Reysha, gadis SMA yang menyelinap ke sekolah lain dengan menyamar sebagai instruktur cheerleader karena kecintaanya pada cheerleader. Disana dia justru bertemu Lukar, cowok yang pernah mempermainkannya lewat sebuah taruhan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Kita_1
Reysha dan Yuki yang ikut mendengar pembicaraan barusan tersenyum.
Yuki membenahi anak rambut yang jatuh di telinganya.
"Aku penasaran gimana kakak bisa jadi pelatih cheer SMU 21? Kan sama sama pelajar..." tanya Yuki setelah lihat kanan dan kiri.
"Panjang ceritanya..." Reysha malas bercerita.
"Idih...gak mau cerita itu namanya."
"Gitu deh." Reysha menyeruput air mineral dari sedotan. Cerita soal kenapa bisa Reysha sampai di SMA 21 memang panjang. Itu terjadi satu bulan sebelum jadian sama Diko.
"Yes! Bagus Gi!" Aris menghampiri Ugi yang berhasil melempar bola masuk ke keranjang dengan baik. Lalu sedikit meloncat melingkarkan lengannya ke leher Ugi. Di beri sikap penuh cinta seperti itu Ugi hanya tersenyum angkuh. Seperti kepiawaiannya bermain basket adalah hal sepele. Itu sudah sewajarnya dia bermain bagus. Sesaat sekelebat bayangan masa indah yang sudah berakhir itu lewat. Menelusupi relung hati yang masih sedikit sesak. Menapaki sela sela otak, mengajak untuk kembali mengingat.
Bayangan Reysha melayang ke waktu lampau.... Sama seperti saat ini, berdiri di pinggir lapangan basket.
Cerita Kita
Terdengar keramaian di lapangan basket sekolah. Sepertinya ada tontonan yang menarik disana. Tujuan Reysha sebenarnya ke kantin. Makan. Perutnya keroncongan. Tapi Emil dari tadi heboh mau lihat cowok main basket katanya. Kayak anak kecil yang merengek minta di belikan mainan.
"Ayo dong Rey, kita lihat. Sebentar aja." Reysha yang lapar ingin segera menyantap makanan akhirnya mau juga ikut. Lantaran Emil memberikan roti sandwichnya untuk sekedar mengganjal perut Reysha. Emil setengah menyeret tubuh temannya itu mendekat ke pinggir lapangan basket.
Duk! Barusan saja sampai, sebuah bola basket mendarat di depan mereka berdua. Bergulir pelan tepat menyentuh sepatu Reysha. Seorang cowok mendekati mereka. Entah kenapa cewek-cewek di baris sebelah heboh. Dan tangan Emil berkali-kali menarik seragam putih Reysha.
Merasa risih, kedua mata Reysha melihat ke samping dengan tajam. Melihat jari-jari tangan yang lembut itu menyentuh kemejanya.
"Permisi." suara cowok yang sudah tiba di depannya mengusik. Bola matanya teralih melihat ke arah cowok tinggi itu. Bersamaan dengan itu tangan Emil berhenti menarik bajunya.
"Mau ambil bola," ujarnya sambil memandang Reysha dengan tatapan aneh. Tidak sama dengan kebanyakan cowok yang biasa memandangnya.
"Eh, iya." Reysha memungut bola dan menyerahkan ke cowok dengan rambut cepak rapi itu.
"Dik! Lama amat ambil bolanya!" teriak cowok-cowok di belakang sana. Dia kasih kode sebentar ke teman-temannya.
"Terima kasih ya," katanya dengan senyum menawan. Hahahaha....Reysha baru ngeh ini cowok menawan yang di omongin Emil kapan hari. Reysha mengangguk. Dan langsung noleh ke Emil yang menatapnya takjub.
"Aku tidak perlu di tatap dengan penuh cinta seperti itu. Hentikan." Reysha mengibaskan tangannya.
"Dia cowok yang kamu bilang itu?" tanya Reysha kemudian. Emil mengangguk kuat. Menandakan memang dia. Reysha lihat ke lapangan. Ke arah mereka yang semakin asyik memainkan bola basket. Entah di sengaja atau tidak, setelah cowok tadi berhasil menshoot dengan baik dan mencetak skor. Kepalanya bergerak melihat ke pinggir lapangan dan senyumnya mengembang. Satya yang satu kelas dengan mereka, melingkarkan lengannya ke leher cowok tinggi itu.
"Dia senyum ke kamu, Rey." Emil jadi girang. Reysha melihat kanan dan kiri merasa senyum itu bukan untuk dia. Karena banyak anak yang berdiri di sekitar. Permainan berakhir karena mereka sepertinya sudah lelah.
