Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028
Catatan di Ponsel
"SCBD ke Mangga Besar mana ada searah?!"
Suara Jason masih cukup keras untuk membuat Tiffany di luar ruang kerja berhenti mengetik dua detik.
Nathanael menutup laptopnya pelan.
"Kecilkan suara."
"Gue tidak bisa kecilkan suara di hadapan kebohongan geografis."
"Jas."
"Lo tahu apa bagian paling parah?" Jason mencondongkan tubuh. "Bukan naik MRT subuh-subuh. Bukan bolak-balik kayak mahasiswa ngejar kelas pagi. Bagian paling parah adalah lo bilang ke dia sekalian lewat."
Nathanael diam.
"Nath, perempuan itu bisa gambar perspektif. Dia pasti bisa membaca peta."
"Dia tidak bertanya lagi."
"Karena dia baik. Bukan karena dia percaya."
Kalimat itu membuat Nathanael akhirnya mengangkat mata.
Jason menahan napas sebentar. Ia datang untuk menggoda, tetapi terkadang, menggoda Nathanael selalu berakhir di tempat yang lebih serius dari rencananya.
"Gue nggak akan bilang ke Louisa," katanya. "Tapi kalau dia tanya langsung ke gue, gue nggak akan ikut bohong."
"Aku tidak minta kamu bohong."
"Bagus. Berarti lain kali jangan kasih bahan."
Nathanael mengambil kartu uang elektronik dari tas, memasukkannya ke laci meja, lalu berkata seolah sedang membahas jadwal rapat, "Besok aku mungkin pakai driver."
Jason menatapnya. "Besok masih beli?"
"Dia suka."
Dua kata itu membuat Jason kehilangan setengah amunisi.
Ia mengusap wajah. "Lo ini benar-benar..."
"Apa?"
"Akhirnya."
Nathanael tidak bertanya maksudnya. Mungkin ia tahu. Mungkin ia hanya tidak ingin mendengar Jason mengucapkan sesuatu yang terlalu lunak di pagi hari.
Sore itu, Louisa tidak tahu apa pun tentang keributan geografis di kantor PT Nusatek Mandiri.
Ia menghabiskan hari dengan menggambar mawar putih melati di meja kerja. Sketsanya sudah memenuhi tiga halaman. Pada halaman pertama, bunga itu berdiri sendirian. Pada halaman kedua, ia menggambar vas dan bayangan jendela. Pada halaman ketiga, tanpa sengaja, ia menggambar sudut meja makan dengan mangkuk bubur.
Ketika menyadarinya, ia berhenti.
Bunga.
Bubur.
Tisu saat ia menangis.
Air hangat di samping tempat tidur.
Semua hal kecil itu mulai punya pola.
Pola yang tidak bising, tetapi hadir terus-menerus.
Menjelang malam, Nathanael pulang dengan wajah lebih lelah dari biasanya. Di tangannya ada map kerja dan sebuah paper bag kecil dari apotek.
"Kamu sakit?" tanya Louisa.
"Tidak. Aku beli obat tetes mata."
"Untuk kamu?"
"Untuk kamu."
Louisa berkedip.
Nathanael meletakkan paper bag itu di meja rendah. "Kemarin kamu baca Webtoon terlalu lama. Pagi tadi matamu merah."
Louisa ingin berkata bahwa matanya merah bukan hanya karena layar. Ada hujan dalam gambar. Ada ingatan SMA. Ada rasa sakit lama yang baru ia akui. Tetapi penjelasan itu terlalu panjang untuk berdiri di antara mereka malam ini.
Jadi ia hanya berkata, "Makasih."
"Jangan dipakai kalau tidak perlu. Bu Sari sudah cek, mereknya aman."
"Kamu sampai minta Bu Sari cek?"
"Dia lebih tahu obat rumah."
"Kamu bisa tanya apoteker."
"Aku tanya juga."
Louisa memegang paper bag kecil itu. Di dalamnya ada obat tetes mata, kapas steril, dan satu botol air mata buatan ukuran kecil. Semuanya terlalu lengkap untuk sesuatu yang disebut mampir sebentar.
"Nathanael."
"Hm?"
"Besok kamu tidak perlu beli bubur lagi."
Gerakannya saat membuka kancing manset berhenti. Tidak lama, tetapi cukup untuk membuat Louisa tahu kalimat itu masuk ke tempat yang salah.
"Kamu bosan?"
"Bukan." Louisa menunduk ke paper bag. "Aku cuma tidak mau merepotkan."
