NovelToon NovelToon
Papa Untuk Si Kembar

Papa Untuk Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Wanita Karir / Menikah Karena Anak
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?"

Luna hidup sebagai single mom dengan dua anak kembar yaitu El dan Lily. Gala, kekasihnya meninggalkannya ketika Luna sedang mengandung anak mereka.

Setelah 7 tahun berselang, Gala kembali ke hidupnya. Tapi hidup Luna sudah berubah. Ada Alif di sisinya.

Luna belum siap untuk membuka hati. Tapi Lily selalu menanyakan hal yang sama kenapa dia tidak punya Papa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Bunga Atau Pita

Pagi datang seperti biasa. Luna membuka mata perlahan. Dia berbaring beberapa detik, menatap langit-langit tanpa memikirkan apapun. Hanya menyiapkan diri untuk menjalankan hari seperti biasa.

Langit di balik tirai jendela masih pucat. 

Luna bangun. Kakinya menyentuh lantai dingin. Dia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu kecil di sudut kamar.

Luna berjalan menuju kamar mandi. Air mengalir pelan. Dia membersihkan badan dengan air hangat. Di depan cermin, dia menatap wajahnya sedikit lebih lama dari biasanya.

“Pagi," ucapnya pelan pada diri sendiri.

Setelah itu, dia keluar, bersiap seperti biasa untuk pergi ke kantor.

Luna duduk di depan meja. Ponsel di tangannya menyala, menampilkan jadwal hari ini. Padat dan terstruktur. Tidak ada yang mengejutkan.

Dia menutup layar tanpa ekspresi berlebihan. Tidak ada keluhan. 

Hari ini berjalan seperti rencana. Luna segera bersiap untuk pergi ke kantor. Tidak lama kemudian, dia segera turun. Di meja makan, Dewi sedang menyiapkan sarapan seperti biasa. 

Sebenarnya, Luna sudah melarang ibunya untuk melakukan pekerjaan rumah. Alana pernah memiliki asisten rumah tangga yang menginap di rumahnya, tapi dia merasa tidak enak tidak bisa melakukan apapun di rumah karena semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan Dewi.

Dewi selalu beralasan tubuhnya akan sakit jika tidak melakukan apapun. Jadi, sekarang asisten rumah tangganya hanya datang setiap pagi, lalu pulang ketika siang hari. 

Alana berpikir setidaknya Dewi akan memiliki teman di rumah ketika dia dan anak-anak pergi. 

Hal yang sama juga terjadi pada pengasuh El dan Lily sebelumnya. Dewi lebih sering mengurus dan menemani mereka sepanjang hari. Saat Luna mengatakan biarkan itu menjadi tugas pengasuh mereka, Dewi hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia senang merawat kedua cucunya.

Jadi, sekarang El dan Lily tidak memiliki pengasuh lagi. Mereka sudah bisa menjaga diri sendiri dan Dewi selalu mengawasinya.

“Pagi, Ibu," sapa Luna yang sudah sampai di meja makan.

Dewi menoleh sekilas pada Luna, lalu kembali menatap piring. “Selamat pagi, Nak." 

Luna meletakkan tas kerjanya di kursi, lalu melirik ke arah tangga. "El dan Lily belum turun, Bu?”

"BUNDAA!!”

Luna refleks menoleh ke arah tangga. Lily sudah berdiri di ujung tangga dengan senyuman lebar. Kedua tangannya terangkat tinggi-tinggi, menggenggam sesuatu. Di belakangnya, El turun dengan langkah santai, satu tangan di saku celana, wajahnya datar seperti biasa.

“Itu mereka," ucap Dewi sambil tersenyum tipis.

Lily berlari menuruni tangga.

“Hati-hati Lily," ucap Luna.

Lily berhenti tepat di depan Luna, sedikit terengah tapi senyumnya lebar. Ada binar kecil yang menyala di matanya. "Bunda, menurut Bunda Lily pakai jepit rambut mana?" 

Kedua tangan Lily yang mengepal dibuka, menunjukkan sepasang jepit rambut di masing-masing telapak tangan.

Luna berjongkok di depan Lily. Tatapannya bergantian pada dua jepit rambut itu. Yang satu berbentuk bunga kecil warna kuning. Yang satu lagi pita merah muda dengan sedikit kilau.

