Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kereta kuda kaisar Xuan Pingyan dan rombongan dari istana kekaisaran sudah sampai di istana Juhua. Di depan gerbang, Qao Biyue dan juga para pelayan tampak menunggu Kaisar dengan tidak sabar.
Qao Biyue sudah menggunakan jubah biru muda dengan hanfu berwarna putih. Riasan yang sederhana, dengan senyum indah di wajahnya.
"Cuiyan, bagaimana? aku tidak menggunakan riasan yang berlebihan kan?" tanya Qao Biyue pada Cuiyan.
Cuiyan tersenyum pada Qao Biyue. Pertanyaan itu sudah empat kali ditanyakan oleh majikannya itu pada Cuiyan. Cuiyan sampai tak berhenti tersenyum sejak tadi. Nyonya nya tampak sangat gugup. Telapak tangannya juga begitu dingin.
Para pelayan juga terlihat tidak sabar. Kalau majikan mereka disayang oleh kaisar. Maka mereka juga akan mendapatkan banyak keuntungan. Gaji mereka bahkan bisa naik kalau majikan mereka naik pangkat.
Kasim Chen sudah turun dari kereta. Dia baru akan membuka tirai kereta kuda dengan sangat hati-hati. Namun di saat yang sama. Pengawal yang tadi ditugaskan pergi ke istana Hanzi dengan kuda juga sudah datang.
"Yang mulia!"
Kasim Chen kembali menurunkan tangannya, tidak jadi membantu kaisar. Karena memang kaisar mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Kasim Chen, kalau dia mau mendengarkan dulu apa yang dikatakan oleh pengawal dari istana Hanzi itu.
"Katakan!" kata Xuan Pingyan.
"Yang mulia, lapor. Yang pergi dengan kereta kuda itu adalah nyonya selir Bai, bersama dengan pelayannya. Kata pengawal di istana Hanzi, nyonya selir Bai lupa, Guqin-nya tertinggal di taman timur!"
Xuan Pingyan segera mendesah kasar.
'Kenapa dia hanya memikirkan segala sesuatu yang tidak lebih penting dari dirinya sendiri?' gumam Xuan Pingyan.
"Pergi ke taman timur sekarang!" perintah Xuan Pingyan pada Kasim Wang.
Kasim Wang mengangguk dengan cepat.
"Ke taman timur!" kata Kasim Wang dengan tegas.
Kasim Wang memerintahkan pada Kasim Chen, agar memberitahu pada selir Qao. Kalau malam ini mungkin kaisar tidak akan bisa bermalam di istana Juhua malam ini.
Kereta kuda kaisar berbalik, bersama dengan para rombongan. Hanya tersisa kereta pengawal dan Kasim Chen.
Cuiyan yang melihat hal itu merasa heran.
"Nyonya, kaisar tidak jadi turun. Kenapa kereta kuda kaisar berbalik lagi?"
Pertanyaan Cuiyan itu sungguh tak bisa dijawab oleh Qao Biyue. Dia sendiri sangat terkejut. Kereta kuda itu sudah sampai di depan pintu gerbang, satu langkah lagi saja kaisar benar-benar akan datang ke istana Juhua. Dia akan mendapatkan segala kehormatan itu. Tapi, semua itu mendadak bilang begitu saja. Kereta kuda kaisar berbalik dan pergi.
Masih dalam keadaan sangat terkejut. Tiba-tiba Kasim Chen berdiri di depan Qao Biyue.
"Selamat malam nyonya selir Qao, mohon maaf..."
Mendengar pernyataan maaf dari Kasim Chen. Qao Biyue merasa hatinya sedih. Padahal tadinya dia tidak berharap kehadiran kaisar sama sekali. Tapi, entah kenapa setelah dia merasa takjub, lalu mempersiapkan segalanya, dan tiba-tiba saja orang yang dia tunggu itu pergi tanpa menoleh atau bicara padanya. Hatinya menjadi sangat sedih.
Permintaan maaf dari Kasim Chen bahkan terdengar seperti suara yang sama sekali tidak ingin dia dengar.
"Yang mulia memiliki urusan yang mendesak. Harap nyonya selir Qao mengerti. Kami membawakan beberapa kain sutra dan perhiasan untuk nyonya selir Qao. Silahkan diterima!"
Kasim Chen bicara dengan sangat ramah dan sopan. Pelayan di belakangnya juga membawa dua buah nampan, yang berisi kain sutra yang sangat indah dan satu lagi berisi perhiasan yang cukup banyak. Pandangan Qao Biyue tertuju ke arah dua nampan itu. Bukankah dulu dia sangat suka melihat perhiasan seperti itu. Tapi, kenapa sekarang dia sama sekali tidak senang melihat perhiasan banyak dan indah begitu?
