Tegar adalah seorang ayah dari dua anak lelakinya, Anam si sulung yang berusia 10 tahun dan Zayan 6 tahun.
Mereka hidup di tengah kota tapi minim solidaritas antar sekitarnya. Hidup dengan kesederhanaan karena mereka juga bukan dari kalangan berada.
Namun, sebuah peristiwa pilu membawa Tegar terjerat masuk ke dalam masalah besar. Membuat dirinya berubah jadi seorang pesakitan! Hidup terpisah dengan kedua anaknya.
Apakah yang sebenarnya terjadi? Bisakah Anam dan Zayan melalui jalan hidup yang penuh liku ini? Jawabannya ada di 'Surat Terakhir Ayah'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantar ke sekolah
Wajah kedua anak itu menunjukkan kekaguman. Belum pernah keduanya melihat bangunan tempat tinggal manusia sebesar ini. Pilar-pilar besar, tangga di dalam rumah, ada lampu kristal yang menggantung indah, tirai yang panjangnya bisa Zayan pastikan melebihi panjang selimutnya, dan lihatlah.. Ada aquarium besar di ujung sana. Apa aquarium sebesar itu digunakan untuk menampung buaya? Pikir Zayan mulai berimajinasi sendiri.
"Wuiiiih... Ini mah bukan rumah, tapi istana. Ya bang?! Aku kira, kita mau disuruh tinggal di tempat pengepulan barang bekas.. Ternyata enggak, rumahnya bagus ya bang?!" Zayan sampai mendongak ke atas, ingin tahu ada apa di sana.
Iya, Zayan Ingat.. Dia pernah melihat rumah seperti ini di sinetron yang sering bi Ria tonton di televisi. Mungkinkah orang-orang di televisi meminjam rumah ini untuk kegiatan shooting? Entahlah, Zayan masih terkesima dengan apa yang bisa dia lihat oleh panca inderanya.
"Rumah ini bakal Lo orang berdua tinggali mulai sekarang. Semoga betah ya." Senyum di wajah Abut membuat matanya tinggal segaris.
"Betah banget kalau ini mah! Ya bang?!" Zayan tersenyum sumringah.
"Za." Anam melotot memberi peringatan saat adiknya kelewat girang.
Malam harinya, mereka sudah tidak tidur di rumah berlantai tanah milik almarhum Tegar tapi sudah pindah di kediaman Abut yang megah dengan lantai marmer yang adem. Zayan bisa begitu saja terlelap, entah karena nyaman atau saking capeknya, Tapi yang jelas Anam sudah mendengar dengkuran halus Zayan mengisi kamar tidur mereka.
'Pak, sekarang.. Abang sama Zayan akan tinggal di rumah ini. Bapak nggak usah khawatir sama kami lagi ya.. Bapak yang tenang di sana, kami akan selalu mendoakan bapak.. Juga ibuk.. Abang sayang kalian.. Bahagia di surga Allah ya pak, buk..'
.
.
.
Hari ini, Anam berangkat sekolah diantar supir pribadi Abut. Dia tidak mengijinkan Anam jalan kaki, pun dengan Zayan. Bocah itu sudah terlihat manis dengan seragam TK melekat di tubuhnya. Dengan kekuatan uang yang Abut miliki, Zayan pun sudah bisa merasakan pendidikan seperti abangnya.
Sampai di sekolah, Anam dan Zayan yang sengaja di temani Abut terlihat menarik perhatian orang-orang. Tas yang dulu kumal, sepatu sobek bagian jempol kaki, kaos kaki dengan karet penahan bagian atas agar tetap sama tinggi kanan kirinya kini tak lagi terlihat. Anam berubah. Dan perubahan itu mampu memancing emosi salah satu orang, Marpuah. Dia geram dengan nasib mujur Anam dan Zayan saat ini.
"Heh, abis nyolong ya? Bisa kebeli barang-barang bagus gitu?! Anak yatim piatu kayak kalian tau-tau datang ke sekolah dengan dandanan kayak gini!! Bilang, duit siapa yang udah kalian kutil?!" Hardik Marpuah yang kesal juga iri pada kedua bocah mantan tetangganya tersebut.
"Kami nggak nyolong. Semua ini dibeliin sama engkong kami, ya bang!" Zayan tak terima dikatai tukang kutil oleh Marpuah.
"Alaaah, dulu aja kamu berani nyolong duit di toko ku kok! Masa sekarang bilang dibeliin engkong, engkong siapa??! Engkong dari Hongkong?!" Cibir Marpuah begitu dengkinya melihat perubahan yang terjadi di depan matanya.
"Aku nggak pernah nyolong.. Kenapa kamu terus bilang kalau aku pencuri? Bukankah kamu sendiri juga tahu kalau uang yang dulu kamu ambil dari ku itu adalah uang ku sendiri?!" Zayan sama sekali tidak gentar. Untuk ukuran anak kecil, Zayan sangat berani!