Luna pura-pura berpikir. “Yang mana ya…”

“El udah jawab. Yang kuning,” ucap El yang muncul dari belakang.

Lily langsung menoleh. Bibirnya sedikit manyun. “Tapi Lily nggak mau yang itu.”

El mengangkat bahu. “Terus ngapain Lily nanya El kalau gitu?” Nada suaranya datar, tapi jelas ada protes kecil di sana.

Lily mendengus. Pundaknya naik sedikit, lalu dia menoleh ke Luna lagi, matanya membulat. “Lily cuma mau tau aja. Siapa tau El salah.”

El langsung menoleh cepat. “El nggak pernah salah.”

“Iya, pernah,” balas Lily cepat.

“Pernah kapan?”

“Kemarin. El bilang hujan sebentar doang, tapi basah.”

El terdiam sepersekian detik. “Itu kan cuaca.”

Dewi yang mendengar itu tersenyum kecil, tidak ikut campur, hanya menggeleng pelan karena sudah hafal pola ini.

Lily mengacungkan dua jepit rambut itu lagi ke arah Luna, sedikit lebih dekat. “Makanya Lily tanya Bunda.”

El menghela napas kecil. “Kalau gitu dari awal tanya Bunda aja. Ngapain repot-repot tanya El kalau jawaban El aja nggak didengerin.”

Luna tersenyum kecil.

El geleng-geleng kepala, lalu duduk di meja makan. Dia mulai menyuap nasi goreng yang sudah disiapkan Dewi.

Luna mengusap rambut Lily lembut. “Kalau Lily mau pakai yang bunga atau pita?”

“Pita,” jawab Lily cepat.

Sendok El terhenti lagi. Dia mendengus pelan. “Ngapain tanya kalau udah punya pilihan sendiri." 

“Biarin," sahut Lily sambil menjulurkan lidah.

El memilih tidak menanggapinya lagi. Dia kembali menyuap nasi goreng ke dalam mulut.

Luna terkekeh pelan, lalu menatap Lily lagi.

“Sini, Bunda pakaiin," ucap Luna sambil mengambil jepit rambut pita di tangan Lily.

Lily mengangguk semangat.

Luna menjepitkan jepit pita itu ke rambut Lily dengan hati-hati, lalu tersenyum lembut. “Nah, udah cantik." 

Lily tersenyum semakin lebar. “Terima kasih, Bunda." 

...***...

Hari masih sangat pagi ketika Luna sampai di kantor. Langkahnya cepat dan terukur. Dia menyapa satpam dengan anggukan singkat. Dibalas dengan senyum kecil yang sudah hafal wajahnya.

“Pagi, Bu Luna.”

“Pagi.”

Di lift, dua orang dari divisi lain ikut masuk. Mereka bicara pelan, lalu berhenti saat Luna berdiri di samping mereka. Bukan karena takut melainkan refleks.

Salah satu dari mereka berkata, “Bu Luna, kemarin laporan cash flow regional udah kami kirim. Ada satu angka yang kami revisi.”

Luna menoleh. Tatapannya fokus tapi tidak menghakimi. “Yang mana?”

“Proyeksi kuartal tiga.”

“Oke. Saya cek siang ini. Kalau ada perubahan asumsi, tuliskan alasannya.”

“Siap.”

Lift berhenti. Mereka keluar di lantai berbeda. Dua orang itu keluar lebih dulu.

Luna tetap berdiri sampai pintu tertutup kembali, lalu melanjutkan naik ke lantainya sendiri. 

Pintu terbuka.

Luna melangkah keluar. Beberapa orang menyapa. Dia membalas dengan anggukan, senyum tipis. Tidak dingin, tapi tidak juga berusaha hangat. Secukupnya saja.

Sesampainya di meja kerjanya, Luna menyalakan laptop. Sticky note kecil menempel di sudut layar, berisi pengingat sejak kemarin.

Luna membuka file pertama. Jarinya bergerak cepat di keyboard. Angka-angka bergeser. Catatan muncul di samping layar. Sesekali dia berhenti, membaca ulang satu baris, lalu mengetik ulang dengan lebih rapi.

Beberapa menit kemudian, notifikasi meeting muncul.

