Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Mei Li hampir lupa hari ulang tahunnya.
Atau lebih tepatnya, ia sudah lama melatih diri untuk tidak mengingat.
Pagi itu dimulai seperti hari lain. Laporan aset Tan Group. Peta pergerakan Kevin di Penang. Dua pesan dari Haji Mansur tentang orang Tan yang mulai menjual informasi murah. Satu pembaruan dari Joanna bahwa pencarian Max terhadap Evelyn belum mendekat, tetapi belum berhenti.
Di meja sarapan, Amy meletakkan semangkuk bubur ayam ringan di depan Mei Li.
"Nona harus makan."
"Aku makan."
"Kopi bukan makanan."
Bella yang berdiri di dekat pintu menambahkan, "Hari ini jangan ada jadwal setelah pukul enam."
Mei Li mengangkat mata. "Kenapa?"
Amy dan Bella saling menatap terlalu cepat.
"Keamanan," kata Bella.
"Keamanan apa?"
"Keamanan... personal."
Mei Li meletakkan sendok. "Kalian buruk sekali berbohong."
Ponselnya bergetar sebelum Amy sempat menyusun alasan yang lebih baik. Sinta menelepon lewat video. Begitu layar menyala, wajah Sinta muncul dengan topi ulang tahun kecil yang jelas dibeli mendadak.
"Happy birthday, Jie!"
Di belakang Sinta, Bayu terdengar berkata, "Pelan-pelan, jangan terlalu heboh."
"Aku heboh sekali setahun," protes Sinta.
Mei Li menatap layar. Untuk satu detik, wajahnya melembut. "Kamu harusnya istirahat."
"Aku istirahat setelah kamu janji tidak kerja sampai tengah malam."
"Tidak bisa."
"Kak Mei Li."
Nada Sinta berubah. Bukan manja, bukan memaksa. Lebih seperti anak kecil yang tahu persis bagian mana dari kakaknya yang selalu bersembunyi.
"Sekali saja," katanya. "Biarkan hari ini bukan tentang keluarga Tan."
Mei Li tidak menjawab.
Ulang tahun, bagi orang lain, adalah kue dan lilin. Bagi Mei Li, tanggal itu selalu berdiri terlalu dekat dengan wajah Lim Yun. Dulu, Mama akan bangun lebih pagi, menyelipkan melati putih di rambutnya, lalu berkata bahwa anak perempuan boleh tumbuh kuat tanpa kehilangan kelembutan.
Setelah Mama mati, tanggal itu berubah menjadi angka kosong.
"Aku akan coba," kata Mei Li akhirnya.
Sinta tersenyum lebar. "Itu sudah kemajuan besar."
Setelah panggilan selesai, Amy meletakkan sebuah kotak kecil di meja. "Dari Sinta. Datang subuh."
Isinya bukan barang mahal. Hanya jepit rambut kecil berbentuk melati, dengan kartu bertuliskan:
Untuk Jie yang selalu pura-pura tidak suka ulang tahun.
Mei Li menyentuh jepit itu dengan ujung jari.
"Jadwal setelah enam," katanya tanpa melihat Amy, "siapa yang mengatur?"
Amy menarik napas. "Pak Arka meminta izin."
Bella cepat menambahkan, "Kami sudah periksa semua lokasi, semua orang, semua paket, semua jalur keluar. Tidak ada risiko yang tidak bisa diterima."
"Lokasi?"
"Rumah sebelah."
Mei Li diam.
Itu membuat keduanya lebih tegang daripada jika ia langsung menolak.
"Apa dia tahu hari ini dari kalian?"
Amy tidak menghindar. "Dari saya."
Bella menunduk sedikit. "Saya menyetujui."
Mei Li menatap mereka lama. "Kalian memberitahu tanggal lahirku?"
"Tanggal lahir Anda bukan rahasia operasional," kata Amy hati-hati. "Tapi alasan Anda tidak pernah merayakannya, saya tidak ceritakan."
"Saya hanya bilang," Bella menambahkan, "jangan pesta, jangan banyak orang, jangan kejutan keras."
