Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Di atas panggung, Salwa menatap lurus ke arah ibunya itu. Ia bisa membaca setiap perasaan yang melintas di wajah tua itu: iri, marah, menyesal, dan sakit hati. Salwa hanya tersenyum tipis, senyum yang dingin dan puas.
"Kau lihat, Ibu?" batin Salwa. "Kau lihat kebahagiaan kami? Kebahagiaan ini murni, indah, dan abadi. Kebahagiaan yang tidak pernah bisa kau berikan, dan tidak akan pernah bisa kau miliki lagi. Kau sibuk mengejar harta dan kemewahan palsu, sampai kau lupa bahwa kebahagiaan sejati ada di tanganmu sendiri, tapi kau buang begitu saja. Sekarang... nikmatilah rasa sakit itu, Ibu. Nikmatilah penyesalan itu sampai ke tulang sumsum mu. Karena ini baru awal dari hukuman yang akan kami berikan."
Ardiansyah dan Bunga saling berpandangan, lalu keduanya berbalik menghadap seluruh tamu sekali lagi, berpegangan tangan erat di samping Salwa. Ketiganya kini tampak bagai keluarga paling sempurna, paling bahagia, dan paling berkuasa di negeri ini.
"Terima kasih atas doa dan dukungan kalian semua," ucap Ardiansyah mengakhiri pengumumannya dengan suara penuh kebahagiaan. "Mulai hari ini, kami bertiga akan melangkah bersama, bersatu, dan membangun masa depan yang lebih baik. Dan kami berjanji... keadilan akan selalu kami tegakkan, dan kebenaran akan selalu kami junjung tinggi."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang sangat kuat, matanya kembali menatap tajam ke arah barisan depan, seolah mengingatkan bahwa keadilan itu bukan hanya untuk orang baik, tapi juga berarti pembalasan bagi mereka yang jahat.
Akhirnya, dengan penuh keanggunan dan kemegahan, ketiganya pun berbalik badan dan mulai menuruni tangga panggung, diiringi kembali oleh tepuk tangan meriah dan sorak-sorai yang tak berkesudahan.
Di bawah sana, di antara kerumunan yang gembira itu, lima orang berdiri diam dalam kesendirian mereka yang menyakitkan. Yogie, Sania, Pak Joko, dan khususnya Ratna... mereka sadar betul bahwa malam ini bukan sekadar pesta kemegahan. Malam ini adalah malam di mana mereka harus menerima kenyataan pahit: bahwa mereka telah kalah sepenuhnya, dan bahwa musuh yang paling hina menurut mereka dulu, kini telah menjadi tuan yang berkuasa penuh atas hidup dan mati mereka.
Dan saat Salwa melangkah melewati tempat mereka berdiri, langkahnya tidak terhenti sedikit pun. Ia hanya melemparkan satu pandangan sekilas, pandangan yang begitu dingin dan asing, seolah mereka adalah debu di jalanan yang tidak pantas diinjak pun. Pandangan yang jauh lebih menyakitkan daripada makian atau pukulan apa pun.
Permainan belum selesai. Dan bagi mereka yang dulu menghancurkan hidup Salwa... malam ini hanyalah permulaan dari neraka yang sesungguhnya.
Di tengah riuh rendah tepuk tangan dan suara ucapan selamat yang memenuhi seisi ruangan, langkah Ardiansyah, Bunga, dan Salwa menuruni tangga panggung yang megah itu terhenti seketika. Belum sepenuhnya kaki mereka menyentuh lantai dasar, terdengar suara perempuan yang bergetar, melengking, dan penuh desakan memecah keheningan di sekitar mereka. Suara itu terdengar asing bagi sebagian besar tamu, namun sangat, sangat akrab bagi ketiga orang yang sedang berjalan itu.
"Ardiansyah! tunggu sebentar! Ardiansyah, dengarkan aku!"
Semua mata seketika beralih dari sosok ketiga serangkai itu ke arah sumber suara. Di barisan depan, mendesak keluar dari kelompok keluarga Pratama dan keluarga Joko, tampaklah bu ratna yang berdiri dengan napas terengah-engah, wajahnya merah padam bercampur pucat pasi, matanya berkaca-kaca namun menatap tajam ke arah mantan suaminya itu. Tubuhnya gemetar hebat, campuran antara rasa takut, malu, namun juga amarah dan rasa ingin memiliki yang buta.
