NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Percikan cemburu.

Raut wajah Prisha tiba-tiba jadi kelam, gumpalan emosi gelap langsung merayapi dadanya saat melihat pemandangan di depan meja kerja Saka. Dengan langkah lambat namun mengintimidasi, ia maju beberapa langkah.

Dengan suara rendah dia bertanya, “Siapa kamu?”

Pertanyaan itu dilontarkan tepat ke arah wanita cantik dan seksi yang berdiri di dekat Saka. Wanita itu memakai pakaian kantor yang serba ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sengaja, lengkap dengan stoking hitam menggoda yang membungkus kakinya.

Bukannya takut, wanita itu justru melempar senyum formal yang tampak begitu polos tanpa dosa. "Nama saya Angel, saya akan menjadi bendahara baru di perusahaan ini."

Prisha sudah mendengar bendahara lama sudah ditangkap setelah ketahuan korupsi. Tapi siapa yang menduga penggantinya adalah seorang wanita bertubuh seksi?

Prisha tidak peduli dengan alasan profesional apa pun. Instingnya sebagai seorang wanita—terlebih sebagai mantan queen bee yang terbiasa melihat segala bentuk intrik—langsung menyala merah. Prisha menoleh tajam ke arah Saka, menunjuk Angel dengan telunjuknya yang gemetar karena amarah. “Kak Saka! Dia ini wanita penggoda!”

Saka yang duduk di kursi kebesarannya hanya bisa mengembuskan napas pendek. Ia memijat pelipisnya sejenak, lalu menatap Prisha dengan pandangan jengah. “Prisha, hentikan. Apa pun itu, yang kulihat hanyalah bagaimana kinerjanya.”

Mendengar pembelaan Saka, dada Prisha semakin bergemuruh. Jelas, Prisha bisa merasakan niat terselubung dari wanita itu. Lagian, wanita mana yang tidak ingin berusaha menggoda ketika melihat pemilik perusahaan yang masih sangat muda, berkuasa, dan berwajah tampan seperti Saka Tanubrata?

Di mata Prisha, semua orang di luar sana pasti sedang mengantre dan ingin mendapatkan posisi terhormat sebagai istrinya. Ia tidak akan membiarkan sekerat daging segar miliknya digerogoti oleh lalat kantoran seperti Angel.

Prisha melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Dengan gerakan kasar, ia memaksa Angel untuk berbalik dan menghadapnya secara langsung. Prisha melipat kedua tangan di dada, mendongak angkuh seraya menatap Angel dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Jangan macam-macam ya. Kak Saka itu calon suamiku.”

Angel tidak langsung menciut. Ia justru memundurkan kepalanya sedikit, memasang wajah polosnya yang paling menyebalkan, lalu berkata dengan nada lembut yang memprovokasi. “Maaf, saya sudah mendengar bahwa Nyonya Ratih memang sering memilihkan gadis untuk anaknya. Tapi pada akhirnya ... bukankah keputusan berada di tangan Tuan Saka?”

Darah Prisha seketika mendidih ke titik puncak. "Apa? Kau menantangku?!" desisnya dengan mata yang berkilat kejam.

“Tidak, saya hanya teringat hal itu saat melihat Anda,” jawab Angel, masih mencoba mempertahankan topeng tidak bersalahnya di depan Saka.

Prisha yang sudah kehilangan seluruh kesabarannya tidak lagi menggunakan kata-kata. Rasa geram yang meluap membuat tangan kanannya bergerak secepat kilat.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Angel. Sentakan itu membuat kepala Angel tertoreh ke samping. Bukannya membalas dengan amukan, Angel justru memilih taktik lain. Ia berpura-pura tidak berdaya, memegangi pipinya yang memerah, lalu menatap Saka dengan sepasang mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca, memancarkan aura korban yang teraniaya.

“Tuan Saka ... apakah saya salah?”

Saka diam di tempat, tidak mengatakan apa pun ataupun bergerak untuk melerai. Pria itu tampaknya terlalu lelah menghadapi drama gila Prisha. Angel mengira diamnya Saka adalah sebuah pembelaan, dan ia mengira Prisha akan takut terlihat buruk atau dicap kejam di depan tunangannya sendiri.

