(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)
Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨
⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran soundtrack
Saat Hopipah menuju tempat parkiran, ia melihat sepedanya telah hancur lebur di sana. Ia sedih sekali melihat keadaan sepedahnya yang sudah satu-satunya harta berharga baginya itu.
“Siapa yang ngelakuin ini,” lirihnya sedih menahan tangis, ia melihat kondisi sepedanya ban belakang terlepas, rantai putus, dan bannya penyok serta patah-patah rangkanya. Dan pandangannya pun tertuju pada sebuah lembaran kertas di keranjangnya dan ia baca dengan mata berkaca-kaca.
'Sudah kita ingati, jangan dekati lima pria itu, kalau lo terus berada di sekitar mereka, lo gak bakal tenang di sekolah ini'
Dan Hopipah sudah paham dan tahu siapa yang melakukan ini meski tak melihat langsung. Tapi ia tidak bisa membalasnya, ia hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh. Mau tak mau ia harus membawa sepeda itu dan harus diperbaiki ke bengkel agar bisa dipakai lagi.
Ia pun keluar gerbang sekolah dan berjalan kaki sambil mendorong sepeda berat itu. Ia terus menelusuri tiap sisi jalan dengan susah payah.
Saat sudah beberapa jam perjalanannya, ia sudah melewati taman kota dan ia sudah berada di depan kursi pinggir jalan taman. Ia pun karena merasa sangat lelah berjalan kaki dan cuaca pun cukup tenang dan sejuk, ia beristirahat sejenak di bangku taman, dan menyandarkan sepedanya di sampinya.
Hopipah pun menarik nafas perlahan dan duduk lesu di bangku taman. Ia melamun menatap kosong ke depan.
“Ya Allah, janganlah Engkau memberi nasib serta ujian hidupku yang serumit dan seberat ini, jangan Engkau lamakan derita ini. Segera secepatnya kebahagiaan itu menghampiri. Faktanya aku tidak sekuat itu atas semua derita dari dulu hingga sekarang, mau seberapa pun Tuhan bilang aku kuat tapi faktanya aku sakit, aku lelah dan menderita,” Ucap dalam batinnya tak sadar air matanya lolos jatuh, ia sadar dari lamunannya dan buru-buru mengusap air matanya.
Hopipah pun meraih HP Blackberry jadulnya dan memasangkan alat dengar, lalu memasangkan di telinganya dan setelah itu membunyikan sebuah lagu yang ia suka sekali. Walau HP-nya jadul setidaknya di dalamnya ada beberapa musik yang tersimpan hasil kerja kerasnya dulu. Ia mulai bersenandung mengikuti alunan musik dan mengikuti alur nada dan lirik musik yang sudah ia hafal luar kepala liriknya, setidaknya hal itu membuat hatinya sedikit tenang.
(Judul: Kecewa, Bunga Citra Lestari)
🎵 “Sedikit waktu yang kau miliki
Luangkanlah untukku
Harap secepatnya datangi aku
Sekali ini ku mohon padamu
Ada yang ingin kusampaikan
Sempatkanlah…
Hampa, kesal… dan amarah
Seluruhnya ada di benakku
(Seluruhnya di benakku)
Andai seketika hati yang tak terbalas
Oleh cintamu…
Ku ingin marah…
Melampiaskan…
Tapi ku hanyalah sendiri di sini
Ingin ku tunjukkan pada siapa saja yang ada
Bahwa hatiku kecewa…” 🎵
——
Di saat Hopipah bernyanyi tanpa ia sadari, banyak orang yang berada di taman itu menikmati suara lembut dan indahnya yang mengalun merdu. Dan bahkan tanpa Hopipah tahu ada seorang produser ternama yang sedang duduk di kursi belakangnya yang hanya terpisah oleh tanaman semak-semak.
Produser tersebut yang tadinya sedang pusing tujuh kelapa mencari artis penyanyi namun semuanya menolak atau tidak sesuai harapan, sudah kesekian kalinya ia ditolak untuk menerima lagu untuk sebuah mengisi lagu latar film yang sedang ia garap.
Namun saat ia sedang duduk di kursi tersebut karena frustasi, tiba-tiba ada orang bernyanyi di belakangnya dengan suara yang lembut, jernih dan sangat indah menyentuh hati. Ia pun menikmati dan merasa ada ide cemerlang serta ketertarikan dalam hatinya.
Produser tersebut merasa sangat terkesan dengan suara Hopipah dan memutuskan untuk mendekatinya.
“Wow, suara kamu sangat indah sekali,” ucap produser tersebut dengan senyum takjub.
Hopipah terkejut dan menoleh ke belakang, melihat seorang pria paruh baya dengan kemeja putih rapi dan celana hitam yang tampak sopan.
“Oh, terima kasih,” jawab Hopipah dengan malu-malu menunduk.
Produser tersebut memperkenalkan dirinya dan menjelaskan bahwa dia sedang mencari artis penyanyi untuk sebuah film besar.
“Saya sangat terkesan dengan suara kamu, apakah kamu ingin menjadi artis penyanyi untuk mengisi lagu latar film saya?” tanya produser tersebut dengan antusias.
