NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 18

Pintu geser kayu itu terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan luas beralaskan tatami yang harum oleh aroma teh hijau yang baru diseduh. Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut klimis yang mulai memutih di bagian pelipis. Dialah Harada, kepala klan wilayah Barat yang terkenal licik dan pandai bersilat lidah. Di kedua sisinya, dua orang penasihat berjas hitam duduk membungkuk hormat, dengan pandangan mata waspada.

​Ren melangkah masuk terlebih dahulu, postur tubuhnya yang tegap memberikan intimidasi yang kuat di dalam ruangan. Tangan kirinya masih memegangi lengan Aiko, menuntun istrinya itu untuk duduk tepat di sampingnya.

​"Ah, Tuan Besar Tachibana," Harada menyapa dengan senyum ramah. Matanya kemudian beralih ke arah Aiko. "Dan... ini pasti Nyonya Muda Tachibana yang terhormat dari klan Kurogawa. Sebuah kehormatan besar bagi kami yang sederhana ini untuk menyambut Anda berdua."

​Aiko tidak menjawab. Sesaat setelah ia mendudukkan diri di atas bantal, hawa dingin yang sempat memicunya di koridor tadi mendadak merangsek naik dari balik dinding geser yang berada di belakang Harada. Rasa pening kembali menyerang kepalanya.

​"Aku tidak datang ke sini untuk meminum tehmu, Harada," ucap Ren, langsung memotong basa-basi yang tidak perlu.

​Harada terkekeh mendengar itu, ia menuangkan teh ke dalam cangkir dengan gerakan yang sedikit kaku. "Tentu saja. Mengenai insiden penyerangan terhadap istrimu kemarin... klan Barat sama sekali tidak tahu-menahu, Tuan Besar. Kami selalu menjaga kesepakatan damai di perbatasan wilayah. Mungkin itu hanya ulah berandalan kecil yang ingin mengadu domba kita."

​"Mengadu domba?" Ren menyipitkan matanya menatap Harada. "Berandalan kecil, tidak akan memiliki akses senjata api standar militer yang biasa dipasok lewat pelabuhan Barat milikmu."

​Suasana di dalam ruangan seketika terasa berubah. Dua penasihat Harada tampak mulai menggeser posisi duduk mereka secara perlahan.

​Di samping Ren, Aiko mencengkeram kain kimononya sendiri dengan sangat kuat. Ia menangkap sesuatu yang mengerikan dari balik dinding itu.

​Menyadari situasi yang semakin tidak bisa di prediksi Aiko menggeser lututnya di bawah meja, menyentuh kaki Ren dengan sengaja. Di saat yang sama, jemarinya bergerak cepat ke samping, meremas kuat kain celana hitam Ren yang berada dekat dengan lututnya.

​Ren menerima kode itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Tanpa peringatan, Ren mengambil cangkir teh di depannya, lalu membantingnya ke atas meja kayu di hadapan Harada hingga hancur berkeping-keping.

​Prang!

​"Kau menggunakan aroma teh yang mahal untuk menutupi bau busuk pengkhianatanmu, Harada?" desis Ren, tubuhnya condong ke depan. "Klan Barat tidak akan berani bergerak sejauh ini jika tidak ada anjin di dalam rumahku sendiri yang membukakan pintu untukmu."

​Raut wajah Harada langsung berubah drastis. Senyumnya lenyap. "Apa yang kau bicarakan, Tachibana?!"

​"Belasan tahun lalu, di paviliun barat kediamanku. Siapa yang memberikan belati klanmu untuk menusuk dada ayahku? Kaito Tachibana... pamanku sendiri yang menjanjikan wilayah ini padamu, bukan?"

​Mendengar nama Kaito disebut, Harada sadar bahwa kedoknya telah terbongkar. Pria tua itu langsung berdiri dan mundur ke belakang, memberikan isyarat tangan yang cepat pada anak buahnya. "Bunuh mereka!"

​Srak!

​Dinding geser di belakang Harada mendadak terbuka lebar, memunculkan tiga pria bersenjata api yang sudah siap membidikkan moncong pistol mereka ke arah Ren.

​Sebelum peluru pertama sempat dilepaskan oleh musuh, tangan kiri Ren bergerak cepat menyentak bahu Aiko. Dengan satu tarikan kuat menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya, menyembunyikan kepala Aiko sepenuhnya di bawah dadanya seraya melindunginya dari arah jalur peluru menggunakan punggungnya sendiri.

​Dor! Dor! Dor!

​Suara tembakan memekakkan telinga bergaung di dalam ruangan itu, menghancurkan sekat-sekat kayu dan guci yang terpajang. Saat ini di dalam dekapan dan perlindungan Ren, Aiko bisa mendengar detak jantung suaminya itu yang berdegup.

​Tanpa perlu menoleh secara penuh, Ren melepaskan tiga tembakan presisi yang langsung bersarang tepat di dahi ketiga penembak gelap di balik dinding hingga mereka tumbang bersimbah darah ke atas lantai.

​Daichi memecahkan pintu masuk utama dari luar dengan senjata, langsung melumpuhkan dua penasihat Harada yang mencoba ikut menyerang.

​Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas Harada yang gemetar di sudut ruangan, terkepung oleh Daichi.