Ia tidak peduli lagi pada tatapan heran dari orang-orang di sekelilingnya. Ia tidak peduli lagi pada isyarat tangan Pak Joko yang berusaha menahannya dengan wajah ketakutan. Ia tidak peduli lagi pada keringat dingin yang mengucur deras dari kening Yogie atau wajah Sania yang berubah masam karena malu.
Di saat itu, pikiran Ratna hanya dipenuhi oleh satu hal , Ardiansyah. Laki-laki yang dulu ia miliki, yang dulu ia buang, namun kini berdiri begitu agung, begitu berkuasa, dan begitu bahagia di hadapannya. Rasa iri dan penyesalan yang meluap-luap membuatnya kehilangan akal sehat. Ia merasa berhak bicara, ia merasa berhak diakui, seolah-olah masa lalu yang kelam dan kejahatan yang ia perbuat tidak pernah ada.
Ardiansyah menghentikan langkah kakinya tepat di anak tangga paling bawah. Ia tidak segera berbalik. Ia berdiri tegak, punggungnya lurus dan kokoh, seolah menjadi tembok besar yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun.
Di sebelah kanannya, Bunga menggenggam tangan Ardiansyah erat, menatap punggung suaminya itu dengan tenang namun tegas, siap mendukung apa pun sikap yang akan diambilnya. Di sebelah kiri, Salwa berdiri diam, matanya menyipit tajam menatap ibunya kandungnya itu dengan ekspresi dingin dan penuh rasa jijik.
Perlahan, sangat perlahan, Ardiansyah memutar tubuhnya menghadap ke arah Ratih.
Dan saat mata mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun berpisah dengan cara yang paling menyakitkan itu, seluruh ruangan seolah menjadi beku. Tidak ada suara lagi. Semua orang menahan napas, merasakan ketegangan yang begitu pekat di udara.
Ardiansyah menatap Ratna .
Tatapan itu... tatapan itulah yang menjadi pukulan paling keras dan mematikan bagi Ratih, jauh lebih sakit daripada makian, teriakan, atau pukulan fisik sekalipun.
Di mata Ardiansyah tidak ada lagi kilatan cinta, tidak ada lagi rindu, tidak ada lagi amarah, dan tidak ada lagi rasa sakit hati. Semua perasaan itu sudah habis, sudah mati, sudah dikubur dalam-dalam bersama kenangan masa lalu yang kelam. Yang tersisa hanyalah kebekuan yang mutlak, kedinginan yang sedingin es di kutub utara. Tatapan Ardiansyah sama persis seperti seseorang yang sedang menatap benda mati, menatap debu yang tidak berharga, atau menatap serangga kecil yang tidak pantas dianggap ada.
Tatapan itu mengatakan: "Siapa kau? Apakah kita pernah saling mengenal? Bagiku, kau tidak ada bedanya dengan debu di kakiku."
Namun, bagi Ratna, tatapan kosong dan dingin itu terasa seperti ribuan pisau yang menancap tepat di jantungnya. Ia berharap Ardiansyah akan marah, berharap Ardiansyah akan membentaknya, berharap Ardiansyah masih memiliki sisa rasa apa pun padanya.
Setidaknya kalau Ardiansyah marah, berarti Ardiansyah masih menganggapnya ada, masih menganggapnya penting. Tapi kenyataannya? Ardiansyah menatapnya seolah ia adalah orang asing yang tidak dikenal, seolah keberadaannya tidak berpengaruh sedikit pun.
Namun, rasa iri dan kebencian yang sudah tertanam lama di hati Ratna membuatnya tidak sadar akan posisinya yang sangat hina saat itu. Ia justru merasa tersinggung dengan sikap dingin itu. Ia maju selangkah ke depan, suaranya meninggi sedikit berusaha terlihat berwibawa, padahal jelas terdengar bergetar dan penuh kepura-puraan.
Bersambung,,,,