NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 Peluncuran Teaser Anjani

Akhirnya setelah sekian lama, Anjani pulang dengan langkah yang terasa ringan. Tubuhnya memang lelah, kakinya pegal, bahu dan punggungnya seperti baru dipinjam orang lalu dikembalikan dalam kondisi penyok. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sudah lama hilang, kini kembali. Perasaan berguna dan perasaan bahwa dirinya masih memiliki tempat di dunia selain dapur dan ruang laundry.

Anjani bahkan sempat tersenyum sendiri saat mengingat wajah para kru studio ketika hasil fotonya muncul di monitor. Memalukan, tapi juga menyenangkan.

Keesokan paginya, Anjani datang ke kantor lebih awal. Ia membawa kopi, map berisi sketsa, dan membawa niat mulia untuk menjalani hari kerja yang normal.

Normal.

Kata yang ternyata tidak dikenal dalam kamus hidup Ren Aksara. Baru saja ia duduk menyalakan laptop, tiba-tiba sosok Raka muncul di samping mejanya.

"Mbak Anjani."

Anjani mendongak. "Pak Raka."

"Pak Ren meminta Anda ikut saya."

Anjani mengangguk santai. "Oke."

Anjani tidak berpikir aneh-aneh. Pikirnya, mungkin rapat atau evaluasi pemotretan, atau revisi desain. Masuk akal.

Lima menit kemudian, Anjani mulai curiga, karena mereka tidak menuju ruang rapat.

Sepuluh menit kemudian, Anjani makin curiga, karena mereka sudah melewati beberapa lantai yang bahkan belum pernah ia kunjungi.

Lima belas menit kemudian, Anjani mulai mempertanyakan. "Pak Raka."

"Ya?"

"Kita mau ke mana?"

"Sebentar lagi sampai," jawab Raka. Jawaban yang sama sejak lima menit lalu.

Anjani menatap punggung pria itu, mulai paham kenapa Raka bisa cocok bekerja dengan Ren. Dua-duanya suka membuat orang lain stres.

Tak lama, mereka berhenti di depan sebuah ruangan besar. Raka membuka pintu dan Anjani langsung membeku.

Ruangan luas berdinding kaca, lantai mengilap, cermin besar. Iringan musik pelan menyentuh pendengaran. Beberapa orang berpakaian serba hitam. Di sudut ruangan ada seorang wanita membawa clipboard. Di sisi lain ada stylist. Di sisi lain lagi ada pelatih postur tubuh. Dan tepat di tengah ruangan terdapat runway latihan.

Anjani berkedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali, lalu menoleh ke Raka.

"Saya salah ruangan?"

"Tidak."

"Saya salah lantai?"

"Tidak."

"Saya salah gedung?"

"Tidak."

Anjani menarik napas panjang. "Saya salah kehidupan?"

Raka hampir tertawa. Dan sebelum ia sempat menjawab, suara datar yang sangat dikenal terdengar dari belakang.

"Tidak."

Anjani menoleh ke arah sumber suara.

Ren.

Tentu saja. Siapa lagi dalang di balik semua ini kalau bukan manusia bermuka datar itu?

Ren berjalan masuk dengan kedua tangan di saku celana. Auranya menyeramkan dan kemampuan alami menghancurkan ketenangan hidup orang lain.

Anjani langsung menunjuk runway itu. "Apa ini?"

"Tempat latihan."

"Saya tahu."

"Bagus."

"Saya latihan apa?"

"Runway."

Deg.

Anjani menatap syok Ren. "Pak."

"Hm."

"Pemotretan sudah selesai."

"Betul."

"Kan."

"Itu kemarin. Ini masalah baru."

Anjani memejamkan mata. Ya Tuhan, kenapa hidupnya terasa seperti level permainan yang terus bertambah sulit?

"Pak Ren."

"Apa."

"Saya pegawai."

"Betul."

"Saya desainer."

"Betul."

"Saya bukan model."

Ren mengangguk. "Sudah pernah bilang."

"Nah."

"Tapi tetap aku yang memutuskan."

Anjani hampir tersedak. Sementara di sekitar mereka, para pelatih mulai saling pandang. Mereka sudah sering melihat model keras kepala, sering melihat artis keras kepala, sering melihat influencer keras kepala, tapi baru kali ini mereka melihat seseorang berdebat dengan CEO mereka seperti sedang berdebat soal harga BBM.

Anjani menunjuk dirinya sendiri. "Saya bahkan belum pernah jalan di runway."

"Belajar."

"Kalau saya jatuh?"

"Bangun."

"Kalau saya malu?"

"Biasakan."

"Kalau saya tidak mau?"

"Sudah terlambat."

Anjani langsung menatap tidak percaya. "Bagaimana bisa terlambat?"

