Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terganggu
Setengah hari libur ini Jeviza masih berada di bengkel. Seperti ucapan Kean tadi. Jeviza tidak lagi keluar kamar karena masih mengenakan kaos Kean yang ia kenakan setelah mandi tadi pagi. Sesekali melirik ke arah pintu, kali saja Kean tiba-tiba datang seperti tadi, membawa makanan untuknya sarapan, juga membawa pengisi daya untuk ponsel Jeviza. Tetapi kali ini tidak, Kean masih sibuk di depan dengan para pelanggannya.
Tiba-tiba Jeviza mendengar seperti suara terjatuh dari arah dapur. Memang samar, tetapi membuat Jeviza penasaran dan mendekat ke arah pintu. Perlahan ia membukanya, tidak langsung keluar tetapi mengintip dari balik celah pintu yang baru ia buka sedikit. Matanya melebar saat melihat adanya seorang gadis yang sedang mengaduh sakit, lalu melirik ke arah galon berisi air penuh yang tidak jauh dari gadis itu berada.
Vio tersandung air galon yang belum sempat dipasang oleh pegawai Kean tadi. Sudut bibir Jeviza tertarik ke atas, menikmati penderitaan Vio sekilas, sebelum akhirnya matanya menyipit sadar akan sesuatu.
Kak Vio di sini? Ngapain?
Kepalang kesal melihat adanya Vio, Jeviza membuka pintu dengan lebar, lalu keluar dari sana yang langsung membuat Vio mendongak dan menatap terkejut dengan kemunculan Jeviza di sana.
"Lo," tunjuk Vio berdiri dan menatap tidak percaya Jeviza. "Ngapain lo di sini?"
Jeviza tidak langsung menjawab, mengamati Vio dari ujung rambut sampai kaki, lalu mengepalkan tangannya saat melihat pakaian Vio yang sangat tidak mencerminkan seorang mahasiswi yang juga merupakan anggota BEM.
"Kak Vio yang ngapain di sini?" cecar Jeviza tidak mau kalah.
Dadanya bergemuruh hebat saat menyadari pakaian Vio yang sangat mengundang mata lawan jenis. Pikiran negatif Jeviza langsung muncul saat menyadari Kean tidak memperbolehkan ia untuk keluar, sementara di luar ada seorang gadis seksi yang bahkan sampai masuk ke ruang tengah di bengkel.
"Gue?" tunjuk Vio pada dirinya sendiri, sudut bibirnya tertarik sinis. "Gue di sini bukan urusan lo, lagian gue udah kenal Kean lama, so..udah hal biasa gue di sini."
Jeviza menelan ludahnya kasar, dadanya semakin bergemuruh mendengar ucapan Vio barusan.
Apa tadi Vio bilang?
Sering ke bengkel Kean?
Sungguh
Jeviza mulai merasa terbakar sekitar tubuhnya, dadanya berdetak hebat dan ingin mengumpat detik ini juga, lalu tanpa mengatakan apa-apa, Jeviza kembali masuk ke kamar, bukan untuk mengurung dirinya lagi seperti permintaan Kean tadi, tetapi untuk mengambil ponsel dan tote bag miliknya, lalu keluar begitu saja, saat melewati Vio, Jeviza sempat melirik sekilas, tetapi mengabaikan begitu saja dan kembali melangkah keluar.
Dan Vio
Gadis itu terpaku di tempatnya, sedari tadi mengamati pergerakan Jeviza dari mulai masuk dan keluar dengan barang barang-barang miliknya, Vio tidak bodoh, ia sangat tahu itu tote bag yang sering Jeviza pakai di kampus, itu berati Jeviza di sana dari kemarin?
Kepala Vio menggeleng, mencoba menyangkal dengan berpikir mungkin saja Jeviza hanya mempunyai satu tote bag tersebut. Tetapi saat ia baru ingat dengan pakaian yang Jeviza kenakan. Kaos seorang cowok, tubuh Vio tidak kalah tegang seperti Jeviza tadi, bahkan dadanya sudah berdentum dengan sangat hebat.
Vio menggelengkan kepalanya, mencoba menyangkal sekali lagi dengan apa yang dilihat dan isi pikirannya. "Enggak, nggak mungkin."
"Lepas! Gue mau balik sekarang!" Jeviza meronta saat digendong paksa oleh Kean dan kembali dibawa ke kamar.
Vio yang melihat itu mematung di tempatnya, bukan hanya asumsi atau kekhawatirannya saja, tetapi sekarang Vio menyaksikan secara langsung, bagaimana tubuh Jeviza ada dalam gendongan Kean.
