NovelToon NovelToon
PUSAKA TAMBUN TULANG

PUSAKA TAMBUN TULANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:39.3k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Undangan Adipati dan Perjalanan Hati

Beberapa hari telah berlalu sejak Arya Wiguna tiba di Perguruan Mawar Putih. Setiap pagi, ia dengan sabar dan telaten mengobati Guru Nyi Delima, menyalurkan energi murni dari Pusaka Harimau Putih untuk melawan racun yang menggerogoti tubuh Nyi Delima.

Perlahan, warna kulit Nyi Delima mulai kembali cerah, dan batuk-batuknya berkurang. Tenaga dalamnya memang belum pulih total, namun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Selama waktu itu, Arya tak henti-hentinya menjadi buah bibir di kalangan murid Perguruan Mawar Putih.

Kisah kepahlawanannya di Desa Lingkar Naga, kemampuannya yang tak terduga, dan tentu saja, interaksinya yang polos namun seringkali membuat Anggun Sari salah tingkah, menjadi topik utama.

Arya sendiri tetap tenang, meskipun ia diam-diam menikmati setiap momen ketika Anggun Sari, si pendekar cantik yang galak, menjadi begitu malu-malu di dekatnya.

Suatu sore, Nyi Delima menerima sebuah gulungan surat bertuliskan tinta emas. Wajahnya serius saat membaca isi surat itu.

"Ini dari Adipati Rengas Sembilan," kata Nyi Delima, setelah selesai membaca.

"Dia mengumpulkan beberapa perguruan silat golongan putih untuk sebuah pertemuan penting."

Arya dan Anggun Sari yang sedang berada di aula utama menoleh.

"Pertemuan apa, Guru?" tanya Anggun Sari.

"Adipati Rengas Sembilan ingin membahas mengenai kejahatan Kelompok Topeng Emas," jelas Nyi Delima.

"Rupanya, mereka juga resah dengan teror yang dilakukan Bagasandra, pemimpin Kelompok Topeng Emas itu. Adipati telah mengetahui bahwa Bagasandra adalah seorang dedengkot yang memiliki ilmu sesat dan telah menjatuhkan banyak perguruan," tambah Nyi Delima.

"Itu berita bagus, Guru! Berarti kita tidak sendirian dalam menghadapi mereka," kata Anggun Sari. "

Nyi Delima mengangguk, namun raut wajahnya kembali muram.

"Memang, Anggun. Tapi kondisiku belum pulih sepenuhnya. Tenaga dalamku belum kembali normal. Aku tidak bisa pergi sendiri. Dan aku tidak bisa mempercayakan tugas sepenting ini kepada sembarang orang." Nyi Delima menatap Anggun Sari, lalu beralih ke Arya Wiguna.

"Anggun, aku ingin kau yang mewakiliku ke pertemuan itu."

Anggun Sari terkejut.

"Aku, Guru? Tapi..."

"Kau adalah murid terbaikku, Anggun. Aku percaya padamu," kata Nyi Delima meyakinkan. Ia kemudian menoleh ke Arya.

 "Nak Arya, aku ingin kau menemani Anggun Sari."

Arya Wiguna sedikit terkejut. Menemani Anggun Sari sendirian? Arya memang punya misi, tapi ini... ini bukan bagian dari rencana awalnya, ia merasakan kegugupan samar.

"Saya... saya rasa Nona Anggun Sari sudah cukup tangguh, Guru Nyi Delima. Beliau bisa pergi sendiri."

Nyi Delima tersenyum tipis, ia bisa membaca keraguan di mata Arya.

"Nak Arya, aku tahu kau kuat, tapi ini bukan hanya tentang kekuatan. Anggun memang hebat, tetapi ia masih muda, dan pertemuannya akan melibatkan banyak pendekar senior dari berbagai aliran.

Dia butuh seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang bisa memberinya nasihat, dan yang terpenting, seseorang yang kekuatannya diakui oleh para pemimpin perguruan lain.

Setelah apa yang kau lakukan di desa ini, namamu pasti sudah tersebar. Kehadiranmu akan memberikan bobot pada Perguruan Mawar Putih," jelas Nyi Delima panjang lebar.

