Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Petir
"Astaghfirullah, petirnya keras banget, Mas." Lirih Raina yang merasa khawatir dan gelisah. Arsha hanya bisa menggenggam tangan istrinya dan mengusap lembut punggung tangan wanitanya agar tak terlalu panik.
Hujan lebat dan gemuruh petir yang sedari tadi terdengar, membuatnya merasa was - was karena Arjuna dan Meshwa yang masih ada di Gerojogan untuk menjalankan ritual.
Tak hanya Raina, Saira, Sashi dan Runi pun sama - sama gelisah karena petir yang terus terdengar dan kilat yang menyambar - nyambar. Suasana hujan sore hari yang membuat sekitar sedikit gelap, tampak terang beberapa kali karena kilatan cahaya petir.
"Mo, beneran ini gak apa - apa? Lihat deh petirnya kayak gini." Resah Runi.
"Kayaknya setiap ritual Bopo dan Biyung yang di lakukan di Desa Banyu Alas, cuaca selalu cerah. Tapi kali ini, kenapa begini?" Timpal Aksa.
"Kita berdoa aja ya, mudah - mudahan Arjuna dan Meshwa bisa menyelesaikan ritual mereka." Jawab Abimanyu. Meski terlihat tenang, namun ia tetap saja tak bisa menutupi guratan ke khawatiran di netranya.
"Apa aku jemput aja Mas Juna sama Mbak Meshwa, Kung?" Tawar Dipta.
"Iya, Kung. Aku khawatir banget sama mereka berdua. Apa lagi mereka lagi di alam terbuka kayak gitu." Sashi turut menimpali.
"Gak usah khawatir, mereka pasti pulang dengan selamat." Kata Abimanyu. Kata - kata final yang tak bisa lagi di bantah.
Pria yang masih terlihat bugar di usianya yang senja itu tampak sangat yakin kalau cucu dan cucu menantunya akan kembali dengan selamat.
Hanya satu yang ia khawatirkan, apakah Arjuna dan Meshwa bisa menyelesaikan ritual terakhir yang mereka jalani ini?
Semua orang yang ada di sana hanyut dalam doa - doa mereka. Doa memohon keselamatan untuk Meshwa dan Arjuna yang sedang menjalankan ritual Bopo dan biyung di tengah hujan petir dan angin kencang.
Sementara itu, di Gerojogan Lengkung, suasana tak kalah mencekamnya. hujan yang lebat itu tentu membuat debit air Gerojogan semakin bertambah. Air yang semula tampak jernih, kini sedikit kecoklatan karena tercampur material lain yang turut hanyut terbawa arus.
"Astaghfirullah, Meshwa!" Arjuna membuka matanya dengan nafas yang memburu. Jantungnya berdebar dengan kuat karena khawatir.
Namun, pemandangan di hadapannya sungguh mencengangkan. Ada seperti perisai tak kasat mata yang berada tepat di atas kepala Meshwa. Perisai itu seolah sedang menarik kilat cahaya yang sedari tadi menyambar - nyambar.
Sementara itu, Meshwa justru tampak tenang dengan netra terpejam dan bibir yang masih berkomat - kamit. Suara gemerutuk gigi yang menandakan jika istrinya itu kedinginan, sudah tak lagi terdengar.
Arjuna sampai menusap wajahnya beberapa kali karena tak percaya dengan apa yang ia lihat. Berkali - kali petir dengan suara keras menyambar, namun petir itu selalu tersedot dan lenyap di telan perisai tak kasat mata itu.
"Astaghfirullah, laa haula walakuwwata illabillah." Ujar Arjuna dengan perasaan campur aduk.
Ada rasa takut, resah, khawatir dan juga takjub secara bersamaan. Namun yang pasti ia bersyukur karena ada sesuatu yang melindungi Meshwa.
Melihat curah hujan yang semakin tinggi, begitu pula debit air yang semakin tinggi, Arjuna memutuskan untuk membangunkan Meshwa agar mereka berdua tak terbawa arus sungai yang semakin deras.
Air yang turun dari Gerojogan pun semakin besar, hingga kini mengenai Arjuna dan Meshwa yang berjarak cukup jauh dari tempat jatuhnya air jika dalam kondisi tenang. Mereka harusnya sudah menyelesaikan ritual mereka beberapa menit lalu. Namun, karena hujan yang turun, membuat Arjuna tak bisa memperkirakan waktu pasti untuk mengakhiri ritual.