Ren mengangguk ke arah layar besar di ujung ruangan. Anjani mengikuti arah pandangnya, dan seketika membeku. Di layar itu terpampang jadwal besar bertuliskan: AURORA GRAND RUNWAY. Model Utama: ANJANI

Wajah Anjani perlahan berubah. "PAK REN!" Suaranya menggema seluruh ruangan.

Para staf dan pelatih langsung terkejut penuh tanya. Sementara Raka diam-diam memalingkan wajah, marena kalau tidak, dia pasti ketahuan sedang menahan tawa.

Ren sendiri tetap tenang. "Tidak usah teriak."

"Nama saya sudah ada di situ!"

"Ya."

"Saya belum setuju!"

"Makanya saya kasih tahu sekarang."

Anjani benar-benar ingin melempar sesuatu. Namun, sebelum ia sempat menemukan benda yang cocok untuk dilempar, salah satu pelatih runway mendekat.

Wanita itu mengamati Anjani dari ujung kepala sampai kaki dan langsung bisa menilai proporsi tubuh Anjani bagus.

Ia tersenyum, lalu berkata. "Wah, Pak Ren. Kalau ini model utamanya..." Ia mengangguk puas. "Kita tidak punya banyak pekerjaan."

Ren mengangguk tipis.

Anjani langsung menoleh. "Hah?"

Pelatih itu tersenyum. "Percaya deh."

"Loh tapi saya--"

"Kamu cuma belum sadar."

Sementara itu, Ren masih bersikap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal jauh di dalam pikirannya, ia sudah menyusun langkah berikutnya, karena runway Aurora bukan tujuan akhir. Itu baru panggung pertama. Dan entah mengapa, semakin melihat Anjani melangkah maju, semakin sulit bagi Ren untuk membiarkannya pergi.

Dua hari kemudian...

Kampanye Aurora akhirnya mulai bergerak. Peluncuran belum memperlihatkan wajah model utama. Namun, justru karena itulah rasa penasaran publik meningkat berkali-kali lipat.

Akun resmi Aurora mengunggah teaser pertama. Konsep bernuansa hitam berpadu emas, dalam bentuk bayangan, tidak ada nama, wajah, dan identitas. Hanya siluet seorang perempuan yang berdiri di antara cahaya dan gelap. Gaun Aurora menjuntai anggun mengelilingi tubuhnya. Captionnya sederhana 'Every scar tells a story'

Kurang dari satu jam, kolom komentar langsung ramai.

"Siapa modelnya?"

"Model baru?"

"Auranya beda."

"Kenapa nggak ditunjukin wajahnya?"

"Ini siapa sih?"

Keesokan harinya, teaser kedua muncul, berupa potongan jemari.

Teaser ketiga, potongan bahu.

Teaser keempat, siluet dari belakang.

Tetap tanpa wajah, terkesan misterius, membuat pembicaraan semakin liar. Media mulai membuat artikel. Akun fashion mulai menebak-nebak. Investor yang sempat khawatir mulai tersenyum puas melihat antusiasme publik.

Sementara itu di sebuah kafe. Cintya memandangi layar ponselnya tanpa berkedip. Jari lentiknya memperbesar salah satu foto, lalu foto berikutnya. Raut wajahnya perlahan berubah.

Sebenarnya ia tidak lagi sedang curiga. Ia sudah curiga sejak lama, sejak hari di parkiran sekolah. Hari ketika ia memberanikan diri menawarkan diri sebagai model utama Aurora dan Ren menolaknya.

"Saya sudah menemukan modelnya."

Kalimat itu masih ia ingat sampai sekarang, begitu juga dengan satu hal lain, yaitu lirikan singkat Ren yang mengarah pada Anjani. Saat itu Cintya langsung menolak mempercayai pikirannya sendiri.

Tidak mungkin. Anjani bukan model profesional. Anjani baru masuk perusahaan. Anjani sudah bertahun-tahun meninggalkan dunia itu. Tidak mungkin.

Namun sekarang, setiap teaser justru memperkuat dugaan yang selama ini berusaha ia bantah sendiri. Bentuk bahu, garis leher, postur tubuh, dan cara jemarinya menyentuh kain, terasa familiar.

Perut Cintya mendadak terasa dingin. Ia mulai berhenti bertanya. "Apakah itu Anjani?"

Dan mulai bertanya. "Bagaimana bisa itu benar-benar Anjani?"

Tangannya mengepal pelan. Aurora bukan proyek biasa. Itu kampanye besar. Kampanye yang bisa mengangkat nama modelnya ke tingkat berbeda.

Dan selama ini, Cintya selalu menginginkan posisi itu. Ia selalu percaya suatu hari nanti dirinya akan mendapat kesempatan lebih besar.

Namun sekarang, yang berdiri di posisi tersebut justru Anjani. Perempuan yang menurutnya sudah tenggelam.

Dan yang paling menyebalkan, Anjani bahkan baru bergabung dengan perusahaan itu. Dada Cintya mulai terasa panas. Rasa iri langsung menggerogoti hati. Iri yang sangat sulit diakui.