Mei Li seharusnya marah.
Namun ia hanya merasa lelah untuk membangun tembok pada orang-orang yang berusaha tidak merobohkannya.
"Pukul enam," katanya.
Amy mengangguk. "Baik, Nona."
***
Arka tidak menghias rumahnya dengan balon.
Ketika Mei Li datang malam itu, pintu terbuka ke ruang tengah yang lampunya dibuat hangat. Tidak ada musik keras. Tidak ada tamu tersembunyi. Dimas tidak muncul, kemungkinan besar dilarang. Di meja makan kecil, hanya ada satu kue sederhana, teh melati hangat, dan vas berisi melati putih.
Arka berdiri di dekat meja, sedikit lebih gugup daripada biasanya.
"Selamat ulang tahun, Mei Li."
Ia tidak berkata Miss Lim.
Mei Li berhenti di ambang ruang tengah. "Ini terlalu sederhana untuk ukuran keluarga Pradipta."
"Saya anggap itu pujian."
"Ini bukan pesta."
"Saya tahu."
"Bagus."
Arka tersenyum kecil. "Dimas mengusulkan paduan suara. Saya menolak demi keselamatan semua orang."
Mei Li hampir tersenyum. "Keputusan bijak."
Mereka duduk. Kue itu rasa pandan dan kelapa, bukan kue tiga tingkat dari hotel. Arka memotong satu bagian kecil setelah bertanya apakah ia mau. Teh melati tidak terlalu manis. Semua hal di meja terasa dipikirkan, tetapi tidak memaksa.
"Ada hadiah," kata Arka setelah beberapa saat.
Mei Li menatapnya. "Saya tidak perlu hadiah."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa tetap ada?"
"Karena perlu dan layak tidak selalu sama."
Ia berdiri, mengambil kotak panjang dari meja samping. Kotak itu dibungkus kain putih, bukan kertas mewah. Di atasnya ada satu melati segar.
Mei Li menatap kotak itu, dan untuk alasan yang tidak ia mengerti, dadanya mulai terasa sempit.
Arka tidak langsung menyerahkannya. "Amy hanya memberi tahu bahwa ulang tahun Anda tidak dirayakan. Dia tidak memberi cerita lain."
"Lalu ini apa?"
"Sesuatu yang saya temukan setelah Yogyakarta."
Ia membuka kotak itu.
Di dalamnya terlipat sebuah kebaya sutra putih.
Sederhana. Halus. Tidak seperti kebaya pengantin, tidak seperti gaun panggung. Potongannya lembut, dengan sulaman melati kecil di ujung lengan. Di bawah kebaya itu ada selembar foto yang sudah direstorasi.
Foto lama.
Lim Yun muda duduk di teras Villa Biru, memangku seorang anak perempuan kecil. Anak itu memakai kain putih setengah jadi, tertawa sambil memegang melati. Di belakang foto, tulisan tangan yang sudah pudar terbaca:
Untuk ulang tahun putriku. Nanti Mama jahitkan kebaya putih sungguhan.
Dunia berhenti.
Mei Li tidak menyentuh apa pun.
Arka berbicara sangat pelan. "Bu Ratih punya arsip foto lama dari seorang penjahit Puncak yang pernah bekerja untuk keluarga Lim. Foto ini hampir rusak. Saya meminta izin untuk merestorasi salinannya. Kebaya itu dibuat ulang oleh pengrajin yang sama garis keluarganya, berdasarkan catatan di belakang foto."
Mei Li menatap foto itu.
Nama kecil itu.
Nama itu biasanya terdengar seperti luka. Di tulisan Lim Yun, nama itu terdengar seperti rumah.
Tangannya bergerak, tetapi berhenti sebelum menyentuh foto. Seolah jika disentuh, gambar itu akan hancur dan Mama akan hilang sekali lagi.
"Saya tidak tahu apakah ini terlalu jauh," kata Arka. Suaranya lebih rendah. "Kalau saya salah, saya minta maaf."
Mei Li akhirnya menyentuh ujung foto.