Namun, perkiraan Angel salah besar. Prisha sama sekali tidak peduli dengan citra dirinya di depan siapa pun.

Melihat Angel yang sibuk menjual air mata buaya, gadis itu justru maju selangkah lagi. Tangan Prisha bergerak ke atas, mencengkeram kuat-kuat rambut panjang Angel lalu menjambaknya tanpa ampun. Angel seketika berteriak kesakitan, kehilangan seluruh keanggunannya.

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau menjual tampang polos di depanku!" teriak Prisha. Dengan satu sentakan bertenaga, Prisha membanting tubuh Angel hingga jatuh terjungkal ke atas lantai marmer.

Tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Prisha langsung naik dan duduk di atas perut Angel, mengunci pergerakan wanita itu. Prisha melayangkan tinju dan cakarannya, menghajar wajah Angel berkali-kali hingga wanita itu berteriak histeris, mencoba melindungi wajahnya dengan kedua tangan.

Ruangan kerja CEO yang biasanya tenang kini dipenuhi oleh suara jeritan melengking dan bantingan barang yang tersenggol.

Melihat situasi yang sudah benar-benar tidak terkendali oleh amukan membabi buta Prisha, Saka akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia segera bangkit dari kursinya, melompati meja kerja, lalu menyergap tubuh Prisha dari belakang. Saka menarik pinggang Prisha dengan kuat, mencoba memisahkan gadis itu dari tubuh Angel yang sudah babak belur.

Prisha yang tubuhnya melayang di udara terus memberontak, kakinya menendang-nendang ke depan. “Lepaskan! Lepaskan aku, Kak Saka! Biar kubuat jelek dulu wajah gatalnya itu! Lepaskan!”

Saka mempererat dekapannya, mengunci kedua lengan Prisha di dadanya agar gadis itu tidak lepas dan kembali menerkam bawahannya. Napas Saka memburu frustrasi. Sembari menahan amukan Prisha, ia menoleh ke arah bawahannya yang masih terkapar.

“Angel, pergilah ke luar sekarang!”

“Huhu ... Tuan ... aku tidak terima dengan perlakuan ini,” tangis Angel pecah. Ia bersimpuh di lantai dengan tubuh gemetar, menangis tersedu-sedu. Kondisinya benar-benar mengenaskan; wajah cantiknya kini penuh dengan memar dan bekas cakaran kuku Prisha, lalu beberapa helai rambutnya tampak rontok banyak sekali di atas lantai akibat tarikan kasar Prisha tadi.

“Cepat pergilah ke ruanganmu, dan kunci pintunya dari dalam!” perintah Saka lagi, suaranya naik satu oktav karena kewalahan menahan tubuh Prisha yang terus bergerak liar.

“Lepaskan aku, Kak Saka! Biarkan aku menghabisinya!” teriak Prisha lagi, wajahnya memerah karena emosi.

“Tuan, aku—” Angel masih mencoba mengadu dengan suara serak.

“Cepat!” bentak Saka dengan suara menggelegar, tidak ingin mendengar keluhan apa pun lagi saat ini.

Ketakutan mendengar bentakan Saka, Angel buru-buru memungut sepasang heels-nya yang terlepas, lalu dengan bertelanjang kaki ia berlari terbirit-birit keluar dari dalam ruangan, meninggalkan ruangan terkutuk itu secepat mungkin.

Sementara itu, di ruang tunggu lantai eksekutif, Bora dan Adrian yang tengah menikmati secangkir kopi panas mendadak menghentikan aktivitas mereka. Dari balik dinding kaca, sepasang mata mereka menyaksikan seorang wanita dengan pakaian robek di beberapa bagian, rambut acak-acakan seperti sarang burung, dan wajah penuh memar berlari kencang keluar dari ruangan Saka sambil menangis histeris.

Bora menurunkan cangkir kopinya, menatap datar ke arah koridor. “Siapa wanita itu?” tanya Bora dengan nada suara yang kelewat tenang.

Adrian yang mengenali sosok tersebut hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah. “Dia ... bendahara baru kita. Padahal tadi saat masuk, dia masih tampak sangat rapi, wangi, dan penuh percaya diri,” jawab Adrian dengan raut wajah prihatin.