"Sampun, Sayang." Kata Arjuna sambil menyentuh bahu Meshwa. Perlahan, Meshwa membuka matanya. Matanya terlihat merah seperti orang habis menangis.
"Kamu nangis, Dek? Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Arjuna sambil memeriksa tubuh Meshwa. Namun, Meshwa hanya terdiam seolah kehabisan kata - kata.
"Kita ke pondokan dulu ya, Sayang." Ajak Arjuna.
"Aku lemes banget, Mas." Lirih Meshwa yang seperti kehilangan tenaga saat hendak berdiri.
Tanpa berkata - kaa lagi. Arjuna langsung membopong tubuh istrinya yang terasa sangat dingin. Ia secepat mungkin berjalan menuju ke pondokan setelah menyambar tas mereka yang sedikit basah karena hujan.
"Sabar ya, Sayang." Lirih Arjuna sambil mengecup dahi Meshwa yang bersandar di dadanya.
Setelah sampai di Pondokan, Arjuna segera membuka pintu pondokan dan membawa Meshwa masuk ke dalamnya. Sayangnya, pakaian ganti yang mereka bawa itu basah terkena hujan. Akhirnya, Arjuna hanya melilitkan handuk yang sedikit lembab di tubuh Meshwa.
"Baju kita basah semua, sementara pakai handuk dulu ya, Sayang." Kata Arjuna yang di jawab anggukan oleh Meshwa.
Arjuna kemudian mengeluarkan teh manis yang ia bawa dengan termos kecil. Untung saja teh itu masih mengepulkan uap panas ketika di buka, hingga bisa sedikit menghangatkan tubuh mereka.
Arjuna duduk sembari memeluk Meshwa, berharap agar istrinya itu bisa merasa sedikit hangat. Sementara tangannya meraih ponsel yang berada di dalam wadah ainti air di dalam tasnya. Arjuna kemudian menelfon Dipta untuk meminta sepupunya itu mengantarkan pakaian ganti mereka.
Kehebohan pun terdengar diujung telfon kala Arjuna mengabari kondisi mereka berdua yang baik - baik saja. Dipta dan Mifta kemudian segera berangkat setelah Raina menyiapkan pakaian ganti untuk Arjuna dan Meshwa.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit, hm?" Tanya Arjuna yang masih mendekap erat tubuh istrinya.
"Iya, Mas. Tadi perutku sakit banget, kayak di tusuk - tusuk pake jarum. Ahh, rasanya..." Meshwa sampai bergidik saat membayangkan bagaimana rasa sakitnya.
"Terus?"
"Aku panggil - panggil Mas, tapi Mas gak dengar. Jadi aku tahan walaupun sambil menangis. Anehnya, sakit itu perlahan hilang waktu terdengar suara petir yang pertama dan terus berangsur menghilang waktu suara petir lain terdengar susul - menyusul." Cerita Meshwa.
"Ya allah, maafin Mas ya, Sayang. Mas sama sekali gak denger apapun selain suara gemeretuk gigimu karena menggiggil kedinginan." Kata Arjuna.
"Iya, itu tadi aku juga memang sempat kedinginan. Ya itu, Mas, aku mengggil itu sambil menahan rasa sakit juga." Kata Meshwa yang kembali mengenang usahanya menahan rasa sakit.
"Yasudah, yang penting semuanya baik - baik aja sekarang." Kata Arjuna sambil mengusap lembut kepala Meshwa.
"Mas waktu denger aku menggigil tadi, sama sekali gak denger kalo aku panggil?" Tanya Meshwa yang di jawab gelengan oleh Arjuna.
"Mas justru khawatir waktu ada petir yang menyambar tepat di depan Mas. Kilatan cahayanya bener - bener bikin silau." Kata Arjuna.
"Kamu tau apa yang Mas lihat waktu mas buka mata karena khawatir kamu kesampir petir?" Tanya Arjuna kemudian.
"Mas lihat petir - petir itu terus menyambar ke arahmu, tapi kamu biasa aja, Dek. Bahkan kamu gak menggigil lagi. Ada seperti perisai yang gak kelihatan yang melindungi kamu. Perisai itu seolah nyedot setiap petir petir yang menyambar ke badanmu." Cerita Arjuna yang membuat Meshwa menganga saking kagetnya.