempertahankan bangunan yang sudah roboh.

Tante Dewi: Sudahlah. Jangan ribut di grup. Malu kalau screenshot tersebar.

Sari: Kalau takut screenshot tersebar, tulis yang benar.

Ayu tiba-tiba mengirim pesan pribadi.

Ayu: Bu, maaf, saya dapat screenshot grup dari sepupu saya. Sudah menyebar ke grup komplek.

Sari memejamkan mata.

Tentu saja.

Tidak ada aib keluarga yang benar-benar tinggal di keluarga jika ada WhatsApp.

Ia membalas Ayu.

Sari: Tidak apa. Besok kios mungkin ramai orang penasaran. Layani yang beli. Yang bertanya hidup pribadi, suruh beli minimal satu pulpen dulu.

Ayu: Siap, Bu. Sekalian naikkan penjualan.

Sari tersenyum.

Grup keluarga masih berjalan.

Ibu Sri kini mengirim voice note. Sari tidak memutarnya. Ia menekan transkripsi otomatis. Isinya panjang: anak harus hormat pada orang tua, istri harus menutup aib suami, perempuan tua bercerai akan sulit dihormati, Ratna memang salah tapi jangan dihukum berlebihan, Hendra masih ayah dari anak-anak.

Sari membalas satu kalimat.

Sari: Hormat tidak sama dengan membiarkan diri diinjak.

Setelah itu ia keluar dari aplikasi.

Ponsel masih bergetar, tapi ia letakkan di meja.

Sepuluh menit kemudian, pintu kontrakan diketuk.

Sari menegang. Ia melihat jam. Sudah hampir delapan.

"Siapa?"

"Aku, Bu."

Nadia.

Sari membuka pintu. Nadia berdiri dengan ransel, wajah lelah, mata merah. Ia memakai kemeja yang belum disetrika rapi dan sepatu kerja.

"Dimas?"

"Jaga malam."

"Bu Marni?"

"Di rumah. Aku bilang mau menemani Ibu."

Sari membuka pintu lebih lebar. "Masuk."

Nadia masuk, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai. Ia melihat label harga dan stok barang di meja.

"Ibu kerja?"

"Kios tidak ikut cerai."

Nadia tertawa kecil, lalu tangisnya pecah.

Sari duduk di sampingnya. Tidak memeluk dulu. Ia menunggu Nadia menunduk sampai bahunya berhenti tegang. Baru setelah itu ia mengusap punggungnya.

"Aku marah sekali waktu Ayah bilang aku durhaka," kata Nadia.

"Kamu tidak durhaka."

"Aku tahu. Tapi tetap sakit."

"Karena kamu masih ingin dia jadi ayah yang baik."

Nadia mengangguk sambil menangis.

Sari mengerti.

Anak tidak berhenti berharap hanya karena orang tuanya mengecewakan. Ia juga dulu begitu pada Hendra. Berharap ia pulang. Berharap ia melihat kerja kerasnya. Berharap ia suatu hari berkata terima kasih.

Harapan bisa menjadi racun jika diminum terlalu lama.

"Bu," Nadia berkata setelah beberapa saat, "aku tadi ke rumah sakit lama. Posisi sudah diisi, tapi dokter senior bilang aku bisa coba di RS Pejaten. Mereka butuh orang untuk unit saraf."

"Kamu mau?"

Nadia mengusap air mata. "Mau. Tapi Dimas tidak akan suka."

"Kenapa?"

"Dia bilang aku perlu fokus program hamil. Katanya kalau aku balik kerja, Bu Marni pasti makin ribut."

Sari menatap wajah putrinya.

"Kamu mau hidup dengan izin ribut Bu Marni?"

Nadia diam.

"Nadia, Ibu dulu juga begitu. Menunda beli baju karena Hendra komentar. Menunda buka cabang kios karena anak-anak butuh. Menunda istirahat karena pabrik. Menunda hidup sampai hampir tidak punya napas lagi."

Nadia menunduk.

"Ibu tidak mau kamu menunggu kain kafan untuk sadar."

Air mata Nadia jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak terlihat hancur. Ia terlihat seperti seseorang yang mendengar kunci pintu dibuka dari luar.

"Aku akan daftar," katanya.

"Bagus."

"Kalau Dimas marah?"

"Dengarkan. Lalu tetap daftar."

Nadia tertawa di sela tangis. "Ibu sekarang benar-benar berbahaya."

"Ibu baru efektif."

Mereka makan mi instan rebus karena Sari belum belanja banyak. Nadia memasak, Sari memotong cabai. Di tengah makan, ponsel Nadia berbunyi.

Dimas.

Nadia menatap layar, ragu.

"Angkat," kata Sari. "Pakai speaker kalau kamu mau."

Nadia mengangkat tanpa speaker. Wajahnya berubah makin lama makin kaku.

"Aku di rumah Ibu."

Jeda.

"Iya, aku tahu besok kamu pulang pagi."

Jeda.

"Mas, aku mau daftar kerja lagi."

Jeda panjang.

Sari tidak mendengar suara Dimas, tapi ia melihat jari Nadia mencengkeram sendok.

"Kita bicara besok," kata Nadia akhirnya. "Aku sudah memutuskan mau coba."

Ia memutus telepon.

Sari tidak bertanya.

Nadia meletakkan ponsel, lalu mengambil mi lagi.

"Dia bilang aku egois."

"Kamu merasa egois?"

Nadia mengunyah pelan. "Tidak."

"Maka makan."

Nadia tertawa pendek.

Malam itu, Nadia tidur di kontrakan Sari. Mereka berbagi tikar dan bantal baru yang masih berbau toko. Di luar, grup keluarga akhirnya sepi setelah hampir tiga jam terbakar.

Sari membuka ponsel sekali sebelum tidur.

Ada pesan dari nomor tak dikenal.

Bu Sari, saya tetangga lama di cluster. Saya cuma mau bilang, saya lihat sendiri Pak Hendra sering jemput Bu Ratna bertahun-tahun. Kalau Ibu butuh saksi, saya bersedia bicara.

Sari membaca pesan itu dua kali.

Lalu ia menyimpannya.

Besok pagi, ia akan kirim pada Pak Surya.

Satu per satu, pintu yang dulu tertutup mulai terbuka.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!