Bora mengangguk-angguk paham, seolah hal itu bukan lagi kejutan besar bagi dirinya. “Ah, itu pasti ulah Nona Prisha.”

Adrian mengusap wajahnya yang mendadak terasa lelah, membayangkan bagaimana nasib bosnya di dalam sana. “Kuyakin Tuan Saka sedang mengalami kesulitan besar di dalam sana. Sudahlah, aku akan berpura-pura tidak tahu dan tetap di sini.” Adrian mendengus pelan, sejujurnya ia juga terlalu takut untuk kembali ke sana dan menghadapi amukan Prisha.

Sementara itu di dalam ruangan, suasana perlahan-lahan mulai mereda dari kontak fisik, meskipun ketegangan masih terasa pekat di udara. Baru kali ini dalam sejarah hidupnya, Saka berjalan menuju pintu utama dan memutar anak kuncinya dari dalam. Ia sengaja mengunci ruangan tersebut, semata-mata untuk mengurung Prisha bersamanya agar gadis itu tidak bisa mengejar Angel keluar kantor.

Mendengar suara klik pada pintu, Prisha yang baru saja dilepaskan dari dekapan Saka langsung berbalik. Ia menumpu kedua tangannya di pinggang, menatap Saka dengan pandangan menuntut. “Mana kuncinya? Sini, berikan padaku!”

Saka tidak membalas. Pria itu hanya berjalan lunglai kembali ke arah mejanya, lalu berdiri bersandar di sana sambil mengurut pangkal hidungnya dengan ekspresi frustrasi yang amat dalam.

Pikirannya berputar cepat. Jika ia membiarkan gadis keras kepala ini keluar dari ruangan sekarang, Prisha pasti akan membalikkan seluruh kantor demi mencari keberadaan Angel.

Saka harus memikirkan cara instan demi kedamaian dan ketenteraman kantornya ke depan. Jelas sekali, Prisha akan terus datang ke gedung ini dan mengamuk selama Angel masih berstatus sebagai karyawan di sini.

Saka menarik napas panjang, mencoba menenangkan nada suaranya sebelum menatap lurus ke dalam sepasang mata Prisha. “Kalau kau takut Angel akan menggodaku, maka sebaiknya jangan berpikir seperti itu lagi.”

Prisha mengangkat sebelah alisnya, mendengus tidak percaya. “Apa?! Kau pikir aku buta? Jelas-jelas dia tadi mencoba menempel padamu!”

“Angel itu adikku,” ucap Saka dengan wajah sedatar mungkin, melontarkan sebuah kebohongan besar yang mendadak melintas di kepalanya.

Demi menghentikan kegilaan ini, ia terpaksa mengarang cerita. “Dia adalah anak hasil perselingkuhan almarhum papaku dulu di luar. Maka dari itu, secara hukum dan biologi, dia tidak mungkin bisa menikah atau menjalin hubungan denganku.” Entah dari mana ide konyol dan mengada-ada itu muncul di otak jenius Saka, namun saat ini hanya itu tameng terbaik yang ia miliki.

Prisha seketika terdiam, matanya mengerjap beberapa kali karena terkejut mendengar rahasia keluarga yang begitu besar. “Benarkah?”

“Em. Tapi, Angel sendiri tidak tahu tentang fakta itu,” lanjut Saka, mencoba memperkuat kebohongannya agar terlihat semakin meyakinkan.

Mendengar hal itu, Prisha justru kembali menyalak jengkel. “Kalau dia tidak tahu, dia pasti akan terus berpikir untuk menggodamu! Itu sama saja bohong!”

Saka menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba bersikap acuh tak acuh. “Biarkan saja dia mencoba. Lagipula, aku tidak punya nafsu atau ketertarikan apa pun pada adik kandungku sendiri. Jadi kau tidak perlu khawatir.”

Prisha tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjentikkan jarinya. “Kalau begitu mudah saja. Aku akan menemui wanita itu sekarang dan memberitahu fakta ini kepadanya, agar dia tahu diri!” Prisha sudah bersiap melangkah menuju pintu.

“Jangan!” potong Saka dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.

Prisha menghentikan langkahnya, menoleh curiga. “Kenapa? Bukankah itu bagus?”

Saka memutar otaknya lagi, mencari celah kelemahan Prisha. Pria itu tahu betul apa yang paling bisa menggerakkan seorang Prisha Kaelen saat ini.

