Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Instagram : @jalur_langitbiru13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Viola sudah menceritakan tentang masa lalunya dengan Rasta kepada Naren. Tentang Rasta yang menceraikannya dengan tuduhan perselingkuhan, lalu mengusirnya dan tidak mau mengakui anak mereka, Naren tahu semuanya.
Yang tidak Naren ketahui adalah, bagaimana bisa tiba-tiba pria itu muncul lagi di kehidupannya Viola, bahkan dia sudah meyakini Vita sebagai anak kandungnya.
Viola belum menceritakan seperti apa prosesnya.
"Jadi bisa kamu ceritain gimana tiba-tiba kamu ketemu sama papanya Vita?" tanya Naren, tetap mengusahakan agar suaranya terdengar lembut.
Viola duduk di hadapannya. Meraih tangan Naren, kemudian menggenggamnya. "Aku mau cerita, tapi please, kamu jangan salah paham, ya?" tatapan Viola memelas.
Dia mulai menjelaskan, "Satu bulan yang lalu aku ngelamar kerja di restoran. Aku gak tau kalau ternyata restoran itu milik Rasta."
Naren menyela penjelasannya, "Oh, jadi selama satu bulan ini kamu kerja di tempatnya dia? Ketemu terus sama dia tiap hari dong? Dan kamu sama sekali gak cerita sama aku?"
Naren merasa Viola tidak cukup mempercayainya. Hal sepenting itu sengaja di sembunyikan darinya, entah apa yang difikirkan Viola.
"Aku takut kalau aku cerita kita akan salah paham," tukas Viola cepat. Dia pernah dikecewakan karena penjelasannya tidak didengar, dan kali ini Viola merasakan ketakutan yang sama. Takut Naren akan menuduhnya sudah bermacam-macam.
"Jadi menurut kamu dengan kamu gak cerita kayak gini, itu enggak bikin aku salah paham?" tandas Naren.
Viola menggeleng, "Bukan begitu, Ren. Aku gak ada maksud buat menyembunyikan semua ini dari kamu, aku cuma bingung aja gimana ceritanya. Aku sama Rasta enggak ... Kita cuma sebatas bos dan karyawan aja, nggak lebih Ren."
Naren diam, mendengarkan baik-baik penjelasan Viola yang disampaikan dengan sisipan rasa panik. Dia takut Naren salah paham, dan menuduhnya bermacam-macam dengan Rasta, mungkin.
"Rasta pernah nggak sengaja ketemu sama Vita, eumh sebenarnya aku emang ada rencana mau mempertemukan mereka. Bukan karena apa, aku cuma mau Rasta enggak salah paham lagi. Aku cuma mau nunjukin ke dia kalau aku dulu nggak selingkuh, apalagi sampai hamil anak dari laki-laki lain yang bukan suami aku. Aku mau Rasta tahu kalau Vita memang anak kandungnya. Cuma itu," tutur Viola.
Diamnya Naren adalah sebuah ketakutan bagi Viola. Dia tidak bisa menebak apa yang sedang Naren pikirkan, sebab tatapannya hanya datar. Tanpa ekspresi.
"Aku udah nggak ada perasaan apa pun ke Rasta, atau berniat balikan sama dia. Aku nggak pernah ngapa-ngapain sama Rasta, aku sama dia selama ini berperan hanya sebatas orang tuanya Vita. Itu aja," lanjut Viola.
Rasa takut semakin menguasai dirinya. Takut tidak akan dipercaya lagi dan takut akan dibuang lagi.
Beberapa saat berlalu, Naren belum membuka suara. Masih diam, menatap datar, sengaja membuat Viola semakin merasa was-was.
Hingga akhirnya Naren tidak tahan lagi. Dia tertawa, menertawakan ekspresi wajah Viola yang ketakutan, panik, cemas. Viola baru paham setelah Naren tertawa, Naren sengaja mengerjainya.
"Vi, Sayang ... Kamu nggak perlu menjelaskan panjang lebar kayak gini. Aku percaya kamu lebih dari apa pun," tutur Naren.
Dua pukulan melayang di pundak dan dada Naren. "Kamu ngerjain aku, ya! Padahal aku serius lho, aku takut kamu nggak percaya sama aku, takut kamu mikir yang aneh-aneh."
Viola memanyunkan bibirnya, Naren semakin terbahak. "Hahahaha. Viola, kamu harus tau, kamu adalah orang yang paling aku percaya di dunia ini. Jangan kamu bersusah payah meyakinkan aku, aku sepenuhnya percaya, Vi."
Viola tidak bisa menahan senyumnya setelah mendengar jawaban tegas Naren. Namun dia merasa lega setelah apa yang dia takutkan tidak terjadi.
Jelas dong, Naren berbeda dengan Rasta. pemikirannya lebih matang dan lebih dewasa.
*
Kini, Rasta tahu alasan paling utama yang membuat Viola menjauhinya, dan bahkan menolaknya. Karena Naren. Karena Viola sudah memiliki calon suami. Rasanya sulit dipercaya.
Mengetahui telah ada laki-laki lain yang mengisi hati Viola, dan menyadari Vita akan mempunyai ayah selain dirinya, hati Rasta hampa. Dia tidak rela.
