"Maafkan aku, aku memiliki anak dari wanita lain."
Bagai petir menyambar di siang bolong, Seakan ada pisau tak kasat mata yang menikam hatinya, Semuanya seakan hancur, dunia indahnya terhempas bagai Istana pasir yang hancur terseret ombak, hancur...
Carolline Angelina X Victor Lionard Galelio
***
S2!
Konon ulang tahun ke-17 adalah ulang tahun terindah, namun tampaknya itu tak berlaku pada Clara.
"Gue hamil anak Bagas dan kita bentar lagi nikah. Jadi gue mohon jauhin dia, gue gak mau anak gue lahir tanpa kasih sayang seorang ayah," ucap seorang wanita berambut pendek itu pada Clara.
Clara terdiam, apakah penderitaannya selama ini belum cukup? Apa lagi rencana tuhan kali ini?
Sejak saat itu dan karena itu juga Clara mati. Kini dia hidup dengan Clara yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stoberi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian. 25
Siswa mulai meninggalkan kelas kelasnya, berbondong bondong menuju gerbang sekolah. Abimanyu dan yang lainnya tengah berjalan dengan santai ke arah parkiran sekolah, sambil melempar guyonan guyonan receh mereka.
Namun ada yang berbeda hari ini karena Abimanyu lebih banyak diam di banding biasanya. Bahkan di saat sekarang pun Abimanyu hanya diam tak menanggapi ocehan teman temannya yang lain,
"Eh, gila ya anak bu Carolline cantik banget" Celetuk Lano saat dengan tak sengaja dia melihat Clara yang tengah duduk di kursi tunggu ruang guru. Entah sedang apa.
"Yaiyalah, bibit unggul itu. Emangnya elu" Balas Hafis
"Kampret lo, gini gini gue banyak yang suka" Bela Lano tak terima,
"Halah paling juga mereka pada khilaf" Sambung Bagas membuat perdebatan semakin seru. Iya kan emang menghujat teman itu seru.
"Dih... Iri bilang bos"
"Gue iri sama lo? Sorry sorry aje"
Abimanyu tak menghiraukan ucap teman temannya, matanya tertuju pada Clara yang tengah duduk dengan anteng. Memang kursi tunggu ruang guru tepat berada di ujung koridor depan, sampai akhirnya mereka begitu dekat dengan Clara duduk. Abimanyu masih tak melepaskan pandangannya sampai matanya melihat Carolline yang datang dari arah ruang guru menghampiri Clara.
"Sore bu, Sore juga Clara" Sapa Bagas saat mereka lewat di depan Carolline dan Clara.
Clara hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban sedangkan Carolline yang disapa pun, tersenyum ramah, "Sore kembali, kalian belum pulang?" Tanyanya karena biasanya Abimanyu, Bagas, Lano dan Hafis mereka paling gercep jika masalah pulang. Baru bel saja mereka sudah menghilang dari tempat duduk.
"Hehe tadi nunggu si Hafis BAB dulu bu" Balas Bagas yang langsung di berikan hadiah toyoran dari Hafisnya sendiri,
"Enak aja, Kita lama gara gara nungguin elo deketin kakak kelas. Pake nyalah nyalahin" Ujar Hafis yang tak terima nama nya di jadikan tumbal.
"Elah, lu gak bisa di ajak bercanda deh" Kata Bagas,
"Idup lu becanda mulu kerjaannya. Untung tuhan gak becanda ngasih lu idup. Udah jangan ribut, malu sama masa depan gue" Lerai Lano,
"Siapa masa depan lo?!" Sentak Hafis dan Bagas berbarengan.
"Tuh.. Gak papa kan ya bu? Ehehe" Balas Lano sambil menunjuk Clara dengan dagunya.
Tak.
"Awss.." Lano langsung mendapatkan jitakan super super dari Bagas,
"Enak aja lo, rebusan kentang kaya lo gak cocok sama Clara. Memperburuk keturunan lo, Jangan ngaku ngaku Clara itu masa depan gue" Sambung Bagas dengan menggebu gebu
Sebelum perdebatan semakin panjang Abimanyu lebih dulu turun tangan.
"Udah, Ayo cabut" Ujar nya lalu melengos begitu saja, tanpa sapaan hangat pada Carolline ataupun Clara terlebih dahulu.
