Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Arah Yang Berbeda
Pagi datang perlahan di balik tirai jendela apartemen sinar mentari bersinar menembus celah, jatuh tepat di wajah Viona yang masih terlelap. Malam panjang itu akhirnya berhasil merenggut seluruh energinya.
Di lantai tiga, di lorong apartemen kelas menengah. Hidup Viona dimulai dari titik nol, sederhana, sepi dan penuh ketidakpastian. Namun di gedung yang sama, beberapa lantai di atasnya. Ada dunia yang benar-benar berbeda.
Lantai lima lorong VIP, suasananya sedikit sunyi, lantai marmer yang mengkilap, dan dijaga ketat. Pintu-pintu unit di sana tampak lebih besar, lebih kokoh, dan jelas bukan untuk sembarang orang. Salah satu pintu terbuka, seorang pria keluar dengan langkah tenang.
Bryan mengenakan setelan kemeja hitam yang rapi, lengan sedikit digulung. Wajahnya tetap sama dingin dan tanpa ekspresi seolah dunia tidak pernah benar-benar bisa menyentuhnya. Seorang pria berjas hitam rapi sudah menunggunya di luar.
“Pagi, Tuan Bryan,” ucapnya sopan.
Bryan hanya melirik sekilas, “Laporan.” Singkat, padat dan tegas.
Pria itu tak lain adalah Arlian yang langsung menyerahkan sebuah tablet pada Bryan.
“Semua sudah beres, Tuan. Orang-orang tadi malam…gak akan mengganggu lagi...”
Bryan membaca sekilas. Tak ada perubahan pada raut wajahnya.
“Bagus...”
Ia menyerahkan kembali tablet itu. Namun langkahnya terhenti, hanya satu detik. Seolah ada sesuatu yang terlintas di pikirannya.
“Gadis itu?” tanyanya tiba-tiba.
Arlian sedikit mengangkat kepala, “Yang tadi malam, Tuan?”
Bryan tidak menjawab. Tapi tatapannya sudah cukup jelas.
“Belum terlacak, Tuan. Tapi dari informasi awal…dia bukan bagian dari jaringan mereka...”
Bryan terdiam. Menghela napas pelan.
“Pastikan dia tidak diikuti.”
Perintah itu keluar begitu saja dari bibir Bryan. Tanpa penjelasan namun Arlian tidak bertanya.
“Baik, Tuan...”
Bryan kembali melangkah. Namun sebelum benar-benar pergi langkahnya terhenti kembali.
“Dan satu lagi,” ucapnya.
Arlian langsung siaga.
“Ya, Tuan?”
Bryan menatap lurus ke depan.
“Kalau dia muncul lagi,”
Ia berhenti sejenak.
“Laporkan ke saya.”
Arlian mengangguk mantap, “Baik, Tuan Bryan...”
...****************...
Lift terbuka Bryan masuk tanpa menoleh. Pintu tertutup perlahan, wajahnya kembali datar. Namun di balik tatapan dinginnya ada satu bayangan yang terus muncul, seorang gadis dengan mata penuh ketakutan yang tetap berani menatapnya.
Sementara itu di lantai tiga, Viona akhirnya terbangun. Ia mengerjap perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Beberapa detik ia hanya diam mengingat semuanya, apartemen, pelarian dan kejadian malam tadi.
“Ini…beneran ya?” gumamnya pelan.
Ia bangkit perlahan, berjalan keluar kamar. Menatap ruangan kecil itu sekali lagi lalu tersenyum tipis.
“Mulai hari ini,” Ia menarik napas panjang.
“Gue harus kuat.”
Tanpa ia sadari, di atas sana ada seseorang yang mulai mencarinya. Dan seseorang itu tidak pernah sembarangan tertarik pada siapa pun.
Lift di lantai lima terbuka perlahan Bryan melangkah masuk tanpa ragu. Arlian berdiri di sampingnya, menekan tombol menuju lantai dasar.