Arya masih ragu. Ia adalah seorang pengembara, tugasnya adalah menumpas kejahatan, bukan terlibat dalam pertemuan politik para pendekar.

Terlebih lagi, Arya tahu bahwa Anggun Sari, si pendekar cantik yang galak ini, entah mengapa selalu berhasil membuatnya sedikit salah tingkah. Sebuah perjalanan berdua dengannya? Rasanya cukup... menantang.

Melihat Arya masih terdiam, Nyi Delima menghela napas, menatap Arya dengan tulus.

"Nak Arya, aku tahu kau adalah seorang pengembara dan tidak terikat pada siapa pun. Tapi, aku memohon padamu.

Demi keamanan desa ini, demi keselamatan murid-muridku, dan demi pulihnya kedamaian di negeri ini. Aku percaya kau adalah satu-satunya yang bisa menghadapi Bagasandra itu. Dan Anggun akan belajar banyak darimu," kata Nyi Delima lagi.

Arya menatap mata Nyi Delima yang memohon. Ia melihat ketulusan dan harapan yang besar di sana. Bagaimana mungkin ia menolak? Bagaimanapun juga, ia memang datang untuk membantu.

"Baiklah, Guru Nyi Delima," kata Arya akhirnya, ia mengangguk. "Saya akan menemani Anggun Sari ke pertemuan Adipati Rengas Sembilan," jawab Arya.

Nyi Delima tersenyum lega.

"Terima kasih banyak, Nak Arya. Terima kasih," ucap Nyi Delima lega.

Anggun Sari, di sisi lain, wajahnya yang tadinya tegang kini berseri-seri. Ada kilatan gembira di matanya. Namun, saat Arya mengucapkan keraguannya di awal, Anggun Sari sempat merasa sedikit sakit hati. Ia merasakan ada nada kecewa bercampur rajuk di dalam hatinya.

"Kau... kau keberatan menemaniku, Arya?" tanya Anggun Sari dengan nada sedikit merajuk setelah mereka berpamitan dengan Nyi Delima dan mulai berjalan menuju pintu gerbang. Wajahnya cemberut.

"Apa aku merepotkanmu?"

Arya terkejut, ia tidak menyangka Anggun Sari akan merasakan hal seperti itu. Arya Wiguna menghentikan langkah, menoleh ke arah Anggun Sari yang sudah berwajah muram.

Arya Wiguna mengulurkan tangannya, meraih jemari Anggun Sari dengan lembut, dan menggenggamnya perlahan.

"Tidak, Nini Anggun Sari. Bukan begitu maksudku. Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu," jawab Arya Wiguna tulus.

Anggun Sari tersentak dengan sentuhan tangan Arya. Jemarinya terasa hangat dalam genggaman Arya. Pipinya langsung merona, namun hatinya terasa sedikit lebih ringan.

"Lalu kenapa kau terdengar sangat keberatan tadi?!" rajuk Anggun Sari lagi, namun nada suaranya sudah melunak.

"Apa karena aku ini galak? Atau karena aku selalu membuatmu malu?"

Arya tersenyum tipis, menatap Anggun Sari lekat-lekat.

"Bukan begitu, Nona Anggun Sari," kata Arya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan yang lain.

"Aku... aku hanya terbiasa bepergian sendiri. Dan aku tidak pernah berurusan dengan pertemuan-pertemuan seperti itu.

Aku hanya takut aku akan melakukan kesalahan atau membuatmu merasa tidak nyaman. Lagipula," Arya mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya dibuat sedikit lebih rendah.

"gadis secantik dirimu pasti akan membuatku gugup."

Wajah Anggun Sari langsung merah padam. Matanya membelalak, terkejut sekaligus malu.

"Arya! Kau ini bicara apa?!" Anggun Sari mencoba menarik tangannya, namun Arya menahannya dengan lembut.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab Arya polos, namun ada kilat jenaka di matanya.

