NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Beracun

Suasana di kediaman utama keluarga Buwana terasa lebih tegang dari biasanya, meski secara fisik semua tampak berjalan normal. Di ruang tengah yang luas dan mewah, Dewa duduk di sofa kulit berwarna hitam, tubuhnya tegap namun santai, namun sorot matanya yang tajam dan dingin mengisyaratkan bahwa setiap sel di tubuhnya sedang dalam siaga penuh. Di tangannya, sebuah amplop berwarna emas pekat dengan segel lilin berukir lambang yang asing tergenggam erat. Amplop itu baru saja diantar oleh kurir khusus tak dikenal, tanpa nama pengirim yang jelas, namun Dewa sudah tahu persis siapa yang mengirimnya.

Di sampingnya, Naura duduk tenang, tangannya bertumpu di lengan kursi suaminya, sementara matanya menatap amplop itu dengan waspada. Di hadapan mereka, Sera berdiri dengan wajah pucat, tangannya sedikit gemetar saat menunjuk lambang yang tertera di segel itu.

"Itu dia..." suara Sera berbisik, namun terdengar jelas di ruangan yang hening itu. "Itu adalah tanda tangan rahasia dari orang yang kita bahas kemarin. Pemimpin tertinggi jaringan itu. Dia yang berada di balik semua penderitaan kita, dia yang mengatur segala kebohongan, dan dia yang membuat keluarga Buwana serta Zafira saling bermusuhan selama puluhan tahun. Namanya adalah Mahesa. Sosok yang bahkan Arga saja hanya berani menyebutnya dengan penuh ketakutan."

Dewa tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya senyum khas seorang iblis yang baru saja ditantang oleh mangsanya sendiri. Ia merobek amplop itu dengan gerakan kasar namun terukur, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal bertuliskan tangan. Tulisan itu elegan, namun setiap hurufnya seolah memancarkan ancaman yang dingin dan mematikan.

"Undangan makan malam?" gumam Dewa rendah, suaranya penuh penekanan yang mengerikan. Ia menyodorkan kertas itu ke arah Naura agar istrinya juga bisa membacanya.

"Kepada Dewa Angkasa Buwana dan Naura Aulia Zafira, penguasa baru yang gagah berani. Saya mendengar kabar bahwa kalian telah menyatukan dua kekuatan besar yang dulunya saling membunuh. Sebagai orang tua yang telah lama mengamati sejarah keluarga kalian, saya merasa perlu untuk bertemu dan memberi selamat sekaligus mengingatkan batasan-batasan yang ada. Datanglah malam ini ke Vila Kala, di puncak bukit utara. Datanglah berdua saja, atau kalian akan menyesal seumur hidup."

Naura membaca tulisan itu pelan, lalu menatap suaminya dengan tatapan tegas namun khawatir. "Dia menantang kita, Dewa. Dia tahu kita sudah mengambil alih wilayahnya, dan sekarang dia ingin bertemu langsung. Ini pasti jebakan."

"Tentu saja ini jebakan," jawab Dewa cepat, suaranya berubah dingin dan berwibawa. "Mahesa bukan orang yang mengundang tamu untuk minum teh. Dia ingin melihat siapa yang berani merusak permainannya. Dia ingin melihat seberapa besar keberanianku, dan seberapa berharganya kau bagiku."

Dewa berdiri, tubuh tingginya menjulang gagah, aura kekejaman dan kekuasaannya meledak seketika, membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Ia berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman luas di luar sana, tempat para pengawal elitnya sedang berpatroli dengan senjata siap pakai.

"Dia pikir dia bisa mengancamku? Dia pikir aku akan gemetar hanya karena namanya disebut?" Dewa berbicara pada dirinya sendiri, namun nadanya penuh kebencian yang meluap. "Aku adalah Dewa Angkasa Buwana. Orang-orang takut padaku bahkan sebelum aku berbicara. Aku membangun kerajaanku di atas tumpukan mayat musuh-musuhku sendiri. Dan dia berani menyuruhku datang ke tempatnya seperti anak kecil yang dipanggil kepala sekolah?"

Dewa berbalik, menatap Naura dengan sorot mata yang berubah seketika menjadi lembut namun penuh tekad membara. Ia berjalan mendekat, meraih kedua bahu istrinya dan menatapnya lekat-lekat.

"Kita akan datang, Naura. Kita akan datang berdua seperti yang dia minta. Tapi bukan sebagai tamu yang takut-takut. Kita datang sebagai penguasa yang berhak menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan kita."

"Dewa, itu terlalu berbahaya!" seru Sera cepat, melangkah maju dengan wajah cemas. "Mahesa memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang kalian bayangkan. Dia punya mata dan telinga di mana-mana. Dia punya pasukan yang setia mati. Vila Kala adalah wilayah kekuasaannya sepenuhnya. Kalian berdua bisa terjebak di sana, dan aku tidak akan sanggup menanggungnya jika terjadi sesuatu pada kalian."

Dewa menoleh ke arah Sera, tatapannya tajam namun tidak marah. Ia mengerti kekhawatiran wanita itu, dan ia menghargai ketulusan yang kini ditunjukkan Sera sebagai sahabat dan sekutu setia.

"Sera, dengar aku," ucap Dewa tegas. "Perang ini tidak akan selesai jika kita terus bersembunyi di balik tembok tinggi. Kita sudah berjanji untuk menghabisi semua musuh dan menebus semua dendam. Mahesa adalah akar dari semua kejahatan ini. Jika kita tidak menghadapinya sekarang, dia akan terus mengintai, terus mengancam, dan akan menyerang saat kita lengah di masa depan. Lebih baik kita selesaikan sekarang, di pertengahan jalan ini, daripada menunggu sampai dia menyakiti orang-orang yang kita cintai."

