Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.
Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.
Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.
Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Moan my name."
"Kak... ahhh—"
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 PERHATIAN KECIL YANG MEMBUAT GEER
Lian melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sudah hampir dua jam Esther keluar untuk jalan-jalan namun wanita itu belum juga kembali, padahal ia sudah menghabiskan cukup lama waktu di kamar mandi dan membersihkan rumah. Seharusnya Esther sudah pulang.
"Kenapa dia belum kembali?" gumam Lian. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Esther namun saat ia mendekatkan ponselnya ke telinga, suara dering ponsel lain justru muncul di sekitarnya.
Lian menatap sekelilingnya, mencari sumber suara itu hingga akhirnya ia menemukan ponsel Esther tergeletak di kursi goyang di dekat jendela. Wanita itu keluar tanpa membawa ponselnya.
Pikiran buruk seketika memenuhi kepalanya saat Lian mengingat bagaimana kondisi Esther sekarang yang lemah. Tanpa membuang waktu lagi Lian mengambil ponsel Esther lalu meraih mantel tebal dari dalam lemari kemudian melangkah sambil memakainya.
...*****...
Esther melepaskan sepatunya dengan susah payah karena kakinya terasa sangat pegal sekaligus tangannya kebas karena kedinginan. Setelah bertegur sapa dengan Joshua yang ternyata tinggal di lantai yang sama dengannya, Esther memutuskan langsung pulang.
Kini ia menyimpan sepatu itu di tempatnya lalu berjalan pelan karena otot kakinya rasanya begitu kencang seolah-olah hendak putus. Aroma ruangan yang segar karena baru saja di bersihkan Lian langsung menyambutnya bersama lampu yang masih menyala terang, tanda bahwa pria itu belum tidur karena ia tidak ada di ruang tamu.
Beberapa Langkah setelah Esther melirik ke arah sofa kakinya tiba-tiba terhenti saat ia melihat Lian menutup pintu kamar dengan terburu hingga suara gemanya tertinggal beberapa detik.
"Kak Lian mau keluar?" tanya Esther setelah pria itu berhenti di hadapannya. Mantel tebal sudah membalut tubuhnya. "Kemana?"
Lian tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatapnya dengan tatapan yang sulit Esther artikan sebelum akhirnya Lian melangkah mendekat membuat jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa senti.
"Kau ke luar hanya menggenakan mantel tipis begini?" tanya Lian sambil menjiwir kain mantel Esther hingga tangannya ikut terangkat sebelum kembali jatuh ke sisi tubuh Esther. Nada suaranya terdengar menghina namun di telinga Esther terasa berbeda. "Pantas saja kau kedinginan sampai bibirmu membiru begitu."
Esther refleks menyentuh bibirnya kemudian tersenyum. "Aku tidak tahu di luar akan sedingin itu, kak," katanya di ikuti tubuhnya yang kembali menggigil saat membayangkan dinginnya udara di luar tadi
Lian menggeleng pelan sebelum akhirnya ia melewati Esther begitu saja dengan langkah yang lebih lambat dari sebelumnya.
Esther menatap punggung suaminya yang menjauh ke arah dapur kemudian mengangkat bahunya tidak mengerti. Pria itu tadi berjalan begitu terburu dan sekarang begitu santai menuju dapur setelah melihatnya. Seolah-seolah pria itu hendak keluar untuk mencarinya.
Tanpa sadar sudut bibir Esther terangkat membentuk senyuman. Namun sedetik kemudian ia menggeleng cepat setelah menyadari pikirannya yang mengira bahwa Lian akan keluar untuk mencarinya karena khawatir. Esther kembali melanjutkan langkahnya ke dalam kamar karena malu dengan pikirannya sendiri.
Di kamar, Esther langsung mendaratkan tubuhnya di tepi kasur setelah ia membersihkan dirinya singkat karena tidak sabar ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur dan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah beraktivitas cukup banyak hari ini. Dari pesta makanan bersama Giselle, memasak, membersihkan masakannya yang gagal, lalu masak lagi hingga terakhir jalan-jalan sebentar.
Pintu tiba-tiba terbuka. Lian muncul dengan segelas air di tangannya. Tubuh pria itu tidak lagi terbalut mantel, hanya kaos polos dan celana bahan. "Minum ini, setelah itu tidur." katanya dengan raut wajah datar.
Esther menatap wajah Lian sebelum meraih gelas berisi air hangat itu lalu meneguknya perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari Lian yang masih berdiri di hadapannya menatap ke arah lain.
"Ah.... " Esther menyimpan gelas itu di atas nakas. Suhu tubuhnya tidak lagi terasa dingin. Terutama pipinya yang mendadak hangat setelah ia menangkap perhatian kecil yang di berikan oleh Lian padanya. Tanpa sadar, bibirnya yang masih membeku itu kembali menyunggingkan senyuman.
