Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.
Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?
Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.
NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jono Bersedia Tinggal Di Rumah Aditya
Jono sudah berada di meja makan bersama Aditya dan Zora. Dia menahan rasa canggungnya berada satu meja makan dengan kedua bosnya itu. Tidak hanya itu dia harus menahan rasa cemburunya karena harus melihat pasangan suami sitri itu bermesraan di depannya, seolah-oleh tidak peduli dengan kehadirannya di sana.
“Makan yang banyak, Jon!” Aditya mengagetkan Jono, dia gelagapan, pikirannya sudah berjalan terlalu jauh dari tadi.
“Eh, iya, Pak!” Jono menjawab Aditya dengan gugup dan langsung melahap makanan yang ada di piringnya.
Zora yang mengerti kecanggungan Jono pura-pura tidak tahu, dia asyik dengan makanan yang ada di piringnya saja, sesekali dia menambahkan tempe goreng ke piring suaminya.
“Jon, karena usia kehamilan Ibu sudah 4 bula, saya minta kamu pindah ke sini dari kos ya. Kasihan Ibu harus tinggal sendiri di sini. Kalau ada kamu kan bisa stand by menjaga Ibu.” Aditya berharap-harapa agar Jono menyanggupi permintaannya.
Jono terkejut dengan permintaannya itu. Dia tidak punya alasan lagi untuk menolak tinggal di rumah itu.
“Eh, anu, Pak…” Jono tidak memiliki jawaban, dia hanya menggaruk-garuk kepalanya.
“Udah, Jon, kamu tingagal di sini aja ya. Tolong jaga Ibu ya! Kan lebih baik tinggal di sini? Uang yang kamu bayarkan untuk membayar kos bisa kamu tabung atau bantu keluarga di kampung. Kamu juga tidak perlu repot untuk cari makan di luar. Ibu akan memasak untukmu, iya kan, sayang?” Aditya memandang istrinya.
Zora mengangguk dan tersenyum ke arah suaminya.
“Benar, Jon. Rumah ini luas kok, kamarnya ada banyak, kamu bisa pilih salah satu.” Zora menerangkan hal yang tidak perlu diterangkan. Bagaimanapun dia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana saat itu. Dia berusaha untuk berakting sealamiah mungkin di depan suamniya, bersikap apa adanya dengan supir mereka itu.
Jono bingung mau menjawab apa. Dia masih ingin menolak tapi dia juga benar-benar ingin tinggal dekat dengan Zora, perempuan yang dia sayangi, apalagi sekarang dia sedang mengandung anaknya. Dia ingin sekali masa-masa kehamilan Zora dirinya ada di sampingnnya. Berperan sebagai suami Zora saat Aditya sedang tidak di rumah.
“Jon, mikir apa? Kalau tidak bersedia juga tidak apa-apa, kami tidak memaksa kok.” Aditya memberikan kebebasan kepada Jono untuk menerima atau menolak. Aditya bukan tipe bos yang memaksakan kehendaknya, karena itu dia disukai banyak orang di kantornya.
“Bukan begitu, Pak. Saya bersedia kok. Tidak apa-apa, Pak, saya akan menjaga Ibu selama Bapak tidak di sini.” Jono akhirnya menyanggupi untuk tinggal di sana. Kata-kata Aidtya yang terakhir benar-benar mengintimidasi Jono. Justru sikap Aditya yang memberikan kebebasan itu dianggapnya sebagai hal yang mengintimidasi, dia segan menolak permintaan bosnya itu.
“Ah, saya bisa lega sekarang, Jon. Terima kasih karena sudah bersedia.” Aditya tersenyum ke arah Zora, matanya berbinar, Zora tidak akan kesepian lagi jika dia sedang tidak di rumah. Dia bisa lebih lega saat bekerja di Singapura.
Zora membalasa senyuman Aditya. Perasaan Zora kini justru bercampur aduk, antara senang karena akhirnya Jono akan ada di dekatnya lebih lama atau sedih karena dia telah menghkianati Aditya sejauh ini. Dia kasihan kepada Aditya yang sangat baik kepadanya, ketidak tahuannya terhadap apa sebenarnya yang sedang terjadi antar dia dan Jono membuat Zora kasihan. Dia merasa sangat hina sekarang, tapi dia tidak mau melepas Aditya begitu saja.
