Bak di sambar petir di siang bolong Nara Hanggini harus menerima takdir bahwa dirinya menjadi wanita pengganti di sebuah pernikahan sahabatnya,kejadian buruk menimpa Risha 1 hari sebelum pernikahannya dengan Dirgan.
selama pernikahan Nara melakukan tugasnya sebagai seorang istri walaupun dirgan membencinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nrl Aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKC-26
Nara menanyakan siapa orang-orang yg di lihat oleh anaknya.
"Apa mereka sudah pergi mas? Siapa mereka?"tanya Nara.
"orang suruhan Dirgan,mereka mencari siapa yg meneror mereka."jelas Raka.
"bunda aku ngantuk."rengek Devan menggoyangkan tangan Nara.
"ya sudah kamu ke kamar sekarang."pinta Nara berjongkok di hadapan Devan.
"selamat malam bunda,papa."ucap Devan sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"malam sayang."jawab Nara dan Raka bersamaan.
setelah itu Nara dan Raka juga masuk ke dalam kamarnya.
"kenapa seolah kejadian ini kesalahanku,aku ingin membuka sebuah fakta dan menyadarkan Dirgan,tapi sayangnya Dirgan belum juga paham."ujar Nara di depan cermin.
"Dia yg bodoh karena mau bertahan dengan wanita licik seperti Risha,kalau aku Lihat Dirgan tau kalau Risha bertingkah kelewatan tapi kadang tetap di bela."saut Raka sembari membuka jasnya.
hari sudah larut malam waktunya semua orang istirahat dari aktivitas yg melelahkan.
*****
Setelah sarapan Nara menunggu Devan untuk berangkat sekolah.
"aku sudah siap."teriak Devan dari arah kamar.
"ini bekalnya nanti di makan ya."pesan Nara memasukkannya ke dalam tas Devan.
"terima kasih bunda."ucap Devan melihat Nara.
"sama-sama."jawab Nara.
Devan berlari ke kamar Nara untuk memanggil Raka yg masih belum keluar.
"papa,cepat nanti Devan yg tampan ini telat."ujar Devan di depan pintu kamar.
"wah apa katanya tadi? Devan tampan? Coba Liat dimana letak ketampanannya."ucap Raka sembari menggendong Devan.
"ishhh,cepat."rengek Devan.
Dirgan baru saja keluar dari rumahnya untuk menuju sekolah Devan,Dirgan tau tentang informasi Nara dan Devan lewat orang suruhannya.
"pantesan saja udah seminggu gk dengar kabarnya,ternyata Nara baru keluar dari rumah sakit."gumam Dirgan fokus menyetir.
sedangkan Risha juga baru saja selesai bersiap untuk keluar, pagi-pagi Risha sudah sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
"ini masih pagi Risha,mau kemana kamu?"tanya Bu Yuni dari arah dapur.
"ketemu teman-teman aku ma,kenapa sih?"saut Risha di ruang tamu.
"kamu gk ada kerjaan lain apa,tiap hari ketemu mereka terus."tegur Bu ayu.
"udah ya ma,ini masih pagi gk usah ngajak ribut terus."protes Risha mengambil tasnya.
Bu ayu hanya menggelengkan kepala saja saat berhadapan dengan Risha.
Nara dan Raka sampai di sekolah Devan,Devan menjadi pusat perhatian saat melihat Nara dan Raka.
"sekolahnya yg pintar,jangan nakal dan belajar yg benar."pesan Raka mengusap kepala Devan.
"siap pa."jawab dengan mengambil tasnya dari tangan Nara.
"Hai Devan.."
"Digo.."sapa Devan kepada temannya.
"mereka orang tua kamu?"
"Iya mereka bunda dan papa aku."jawab Devan memperkenalkan Nara dan Raka.
"hai om,Tante."
"hai nak,kamu temannya Devan ya?"tanya Nara mengusap pipi anak itu.
"iya Tante,Devan baik banget sering berbagi bekalnya sama aku saat istirahat,Tante sama om gk marah kan?"
"kenapa harus marah,justru kita senang kalau Devan sering berbagi makanan."saut Raka.
Devan menarik tangan papa dan bundanya lalu membisikkan sesuatu kepada mereka.
"Digo tdk punya orang tua sering di jauhin teman-teman,kasian dia pa tinggal di rumah titipan."bisik Devan.
"maksudnya panti asuhan?"tanya Nara kepada Devan.
"iya bunda,biasanya di antar sama ibu-ibu yg jaga dia."jelas Devan.
Digo menundukkan kepalanya menunggu Devan berbicara dengan Nara dan Raka,lalu kembali menghampiri Digo.
