Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Di balik wajah dinginnya, Arsen ternyata memiliki satu kelemahan yang sama sekali tidak diketahui teman-temannya. Ia adalah pencinta kucing.
Ironisnya, setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang terlalu menggemaskan, pria itu justru bisa kehilangan kendali dan mendadak bertingkah seperti orang yang sedang menahan tantrum.
Seperti saat ini, dimana Keisya mencoba menyebut nama mereka untuk mengingatnya, namun nada bicaranya terdengar begitu imut.
"Hah?"
Arsen mengembuskan napas pendek sambil memikirkan sesuatu, lalu berkata, "Umur kita semua lebih tua dari elo, bahkan Kak Gabriel udah 21 dan Kak Mikha 20, Masa dipanggil nama doang."
"Oh...."
Mata Keisya membulat membentuk huruf O.
"Oke... Kak Arsen..."
Nada bicaranya terdengar begitu lembut hingga membuat beberapa orang refleks memegang dada sendiri.
Keisya kemudian kembali fokus pada makanan di tangannya. Baru satu gigitan, matanya langsung membelalak lebar. Wajahnya memancarkan ekspresi takjub yang sama sekali tidak dibuat-buat.
Daging yang lembut berpadu dengan saus gurih, mayones yang creamy, irisan tomat segar, serta selada renyah, semuanya dibungkus kulit tipis yang hangat.
"Kebab...."
Mulut Keisya terus mengunyah dengan penuh kebahagiaan.
Mulai malam ini, ia memutuskan kalau kebab adalah jajanan favoritnya.
"Anjir... gemes banget!" Reno mengerang sambil menutupi wajahnya sendiri.
"Asli.. mana gue nggak punya adik perempua lagi.." Gabriel ikut memijat pelipis.
"Lo nyulik bocil dari mana sih? Kok bisa imut begini?"
Arsen sendiri masih sulit mempercayainya.
Waktu pertama kali bertemu, Keisya tampak seperti remaja biasa. Namun sekarang, setelah melihat tingkahnya lebih lama, Arsen merasa anak itu lebih mirip seekor anak kucing yang baru pertama kali dilepas melihat dunia luar.
"Kok sendirian?"
Pertanyaan Arsen membuat Keisya mengangkat kepala dari makanannya.
"Soalnya nggak ada teman." Jawabannya terdengar ringan.
Reno kembali bertanya, "Kalau diculik gimana? Orang tua atau keluarga lo ke mana?"
Keisya mengernyit, dalam hati ia benar-benar heran.
Apa mereka menganggap dirinya anak TK? Namun sambil tetap mengunyah kebabnya, ia menjawab santai.
"Mereka lagi liburan."
Ia mengangkat bahu seolah itu bukan masalah besar.
"Gue ditinggal. Ya udah... gue main sendiri."
Arsen hanya mengangguk pelan.
Tidak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Meski begitu, tatapannya tetap beberapa kali mengarah kepada Keisya, seolah sedang mencoba memahami anak itu lebih jauh.
Keisya sendiri sudah kembali sibuk membongkar kantong plastiknya.
"Kak...."
Ia menoleh ke arah Reno.
"Ini namanya apa?"
Dafa yang sedang minum langsung tersedak.
"Buk! Khuuk!"
Butuh beberapa detik baginya untuk menenangkan batuknya.
"Itu... cilor."
"Oh...."
Keisya mengangguk puas dan kembali mengambil makanan lain.
"Kalau yang pink ini?"
Kali ini semua orang menjawab bersamaan.
"Gula kapas."
"Kembang gula."
"Rambut nenek."
"Gulali."
Keisya hanya bisa berkedip-kedip mendengar begitu banyak nama untuk makanan yang sama.
"Buset.... Banyak amat namanya."
Ia lalu membuka ikatan plastik gulali itu. Begitu sepotong masuk ke dalam mulutnya....
Mata Keisya langsung membelalak.
"Eh?!"
Ia memeriksa kembali gulali di tangannya.
"Kok hilang?"
Kalimat polos itu langsung disambut gelak tawa satu meja.
"Lo kayak baru pertama kali makan aja."
Keisya mengangguk tanpa merasa malu sedikit pun dan dengan santai menjawab, "Iya emang baru pertama."
Ia tersenyum lebar.
"Ternyata jajanan kayak gini enak juga ya, Bang."
Senyum polos itu perlahan menghapus tawa mereka. Suasana mendadak berubah hening.
Keisya yang menyadari perubahan itu menoleh bergantian kepada mereka.
"Kenapa?"
Ia mengangkat gulali miliknya.
"Mau? Nih ambil aja."
Ia bahkan berniat menyodorkannya ke arah Arsen. Namun belum sempat gulali itu berpindah tangan....
"Belum puas lo ambil semuanya?"
Suara yang begitu dikenalnya kini terngiang di kepalanya.
"Kenapa sekarang harus Kak Arsen, Keisya?!"
Gerakan tangan Keisya langsung membeku. Dalam sekejap dunia di sekelilingnya menghilang.
Ingatan yang selama ini terkubur tiba-tiba menerobos masuk tanpa ampun. Ia melihat seorang anak berlutut di halaman rumah yang dipenuhi bercak darah.
Seluruh tubuh anak itu gemetar hebat. Air mata bercampur darah membasahi wajah dan pakaiannya.
Anak itu adalah Keyla.
"Kenapa harus Kak Arsen?" Suara Keyla terdengar serak, penuh keputusasaan.
"Kalau lo mau bunuh gue... bunuh aja gue." Tangisnya semakin pecah.
"Tapi jangan orang-orang yang gue sayang.... Sialan!"
Brak!
Sebuah tamparan keras mendarat.
"Berani-beraninya kamu memaki saudaramu sendiri, Keyla!"
"Tapi Ayah...." Tangisan Keyla berubah menjadi jeritan.
"Dia pembunuh.... Dia pembunuh!"
Kata itu terus bergema.
"Keisya!"
"Hah?"
Keisya tersentak keras, kesadarannya kembali ke taman, kini napasnya memburu. Tangannya tanpa sadar mencengkeram kepalanya sendiri begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Arsen menatapnya dengan wajah panik.
"Lo kenapa?"
Barulah Keisya menyadari gulali di tangannya sudah jatuh ke tanah. Pandangan keempat orang di hadapannya kini dipenuhi kekhawatiran.
Belum sempat ia menjawab, sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya. Keisya refleks menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan.
"Kak...."
Suaranya terdengar pelan.
"Ada tisu nggak?"
Semua orang langsung melihat bercak merah yang mulai mengalir melewati sela-sela jarinya.
"Eh?!"
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu