Nissa adalah istri yang mengalami penderitaan pada pernikahan nya. Setelah menikah karena perjodohan itu, banyak sekali rintangan dalam pernikahan nya. Suami nya yang kejam, dingin dan selalu menyakiti hati nya. Kehadiran mantan pacar suami nya lah yang membuat pernikahan itu tak mampu ia jalani lagi. Nissa yang selalu diabaikan oleh sang suami, Bagaimana kah ia bisa bahagia?
.
.
.
Penasaran? Silahkan baca novel ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Azizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26 - MENYESAL.
Hari terus berlalu.....pagi ini Nissa berusaha untuk tetap masuk ke kantor,meski perutnya masih sakit. Bentley bersikeras bahwa Nissa harus membawa bekal untuk di makan ke kantor. Setelah kejadian kemarin Andhika tidak pernah menampakkan wajahnya di depan Nissa bahkan Bentley pun tidak melihat keberadaan Andhika selain di ruang kerja nya. Nissa segera melahap bubur buatan koki rumah dengan lahap setelah disajikan. Pagi ini Andhika pun keluar dari ruang kerja nya dan bergabung untuk sarapan dengan Nissa. Melihat Andhika yang duduk seperti tak terjadi apapun membuat Nissa kesal dan menyudahi sarapan miliknya.
"Nyonya jangan lupa bekal nya" ucap Bentley.
"Terimakasih Bentley".
Nissa begitu kesal karena tak ada satupun permintaan maaf dari Andhika kepada nya.
Pagi ini seperti biasanya pak fikry datang untuk mengantar Nissa menuju ke kantor. Pak fikry segera membukakan pintu mobil untuk Nissa, namun Nissa hanya terdiam tanpa beranjak dari tempat nya.
"Maaf pak, tapi saya hari ini ingin pergi sendiri" ucap Nissa dingin.
Nissa kemudian mengambil motor nya dan pergi. Pak fikry merasa kebingungan dengan tingkah Nyonya rumah nya. Pak Fikry kemudian menghampiri Andhika dan bertanya.
"Maaf pak Boss kenapa Nyonya hari ini ingin pergi ke kantor nya sendiri? saya tidak di beri tahu bahwa Nyonya akan pergi sendirian" Lapor pak fikry pada Andhika.
"Untuk sementara biarkan dulu aja pak" ucap Andhika.
Di Perusahaan HD Grup.
"Andhika chan~~~" Teriak seseorang dan dengan lugas nya ia membuka pintu ruangan Andhika.
"Berhenti memanggilku dengan menjijikan!" Jawab Andhika kesal.
"Oh! Tidak bersahabat untuk hari ini?!"
"Cepatlah ada apa!? Kau datang padaku karena ada sesuatu kan?"
"Andhika Chan, kamu emang yang terbaik" Rey pun duduk di sofa Ruangan itu.
Andhika pun berjalan dan duduk di seberang sofa yang di duduki Rey. Andhika terus memelototi Rey dengan tatapan yang tajam.
"Jadi? Apa mau mu?" Tanya Andhika dengan sinis.
"Kau punya anak?" Tanya Rey tajam.
Kadang Rey yang berbicara dengan manis bisa menjadi dingin dalam sekejap. Dan terkadang kata - kata yang Rey ucapkan terasa setajam pisau.
"Ya, Begitulah"
"Lalu bagaimana? Kau akan menikahi Ros dan menceraikan Anissa?"
"Tentu saja Tidak!" Mendengar kata perceraian itu membuat hatinya mendidih.
Rey hanya tertawa kecil mendengar jawaban Andhika. Rey yakin bahwa Andhika tidak menangkap poin penting dari pertanyaan nya.
"Bagaimana bisa kau seceroboh itu? Lalu apa Anissa tahu? bagaimana jika dia tahu? Apa kau masih mencintai Ros dan Bagaimana perasaan mu pada Anissa?"
Semua kata - kata yang selama ini dihindari oleh Andhika diucapkan dengan terus terang oleh Rey. Mereka sudah saling kenal sejak kecil,wajar jika Rey dapat mengerti fikirkan Andhika saat ini. Rey sudah tahu perasaan Andhika pada Nissa namun Rey juga kesal Andhika belum juga menemukan solusi atas masalah ini.
"Aku tidak tahu, Nissa tidak tahu semua ini, Aku ingin mengatakan padanya tapi aku takut dia akan terluka....Aku dengan yakin mengatakan bahwa tidak ada rasa lagi kepada Ros tapi aku tidak bisa mengabaikan anak ku begitu saja!! Dia tidak berdosa. Dan terhadap Nissa aku tidak tahu apakah aku mencintai nya, tapi Aku tidak ingin meninggalkan dia" jelas Andhika.
Andhika chan~ kapan kau akan sadar bahwa kau mencintai istri mu? Jika rasa yang kau rasakan saat ini bukan cinta, apalagi dong namanya? Yaah biarlah dia sadar sendiri,Tidak akan seru jika aku bantu kau menyadari nya, Sekali - sekali aku ingin menindas mu, biasanya kau selalu menindas ku, hahahaha.
"Baiklah,Aku akan menyelidiki hal ini untuk mu" ujar Rey dengan serius.
"Kenapa?" Andhika merasa bingung.
"Aku merasa tidak beres saja, kau tahu feeling ku akan sangat tajam terhadap keganjilan, Aku akan mengungkap semuanya sampai habis!!"
"Mustahil aku sudah mencari tahu semuanya"
"Kau meremehkan otak dan koneksi ku, Kau lihat saja nanti! Bahkan kelahiran anak itu saja tidak jelas!" ucap Rey dengan sombongnya.
"Baiklah, aku akan tertolong jika kau berbuat demikian"
"Kunci nya ada pada Si Boston itu! Aku selalu tidak menyukai si kepala botak itu!"
"Yaah begitulah"
"Untuk sementara sampai kebenaran nya terungkap, jangan beritahu kan hal ini pada siapapun, terutama istri mu...belum tentu dia akan menerima semua hal ini, dia pasti akan sangat terluka mendengar nya!! Kau juga jangan terlalu sering ke villa mereka, bisa sangat membahayakan!" Ujar Rey dengan Tegas.
"Ya"
"Kau ada masalah? Apa karena kebodohan mu semalam kau depresi seperti ini?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Lu-ca-s Chan~~" Kali ini Rey beralih ke arah Lucas yang sejak tadi berada dekat dengan mereka.
Rey berbicara dengan menunjukkan ekspresi imutnya. Sulit di percaya umur mereka sama namun Rey masih memiliki wajah remaja miliknya. Orang bilang Rey itu awet muda dan sangat imut tapi Andhika selalu berfikir itu menjijikkan.
"Hah! Orang itu!" Andhika muak dengan tingkah Rey yang suka sok imut.
"Kalau begitu aku pergi dulu, itu saja dari ku" Rey pun mulai berjalan ke luar ruangan.
"ya sesuka mu saja" jawab Andhika tak perduli.
"Ah! sampai lupa! Jagalah orang yang penting untuk mu saat ini! jangan biarkan perempuan itu terluka! Aku tahu dia wanita yang baik meski belum pernah bertemu langsung! Aku bisa tahu dengan melihat mu dapat berubah seperti ini! "
Setelah mengatakan hal itu,Rey pun pergi.
Benar! Aku harus minta maaf pada Nissa. Aku Harus pulang!!
Setelah menentukan tekad nya Andhika memutuskan untuk pulang lebih awal. Ternyata Nissa pulang lebih awal, Andhika menanyakan kepada pelayan di rumah Mengapa Nissa pulang lebih awal, menurut mereka Nissa masih mengalami sakit di perut dan kepalanya. Karena khawatir Andhika pun masuk ke kamar dan mencoba mengecek kondisi Nissa.
"Apa masih terasa sakit?" Andhika duduk di sisi kasur untuk melihat Nissa yang sedang berbaring.
"Ya, kau pasti senang kan? Kau pasti akan berkata ini hukuman karena aku keluyuran hingga pagi kan?"
"Omong kosong apa itu! Tentu saja Tidak!" Ada amarah dalam kata yang Andhika ucapkan.
Andhika merasa seolah Nissa tak paham bahwa ia merasa bersalah atas semua nya meski tak dikatakan secara langsung.
"Kau kan selalu begitu" jawab Nissa cuek.
Aku harus minta maaf pada Nissa, hanya satu kata saja, Aku pasti bisa mengatakan nya.
"Nissa....Aku m......"
(Ting...tong....Ting....tong) Bunyi bel pintu rumah.
"Siapa itu? Kau punya janji sama seseorang?" Tanya Andhika.
"Tidak"
Andhika pun segera mengecek dan turun namun seperti nya tamu itu sudah duluan masuk karena dibukakan pintu oleh Bentley. Tamu itu langsung masuk dan berteriak untuk mencari Nissa.
"Nis, Bagaimana keadaan mu? Nis....Nis?" Dokter Harry mencari Nissa.
"Nyonya di kamarnya" jawab Bentley.
Andhika heran melihat pria itu. Seorang Pria yang tak ia kenal datang dengan memanggil istri nya.
Siapa pria ini? Kenapa dia bisa memanggil nama istri ku seperti itu? Dan berani juga dia main langsung masuk ke rumah ini.
"Siapa kau?" Tanya Andhika dengan tatapan dingin dan nada mendominasi miliknya.
Andhika menuruni tangga untuk mendekat ke arah Dokter Harry. Dengan Arogan dan wajah dingin milik nya Andhika menatap Dokter Harry.
"Tuan, karena saya lihat Nyonya masih belum sembuh jadi saya menelfon nya untuk kemari mengecek keadaan nyonya" ujar Bentley.
"Aku Tanya siapa kau!!?" Teriak Andhika.
"Hah! Pantas saja Nissa bisa jatuh sakit begitu! Memiliki suami arogan seperti mu memang bikin fisik orang lelah!" Ucap Harry dengan berani.
"Apa!? Berani sekali kau! Bentley siapa dia!?" Andhika menunjuk wajah Harry dan menatap Bentley.
"Dia Dokter Harry tuan, Dokter yang memeriksa Nyonya" ujar Bentley.
"Bukan hanya sekedar dokter, hubungan kami juga sangat dekat" jawab Harry.
"Hah!?" Andhika sudah mulai sangat kesal dengan tingkah Harry.
"Pergi! Aku tidak butuh dokter seperti mu! Aku bisa mencarikan istri ku dokter lain! Sekarang kau pergi dari sini!" Teriak Andhika.
"Cukup!" Teriak seseorang.
Semua pun menoleh ke arah suara tersebut.
"Jangan perlakukan tamu ku seperti itu!" Teriak Seseorang.
Suara Itu adalah suara Nissa. Nissa berusaha kuat untuk berjalan dan menuruni tangga. Dengan pelan sambil bertopang pada tangga.
"Kau! Kau boleh bersikap begitu padaku! Tapi tidak dengan tamuku!"
Nissa benar - benar marah dan ia memberi peringatan dengan jari telunjuk miliknya. Nissa memperingati Andhika. Nissa tidak ingin Andhika memperlakukan kenalan nya dengan tidak hormat.
"Kau membela nya?" Tanya Andhika tidak percaya.
"Terse....." Tiba-tiba Nissa jatuh pingsan sebelum menyelesaikan kata miliknya.
"Nissa!" Teriak Andhika dan Harry bersamaan.
Andhika ingin menangkap Nissa,namun keduluan oleh Harry. Baru kali itu Andhika merasakan mendidih di hati dan kepalanya saat melihat Nissa di dalam pelukan lelaki lain. Andhika hanya memikirkan kecemburuan milik nya sedangkan Harry berusaha untuk merawat Nissa secepatnya.
"Maaf kepala pelayan, Dimana kamar Nissa? Saya harus memeriksa tekanan darah dan suhu nya"
"Silahkan ikuti saya" Bentley pun menunjukkan Harry kamar Nissa dan Harry membawa Nissa dengan erat.
Sial! Sialan! Sialan pria itu!! Berani - berani nya dia menyentuh istri ku!!"
Ada api yang terasa membakar Andhika, kali ini bukan api gairah melainkan Api amarah. Seolah tubuh nya terbakar dengan ribuan bara api, Andhika merasakan terbakar sampai ke ubun - ubun nya.
-bersambung-
"Kadang kita juga tidak pernah sadar, perasan cinta yang kita miliki terhadap seseorang Sampai semuanya telah terlambat untuk diraih kembali"