Kertasnya hangat karena lampu, bukan karena tangan Mama. Tetap saja, tubuhnya mengingat sesuatu yang ia kira sudah mati. Aroma melati di rambut kecilnya. Suara Lim Yun tertawa. Janji tentang kebaya putih yang tidak pernah selesai karena tujuh tahun kemudian, tubuh Mama jatuh dari balkon.
Napas Mei Li pecah.
Ia menutup mulut dengan punggung tangan.
Arka tidak bergerak mendekat. Ia tidak menyentuh bahunya, tidak memeluknya tanpa izin. Ia hanya berdiri di sana, wajahnya tenang tetapi matanya sakit melihatnya.
Air mata pertama jatuh ke atas foto.
Mei Li menunduk cepat, seolah bisa menyembunyikannya.
Tetes kedua jatuh sebelum ia sempat menghapus.
"Mei Li," panggil Arka pelan.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada "jangan menangis". Tidak ada kalimat kosong bahwa semuanya sudah berlalu.
Hanya namanya, diucapkan seperti ia tidak perlu menjadi Evelyn, Miss Lim, Nona, atau nama lama dari keluarga Tan malam itu.
Hanya Mei Li.
"Mama..." Suaranya hampir tidak keluar. "Dia benar-benar pernah menjanjikan ini."
Arka menelan sesuatu di tenggorokannya. "Sekarang janjinya sampai."
Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanannya.
Mei Li menangis tanpa suara. Bahunya tidak terguncang keras, tetapi air matanya jatuh terus, membasahi foto dan ujung kain putih. Setelah bertahun-tahun menjadikan tubuhnya baja, ia menangis seperti anak perempuan yang akhirnya menemukan benda kecil dari rumah yang terbakar.
Arka mengambil kotak tisu, meletakkannya di meja dekat tangannya. Tidak memaksa.
Mei Li mengambil satu lembar, lalu tertawa kecil di antara air mata. "Saya terlihat kacau."
"Tidak."
"Anda berbohong."
"Mungkin." Arka menatapnya lembut. "Tapi saya tetap tidak akan menarik kembali jawaban saya."
Mei Li mengusap pipinya. "Kenapa Anda melakukan ini?"
Arka tidak menjawab cepat.
"Karena semua orang melihat Anda sebagai perempuan yang kembali untuk membalas dendam," katanya akhirnya. "Saya ingin ada satu orang yang mengingatkan bahwa sebelum semua itu, Anda pernah menjadi anak kecil yang dicintai ibunya."
Mei Li memeluk kebaya putih itu ke dada.
Sutera itu ringan, tetapi saat menempel di tubuhnya, rasanya seperti sesuatu yang sangat lama hilang akhirnya diletakkan kembali di tempatnya. Ia tidak mengenakannya penuh malam itu. Tangannya masih gemetar. Arka juga tidak meminta.
Namun ia berdiri, mengangkat kebaya itu ke depan tubuhnya, membiarkan kain putih jatuh dari bahu sampai pinggang. Di cermin kecil dekat ruang makan, bayangannya tampak asing. Bukan Evelyn. Bukan perempuan yang memindahkan delapan puluh triliun dalam satu malam. Bukan anak buangan keluarga Tan.
Hanya seorang anak perempuan yang mungkin, dalam dunia lain, akan berputar di depan Mama sambil bertanya apakah ia terlihat cantik.
Air mata baru menggenang lagi, tetapi kali ini Mei Li tidak buru-buru menghapusnya.
"Mama pasti suka," katanya, nyaris tanpa suara.
Arka menjawab dari tempatnya berdiri, tetap menjaga jarak. "Saya yakin beliau akan lebih suka melihat putrinya masih berdiri."
Di luar, hujan turun sangat pelan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kembali ke Jakarta, Lim Mei Li tidak merasa ulang tahunnya kosong.
Ia menatap Arka melalui sisa air mata.
"Terima kasih," bisiknya.
Arka tersenyum, matanya juga sedikit merah.
"Selamat ulang tahun, Mei Li."