"Tidak." Reysha yakin. Anak-anak cowok itu otomatis juga membubarkan penonton yang setia menemani pertandingan mereka. Saat cowok itu melintas, Reysha masih berdiri di sana dengan Emil. Masih membicarakan cowok yang bernama Diko Pratama itu.
"Beneran. Aku yakin dia senyum ke kamu kok."
"Bukan."
"Bener kok. Aku memang senyum ke kamu." Tanpa di sangka cowok itu menjawab keraguan Reysha. Deg! Dia sudah ada di sebelah Reysha. Emil mendelik kaget dan takjub. Sekali lagi tatapan matanya berbeda. Sorot mata itu seperti begitu bahagia bisa bisa ngobrol dengan Reysha.
"O." karena gelagapan Reysha merasa sudah di beri jawaban, dengan bereaksi seperti itu. Cowok itu tersenyum lagi.
"Diko." Deg! sekali lagi jantung Reysha berpacu lebih keras. tiba-tiba dia mengulurkan tangan sambil menyebut nama. Padahal Reysha sudah tahu nama itu dari Emil yang terus menerus membicarakannya. Reysha melihat tangan yang terulur lalu beralih ke atas. Ke arah wajah cowok ini yang ternyata setelah di amati, ganteng. Mata Reysha mengerjap beberapa kali. Emil menowel pinggang Reysha supaya tersadar dari ke terkejutannya.
"Reysha," jawab Reysha akhirnya dengan kegugupan yang gak masuk akal. Soalnya beberapa menit tadi enggak apa-apa, sekarang tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang mengalir di dalam relung hati. Hangat dan menyenangkan.
.
.
.
.
"Bisa kau berikan bola itu?" tanya seseorang dengan sikap enggannya mengusik Reysha yang masih terbawa angin kenangan masa lalu.
"Bisa kan?" tanya dia lagi seperti enggak sabar. Karena Reysha tak bereaksi. Seakan terus takjub memandang ke arah cowok yang memakai kaos warna putih itu.
"Hei, Kak Reysha!" teriakan ini menyadarkan lamunan Reysha. Dan tersadar akan keberadaan cowok yang masih di depannya itu. Reysha melihat ke bawah kakinya. Ada bola basket di sana. Lalu mendongak ke atas. Otak Reysha langsung tanggap akan kebodohannya barusan. Badannya membungkuk dan mengambil bola itu dengan segera.
"Maaf," ujar Reysha sambil menyerahkan bola itu. Cowok itu menerima sodoran bola Reysha sambil memindai cewek yang di sebut teman-temannya pelatih cheer itu. Lalu kembali menuju ke tengah lapangan lagi.
Dari pintu keluar lapangan basket muncul Fika. Entah kapan anak itu enggak berada di sini. Dia datang membawa selebaran.
"Ada apa Fik?" tanya Yuki.
"Dapat ini dari Pak Totok." Fika menyerahkan selebaran yang ternyata isinya ada lomba 'Basketball and cheerleading competition'. Reysha membacanya.
"Asyik! Ada lomba lagi," kata Yuki begembira. Fika menyimak dengan gembira juga.
"Ayo, ayo kita berkumpul." Yuki mengomando teman-temannya. Semua berdiri dan berkumpul membentuk lingkaran. Masih di pinggir lapangan.
"Aku dapat selebaran soal lomba. Jadi kita bakal sibuk sama latihan karena lomba ini. Jadi persiapkan diri kalian. Makannya harus banyak ya...biar saat kompetisi kita fit." terang Reysha.
"Kalau pacaran gimana, Kak?" tanya Yola ngebanyol.
"Kalian kalau mau berhenti pacaran dulu enggak apa-apa. Malah bisa lebih fokus latihan..." Reysha menyambut ide itu. Yang lain langsung rame pada protes ide konyol Yola. Tuh anak nyengir aja.
"Kali ini kita harus nambahin beberapa atraksi atau koreo baru. Untuk yang punya ide ayo di utarakan. Jadi bisa kita diskusikan bareng.."
Soal ini Reysha sangat terbuka. Tidak harus mutlak semua ide dari dia. Walaupun pada beberapa hal memang enggak bisa di ganggu gugat. Dia mencoba menjalin hubungan yang enggak kaku. Karena bagaimanapun Reysha sama seperti mereka yang masih pelajar. Semua anggota bisa berpartisipasi menyumbang ide. Dengan begitu mereka akan merasa punya andil membentuk tim yang solid. Juga akan lebih berusaha semaksimal mungkin, karena dalam tim ini ada karya mereka.
B.e.r.s.a.m.b.u.n.g
gamu thor pokoknya reysa hrs sm lukar
sedih smpe trauma liat judul ni gmw baca gy uda kadung baper😩