Nathanael meletakkan jas di sandaran kursi. "Kamu tidak merepotkan."
"Jam lima pagi ke Mangga Besar itu merepotkan."
"Kalau aku merasa begitu, aku tidak akan pergi."
"Tapi tetap saja..."
"Louisa."
Ia jarang memotong kalimatnya. Karena itu, ketika namanya terdengar lebih rendah dari biasanya, Louisa mengangkat kepala.
Nathanael berdiri di seberang meja, satu tangan menyentuh punggung kursi. Wajahnya masih tenang, tetapi matanya tidak memberi ruang untuk ia mengecilkan dirinya sendiri.
"Merepotkan itu kalau kamu harus memakan sesuatu yang tidak kamu suka hanya karena tidak ingin menolak," katanya. "Merepotkan itu kalau kamu harus bilang nggak apa-apa padahal kamu keberatan."
Louisa terdiam.
"Kalau aku pergi membeli bubur karena aku mau, itu bukan kamu merepotkan aku."
Kalimat itu membuat dadanya terasa penuh dengan cara yang sulit diberi nama.
Ia sudah terlalu terbiasa menghitung dirinya dari sisi beban. Jangan meminta terlalu banyak. Jangan membuat orang berubah rute. Jangan membuat orang menunggu. Jangan menyukai sesuatu terlalu jelas, karena nanti orang lain harus repot menyesuaikan.
Nathanael berkata seolah rumus itu salah dari awal.
"Kalau aku bilang aku suka," tanya Louisa pelan, "kamu akan beli terus?"
"Tidak harus terus."
"Tapi?"
"Tapi selama kamu masih ingin makan, aku bisa belikan."
Suara AC terdengar sangat halus di antara mereka.
Louisa menunduk duluan. "Aku belum tahu harus menjawab apa."
"Tidak perlu jawab sekarang."
"Kamu selalu bilang begitu."
"Karena memang tidak semua hal harus dijawab saat itu juga."
Ia mengatakan itu tanpa menekan. Tanpa membuat Louisa merasa ia berutang keputusan. Justru karena itu, Louisa semakin tidak tahu harus meletakkan rasa hangat yang pelan-pelan naik ke pipinya.
Louisa menatapnya.
Nathanael tampak tidak merasa ada yang berlebihan. Ia menggantung jas, membuka kancing manset, lalu menuju dapur untuk mengambil air. Ponselnya ia letakkan di meja makan, masih terbuka karena tadi ia baru membalas pesan.
Layar itu menghadap atas.
Louisa tidak berniat melihat.
Benar-benar tidak.
Ia hanya berdiri untuk memindahkan paper bag obat tetes mata agar tidak terkena tetesan air dari gelas Nathanael. Saat tangannya melewati meja, ponsel itu bergetar satu kali. Layarnya menyala lebih terang.
Di bagian atas terlihat notifikasi dari Jason.
Jas:
Besok jangan bilang lewat Monas sekalian.
Louisa mengerutkan kening.
Monas?
Sebelum ia sempat memikirkan itu, notifikasi turun sendiri dan layar kembali memperlihatkan aplikasi yang sedang terbuka.
Catatan.
Judulnya sederhana.
Louisa.
Jantung Louisa berdegup lebih cepat.
Ia tahu seharusnya tidak membaca. Itu ponsel Nathanael. Itu catatan pribadi. Namun layar itu terbuka di depannya, huruf-hurufnya cukup besar, dan baris pertama langsung masuk ke matanya sebelum ia sempat memalingkan wajah.
Mawar putih melati, bukan mawar putih biasa. Jangan terlalu banyak filler.
Napasnya tertahan.
Di bawahnya ada beberapa baris lain.
Teh malam, air hangat, jangan terlalu manis.
Kalau menggambar lama, ingatkan mata.
Louisa memegang tepi meja.
Ia tidak menggulir. Tidak menyentuh layar. Tidak bergerak. Tetapi catatan itu sudah cukup panjang untuk memperlihatkan bagian berikutnya.
Bagian tentang bubur.
Di dapur, Nathanael menutup tutup botol air. Suaranya kecil, tetapi membuat Louisa tersentak.
Ia seharusnya memanggilnya. Seharusnya berkata ponselmu menyala. Seharusnya mengalihkan mata.
Namun satu baris itu membuat seluruh tubuhnya diam.
Bubur: ayam suwir agak banyak, jangan pakai daun bawang, tambah kacang.