Hopipah terkejut dan tidak percaya mendengarnya.
“Saya? Artis penyanyi?” ucap Hopipah dengan bingung menunjuk dirinya sendiri.
Produser tersebut mengangguk mantap dan menjelaskan bahwa dia ingin Hopipah menjadi penyanyi untuk mengisi lagu latar film yang sedang dia produksi.
“Saya pikir kamu memiliki bakat yang sangat besar, dan saya ingin membantu kamu mengembangkan bakat kamu. Kami sudah memiliki lagu yang siap untuk diisi suara, dan saya pikir suara kamu sangat cocok sekali untuk lagu tersebut,” ucap produser tersebut dengan serius dan meyakinkan.
Hopipah merasa ragu-ragu, tapi produser tersebut meyakinkannya bahwa ini adalah kesempatan yang sangat baik dan jarang terjadi untuk mengembangkan bakatnya.
“Saya tidak tahu, saya belum pernah berpikir tentang menjadi artis penyanyi,” jawab Hopipah dengan jujur.
Produser tersebut tersenyum ramah dan memberikan kartu namanya.
“Saya ingin kamu mempertimbangkan tawaran saya, dan kita bisa membahas lebih lanjut tentang detailnya. Kami bisa memberikan kamu contoh lagu yang sudah kami siapkan, dan kamu bisa mencoba merekamnya. Jika hasilnya bagus, kita bisa lanjut ke tahap berikutnya,” ucap produser tersebut dengan ramah.
Hopipah mengambil kartu nama tersebut dan memikirkan tentang tawaran produser tersebut dengan perasaan bingung campur senang.
“Akan saya pikir dulu Pak,” ucap Hopipah sopan.
“Baiklah saya tunggu kabar dari kamu,” ucap Pak Produser tersenyum ramah.
Hopipah pun menganggukkan kepala dan tersenyum ramah meski masih malu.
"Kalau gitu saya pamit," ucapnya.
"Iya pak," jawab Hopipah pak produser itu pun pergi.
Hopipah berdiam diri, dan melihat kartu nama dari perusahaan PMD film dan di sana tertera nomor serta pemilik perusahaannya.
"Rasanya ini mimpi?" gumam dirinya lalu menepak pipinya, "Aw," ucapnya sakit "Berarti ini bukan mimpi, benarkan suaraku bagus," gumamnya yang merasa masih ragu pada dirinya. Dia pun tak mau lama berlarut dengan hari ini, Hopipah melihat jam di hpnya.
"Ya Ampun! ini udah pukul 2 siang aku harus cepat pulang," ucap Hopipah, ia pun bangkit dan membawa sepedanya yang telah rusak.
"Mungkin aku nanti mampir dulu deh, ke bengkel yang menuju rumah." ucapnya dan ia pun mulai pergi dari taman tersebut.
***
Saat beberapa jam akhirnya ia sampai di tempat bengkel yang tak jauh dari arah pulangnya. Ia menghampiri Abang tukang bengkel serbah guna, selain ia bengkel motor juga menyediakan perbaikan sepeda.
"Permisi, bang," sapa Hopipah, si Abang yang lagi kotak-katik motor saat dirinya di panggil langsung berhenti.
"Iya neng ada apa, ada yang saya bantu?" tanya si Abang bengkel yang matanya juga sudah tertuju kepada sepeda yang di bawa pelanggannya.
"Ini bang, saya mau perbaikan sepeda saya," ucap Hopipah pada si Abang bengkel yang melihatnya sepedanya yang sudah butut dan hancur.
"Aduh neng, kenapa nggak beli sepeda baru aja," ujar si abang bengkel mengsarankan beli yang baru. Hopipah yang mendengarnya pun hanya tersenyum kecut.
"Kalau saya beli yang baru, uang saya mana cukup bang. Apakah Abang bisa bantu saya dan setidaknya tidak terlalu tinggi harganya," jawab Hopipah dengan wajah sedikit memelas.
Si Abang bengkel yang melihatnya pun jadi serbah bingung.
"Baiklah, saya bantu paling dari semuanya saya lihat paling 700 ribu neng," kata si Abang bengkel, Hopipah yang mendengarnya pun cukup syok.
"Nggak bisa kurang bang?" tanya tawarnya.
"Ya ampun neng, zaman sekarang serbah mahal," jawabnya, Hopipah pun hanya menundukan kepala dan hanya menghela nafas panjang pelan. Si Abang yang lihat pun cukup kasihan.
"Ya udah deh neng, saya turunkan lima setengah bisa, itung saya bersedekah aja," ucapnya, Hopipah yang mendengarnya pun senang.
"Bisa bang, saya ada kalau segitu, kalau bisa perbaikannya berapa lama?" tanya Hopipah yang cukup senang mendengarnya.
"Paling lama dua atau tiga hari neng," jawab si Abang, Hopipah menganggukan kepala.
"Ini bang sepedahnya, Kalau gitu saya pulang dulu," ucap Hopipah sambil menyerahkan sepedanya. Si Abang bengkel pun menerimanya.
tapi, gimana dengan keluarganya nanti kalo tahu Opi sudah sukses. apa mereka bakal tetap gangguin?