"Udah Za. Masuk kelas aja." Ajak Anam memegang tangan adiknya.
Semua kejadian itu tak lepas dari penglihatan Abut, lelaki tua itu bahkan tersenyum bangga pada kedua bocah yang dia angkat jadi anaknya.. Aah.. Cucu lebih tepatnya!
"Anak kurang ajar! Pantes aja orang tuanya mati duluan! Nggak betah ngasuh anak begajulan modelan begitu pasti! Lusi, kamu jangan pernah bergaul sama anak-anak nggak tau tata krama kayak mereka! Kalau bisa, ajak temen-temen mu yang lain buat musuhi si Zayan itu, kucilin dia, ngerti kamu?!!" Marpuah mendoktrin Lusi agar ikut membenci Anam dan Zayan, terutama Zayan.
"Apa seperti itu cara mendidik anak dengan baik? Apa menyuruh anak kecil membenci orang lain tanpa sebab termasuk didikan penuh tata krama? Lo orang otaknya udah konslet sepertinya.. Dan, gue mau kasih paham sama Lo orang.. Gue yang sekarang bertanggung jawab atas Anam dan Zayan, nggak akan gue biarin anak-anak gue diganggu sama manusia tak berotak macam elu orang!"
Abut tak ingin hanya melihat, menonton anak-anaknya mendapat perundungan secara mental. Dia akan pasang badan untuk Anam dan Zayan. Effort engkong-engkong satu ini emang tidak main-main!
Marpuah yang gelapan jadi diam sesaat. Tapi saat melihat sekitarnya penuh orang yang memperhatikan dirinya, rasanya ada bom yang meledak di hatinya. Dia malu! Dia akan membalas semua ini, tentu saja! Tidak peduli siapa yang menjadi dekengan kedua bocah itu, yang pasti dia sudah menjadikan Anam dan Zayan sebagai musuhnya. Benar kata Abut, mungkin otak Marpuah sudah konslet! Anak kecil kok dimusuhi.
"Engkong kalo mau ngadopisi anak liat-liat bibit, bebet, bobotnya dong! Nggak tau apa kalau si Anam dan Zayan itu anak pengedar narkoba?! Bahkan bapaknya mati bunuh diri di penjara? Kok bisa sih, engkong mungut anak yang jelas-jelas punya keturunan kriminal? Nggak malu tah Kong?" Ejek Marpuah geram.
"Hahaha.. Lo orang ini nggak punya tivi ya? Atau setidaknya nggak denger kabar tentang mereka hah? Lucu sekali orang ini, apa Lo orang baru keluar dari goa, sampai tidak tahu apa-apa?? Pura-pura bodoh atau memang goblok beneran, hah?"
"Anam dan Zayan anak dari Tegar Pambudi dengan Agnisa Safitri, mereka semua adalah orang baik. Gue bukan orang bodoh yang mudah termakan hasutan dan fitnah dari manusia-manusia macam Lo orang. Kalau mau bicara minimal berpikir lebih dulu, susun kata-kata yang baik, agar ketika suara Lo orang keluar dari mulut, bakal dihargai orang lain. Bukan mengganggap ucapan Lo orang sebagai sampah."
Tentu saja semua ucapan Abut membuat Marpuah makin meradang. Dia tahu fakta tentang Tegar yang ternyata hanya korban fitnah, tapi ego dan sifat dengkinya lebih besar! Dia tidak terima jika orang-orang berpihak pada Anam dan Zayan.
"Mama.. Sini tas ku ma, aku mau ke kelas aja.." Lusi tak enak hati karena sikap Marpuah, terlebih ibunya itu sudah menjadi tontonan orang-orang di halaman sekolah.
"Apa sih?! Bisa diem nggak kamu?! Cerewet banget jadi anak!! Ini, bawa sendiri tas mu!!" Marpuah mendorong tas yang dia bawa ke arah dada anaknya sendiri, hingga Lusi jatuh terjengkang.
"Mama.. Kenapa mama dorong aku? Aku salah apa...?" Lusi menangis. Dia takut setengah mati dengan sorot mata ibunya yang merah.
"Alah, apa sih?! Pakai nangis nangis segala, mau sekolah nggak kamu itu?! Udah sana masuk kelas?! Ngerepotin aja!!!" Marpuah pergi tanpa membantu Lusi yang terjatuh oleh ulahnya. Ah.. Lusi yang malang..
bagus thor semangat trus berkarya
satu lagi novel yg banyak mengandung bawang selain BB🥺
sukses terus ya..
smoga sehat sllu dan diberi kelancaran buat nulis😁
di upgrade gitu lho ke spek yg lebih bagus lagi😌
salah sendiri fitnah anak yatim, kurma lgsg kontan kan dtengnya😏
smoga dg perkataanmu itu, bisa merubah hati Anam yg dipenuhi dendam agar bisa sedikit lebih ikhlas lagi