"Hmm...Satu lagi, jangan panggil aku 'Tuan'. Panggil saja Arya. Kita kan sudah pernah 'bertarung' bersama. Bukankah lebih akrab?"

Anggun Sari menghela napas, menyerah, ia tidak bisa lagi menahan senyumnya yang kini merekah.

Rasa malu itu sedikit demi sedikit digantikan oleh kebahagiaan dan kehangatan.

"Baiklah, Arya," kata Anggun Sari suaranya menjadi lebih lembut.

"Ayo kita berangkat. Pertemuan ini penting." kata Anggun Sari sambil berjalan di depan, namun langkahnya kini ringan dan ceria. Ada senyuman tersembunyi yang terus menghiasi bibirnya.

Sepanjang perjalanan mereka menuju kediaman Adipati Rengas Sembilan, Arya dan Anggun Sari berjalan berdampingan.

Ada saat-saat hening yang nyaman, di mana mereka hanya menikmati pemandangan alam. Namun, lebih sering, keheningan itu dipecah oleh dialog-dialog ringan dan lucu.

Arya yang polos seringkali melontarkan komentar jujur yang membuat Anggun Sari malu dan tersipu. Anggun Sari, di sisi lain, mulai berani menggoda Arya kembali, menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan lugu tentang ilmu-ilmu anehnya, atau tentang masa kecilnya.

"Arya," kata Anggun Sari suatu ketika, saat mereka beristirahat di bawah pohon rindang.

Mata Anggun Sari menatap lurus ke arah Arya.

"Aku ingin bertanya sesuatu yang... blak-blakan."

Arya mengangguk. "Tanyakan saja, Nini Anggun Sari."

"Apakah kau pernah suka pada seorang gadis?" tanya Anggun Sari, suaranya sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan rasa penasarannya.

"Atau... apakah ada seorang gadis yang sangat cantik di matamu, yang membuatmu ingin terus melihatnya?"

Arya terdiam sejenak, ia menatap Anggun Sari, lalu mengalihkan pandangannya ke arah langit. "Ya," jawab Arya polos.

"Aku bertemu seorang gadis cantik yang aku sukai."

Anggun Sari merasakan jantungnya mencelos. Rasa kecewa yang tajam menusuknya, namun ia mencoba tersenyum, menyembunyikan perasaannya.

"Oh... siapa gadis beruntung itu, Arya?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik.

Arya tidak langsung menjawab, ia hanya terdiam, tatapannya jauh. Anggun Sari semakin penasaran, sekaligus merasakan kecemburuan yang membakar.

"Kenapa kau diam, Arya? Katakan padaku!" desak Anggun Sari, suaranya sedikit lebih tinggi, tidak sabar.

Arya menoleh ke arah Anggun Sari, ada senyum tipis di bibirnya. Senyum yang sedikit misterius, namun juga nakal.

 "Gadis itu sangat cantik," kata Arya, suaranya pelan.

"Aku takut dia tidak menyukaiku, lagian..." Arya menghentikan ucapannya, membuat Anggun Sari makin penasaran, perasaannya campur aduk.

"Lagian apa, Arya?!" desak Anggun Sari, tidak bisa menahan diri lagi, gadis cantik itu menatap Arya lekat-lekat, ingin segera tahu jawabannya.

Arya menatap Anggun Sari. Bibirnya semakin melengkung membentuk senyum. Ia tahu Anggun Sari sudah di puncaknya.

"Lagian... gadis itu sangat... galak!" Arya tiba-tiba bangkit, tersenyum lebar dan jahil.

"Lari...!"

Anggun Sari tercekat, menyadari Arya telah mengerjainya. Wajahnya yang semula merah padam karena malu dan cemburu, kini berubah menjadi merah padam karena marah dan gemas.

"Awas kau, Arya! Dasar menyebalkan!"

Tanpa pikir panjang, Anggun Sari langsung bangkit dan berlari mengejar Arya Wiguna yang sudah lebih dulu melesat.

Mereka berlari melintasi padang rumput yang hijau, tawa riang Anggun Sari kini memecah kesunyian alam.

Arya berlari dengan kecepatan luar biasa, namun ia sengaja tidak terlalu cepat, membiarkan Anggun Sari mendekatinya.