Kean sempat melirik ke arah Vio sekilas. "Mobil lo udah jadi, lo bisa balik sekarang."
Setelah mengatakan itu, Kean masuk ke kamarnya dengan Jeviza yang masih berada di gendongannya, meninggalkan Vio dengan bibir gemetar dan juga dada yang berdebar dengan sangat hebat.
Vio secara sadar tadi sengaja memotong kabel pada mesin mobilnya agar bisa kembali ke bengkel Kean, dan sesuai keinginannya, Kean sendiri yang mengerjakan mobilnya. Tetapi saat ia mau ke toilet malah diberi kejutan dengan adanya gadis jakarta yang sejak kedatangannya sudah membuat Vio tidak suka. Lebih tidak masuk akal lagi Vio baru saja melihat bagaimana Kean membawa masuk gadis itu ke kamarnya, dengan cara yang tidak biasa, digendong oleh tangan kekar Kean.
"Brengsek." Vio mengumpat dan pergi dari sana dengan suasana hati yang tidak baik-baik saja.
Saat kembali ke depan, pandangan mata Vio dan Bian bertabrakan, tidak ada yang berucap sampai akhirnya Vio mengambil kunci mobilnya dan pergi dari bengkel.
Sementara Jeviza
Ia duduk di tepi ranjang, Kean mengungkung dengan tangannya. Menatap Jeviza dengan tatapan yang membuat nyali Jeviza menciut seketika.
"Kenapa?" pertanyaan Kean sontak membuat Jeviza membuang muka.
Sejujurnya Kean kesal karena Jeviza tadi keluar begitu saja dengan pakaian minim seperti itu, cukup setengah dari anggota BEM nya dulu yang melihat Jeviza dengan daster yang ia berikan ketika di rumah Arlo. Sekarang Kean jelas akan marah jika Jeviza keluar dengan pakaian seperti itu atau seperti sekarang ini, hanya kaos yang menutupi tubuh gadis itu.
Kean melirik Jeviza dari ujung rambut hingga ke bawah, lalu menghela napas dalam. "Lo bosen, di sini?"
Jeviza meremat tangannya, memberanikan diri untuk menatap Kean secara langsung. Lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa kak Vio di sini?"
"Mobilnya lagi diservis."
Jeviza menggeleng. "Bukan itu, tapi kenapa bisa sampai masuk sini? Bener dia sering dateng ke sini kan?" tuduh Jeviza membuat Kean terdiam beberapa saat, menatap Jeviza dengan sorot mata lebih dalam dan tajam.
"Lo cemburu?"
Jeviza mengalihkan pandangan matanya. "Enggak."
Sudut bibir Kean tertarik ke atas. "Dia mau ke toilet."
"Kan ada di depan buat pelanggan."
Kean mengangguk, memgang dagu Jeviza agar menatap ke arahnya. "Iya, gue juga nggak tahu dia masuk."
"Je," lirih Kean saat tidak mendapat balasan dari Jeviza tadi.
Kean mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara keduanya sebelum akhirnya ciuman hangat dan penuh dengan rasa ia berikan pada bibir Jeviza. Sangat lembut, penuh kehati-hatian, dan begitu dalam, bahkan Jeviza yang tadi sempat ragu untuk membalas mulai membalasnya dengan membuka bibirnya, membiarkan Kean memasuki lebih dalam lagi. Sampai suara lenguhan disela-sela ciuman panas yang keluar darinya membuat Kean semakin lebih berani lagi. Satu tangan Kean mulai meraba bagian dada Jeviza yang masih terbungkus kaos miliknya, meremasnya dengan sangat lembut, sementara bibirnya terus memberi isapan pada bibir Jeviza, sesekali lidahnya membelit membuat Jeviza tanpa sadar meremas lengannya.
Tok
Tok
Tok
"Mas Kean, ditunggu mas Bian di depan."
Kean dan Jeviza menghentikan kegiatannya, saling menatap satu sama lain dengar deru napas yang masih memburu, sisa-sisa adrenalin baru saja.
Ingin mengumpat, tetapi memang waktunya tidak tepat. Hari ini anak bengkel gajian, dan tidak mungkin Kean menyuruh mereka menunggu, sementara kegiatannya dan Jeviza bisa saja memakan banyak waktu, entah 1 jam atau mungkin bisa 2 jam lebih.
"Tunggu, gue ke anak-anak bentar," ujarnya mengecup pelan bibir Jeviza, tidak singkat tetapi juga tidak lama.
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