“Kalau dia sampai tahu bahwa dia memiliki darah keluarga Tanubrata ... bagaimana jika dia menuntut sebagian harta warisan Tanubrata ke pengadilan? Kau mau hartaku berkurang untuknya?” Saka sengaja memancing Prisha dengan topik harta, karena ia tahu betul gadis itu saat ini mengejarnya dan bertahan di sisinya salah satunya demi mengamankan kekayaan.

Umpan itu langsung termakan dengan sempurna. Wajah Prisha seketika berubah tegang. “Benar juga! Wanita serakah seperti dia tidak boleh tahu fakta ini. Tenang saja, Kak Saka, aku akan merahasiakan hal ini rapat-rapat demi keamanan aset kita.”

Saka mengembuskan napas lega di dalam hati, bersyukur kebohongan konyolnya bekerja dengan baik. “Oh, satu lagi. Jangan pernah beritahu mamaku tentang hal ini juga.”

Prisha mengerutkan keningnya heran. “Hah?”

“Kenapa lagi?” tanya Prisha tidak mengerti.

“Mama memiliki hati yang terlalu lembut. Jika dia tahu almarhum papa punya anak lain di luar sana, dia pasti akan merasa bersalah dan membawa Angel untuk tinggal bersama kita di mansion. Kau mau berbagi rumah dengannya?” tanya Saka, memberikan skenario menakutkan untuk Prisha.

“Tidak! Enak saja! Itu rumahku, tidak ada yang boleh tinggal di sana selain kita!” seru Prisha dengan nada egoisnya yang khas.

Saka sebenarnya agak geram dan jengkel di dalam hati mendengar bagaimana dengan begitu percaya diri Prisha langsung mengakui rumah pribadinya sebagai rumah gadis itu sendiri. Namun, Saka memilih untuk mengabaikannya dan membiarkan hal itu berlalu untuk sementara waktu, daripada memicu keributan baru yang bisa merusak seisi ruang kerjanya lagi.

Saka membetulkan posisi kemejanya yang sedikit berantakan, lalu menunjuk ke arah pintu dengan sopan namun dingin. “Nah, sekarang setelah semuanya jelas, kau pulanglah lebih dulu. Aku masih sangat sibuk dengan tumpukan berkas di sini.”

Di luar dugaan, Prisha justru menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia berjalan menjauh dari pintu, lalu menunjuk ke arah sofa kulit besar yang terletak di sudut ruangan kerja Saka. “Aku tidak mau pulang duluan. Aku berjanji tidak akan mengganggu pekerjaanmu lagi, aku hanya akan berada di sofa sebelah sana,” ucapnya dengan nada yang mendadak melunak.

Prisha berjalan ke arah sofa tersebut, meletakkan tas mewahnya di lantai, lalu membaringkan tubuhnya yang terasa lelah setelah seharian penuh menghadapi teror di kampus dan baku hantam dengan Angel di kantor ini.

Ia memosisikan kepalanya di bantal sofa, lalu menggumam pelan dengan mata yang mulai terasa berat. “Tidur di sini sepertinya juga nyaman ... Aku ... sangat mengantuk ...”

Hanya dalam hitungan detik setelah kalimat terakhirnya terucap, napas Prisha perlahan menjadi teratur. Gadis itu benar-benar tertidur pulas dalam sekejap mata akibat kelelahan fisik yang luar biasa hari ini.

Ruangan yang tadinya penuh dengan teriakan dan hantaman mendadak berubah menjadi sunyi senyap seketika. Hanya terdengar suara dengusan napas halus dari arah sofa. Melihat hal tersebut, Saka menghentikan gerakannya sejenak. Ia memandangi wajah tidur Prisha yang tampak begitu tenang dan damai dari kejauhan—sangat kontras dengan kelakuannya saat terjaga.

Saka menghela napas panjang, lalu perlahan berjalan kembali ke kursi kerjanya. Ia berpikir, mungkin tidak apa-apa membiarkan Prisha tetap berada di sini untuk sementara waktu, selagi gadis pembawa badai itu cuma terdidur tenang di sana dan tidak membuat kekacauan baru. Pria itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya di bawah keheningan sore yang tenang.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!