Ketika Anggun Sari berhasil mendekat, ia langsung melompat dan memeluk Arya dari belakang. Tubuhnya menempel erat ke punggung Arya, menahan langkah pemuda itu. Napasnya terengah-engah, namun senyumnya lebar.

"Aku menyukaimu, Arya!" bisik Anggun Sari, suaranya penuh ketulusan, menempelkan kepalanya di punggung Arya.

Arya Wiguna terdiam, ia merasakan hangatnya pelukan Anggun Sari.

Senyuman tulus merekah di bibirnya. Kali ini, ia tidak lagi menggodanya.

Perjalanan ini, yang awalnya hanyalah tugas perguruan, kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih romantis dan berarti bagi mereka berdua.

Bersambung....

1
Was pray
baru nyadar kalau kekuatan manusia ada batasnya Arya? selama ini kemana aja?
Was pray
dibalik kerendahan hatimu terselip percik meremehkan orang ang lain dan terlalu mengagungkan kekuatan diri, dan itu bisa menjadi akar kesombongan ,dan itu terkadang tidak kau sadari arya
Sugeng Toboali
keren
Was pray
terlalu lemot alur ceritanya...
Was pray
orang memberi nasehat bukan karena menganggap kita bodoh , tapi karena memiliki rasa peduli dan empati, menerima nasehat tidak membuat kita jadi bodoh Arya, walaupun nasehat datang dari orang yg dipandang lemah sekalipun, paling tidak diterima walau itu tidak selaras dengan hati, itu suatu penghormatan bagi orang lain
Was pray
kau terlalu bangga dengan jekuatanmy Arya. sehingga meremehkan lawan2mu, dan itulah yg jadi kelenahanmu sehingga kewaspadaan hilang. .seharusnya kamu pakai ilmu padi arya
Was pray
orang yg mengaku salah setelah kalah itu udah hal umum, terlalu mudah memaafkan pengkhianat maka akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain dan itu suatu kelemahan fatal, orang yg lemah pendirian dan pengkhianat maka suatu saat kemungkinan mengulangi lagi dengan cara yg lebih terorganisir dan itu lebih berbahaya
Zamo: makasih bang
total 3 replies
Sugeng Toboali
💪
Rafly Rafly
lanjutkan Thor..
makin seru kisahnya
Idwan Syahdani: oke tunggu aja ya...
total 1 replies
Arsi Oke
cerita yang bagus 👍🌟
Pandeka Garang
jurus kitab pedang tanpa tanding, gajah purba dan harimau seribu jg tidak pernah muncul lg, agak aneh aja, malah yg lebih sering muncul penggetar langit yg sama sekali blm dipelajari
Idwan Syahdani: sabar gan, bakal muncul kok di pertarungan yang lain nanti sabar ya... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Pandeka Garang
tiba2 sdh tau kalau yg datang dewi racun dan si bisu, dewi racun jg tidak kaget arya tau namanya, lucu jg alurnya
Yatin Sahmuri
hi
Slow ego
👍👌jos..,,
wan.trado
lho ada 2 ya pedang harimau putih nyaa, tapi ditancapkan di kuburan.. kapan diambilnya.. 🤣🤣
wan.trado
meninggalkan pedang pusaka harimau putih di kuburan..??? sungguh perbuatan aneh dan sia-sia juga kesombongan
wan.trado
tau darimana itu Arya wiguna? bertemu juga baru kali ini..
wan.trado
bujang larang, sebagai seorang yang menguasai ilmu tinggi, rasanya mustahil tidak mengetahui adanya penyusup yg mencari bukti disamping tempat tidurnya
wan.trado
seharusnya adalah sedikit perlawanan dari Arya mengingat lawannya adalah pendekar tua golongan putih,kalau seperti ini seperti melawan golongan pendekar rendahan🙏
wan.trado
seharusnya jangan dulu menggunakan kekebalan untuk menghadapi gerombolan ini, cukup dg menghindar saja dari serangan sehingga tidak terkesan membanggakan kekuatannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!