Ara, harus menelan pil pahit setelah perjuangannya selama 2 tahun terbuang sia-sia,
"Aku kira pengabdianku selama 2 tahun ini akan membuahkan hasil yang indah, Mas,"ujar wanita cantik berambut panjang itu,
"tapi ternyata aku salah, .... "
"Aku menyerah Mas Arya"ujar Ara menatap langit malam, dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya, tapi bibirnya mengembangkan senyum yang penuh luka....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak Ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26,Dua Putra Wiguna,
"Akhhhh, apa-apaan ini, Mas Mas, tolong jangan pukul lagi, Mas Arya!" suara teriakan Ara memecah keributan. Beberapa orang segera berlarian mendekat, berusaha menarik Arya yang seolah kehilangan kendali, memukul Arhan tanpa henti.
Ara bernafas lega setelah Arya dapat di hentikan, Ara me atap dia orang bapak bapak penjaga kebun,
"Terima kasih, Pak. Silakan kembali bekerja." Ara memandang Arya dengan mata membara penuh kemarahan dan kecewa.
Tapi Arya justru menatap Arhan dengan sorot tajam yang menusuk jantung,
“Ada apa ini, Mas? Kenapa tiba-tiba kamu memukul Arhan?” Ara bertanya, suara gemetar menahan amarah. Arya menatap ke arah Ara, dan kata-katanya seperti pisau menusuk hati,
“Senang, kamu? Senang kamu dapat pernyataan cinta dari dia di saat kamu masih berstatus istri laki-laki lain. Apa itu yang kamu mau sampai kamu tak mau di ajak pulang kerumah?” Hati Arya bergejolak. Kecewa dengan Ara,
Ara menggeleng pelan saat mendengar pertanyaan Arya yang menusuk seperti jarum.
"Sekarang aku tanya sama kamu, Mas," suara Ara bergetar menatap Arya dengan tatapan tajam,
"Apakah kamu dengar jawaban ku, saat Arhan mengungkapkan perasaannya kepada ku,?"Tanya Ara kecewa dengan tuduhan Arya,
Arya diam tidak mampu menjawab pertanyaan Ara, Ara terkekeh sinis dengan nada penuh ejekan dia menambahkan.
"Astaga... untung kemarin aku menolak permintaanmu untuk rujuk, Mas. Padahal, jujur, aku ingin berdamai dengan semuanya, ingin menjadikan pernikahan ini sekali seumur hidup," katanya seolah ingin membuka luka lama.
"Tapi hatiku? Hatiku benar-benar...,"
Ara menatapnya tajam ke arah Arya, Sedangkan Arya mengusap wajahnya dengan kasar
"Kamu tidak akan pernah berubah, Mas."
"Ara..."
Tanpa aba-aba, Ara mengangkat tangan meminta Arya untuk berhenti.
"Minta maaf kepada Arhan," ujar Ara dingin, Wajah Arya kembali membeku, amarah merambat di matanya saat ia mengalihkan pandangannya ke Arhan yang diam membisu di sudut ruangan.
"Minta maaf kepada bajingan yang berani menyukai istri abangnya sendiri," balas Arya dengan kebencian yang membara.
Ara tersentak kaget menatap bingung pada Arya dan Arhan, berusaha mencerna kata-kata yang baru saja keluar.
"Abang, maksud kamu apa Mas? Arhan dan kamu?" tanya Arya seraya menatap kedua pria itu yang tampak serius dengan ekspresi penuh arti.
Arya menatap tajam ke arah Arhan, yang sejak tadi diam.
"Apa kamu tidak tahu siapa Arhan sebenarnya?" suaranya tegas, membuat dada Ara berdebar tak menentu.
Ara menggeleng pelan, mengernyit bingung, belum mengerti sepenuhnya maksud di balik kalimat itu.
"Dia Arhan Wiguna Putra, anak bungsu keluarga Wiguna, adik kandungku," lanjut Arya.
Seketika tubuh Ara tiba-tiba menegang, jantungnya berdetak cepat seolah semua dunia runtuh seketika.
Ara tak pernah menyangka semua ini selama ini disembunyikan dari dirinya, Arhan mengusap wajahnya kasar, seperti berusaha menenangkan diri.
Dia tahu Ara pasti kecewa dengannya tentang fakta ini,
"Ara..." katanya pelan, tapi Ara mengangkat tangan menghentikan ucapan Arhan.
Mata Ara yang berkaca kaca menatap tajam ke arah Arhan, penuh kekecewaan yang menggunung.
"Kenapa kamu nggak pernah jujur, Arhan?" tanya Ara dengan suara bergetar.