"Aku akan pergi. Berisitirahat nyonya selir Qao!"
Dan setelah kalimat itu, akhirnya Kasim Chen meninggalkan istana Juhua. Meninggalkan Qao Biyue yang masih diam mencoba mencerna semua yang terjadi di hadapannya.
Kaisar sudah berada tepat di depan matanya. Tapi, bahkan sama sekali tak bicara sepatah kata pun padanya. Intinya Qao Biyue kecewa.
"Nyonya, hujan semakin deras. Sebaiknya kita masuk saja!" kata Cuiyan.
Qao Biyue berbalik dan masuk kembali ke istananya. Para pelayan tampak sangat kecewa, dia yang biasanya juga tidak perduli. Kali ini juga merasa begitu kecewa.
"Nyonya, nyonya baik-baik saja?" tanya Cuiyan yang mengantarkan Qao Biyue sampai di kamarnya.
Melihat sejak tadi majikannya hanya diam, dengan wajah yang begitu sedih. Cuiyan merasa sangat prihatin.
"Sudah malam, istirahatlah. Karena kaisar tidak datang, maka semua makanan yang tadi disiapkan untuk kaisar, makan saja dengan yang lain! pergilah! aku mau tidur"
Cuiyan mengangguk dan pergi. Dia tahu, kalau majikannya butuh waktu sendiri.
Cuiyan mendengus pelan sambil berjalan ke ruang makan aula istana Juhua.
"Huhh, kemana sih perginya kaisar? padahal sudah sampai di depan gerbang. Kasihan sekali nyonya jadi sangat sedih" gerutu Cuiyan.
Di taman timur, kereta kuda berhenti tepat di dekat jalan menuju ke gazebo yang ada di taman timur itu. Tempat dimana Guqin Bai Ningyuan sengaja ditinggalkan. Dan itu memang sengaja dilakukan oleh Bai Ningyuan.
Lin'er turun membawa payung, tapi Bai Ningyuan malah tampak seperti sengaja membuat dirinya basah oleh hujan.
"Nyonya, maafkan aku, payungnya terlalu kecil! seharusnya aku bawa dua!"
"Tidak apa-apa, kamu tunggu disini saja. Aku yang akan ambil Guqin itu sendiri!"
"Tapi nyonya..."
"Kalau pakaianku basah, aku masih ada jubah. Kalau kamu? kamu tidak membawa jubah kan?" tanya Bai Ningyuan.
Para pelayan memang tidak memiliki jubah. Lin'er pun mengangguk setuju.
"Hati-hati nyonya..."
"Tenang saja, aku sudah mengenal tempat ini penuh dari 5 tahun!"
Bai Ningyuan berjalan ke arah taman timur. Berjalan dengan menggunakan payung, tapi tetap saja ujung bawah Hanfu-nya basah terkena air hujan. Sampai di taman timur, angin bertiup sangat kencang. Payungnya hampir saja terbawa angin. Tapi Bai Ningyuan berhasil menahannya. Dia melihat ke gazebo, Guqin-nya masih ada disana.
Senyuman kecil terukir di wajahnya. Lalu berjalan ke arah gazebo itu.
Jegerr
Suara petir terdengar, Lin'er membuka tirai kereta. Menunggu dengan cemas, karena baru saja ada petir.
"Nyonya..." lirihnya khawatir.
Bai Ningyuan meraih Guqin itu, memeluknya di pelukannya. Lalu melihat ke arah kereta kudanya.
'Seharusnya dia sudah sampai kan?' batin Bai Ningyuan.
Hingga ketika keyakinannya penuh, Bai Ningyuan berjalan meninggalkan gazebo menerjang hujan yang deras.
Wushhh
Angin berhembus begitu kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Karena memeluk Guqin. Payung Bai Ningyuan terlepas dari tangannya.
"Agkhh!"
Mata Bai Ningyuan melebar, seseorang memeluk pinggangnya dan menariknya ke arahnya.
"Hanya Guqin, kenapa harus sampai basah kuyup begini?" tanya Xuan Pingyan.
'Kamu pikir aku melakukan ini untuk Guqin? tidak kaisar yang terhormat. Kamu salah!' batin Bai Ningyuan.
***
Bersambung...
Kalau Bai Ningyuan mah santuy, untuk apa cari perhatian kaisar lagi..
Toh cinta nya saat ini udah mati..
Yg ada di hati nya hanya balas dendam atas keluarga nya yg telah mati & gak dihargai.. 🤭