Kedua perempuan itu seharusnya kembali ke pelukannya Rasta. Dan yang lebih menyakitkan lagi, tatapan Viola yang penuh cinta yang dulu miliknya, kini ditujukan untuk lelaki lain.
Liana melihat anaknya yang hanya duduk diam di sofa. Kesedihan di wajah itu membuatnya bertanya-tanya.
"Mama puas kah sekarang?" bisik Rasta. "Aku udah nggak bisa memiliki Viola lagi. Dia udah ada hati yang lain."
Liana menghela napas, kemudian duduk di samping Rasta dengan memberikan jarak. Dari dulu hingga sekarang, hanya satu nama yang mampu membuat dunia Rasta berubah-ubah.
Kadang kecewa, kadang marah, kadang sedih, kadang sakit, namun hingga kini pun hanya wanita itu yang membuat Rasta bahagia tak terkira.
Rasta sangat berbeda sekali dengan papanya, yang tidak pernah cukup hanya dengan satu wanita.
"Kamu mau tau kenapa mama nggak rela kamu mencintai Viola?" Liana bertanya.
Keduanya sama-sama menatap lurus ke depan.
Liana mulai bercerita. Sebuah kisah yang tidak pernah dia bagi dengan siapa pun, termasuk dengan Rasta.
"Dulu, mama sama papa itu dijodohkan. Kami menikah karena terpaksa, bukan karena cinta. Kamu sangat berbeda dari papa kamu, Ta. Kalau kamu bisa cukup dengan satu wanita saja hingga bertahun-tahun, bahkan kamu nggak bisa menggantikan wanita itu dengan wanita lain, berbeda dengan papa. Papa nggak pernah merasa cukup dengan mama."
Perlahan, kepala Rasta menoleh. Menatap mamanya yang sedang menahan cairan bening di kedua matanya.
"Dari awal mama sama papa menikah, papa udah selingkuh. Berkali-kali. Dan salah satu wanita yang menjadi selingkuhannya papa di saat dia sudah menikah sama mama, itu mamanya Viola."
Liana menyeka air matanya yang mengalir di pipi. "Mama baru hamil kamu waktu tahu hubungan mereka, Ta," lanjutnya. Suaranya parau.
Hanya mendengar ceritanya saja, Rasta seolah ikut merasakan sakit yang dirasa mamanya. Diselingkuhi di saat hamil.
"Meskipun pada akhirnya papa kembali ke mama, dan perempuan itu menikah dengan orang lain, tetap saja mama masih merasakan sakitnya, Ta. Waktu mama tau Viola anak dari perempuan yang pernah menjadi sumber kesedihan mama ... Mama nggak rela kamu mencintai dia. Banyak perempuan lain di dunia ini, tapi kenapa harus Viola?"
Liana terisak-isak. Rasta, yang baru saja mengetahui semua kenyataan itu, hanya mampu terdiam. Sebelumnya, dia tak pernah tahu mengapa mama dan papanya memilih untuk bercerai. Kini, Rasta sudah paham. Karena Mamanya sudah sampai pada batas kesabarannya menghadapi kelakuan papa.
Mungkin sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kata maaf yang sudah mamanya berikan.
Selama bertahun-tahun, mamanya begitu pandai menyembunyikan rasa sakitnya dibalik senyum dan kebahagiaan palsu di depan Rasta. Rasta kira mama dan papanya baik-baik saja, setidaknya sebelum mereka bercerai.
Mereka berpisah saat Rasta baru lulus kuliah, sebelum dia menikahi Viola. Sejak itu pun, Rasta tidak pernah tahu kabar tentang papanya. Bahkan di hari pernikahannya dulu, papa tidak mau datang.
"Viola emang nggak salah, Ta. Ini salah papa dan mamanya di masa lalu, tapi mama gak bisa lupa rasa sakitnya. Mungkin kalau Viola bukan anak dari wanita yang pernah menjadi selingkuhannya papa, mama akan senang hati merestui kalian."
Bukan salah Viola, bukan juga salah Rasta, tapi kenapa mereka berdua yang harus ikut merasakan dampaknya? Rasta yakin, Viola pun tidak tahu fakta ini.
"Maafin mama ya, Ta. Mama juga salah, karena mama nggak bisa berdamai dengan masa lalu." wanita itu semakin terisak. Menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa melupakan dan berdamai, hingga kini Rasta ikut merasakan akibatnya.
Liana pernah berharap, Rasta akan benar-benar melupakan Viola setelah mereka berpisah. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Bukannya membuat hidup anaknya damai, Liana malah semakin menghancurkannya.
"Banyak perempuan lain di dunia ini, tapi kenapa harus Viola, Ma?" Rasta mengulang kembali pertanyaan mamanya. "Aku sendiri juga bertanya-tanya. Aku nggak tau."
...****************...
Barang siapa yang memberi like dan komen, maka author akan senang dan tambah semangat updatenya. Hehehehehehe...
Konon katanya yang tidak pelit like dan komen, maka pahalanya akan bertambah dan insha Allah masuk surga. Hehehhehe....
Follow Ig aku @jalur_langitbiru13 untuk info karyaku yang lainnya.