Pintu mulai menutup, di saat yang sama. Sebuah suara langkah kaki terdengar dari kejauhan lorong lantai tiga Viona berlari kecil sambil merapikan tasnya.
“Duh…telat, telat…” gumamnya panik.
Rambutnya masih sedikit basah, dan sepatu yang ia kenakan bahkan belum terikat dengan benar. Ia berhenti di depan lift, tombol lift ditekan berulang kali.
“Cepet dong…” keluhnya.
Lampu indikator bergerak dari lantai lima. Turun ke lantai 4, Viona menahan nafas. Tiba di lantai 4, pintu lift di depannya terbuka namun sudah kosong.
Ia tidak tahu beberapa detik sebelumnya, lift itu baru saja membawa seseorang turun. Seseorang yang sangat dekat dengan takdirnya.
Di dalam lift yang kini bergerak turun ke lantai dasar Bryan berdiri diam. Tatapannya kosong namun entah kenapa, saat lift melewati lantai tiga. Ia sedikit menoleh ke arah pintu hanya sekilas, seolah ada sesuatu yang terasa familiar.
Arlian melirik.
“Tuan?”
Bryan menggeleng pelan.
“Tidak ada apa-apa,”
Lift terus bergerak turun.
...**********...
Sementara itu, di lantai tiga. Viona masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, ia menekan tombol lantai dasar. Lalu menghela nafas panjang.
“Hampir aja…”
Ia bersandar pelan di dinding lift, tidak menyadari bahwa ruang sempit itu baru saja ditinggalkan oleh seseorang yang malam sebelumnya menyelamatkan hidupnya.
Lift bergerak turun dan untuk beberapa detik. Dua lift yang berbeda bergerak berlawanan arah saling melewati tanpa pernah berhenti di waktu yang sama. Tanpa pernah memberi kesempata untuk sebuah pertemuan kedua. Di lantai dasar Bryan keluar lebih dulu, langkahnya tenang, tanpa tergesa-gesa sedikitpun.
Mobil merah Porsche sudah menunggu di depan, Arlian membukakan pintunya. Namun sebelum masuk, Bryan berhenti sejenak tatapannya mengarah ke arah dalam gedung. Ia hanya terdiam seolah mempertimbangkan sesuatu.
“Kenapa, Tuan?” tanya Arlian.
Bryan tidak langsung menjawab. Beberapa detik pun berlalu.
“Tidak ada,” ucapnya singkat.
Ia masuk ke dalam mobil, pintu mobil kembali ditutup oleh Arluan. Mobil pun melaju pergi dengan kecepatan rata-rata menyisir badan jalan.
...**********...
Beberapa detik kemudian, lift terbuka Viona keluar. Ia melangkah cepat menuju pintu keluar hampir saja ia melihat mobil yang baru saja pergi. Namun ia terlambat satu langkah, seperti takdir yang sengaja bermain-main pada mereka saat ini.
Dua orang, satu tempat, satu waktu yang sama. Namun tetap saja, tidak dapat bertemu satu sama lain. Dan tanpa mereka sadari, pertemuan berikutny tidak akan sesederhana seperti malam sebelumnya yang terjadi secara kebetulan.
Mobil merah melaju mulus di jalanan kota. Di dalamnya Bryan duduk dengan tenang, menatap keluar jendela dengan ekspresi datar sembari menikmati gulungan tembakau halus ditangannya. Sementara di depannya, Arlian sibuk membuka tablet, memastikan semua jadwal berjalan sesuai rencana.
“Kita ada meeting jam sepuluh, Tuan,” ucap Arlian.
“Klien dari luar negeri sudah tiba sejak tadi pagi.” lanjutnya
Bryan tidak menoleh.
“Siapa?”
“Perwakilan dari perusahaan investasi Singapura, Tuan. Mereka tertarik dengan proyek properti kita...”
Bryan mengangguk kecil.
“Pastikan semua data sudah siap...”
“Sudah, Tuan. Bahkan mereka terlihat sangat antusias...”
Bryan menyunggingkan senyum tipis. Bukan karena senang, lebih seperti rasa percaya diri.