Zora hanya ingin punya anak untuk mendapatkan simpati dari keluarga Aidtya, agar Aditya bisa kembali harmonis dengan keluarganya. Dan itu semua sudah terbukti, akhirnya keluarganya datang di acara syukuran 4 bulan kehamilan Zora, bahkan ibu Aditya sering mengirim makanan kepada Zora.
“Ayo,mas, siap-siap, jangan sampai terlambat, lebih baik menunggu lebih lama di Bandara, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di jalan nanti.” Zora mengingatkan Aditya untuk siap-siap berangkat ke Bandara.
“Ok, saya siap-siap dulu ya. Jon, bisa hidupkan mobil sekarang, saya tidak lama kok.” Aditya bangkit dari kursinya dan menuju kamar untuk mengambil kopernya. Ditinggalkannya mereka berdua di meja makan.
Setelah Aditya berjalan menuju kamar, Jono ikut bangkit dan berjalan menuju mobil untuk mendinginkan hawa di dalam mobil sebelum Aditya masuk rumah.
“Sayang, kali ini tidak usah ikut mengantar ya, biar Jono aja!” Aditya meminta Zora untuk tinggal di rumah.
“Gak apa-apa, mas, aku ikut saja.” Zora memegang tangan Aditya seolah-olah dia tahu apa yang sedang dipikirkan Aditya. Dia ingin meyakinkan Aditya bahwa dia tidak pernah keberatan untuk menghantar Aditya ke Bandara.
“Janga, sayang, ingat kandunganmu. Kasihan anak kita.” Dia mengusap perut Zora.
“Gak apa-apa, sayang.” Zora memelas agar Aditya bersedia dihantar dan tidak perlu mengkhawatirkan kandungannya.
“Tidak, sayang, kali ini kamu harus ikut apa kataku.” Aditya bersikeras untuk menahan Zora tinggal di rumah saja. Suaranya memelas balik, Aditya tidak pernah sedikitpun marah kepada Zora. Dia mencium kening Zora dan pergi ke luar.
Zora menyerah, dia tidak ingin melawan apa kata Aditya. Jarang Aditya sengotot ini dan dia harus mengikuti apa kata suaminya kali ini. Dia mengiringi Aditya sampai keluar dan melihat mobil itu sampai keluar dari pagar.
“Jon, terima kasih ya sudah mau tinggal di rumah. Tolong jaga Ibu dengan baik ya. Ibu kan sedang hamil, mungkin akan sedikit rewel dari yang biasanya. Kamu harus maklum ya, perempuan kalau hamil biasanya begitu.” Aditya mengingatkan Jono, seperti suami yang akan segera punya anak, dia tiba-tiba ahli di bidang itu.
“Baik, Pak.” Jono mengangguk dan tetap fokus ke arah depan.
Tiba-tiba ada mobil menghadang jalan mereka sebelum masuk tol. Ada beberapa laki-laki bertopeng bertubuh jangkung dan kekar keluar dari mobil yang menghadang.
Ternyata tidak hanya satu, ada mobil satu lagi di belakang mereka. Posisi mereka benar-benar terjepit sekarang, Jono berusaha melarikan mobil yang disetirnya saat tiba-tiba kaca mobil mereka dipecah dari berbagai arah.
Jono terkejut, Aditya tidak kalah terkejutnya. Mereka tidak berdaya sekarang. Kepala Jono dipukul dari arah belakang, dia terjatuh saat itu juga, dia pingsan. Aditya menyaksikan semua itu dengan gugup dia berusaha melawan gerombolan pria bertopeng itu. Tapi dia tidak berdaya. Dia disekap salah satu dari mereka, dia benar-benar tidak bisa bergerak sekarang. Matanya ditutup dengan kain, dan tangannya diikat.
Aditya dibawa ke suatu tempat, lumayan lama mereka di dalam mobil. Akhirnya mereka berhenti di suatu tempat, hawanya sangat dingin saat itu. Dia berusaha menebak-nebak di mana mereka saat itu.
Di dalam kamar yang remang-remang, Aditya diikat di kursi kayu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mereka keluar dari ruangan itu dan salah satu dari mereka menelpon seseorang. Melaporkan jika apa yang diperintahkan kepada mereka sudah dilaksanakan dengan sangat baik.
Bersambung
Apa yang sedang terjadi? Siapa yang menculik Aditya? Ikuti kisah selanjutnya, ya. Jangan lupa Vote, hehehe, love you all... ❤❤❤
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
⭐⭐⭐⭐⭐
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
🌹🌹🌹🌹🌹
⭐⭐⭐⭐⭐
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
bikin ngeri 😂😂😂