"Digo sekarang bawah bekal gak?"tanya Nara menunduk.
Digo hanya menggelengkan kepalanya dan menunduk saja.
"nanti makan sama aku lagi ya Digo,hari ini bunda bawain aku banyak banget nanti kita makan sama-sama."ujar Devan merangkul Digo.
"Digo kalau Tante boleh nanya,kamu tinggal dimana?"tanya Nara dengan Nada lembut.
"Di panti sentosa Tante."jawab Digo pelan.
"orang tua kamu?"tanya Raka.
"udah meninggal kecelakaan."jawab Digo sedih.
"Udah jangan sedih nanti kita jemput kamu dari panti biar bisa main ke rumah sama Devan,nanti pulang sekolah tunggu Tante sama om di panti ya."ujar Nara sembari memeluk Digo.
"sudah sana masuk,sebentar lagi bell."ucap Raka pada Digo dan Devan.
mereka langsung mengangguk dan masuk sembari bergandengan tangan,Nara terus menatap mereka berdua.
"ayo sayang."ajak Raka merangkul Nara.
tapi saat ingin masuk ke dalam mobil Raka dan Nara di kagetkan sedangkan sebuah mobil yg berhenti tepat di depan mobilnya.
"Nara.."
Dirgan keluar dari mobilnya menghampiri Nara dan Raka.
"ada apa?"tanya Nara cuek.
"kenapa Lo ke sini?"tanya Raka berdiri di samping Nara.
"aku dengar kamu baru keluar dari rumah sakit,sakit apa?"tanya Dirgan menatap Nara.
"bukan urusan kamu!"ketus Nara.
Risha mengendarai mobilnya tapi matanya tertuju pada Mobil Dirgan yg berada di tepi jalan.
"m-mas Dirgan,ngapain dia nemuin Nara sih!"kesal Risha memberhentikan mobilnya.
Kesal dengan pertemuan Nara dan Dirgan bergegas Risha keluar dari mobilnya.
"Nara,dasar wanita gk tau malu,kenapa kamu terus mengejar Dirgan? Dia sudah punya istri Nara!"hina Risha berjalan ke arah Mereka.
"Risha,kenapa kamu ada di sini?"kaget Dirgan menatap Risha.
"dengar ya Nara sampai kapanpun aku gk akan pernah biarin kamu mendekati mas Dirgan lagi,karena sampai kapanpun hanya aku yg bisa memilikinya."jelas Risha kepada Nara.
"jaga mulut kamu perempuan gk tau diri dan jangan sekali-kali kamu menghina istri saya,Suami kamu yg menghampiri kami di sini dan lagi pula untuk apa istri saya mengejar pria brengsek ini."tegas Raka membela Nara.
"seharusnya kemarin kamu mati di jurang itu Nara."ucap Risha dengan tdk sadar.
"bagaimana kamu tau istri saya kecelakaan dan masuk ke dalam jurang? Apa kamu pelakunya?"pancing Raka memojokkan Risha.
"dasar bod*h malah buka rahasianya sendiri."gumam Nara pelan.
Kesal dengan perkataan Nara membuat Risha hampir melayangkan tamparan,beruntung dengan cepat Nara memegang tangan Risha dan memberikan tamparan keras ke pipi Risha.
PLAKK..PLAKK!!
Risha jatuh tersungkur karena tamparan Nara dan memegangi menahan sakit.
"jangan pikir aku takut sama kamu,justru semakin kamu bertindak gila maka semakin aku akan membuat kamu menderita."tegas Nara memegang kuat rahang Risha.
"Nara cukup,kamu gk lihat Risha sedang mengandung anakku."protes Dirgan membantu Risha.
"m-mas perut aku sakit."Ringis Risha memegangi perutnya.
"kamu benar,dia hamil tapi anak pria lain bukan anakmu."jawab Nara membuat Dirgan kaget.
"m-mas jangan percaya,Dia cuma mau balas dendam sama kita berdua."bohong Risha memojokkan Nara.
"tentu saja istriku akan balas dendam karena dulu kamu merusak kebahagiaanya,sekarang gimana? Apa kalian sudah cukup sadar dengan kesalahan kalian."saut Raka yg sejak tadi diam.
"Risha..Risha...aku tdk serendah Dan tdk sebodoh kamu,bukankah yg aku katakan benar kalau itu anak pria lain,Faldi ya ayah anak itu bernama Faldi asisten suami kamu."tegas Nara menunjuk Dirgan.
Setelah mengatakan hal itu Nara menarik tangan Raka untuk pergi,Dirgan terdiam mendengar apa yg di katakan oleh Nara.