“Antusias itu bagus,” katanya pelan.
“Berarti mereka mudah diyakinkan...”
Arlian hanya mengangguk. Tak lama kemudian mobil Bryan berhenti tepat di depan gedung tinggi dengan kaca mengkilap yang tak lain adalah kantor pusat milik Bryan.
Di dalam ruang meeting, beberapa pria dan wanita berpakaian formal sudah duduk menunggu dengan khidmat. Begitu pintu terbuka semua atensi langsung tertuju pada satu sosok Bryan.
Langkah Bryan tetap tenang, namun penuh tekanan tak terlihat. Aura dinginnya langsung mengisi atmosfer ruangan.
“Mr. Bryan, finally,” ucap salah satu pria asing sambil berdiri dan mengulurkan tangan.
Bryan membalas jabat tangan itu sekilas, “Let’s not waste time, Mr George...” jawabnya singkat.
Mereka duduk, presentasi dimulai. Salah satu klien membuka pembicaraan.
“We’ve reviewed your proposal. It’s impressive, but we need assurance regarding the risk...”
Bryan menyilangkan tangannya, tatapannya tetap tajam seperti biasanya.
“Risk is always there,” katanya tenang.
“The question is…are you capable enough to handle the profit that comes with it?”
Ruangan sedikit agak hening. Salah satu dari mereka tertawa kecil.
“I like your confidence...” Bryan menatap lurus ke depan.
“It’s not confidence. It’s calculation...”
Arlian yang duduk di sampingnya hanya terdiam, tetapi dalam hati ia tahu, jika Bryan sudah berbicara seperti itu. Kesepakatan tinggal menunggu waktu.
...****************...
Sementara itu, di sisi lain, aroma kopi menguar memenuhi udara. Suara mesin espresso, dentingan cangkir, dan obrolan ringan pelanggan menciptakan suasana hangat. Viona berdiri di balik counter mengenakan apron sederhana, rambutnya diikat satu rapi.
“Cappuccino satu, latte satu!” seru rekannya.
“Iya, tunggu bentar ya kak!” jawab Viona sambil bergerak cepat.
Tangannya sudah terbiasa menuang, mengaduk, dan menyajikan kopi. Seorang pelanggan mendekat.
“Mbak, bisa tambah gula nggak?”
Viona tersenyum ramah, “Tentu, Kak. Mau berapa sendok?”
“Dua aja.”
“Baik...”
Ia bergerak cepat, lalu menyerahkan minuman itu.
“Nih, Kak. Hati-hati masih panas ya...”
“Wah, makasih. Ramah banget sih,” ujar pelanggan itu sambil tersenyum.
Viona hanya tersenyum kecil.
“Sudah tugas saya, Kak...”
Di belakangnya, seorang rekan kerja menyenggol lengannya pelan.
“Lo keliatan beda hari ini,” bisiknya.
Viona menoleh.
“Beda gimana?”
“Lebih…hidup.”
Viona terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis.
“Mungkin karena…gue lagi mulai hidup baru gue...”
Rekannya mengangkat alis.
“Serius?”
“Iya,” jawab Viona pelan.
Meski dalam hatinya masih ada rasa takut, masih ada bayangan masa lalu. Dan masih ada, sosok pria dingin yang entah kenapa terus muncul di pikirannya.
...****************...
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda Bryan berdiri dari kursinya.
“Deal,” ucapnya singkat.
Para klien saling berpandangan, lalu satu persatu tersenyum.
“Deal.”
Jabat tangan terjadi, kesepakatan tercapai, Arlian mencatat semuanya dengan cepat. Sementara Bryan hanya berdiri dengan tenang, seolah semua itu sudah ia prediksi sejak awal.
Dua kehidupan, dua dunia. Yang satunya dipenuhi kekuasaan dan kendali, satu lagi penuh perjuangan dan harapan. Namun tanpa mereka sadari, bahwa jalur keduanya perlahan mulai mendekat.
BERSAMBUNG.