Dewa kembali menatap Naura, jemarinya mengusap lembut pipi istrinya.

"Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, sama seperti kau tidak akan membiarkanku pergi sendiri. Kita berjanji untuk berjalan bersama, ingat? Dulu kita dipersatukan oleh perjodohan yang berbalut dendam. Dulu kita saling membenci, saling mencurigai, dan hidup dalam kebohongan. Tapi sekarang? Sekarang kita adalah satu kesatuan. Kau adalah Nyonya Buwana, kau adalah Ratu di kerajaanku, dan kau adalah wanita yang kucintai lebih dari nyawaku sendiri."

Naura tersenyum, meski ada kekhawatiran yang masih terselip di sudut matanya, namun keyakinan di hatinya jauh lebih besar. Ia mengangguk mantap, lalu meremas tangan suaminya yang ada di bahunya.

"Aku tahu, Dewa. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana sendirian menghadapi iblis tua itu. Aku akan ikut. Ke mana pun kau pergi, aku ada di sana. Kita akan hadapi Mahesa bersama-sama. Kita akan tunjukkan padanya bahwa masa lalu yang kelam sudah berakhir, dan masa depan adalah milik kita."

Dewa tersenyum bangga, lalu mencium kening istrinya dalam-dalam. Ia lalu berbalik menatap Sera, Rian, dan Raga yang baru saja masuk ke ruangan setelah mendengar suasana tegang itu.

"Rian, siapkan pasukan terbaikmu. Bersiaplah di sekitar kawasan Vila Kala, tapi jangan masuk kecuali aku memberi kode. Pastikan setiap jalan keluar dan masuk sudah diawasi. Aku ingin tidak ada satu pun lalat yang bisa keluar dari sana tanpa seizin kita."

"Siap, Tuan Dewa!" jawab Rian tegas, matanya berkilat siap bertempur.

"Raga, pastikan semua jalur komunikasi dan cadangan kekuatan kita di kota tetap aman. Jangan sampai ada serangan balik di sini saat kita sedang pergi. Sera..." Dewa menatap wanita itu dengan serius. "Kau tetap di sini bersama Ibu Maya dan Pak Wahyu. Kau adalah otak dari semua data yang kita miliki. Jika ada hal yang tidak terduga, aku butuh kau di sini untuk mengendalikan semuanya."

Sera mengangguk pelan, menelan rasa takutnya. "Baik, Dewa. Hati-hati kalian berdua. Ingat... Mahesa tidak bermain kotor, dia bermain sangat kotor. Dia tidak punya aturan, dia tidak punya hati. Dia hanya menginginkan kekuasaan mutlak."

"Dan aku adalah orang yang sama persis, Sera," jawab Dewa dingin, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Hanya saja aku lebih kejam, lebih cerdas, dan aku punya sesuatu yang tidak dia miliki: alasan yang kuat untuk bertahan hidup dan menang. Aku punya Naura."

Malam semakin larut. Mobil hitam mewah yang biasa digunakan Dewa melaju pelan membelah jalanan menanjak ke arah bukit utara. Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka, namun bukan keheningan yang menakutkan, melainkan keheningan yang penuh rasa saling memiliki. Dewa menyetir sendiri, mengenakan setelan jas hitam yang rapi dan berwibawa, penampilan yang sama persis saat ia sedang memimpin pertemuan bisnis besar atau saat ia sedang memerintahkan eksekusi musuh. Di sampingnya, Naura duduk anggun, mengenakan gaun malam berwarna merah tua yang elegan, namun di balik keanggunan itu, ia memakai senjata kecil yang tersembunyi, siap untuk melindungi dirinya dan suaminya kapan saja.

"Kau tidak menyesal ikut denganku, Sayang?" tanya Dewa pelan, matanya sesekali melirik ke arah istrinya. "Dulu kau mungkin berharap hidup damai, hidup jauh dari darah dan pertempuran. Tapi perjodohan ini membawamu ke dalam neraka tempatku tinggal."

Naura tersenyum lembut, meraih tangan kiri Dewa yang sedang tidak memegang setir, lalu mencium punggung tangan itu.

"Neraka pun akan menjadi surga jika aku ada di sisimu, Dewa. Dulu aku membenci takdir ini, tapi sekarang aku bersyukur. Tanpa perjodohan yang berbalut dendam itu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu, aku tidak akan pernah tahu betapa indahnya dicintai oleh seorang pria sepertimu. Kita sudah melewati begitu banyak perjalanan yang sulit, dan ini hanyalah satu perjalanan lagi sebelum kita sampai ke akhir yang bahagia."

Dewa menggenggam tangan istrinya erat, mengarahkan mobilnya memasuki gerbang besar yang terbuka lebar di depan sebuah vila tua yang megah namun menyeramkan. Lampu-lampu di sepanjang jalan setapak menyala remang-remang, seolah mengundang mereka masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan.

"Ini dia," ucap Dewa dingin, mematikan mesin mobil. Ia menatap bangunan tua di depannya dengan sorot mata yang penuh ancaman dan tekad. "Pertemuan dengan iblis sesungguhnya dimulai sekarang. Apapun yang terjadi di dalam sana, tetaplah di dekatku, Naura. Jangan pernah melepaskan genggamanku. Karena selama kita bersatu, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa menjatuhkan kita."

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!