Isyana Putri, gadis tomboi berusia 22th. Tanpa sengaja bertemu dengan
Briyan Adhinatha, seorang CEO tampan berusia 28th.
Karena suatu keadaan membuat Isyana harus melakukan nikah bohongan dengan Briyan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mandry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia istriku
Mobil Briyan memasuki perumahan elit. Isyana terkesima melihat rumah-rumah mewah berjajar dan terlihat sangat bagus. Baru kali ini dia melihat rumah mewah sedekat ini.
Isyana masih mengagumi betapa rumah-rumah itu terlihat megah dengan pekarangan yang sangat luas. Hingga dia tak sadar bahwa mobil yang dia tumpangi sedah memasuki pekarangan salah satu rumah mewah tersebut.
"Lap tuh iler lo... " Ucap Briyan sengaja iseng kepada Isyana. Isyana reflek mengelap mulutnya yang ternyata tidak ada iler seperti yang Briyan katakan. Isyana menatap sebal kearah Briyan.
"Hahaha... Ayo turun... " Ajak Briyan
"Sudah sampe? " Tanya Isyana sambil mengikuti Briyan keluar dari mobil.
"Selamat datang tuan" Sapa pak Pri sekuriti rumah
" Tiyo sudah lama disini pak? " Tanya Briyan pada pak Pri karena melihat mobil Tiyo yang juga parkir disebelah mobilnya
"Iya tuan... Tuan Tiyo sudah dari tadi disini bersama nona Anggita" Lapor pak Pri
" Trimakasih pak... " Ucap Briyan dan berjalan meninggalkan pak Pri.
"Sama-sama tuan" Jawab pak Pri
"Mari pak... " Sapa Isyana pada pak Pri dengan senyum manisnya dan berjalan mengikuti Briyan
'Siapa perempuan itu? ' batin pak Pri
Isyana mempercepat langkahnya mengimbangi langkah Briyan yang begitu lebar.
" Ini rumah kamu? " Tanya Isyana yang kesusahan mengikuti langkah kaki Briyan
" Bukan... Ini rumah papa mamaku" Jawab Briyan
"Kamu kan anaknya, sama aja lah... " Ucap Isyana masih takjub dengan rumah kalangan elit.
Terlihat bangunan rumah yang sangat besar, luas dan tinggi. Pekarangan juga sangat luas dan banyak bunga-bunga yang sangat indah.
' pekarangan aja seluas itu. Kalau ditanami buah jeruk bisa panen lumayan banyak hehe...' batin Isyana, jiwa berkebun buah jeruknya meronta-ronta. Karena waktu di rumah dia sering mengurusi perkebunan buah jeruk milik ayahnya.
" Mama... Papa... " Teriak Briyan ketika memasuki rumah.
"Assalamualaikum... " Teriak Isyana. Briyan menatap Isyana
" Kenapa? Memasuki rumah itu harusnya memberi salam. Agar penghuni rumah diberi keselamatan " Jelas Isyana
" Iya bu ustadzah... " Jawa Briyan
" Apa kamu tidak grogi? Takut kalau akting nanti gagal? Sepertinya kamu cukup tenang. Awas saja kalau nanti sampe gagal" Bisik Briyan pada Isyana
Isyana mulai merasa tegang setelah diperingatkan Briyan. Dia mulai berfikir membayangkan kemungkinan yang akan terjadi. Kalau gagal Briyan pasti tidak akan memaafkan nya. Kalau berhasil berarti harus terus berakting. Kalau mamanya jahat bisa-bisa dia habis oleh mamanya seperti di tv-tv. Semua serba tidak menguntungkan untuknya.
"Briyan kau sudah datang? " Tanya Anggita yang menyambut kedatangannya. Briyan hanya mengangguk sebagai jawaban
"Ayo masuk... Mama papa sudah menunggu di dalam" Ajak Anggita
Mereka berjalan masuk menuju ruang keluarga dimana mama Rianti dan papa Baswara menunggu dari tadi. Isyana berjalan mengikuti mereka dengan melihat kanan kiri takjub dengan isi dirumah besar itu. Terlihat perabotan yang mewah dan pastinya sangat mahal. Begitu indah, begitu cantik dan begitu elegan.
Isyana yang asik mengamati sekitar dan tak fokus berjalan tiba-tiba menabrak tubuh Briyan yang telah berhenti didepannya.
"Aw... " Isyana mengaduh
"Hati-hati" Bisik Briyan
" Hai Pak Tiyo... " Sapa Isyana yang tidak sengaja bertemu tatap dengan Tiyo. Tiyo hanya tersenyum kaku.
Semua mata menatap Isyana dan Tiyo dengan penuh curiga. Sadar dengan tatapan orang-orang Isyana kembali terdiam dan terkesiap
"Awas kamu macam-macam lagi" Bisik Briyan
"Maaf... " Bisik Isyana
"Ayo duduk... " Briyan mengajak Isyana duduk di sofa.
"Siapa dia Briyan? " Tanya papa Baswara setelah mereka duduk
" Perkenalkan ma... Pa... Dia istriku Isyana" Briyan memperkenalkan Isyana sebagai istrinya. Semua orang kaget dengan ucapan Briyan. Mama Rianti yang sedang meminum teh di cangkirnya pun tersedak karena kaget.
1 vote mengiringi karyamu Thor.
semangat berkarya