Dari pagi dia sudah mati matian menghindari Carolline, Ada perasaan aneh saat melihat sorot mata yang penuh kelembutan itu. Ada setitik rindu yang langsung mencuat di hatiku nya namun dengan segera pula Abimanyu mengenyahkan perasaan itu. Sekarang dan dulu tak sama, Apalagi ada Clara rasanya dia tak berhak lagi masuk kedalam kehidupan Carolline. Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya dan itu juga alasan seharian ini dia lebih banyak diam, Setelah kemarin ingatannya pulih. Otaknya tak henti henti dengan semua teka teki yang sedari kecil dia ingin tau, Kenapa Carolline pergi? Kenapa ada Carolline? Di lanjut dengan kenapa dan kenapa lainnya.
"Ehh.. Ehh.. Sabar woy! Dadah Clara, Abang tunggu gede nya loh" Teriak Bagas yang sudah di tarik oleh Abimanyu begitu juga Bagas yang langsung menarik kedua temannya. Tak akan dia biarkan Hafis dan Lano menikung pujaan hatinya. Halah.
Carolline menghembuskan nafasnya pelan, bagaimana pun juga Abimanyu ada di hatinya. Meskipun dulu ia hanya bersama satu bulan lebih tapi pesona Abimanyu kecil tak bisa membuatnya benci sedikit pun, Bahkan sampai sekarang. Baginya Abimanyu tak salah apapun, seorang anak tak bisa memilih kan oleh siapa dia di lahirkan. Abimanyu hanya korban dari hawa nafsu, Abimanyu masih memiliki masa depan yang lebih baik dari orang tuanya.
"Mami.." Panggil Clara sambil menggoyang goyangkan tangan Carolline yang tak kunjung menyaut,
Carolline menoleh, "Hem, Kenapa Cla?" Tanya nya,
"Ayo pulang" Ajak Clara yang langsung di anggukkan oleh Carolline.
"Iya iya, ayo"
Clara pun tersenyum manis, "Let's gooo" Serunya dengan ceria,
Carolline terkekeh pelan melihatnya sembari jalan dia mengacak ngacak rambut Clara dengan gemas.
"Mami.. Berantakan" Keluhnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal,
Sepanjang perjalan mereka di iringi dengan candaan candaan santai, sampai masuk mobil pun mereka masih saja tertawa. Kebahagian ini lah yang membuat Carolline berfikir bahwa dia mampu membesarkan anaknya sendirian, tanpa pria mana pun lagi. Sendirian.
***
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam, Carolline dan Clara tengah menghabiskan waktunya dengan menonton film fantasi kegemaran mereka.
"Wah, Mami liat putrinya cantik ya. Cla mau deh nanti ketemu sama pangeran yang ganteng kaya itu" Ujarnya saat melihat kisah ending dari film itu.
Carolline tersenyum, "Iya, makanya Cla harus jadi putri cantik dulu biar punya pengen ganteng kaya itu" Ujar Carolline.
"Cla kan udah cantik Mami"
"Cla, cantik itu bukan sekedar wajah aja tapi juga dari perilakunya sayang" jelas Carolline pada Anaknya itu.
"Maksudnya Mi?"
"Gini, Cla liat gak putri cantik tadi membalas ibu tirinya yang jahat?"
Clara menggelengkan kepalanya, "Engga Mami, padahal kan tadi ibu tiri nya jahat banget ya"
"Karena kejahatan gak harus di balas dengan kejahatan lagi Cla. Kalau kejahatan di balas lagi itu tandanya kita gak ada bedanya dengan mereka"
"Kalau mereka jahat banget sama kita gimana Mi?"
"Makannya dari sekarang Cla harus belajar untuk sabar. Sesakit apapun nanti ada yang nyakitin Cla. Cla gak boleh bales, Gak papa. Cla harus ingat tuhan gak pernah tidur. Biar tuhan yang balas.."
"...Siapapun orangnya, jika orang itu butuh bantuan Cla harus tetap tolong. Jangan karena dia pernah jahat sama Cla. Cla jadi gak mau tolong dia, Ngerti?" Akhir Carolline sambil mencuil ujung hidung mancung anaknya itu.
Clara pun mengangguk dengan patuh, "Ngerti Mami" Ujarnya
"Ais pinter deh anak Mami, Sebagai hadiahnya gimana kalau sekarang kita beli Es krim, mau?" Tawar Carolline, jam belum terlalu malam, toh tak terlalu jauh.
"Mau Mami, Mau. Yey!" Clara begitu antusias, karena memang Carolline memang tak terlalu memanjakan anaknya dengan selalu menuruti segala keinginan anaknya.
Carolline dan Clara sudah siap dengan pakaian santai mereka, menaiki mobil agar angin tidak terlalu menusuk. Meskipun cuman di depan komplek.