Tangan Cintya mulai menggulir komentar publik, sampai sebuah komentar menarik perhatiannya.

"Modelnya bukan cantik biasa. Auranya matang."

Komentar lain muncul. "Terlihat seperti perempuan yang punya cerita hidup."

Serentetan komentar itu membuat dada Cintya semakin tidak nyaman. Biasanya ia selalu menjadi perempuan yang dipilih, yang selalu dikagumi. Sedangkan Anjani yang seharusnya tertinggal jauh di belakang justru perlahan muncul di depan.

Tak lama kemudian, Cintya datang di kantor Satriya.

"Mas."

Satriya mengangkat kepala.

Cintya masuk ke ruang kerja sambil membawa ponselnya. "Mas lihat Aurora?"

Satriya mengangguk. "Tadi sekilas."

Ia tidak terlalu tertarik pada dunia fashion. Namun, nama Ren Aksara cukup besar untuk membuat kampanye itu muncul di berandanya sosial medianya.

Cintya menggigit bibir bawahnya, lalu menunjukkan layar ponsel. "Mas masih ingat waktu di parkiran sekolah?"

Satriya mengernyit.

"Waktu Ren nolak aku," lanjut wanita itu.

Satriya langsung teringat. Tentu saja ia ingat. Hari itu Cintya bahkan sempat mengatakan satu kemungkinan yang terdengar konyol. Bahwa model utama Aurora mungkin Anjani.

Dan saat itu mereka sama-sama menganggap dugaan tersebut terlalu tidak masuk akal. Namun sekarang...

"Mas." Suara Cintya terdengar pelan. "Ternyata dugaanku waktu itu mungkin benar."

Satriya langsung menatap layar ponsel Cintya lebih lama kali ini. Dan ya, foto-foto teaser itu semakin diperhatikan semakin familiar.

Perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di dadanya, karena kalau benar itu Anjani, berarti perempuan yang ia tinggalkan tanpa apa-apa itu tidak sedang hancur, tapi malah sebaliknya. Ia sedang bangkit dan jauh lebih cepat daripada yang pernah ia bayangkan.

"Padahal bertahun-tahun aku bekerja agar bisa mendapat posisi itu, tapi impianku itu justru ditempati Kak Anjani secara instan." Suara sedih Cintya memecah lamunan Satriya.

Wajah pria itu mengeras. "Kenapa dia jadi serakah sekarang? Merebut milik orang lain sesukanya." Bibirnya tersenyum sinis. "Dia pasti menggunakan cara kotor."

Satriya terus menyangkal, tidak membiarkan otaknya menerima kenyataan bahwa Anjani memang bisa bersinar di kakinya sendiri, tanpa uang, jasa, atau keringat Satriya.

Cintya tiba-tiba menghela napas panjang, seakan berlapang dada menerima kenyataan. "Jangan berkata seperti itu, Mas. Mungkin ini memang belum rejekiku." Racun yang terbungkus kalimat bijak memang selalu menjadi jurus andalannya.

Satriya diam beberapa saat, seperti menimbang sesuatu. "Kalau Anjani kembali ke rumah, masalah selesai."

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Dinas sekaligus misi menaklukan hati Anjani
Ayuwidia
Semoga Anjani nggak muntah kayak adegan di full house
Ayuwidia
Kayaknya kalau pingin tajir melintir harus meniru Ren. Kerja terus, tanpa mengenal kata libur 🤭
Yeni Astriani
ditunggu selalu kelanjutan ceritanya Author☺☺☺
ryuka
owww oowww.. yg sadar duluan malah raka 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
Najwa Aini
kalau kata pribahasa madura..
tep kotep cellot.
Najwa Aini
Lanjut investigasi, Raka. cari alasan lain yg ada di balik alasan lbh efisien itu
Najwa Aini
Ambrukk malah
Ayuwidia
Aamiin, dan semoga kesalahpahaman kamu ke Ren nggak berkepanjangan 🤭
Hary Nengsih
lucu perang m anak nya
ryuka
kangen obrolan sae sma bella lagi thorrr 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
ya ampunn saaeee.. kamu tuh lucu bgt siihhh 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
Yeni Astriani
lanjut Author
Najwa Aini
kok malah berasumsi hanya karena mendengar satu potongan kalimat..
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
Najwa Aini
Berarti dari dulu² perintah Ren itu agak syaithoni..ya..baru sekarang cukup manusiawi
Najwa Aini
sebegitu kuat ya getaran bahunya Raka
Najwa Aini
sebentar..apa dulu yg digoreng nih..yg aromanya sampai memikat gitu
Najwa Aini
sebentar..Aurora itu nama Brand ya..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...
Najwa Aini
ketenangan Anjani itu memukul mental Satrya
Ayuwidia
woahhh ini mah celetukan othornya 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!