"Kenapa kau tersenyum begitu?"
Esther menggeleng cepat. "Terima kasih airnya kak, selamat malam dan selamat istirahat." Esther mengangkat kakinya masuk ke dalam selimut buru-buru dan langsung menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke kasur.
...*****...
Di tempat tidur yang sepi itu Esther menatap langit-langit kamar lalu memutar tubuhnya miring ke kiri dan kanan mencari posisi nyaman. Entah kenapa malam itu ia kesulitan tidur. Bukan karena kekenyangan melainkan karena seluruh tubuhnya terasa pegal dan sakit. Terutama kaki dan pinggangnya.
Esther menyibakkan selimut hingga sebagian jatuh ke lantai. Dengan malas ia melangkah keluar, mencari Lian yang tidur di ruang tamu supaya pria itu bisa memberinya solusi atau saran apapun yang bisa membuat Esther tidur dengan nyenyak.
Begitu ia membuka pintu, cahaya dari kamarnya langsung menembus kegelapan ruang tamu. Hanya lampu di sudut ruangan yang menyala kecil. Karena Lian lebih suka tidur dengan lampu temaram dan gelap. Berbanding terbalik dengan dirinya yang harus tidur dengan lampu menyala.
Di atas sofa kecil itu Lian meringkuk tidak nyaman dengan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya tenang dengan dada yang naik turun beraturan, terlihat sekali bahwa pria itu kelelahan setelah seharian bekerja dan membersihkan rumah.
"Bangunkan tidak, ya?" gumam Esther tidak tega. Tapi ia juga ingin tidur karena sejak tadi ia kesulitan memejamkan matanya meskipun ia sudah memijit kaki, bahu dan bagian tubuhnya yang pegal. Dan hasilnya... Ia tetap terjaga sampai sekarang.
"Kak Lian... " panggilnya pelan, hampir seperti bisikan. Berkali-kali ia memanggilnya begitu hingga yang terakhir membuat Lian menggeliat.
Buru-buru Esther menarik dirinya untuk pergi dari sana, takut Lian akan marah karena ia mengganggu tidurnya. Namun karena minimnya penerangan Esther tidak melihat meja di belakangnya hingga kakinya tanpa sengaja menendang ujung meja cukup keras.
Duk.
"Aw!" Esther langsung membungkam mulutnya sendiri.
Lian seketika mengangkat kepalanya setelah mendengar kegaduhan itu. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka lebar dan melihat siluet seorang wanita di dekat sofa.
"Esther? Apa yang kau lakukan di sini tengah malam?" tanyanya dengan suara serak. Matanya masih memicing mencoba melihat dengan jelas.
Esther tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit di ibu jarinya yang ia tidak ketahui kenapa. Hanya cairan lengket yang bisa ia rasakan di kegelapan ruang tamu itu mengalir melewati sela jarinya.
Karena tidak mendapat balasan, Lian terpaksa bangkit dan menyalakan lampu. Ruang tamu seketika berubah terang membuat semuanya terlihat jelas. Termasuk sosok Esther yang memunggunginya dengan bahu bergetar.
Lian melangkah mendekat dengan hati-hati, takut wanita di hadapannya bukan Esther istrinya—lebih tepatnya ia takut itu bukan manusia. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat saat Lian semakin dekat ke arahnya.
"Esther?" panggilnya lagi.
Kepala itu langsung bergerak pelan, menoleh hingga Lian bisa melihat wajah Esther yang meringis dan matanya berkaca-kaca. "Sakit... " lirihnya
Kedua alis Lian saling bertautan bingung. "Apa yang sakit?"
"Itu... " Esther menunjuk ke bawah, ke arah kakinya. Darah sudah memenuhi ibu jarinya sebelum berkumpul di lantai dan mengotori telapak kakinya.
Kedua mata Lian melebar hingga kantuk yang menyelimuti matanya lenyap. "Apa yang kau lakukan sampai kakimu berdarah begini?" Lian berjongkok hingga lututnya menyentuh lantai yang dingin itu. Tangannya menarik pelan pergelangan kaki Esther untuk melihatnya lebih jelas.
"Aw!" Esther mencengkram bahu Lian kuat saat rasa sakit menerjangnya. "Aku tidak sengaja menendang ujung meja."
Lian mendongak menatap Esther yang masih menangis lalu berdiri. "Kau bisa jalan?"
Esther mengangguk pelan.
Lian meraih tangan Esther lalu memapahnya pelan untuk duduk di sofa. Darah kental itu menetes di lantai, meninggalkan jejak langkah kaki Esther yang tertatih-tatih hingga akhirnya Esther duduk di sofa.