Ketika cinta telah menemukan tempatnya untuk berlabuh, tak ada siapapun yang mampu mengurai tautan yang terjalin antara dua insan manusia. Sesakit apapun hati yang tersayat karena luka, takdir tetap menjalankan kuasanya.
~Jangan melihatku dari apa yang nampak, karena tak semua yang indah memiliki kesempurnaan. Aku sangat mencintaimu, namun aku harus membangun benteng yang tinggi karena sakit yang telah kau ciptakan~ Aaliya
~Meski kau bukan yang pertama di hatiku, tapi aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku takkan pernah melepasmu dan membiarkanmu terbang begitu saja, karena hati ini telah kau genggam dan kaulah satu-satunya yang memiliki. Maaf maaf dan maaf yang mampu ku ucap~ Abian
Apa yang sesungguhnya terjadi antara Aaliya dan Abian? Silahkan baca dan nikmati karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega.ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Malam itu mereka bercengkrama, melepas kegundahan satu sama lain. Dinding-dinding rumah jadi saksi bisu kedekatan yang mulai tumbuh diantara mereka berdua.
"Aaliya, aku akan pergi besok," Ucap Abian setelah tawanya terhenti.
Tiba-tiba Aaliya menoleh, ia tersentak dengan ucapan Abian. Sungguh belum rela jika Abian pergi secepat ini.
"Proyek yang baru akan dimulai beberapa hari lagi, aku harus segera menuju kesana," Jelasnya.
Aaliya masih diam, dia tak mampu lagi memberi alasan pada Abian untuk tetap tinggal.
"Aku berjanji akan sering mengunjungimu saat cuti," ucapnya sambil tersenyum hangat.
Mereka diam dalam waktu yang cukup lama, hanya suara detik jam dinding yang mengiringi kebisuan diantara mereka.
"Aaliya, berjanjilah padaku kau akan selalu bahagia," Ucap Abian kemudian, "Aku senang bisa mengenal wanita hebat sepertimu, wanita yang sangat tulus dalam berteman."
Aaliya masih enggan membalas ucapan Abian, "Beristirahatlah, besok kamu berangkat di pagi buta. Aku tidak ingin kau terlambat."
Aaliya masih berdiam diri di tempatnya.
"Selamat malam," Tanpa menghiraukan Aaliya yang masih membisu, Abian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya.
Begitu Abian menghilang di balik pintu, Aaliya tak bisa lagi membendung air matanya. Luruh begitu saja tanpa permisi, mengaliri setiap inci wajah manisnya.
Pria itu begitu hangat, dia mampu mengisi kekosongan yang selama ini Aaliya rasakan. Pria itu begitu dewasa, sehingga mampu menenangkan dirinya yang bergejolak.
Aaliya tidak rela jika Abian harus pergi, sungguh tidak rela. Kepergiannya menandakan kesendirian yang akan menghampirinya kembali. Tak ada canda tawa, tak ada aroma masakan dan tak ada riuh rendah gelegak tawa dalam rumah itu lagi. Dia akan sendiri lagi.
.
.
.
Pagi masih buta, matahari belum mencurahkan sinarnya ke bumi. Namun seorang gadis telah rapi dan bersiap untuk melakukan rutinitas hariannya, bekerja.
Aaliya keluar dari kamar dengan langkah yang berat, ia memandang pintu kamar di seberang sana. Huft, dia tidak bersemangat hari ini, sungguh. Mengingat Abian tak akan ada lagi di sana saat ia pulang kerja nanti.
Dia hendak melangkah keluar rumah, namun terhenti saat melihat sesuatu di atas meja makan. Ada tudung saji yang menutup rapi sepotong roti sandwich diatas piring dan juga segelas susu di sana.
Abian? Kapan dia menyiapkan semua ini?
Aaliya duduk dan menyantapnya sampai habis, tak lupa ia menuliskan surat untuk Abian di atas secarik kertas.
.
.
.
Abian bangun saat mentari sudah terik, semalam ia tak bisa tidur sampai dini hari. Setelah menyiapkan sarapan untuk Aaliya, dia baru bisa terlelap tidur.
Entah apa yang ia rasakan kini, dia pernah merasakan cinta, tapi tidak seperti ini. Perasaan ini jauh lebih lembut, lebih tulus dan lebih hangat. Ia ingin membalas ketulusan gadis itu dengan perhatian yang juga tulus dari dalam hatinya.
Dia beranjak keluar kamar, pertama kali yang menjadi perhatiannya adalah meja makan. Abian tersenyum melihat gelas yang sudah kosong, namun piring yang berisi roti sandwich buatannya masih tertutup rapat oleh tudung saji.
Abian berfikir Aaliya tidak memakannya, dengan tak bergairah ia membuka tutup saji itu. Dan senyumnya mengembang sempurna, nampak sebuah gambar mata berkedip dan bibir tersenyum yang dilukis menggunakan saus tomat di atas piring.
Abian terkekeh pelan, sungguh gadis yang sangat menggemaskan. Dia melihat ada secarik kertas yang terselip di bawah piring, ia duduk dan membukanya.
'lagi-lagi kau memberiku perhatian, selamat karena kau telah membuatku rapuh, Abian. Aku masih berharap kau tetap tinggal, kau tahu? Aku tak punya teman selain dirimu, namun kini kau juga akan pergi. Aku memang tidak beruntung, semua selalu pergi seperti biasanya. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku wanita yang kuat dan aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Terima kasih untuk semuanya.'
Abian melipat surat itu, ada rasa bersalah yang kini bersarang dalam hatinya. Surat itu menyiratkan kesedihan, kerapuhan dan kegelisahan yang dalam. Aaliya, kenapa kau membuatku tak tega meninggalkanmu?
Abian berada dalam kebimbangan kini. Ah, gadis itu.
.
.
.