Satu jam lagi, meeting dimulai.

...***...

Luna duduk di sisi kiri meja panjang di ruang meeting. Laptop terbuka menampilkan angka-angka yang sudah tidak asing baginya. Di sebelahnya, sebuah notebook tipis dengan catatan rapi, ditulis tangan dengan rapi.

CFO membuka rapat tanpa basa-basi. “Hasil due diligence dari pihak PT Mahendra Global sudah keluar.”

Beberapa orang secara refleks menegakkan punggung. Ada yang berhenti mengetik. Ada yang menutup botol minum yang masih terbuka. Kepala-kepala menoleh ke arah CFO.

Luna tidak ikut menoleh. Pandangannya tetap di layar laptop. Kursor masih berada di baris yang sama. Tapi jemarinya berhenti bergerak.

“Pihak investor sudah setuju. Kita lanjut ke final agreement.”

Hembusan napas lega terdengar dari beberapa orang di hadapan Luna.

“Luna sebagai PIC akan menghandle seluruh koordinasi finance dengan pihak investor.”

Luna mengangguk satu kali. Gerakannya kecil, formal.

“Timeline kick-off kita percepat. Legal akan koordinasi dengan tim investor minggu depan.”

Luna mengangguk lagi, kali ini sedikit lebih dalam. “Baik.”

CFO melanjutkan penjelasan tentang final agreement. Kata-kata itu mengalir di ruangan, tapi sebagian kalimatnya hanya melintas singkat di kepalanya. 

Dadanya menghangat pelan.

Luna jelas merasa lega. Proyek ini akhirnya lolos. Semua skenario, simulasi angka, revisi berkali-kali yang dia siapkan sejak awal tidak sia-sia.

Namun di balik rasa itu, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Mahendra Global. Perusahaan milik keluarga Gala.

Luna menelan ludah pelan. Tidak ada yang berubah di ekspresinya.

CFO menoleh ke arahnya. “Luna, kita butuh mapping risiko dari sisi cash flow kalau ada perubahan struktur pembayaran. Bisa minggu ini?”

“Bisa. Saya siapkan dua skenario. Konservatif dan agresif,” jawab Luna tanpa ragu.

“Oke.”

Beberapa kepala menoleh ke arahnya. Ada yang mengangguk kecil, ada juga yang menatapnya percaya.

Luna membalas dengan senyum tipis yang sangat terlatih.

Tapi tetap saja, rasanya tidak sepenuhnya ringan.

Yang mengganggu adalah kenyataan bahwa hidupnya yang sudah tertata rapi, stabil, dan berjalan ke depan kini bersinggungan lagi dengan sesuatu dari masa lalu. Bukan sebagai kenangan, tapi sebagai bagian dari tanggung jawab profesional.

...----------------...

1
Rena Patris
Saya tim Gala-Luna.Krn kalo pun Luna sama Alif percuma...blm apa2 keluarga Alif pasti ga terima kalo Alif menikah sama perempuan yg punya anak 2.El dan Lily pasti tidak nyaman
La Rue
El anak yg dewasa sebelum waktunya bisa memahami suasana hati Mamanya . Entahlah siapa akhirnya yg menjadi Papa mereka, semoga semua berakhir baik 😊
Rena Patris
Bagus banget ceritanya..tpi ga sabar nunggu tiap kamis dan minggu👍
Rena Patris
Senang baca ceritanya.Tpi jgn 2x seminggu munculnya.Tiap hri donk
La Rue
Semangat
awesome moment
koqntetoba jd pengin mun2 y baca gaya Zara. mmg hrs bgitu? ngerangsek bgts. hrus? g bisa gitu elegant. memahami.
awesome moment: ato mo disatuin lg sm Gala. yg sdh main tinggalin mrk gitu j? buang alif saat udh g butuh.
total 1 replies
awesome moment
smg judulnya g bikin alif yg sdh berkorban buanyak...jd terpinggirkan.
R⁷
semoga lily lekas pulih sehat kembali
R⁷
masih ga mau ngakuin mereka gal? 🤔
R⁷
sa ae oom Alif ngedongeng nya
R⁷
telaaaattt galaaaa
R⁷
waaahh blm apa2 sudah di hina
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!