​Ren tidak langsung melepaskan dekapannya. Ia melirik ke bawah, memastikan kepala Aiko masih terlindung dengan aman. Setelah memastikan tidak ada luka di tubuh istrinya, Ren perlahan melonggarkan cengkeraman tangannya, namun tetap menahan pinggang Aiko agar tetap berada di dekatnya.

​Ren berdiri tegak, menatap Harada yang kini sudah berlutut di lantai dengan ujung pistol Daichi yang menempel di pelipisnya.

​"Katakan padaku, Harada," ucap Ren. Ia melangkah mendekat dengan Aiko yang terpaksa mengikuti langkahnya. "Pamanku... apa saja yang sudah dia berikan padamu untuk menukar nyawa orang tuaku belasan tahun lalu?"

​Harada terbatuk, wajahnya pucat menatap mayat anak buahnya yang tewas dalam hitungan detik. "Kaito... Kaito yang menginginkan posisi ayahmu..." jawab Harada terbata-bata dengan tubuh gemetar. "Dia... dia yang membuka gerbang malam itu... Aku hanya meminjamkan orang-orangku... Aku bersumpah hanya itu, Tachibana!"

​Ren mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kecurigaannya selama ini terbukti. Pamannya sendiri, Kaito Tachibana, adalah duri di dalam daging yang menghancurkan keluarganya demi ambisi kekuasaan belasan tahun lalu.

Ren tidak memberikan kesempatan bagi Harada untuk memohon lebih lama. Tatapan matanya yang dingin melirik Daichi, memberikan isyarat tanpa suara yang langsung dipahami oleh tangan kanannya itu.

"Urus tempat ini, Daichi. Pastikan tidak ada satu pun tikus klan Barat yang tersisa untuk melapor ke luar."

"Baik, Bos," jawab Daichi tegas, tanpa menurunkan moncong senjatanya dari pelipis Harada yang terus menangis ketakutan.

Ren membalikkan tubuhnya, tangan kanannya masih melingkar di pinggang Aiko, menopang separuh berat tubuh istrinya yang kembali gemetar. Jas hitam Ren yang sempat terlepas kini ia ambil dengan satu sentakan cepat, lalu kembali ia sampirkan ke bahu Aiko, menyembunyikan noda cipratan darah yang sempat mengenai lengan kimono gelap gadis itu.

Mereka berjalan cepat menyusuri koridor yang kini telah sepi. Begitu tiba di area parkir barulah Ren melepaskan tangannya di pinggang Aiko, seraya membiarkan istrinya itu masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.

Brak.

Ren menyusul masuk dan pintu mobil ditutup rapat, menutup suasana berdarah itu di luar. mobil bergerak di bawah gerimis Kyoto yang semakin deras, Ren kembali duduk bersedekap di sisi lain kursi penumpang. Ia menatap lurus ke arah kaca depan mobil.

"Kau..." Aiko membuka suara terlebih dahulu. Ia mencengkeram erat selimut yang masih tertinggal di dekatnya. "Kau sudah tahu sejak awal bahwa pamanmu yang melakukannya?"

Ren tidak menoleh, namun rahangnya yang mengeras memperlihatkan kemarahan yang tertahan di balik dadanya. "Aku memiliki kecurigaan, tapi forensik medis dan hukum dunia bawah tidak bisa menyentuh seorang tetua klan tanpa bukti fisik. Gagang belati yang kau sentuh tadi pagi... adalah potongan terakhir yang ku punya untuk membuat Harada mengungkap semua ini."

Aiko menatap wajah suaminya dari arah samping. Pria berusia 28 tahun di sampingnya ini telah memikul beban dendam yang begitu besar sendirian, memimpin klan yang sebelumnya hancur, di tengah kepungan musuh dan pengkhianat sedarah. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Pamanmu ada di dalam rumah itu, Ren. Jika dia tahu Harada telah tumbang, dia tidak akan tinggal diam."

Ren melirik Aiko lambat, sepasang matanya menatap tajam ke arah istrinya dengan kilatan yang berbahaya. "Itulah mengapa mulai detik ini, kau dilarang lepas dari jangkauan pandanganku, Aiko Kurogawa."

"Apa hubungannya denganku?"

1
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Cerita nya seru dan menegangkan. Kehidupan yang tidak biasa yang harus Aiko jalani. Karakter Aiko sendiri sangat Memukau.
putri
😖 mau ngapain knp gw yang ngeri
putri
mencekam muka nya si ren itu
putri
mau ngapain si Ren
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jangan sampai ibunya Aiko di bunuh sam Ren ya.
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
istri yang di tahan
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ada yang hawatir nih ye
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Kalau aku jadi Aiko langsung pingsan pasti
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus Ren
putri
Ceritanya seru
ada tegang dari dunia yakuza plus horor sekaligus
putri
Si Renn kayanya? apa dia jemput Aiko 😂
putri
knp nih??
putri
SII ren ini sebenernya udah ada rasa sama Aiko blm ya?? tapi kaya ga ada cemburu-cemburunya
putri
Hana beneran tertarik sama daichi ini 😭 Jagan yahhh hana
putri
gigih bgt si Hana ini 🤣
putri
aku ikut batuk dengernya 😖
putri
🤣🤣🤣 Hana kamu jangan nekat ya
putri
kenapa ini hana?? apa suka Daichi 😂
putri
Si Charming
putri
Daichi ini ga kalah serem dari Ren
bedanya karakternya lebih manusiawi 🤣🤣 ga kaya ren kaya 😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!