Ara menunggu alasan, penjelasan apapun yang bisa menghapus rasa sakit di dadanya. Dia menghela napas panjang, menunduk, lalu berkata,
"Aku minta maaf. Bukan aku tak mau jujur, tapi aku belum sempat, belum ada waktu yang tepat untuk memberitahu siapa aku sebenarnya..." Kalimatnya terhenti sebelum selesai,
Tapi Ara sudah tak sanggup mendengar lagi. Dengan suara bergetar, Ara menjawab,
"Kalian berdua sama saja, Bajingan!" Lalu Ara berlari pergi, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyakitkan.
“Ara,” Arya menghentikan langkah Arhan tepat ketika dia hendak mengejar Ara. Suara Arya berat, penuh tanya.
“Kenapa, Arhan? Kenapa kamu tega melakukan ini?” Arhan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menahan gelombang rasa bersalah yang menyeruak di dada.
“Maaf, Bang. Aku tahu aku salah telah menyukai istrimu. Tapi kamu harus mengerti, wanita itu… wanita yang pernah aku ceritakan padamu, yang berhasil mencuri hatiku lewat masakannya, dia itu Arabella, Bang. Istri mu saat ini” Suaranya tetap tenang, meski hatinya bergolak.
Arya mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan amarah yang menggelegak.
“Tapi sekarang dia bukan lagi wanita lajang, Arhan. Dia sudah punya suami.” Arham menatap abangnya penuh tekad, tidak ingin mundur meski rasa sakit itu menusuk.
“Aku tahu, Bang. Aku sudah pernah mengalah, karena aku sadar dia sudah menjadi milik orang lain. Tapi sekarang…” Arhan berhenti sejenak, mencari kekuatan dalam diri,
“tidak salah kan, jika aku ingin bersaing denganmu, Bang?”
*****
"Akhhh! Akhhh!" Suara Arya pecah saat tangannya menghantam setir mobil berulang kali. Tidak pernah terbayang sebelumnya, bahwa saingan yang harus dia hadapi bukan dari luar, tapi justru dari darah daging sendiri.
Arhan, adik kandungnya, yang kini mengincar wanita yang sedang dia perjuangkan, untuk masa depannya.
"Kenapa harus Arhan? Kenapa harus dia?" tanyanya dalam hati, dada sesak dan pikirannya buntu.
"Saat aku sudah mulai yakin, sudah mulai percaya bisa memperjuangkan Ara, kenapa kamu harus hadir dan mengguncang segalanya?" Amarah dan kecewa berputar dalam kepalanya tanpa henti.
Tangannya mengeras mencengkeram setir, berusaha menahan segala emosi yang hampir meledak. Namun, ada satu hal yang dia tegaskan pada dirinya sendiri,
"Jika memang kamu ingin bertarung, Arhan, baiklah. Tapi ingat, aku tidak akan pernah rela melepaskan wanitaku, untuk laki-laki manapun, bahkan untuk kamu, saudaraku sendiri." Bisiknya lirih,
menerima tantangan yang tak dia sangka datang dari dalam keluarganya sendiri.
****
Ara terduduk lemas di sofa ruang tamu, tubuh dan pikirannya terasa berat.
"Kenapa dia harus berbohong? Kenapa tidak jujur saja?" gumamnya dalam hati, rasa kecewa terlihat jelas di mata Ara.
Ara merasakan kebencian yang sama untuk mereka berdua.
"Mereka sama-sama brengsek."
Tapi yang membuat Ara bingung, ada satu hal yang terus menghantuinya kenapa hatinya bisa begitu mudah merasa nyaman pada kedua Putra Wiguna itu?
Ara mengakui, Arhan memang memperlakukannya dengan sangat baik, membuatnya merasa diperhatikan dan dihargai. Namun, pikiran lain mulai mengusiknya,
"Apa selama ini kebaikannya memang punya maksud tersembunyi?" Hati Ara penuh tanda tanya dan kekhawatiran yang sulit dia gapai jawabannya.
Tiba-tiba, ponsel Ara bergetar. Nama pengacara yang dia sewa untuk urusan perceraiannya dengan Arya tertera di layar.
Ara menjawab dengan suara bergetar, "Ya, halo Bu." Diam sejenak Ara menyimak suara pengacaranya,
“Saya sudah punya beberapa bukti tentang perselingkuhannya dengan wanita itu. Entah itu benar-benar perselingkuhan atau hanya teman biasa, saya belum bisa memastikan.” Hati Ara berdebar, kata-kata itu menusuk relung perasaannya.
“Oh ya Bu, satu hal lagi, saya cuma minta permohonan ini dikabulkan. Saya tidak ingin rujuk kembali dengannya,” ujarnya tegas.
Ara menghela napas dalam sebelum mengakhiri panggilannya,
"Aku tidak akan mengubah keputusan ku,"Gumam Ara penuh tekad..
~
jadi betul"anaknya si Arya toh panggil Daddy ke Paman nya bagus bagus
CLBK kah ini no good
sekarang dah balik lagi jadi begundal
hemmmm aku stop baca Thor ma"af ya 🙏