Jia harus menerima takdir yang digariskan Tuhan untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Semua itu atas permintaan majikannya Tuan Jaya.
Untuk membalas kebaikan Tuan Jaya, Jia menerima permintaan itu. Namun siapa sangka pria yang akan ia nikahi bukan pria sembarangan. Ia adalah seorang pengusaha muda dan pewaris terkaya di negeri ini.
Berharap mendapatkan kebahagiaan dengan Pria bernama Reno Bara, ternyata Jia hanya di jadikan pelampiasan hasrat dan pembantu gratis di rumah nya. Itu karena Reno merasa dirinya di tipu oleh Tuan Jaya dan akhirnya melampiaskan dendam nya pada Jia. Reno terus menyiksa Jia baik fisik maupun batin.
Mampu kah Jia bertahan bersama Reno? Atau justru memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaan nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Kabur
"Kau mau meminumnya sendiri atau aku paksa!" Sengit Ambar dengan wajah bengisnya.
Ambar sudah akan mendekatkan sebuah botol kecil ke mulut Jia. Namun perempuan itu segera berkata.
"Tunggu!"
Mendengar itu Ambar menghentikan gerakannya.
"Baiklah, saya akan meminumnya. Tapi anda harus berjanji untuk tidak menyakiti saya." ucap Jia.
"Tentu saja, kau akan baik-baik saja. Selama kau patuh dan menuruti semua perintahku. Bagaimana?" tanya Ambar yang membuat Jia mengangguk.
"Baik Nyonya, saya akan mengikuti semua perintah anda. Lagi pula saya juga tidak ingin mengandung anak dari Kak Reno."
"Bagus, jadilah anak baik dengan menuruti semua keinginanku. Sekarang kau cepatlah minum obat ini sampai habis. Dea Wati kalian lepaskan dulu tangan Jia." titah Ambar.
"Apa Tante yakin?" tanya Dea seakan sulit untuk bisa mempercayai perkataan Jia.
"Jangan takut Dea. Dia hanya perempuan lemah. Tidak mungkin mampu untuk melawan kita. Jadi lepaskan saja!" jawab Ambar dengan begitu percaya diri.
Dea segera melepaskan cengkramannya pada tangan Jia. Meski ia tidak merasa yakin. Namun membantah perintah dari Ambar juga bukan pilihan yang tepat.
"Cepat minum obatnya!" hardik Ambar sembari menyodorkan sebuah botol kecil kepada Jia.
Jia menerima botol itu dengan ragu. Namun perempuan itu tetap melakukan seperti apa yang di perintahkan Ambar kepadanya.
"Ayo cepat minum tunggu apa lagi!" Seru Dea dengan tidak sabaran.
Berita tentang kehamilan Jia membuat Dea hampir gila. Perempuan itu baru saja pulang saat Ambar memberitahu kabar itu. Mood Dea yang sedang buruk memikirkan bagaimana untuk mendapatkan Reno kembali, bertambah hancur mendengar berita kehamilan Jia.
Dea tentu saja tidak terima jika Jia berhasil melahirkan keturunan Reno. Itu berarti harapan untuk bisa menikah dengan Reno semakin mustahil untuk di wujudkan. Sehingga Dea langsung menyetujui rencana Ambar untuk melenyapkan janin yang ada did dalam rahim Jia sebelum Reno tahu.
"Ayo cepat! kenapa kau lelet sekali!" Dea dan Ambar merasa geregetan sendiri. Melihat gerakan Jia yang sangat lamban. Membuat kedua wanita itu ingin segera meminumkannya secara langsung pada Jia.
Dengan perlahan tapi pasti, Jia semakin mendekatkan obat itu ke mulutnya Hingga.
Byuurr.
Jia tiba-tiba menyiram obat itu ke wajah Ambar hingga wanita itu menjerit kesakitan.
"Auw perih mataku. Apa yang kau lakukan perempuan sialan!" pekik Ambar kesakitan karena obat yang di lepaskan Jia telah mengenai matanya.
Kesempatan itu di gunakan Jia untuk kabur dari dalam ruangan itu. Namun Dea dan Wati berusaha menghalanginya.
"Mau pergi kemana perempuan kurang ajar. Kau tidak bisa kabur dari kami." Sengit Dea.
"Wati cepat tangkap dia!" Seru Dea karena Jia yang telah berhasil menggapai pintu.
Wati langsung menarik rambut Jia dari belakang, membuat perempuan hamil memekik kesakitan namun dia harus melawan demi keselamatan diri dan bayi nya.
"Lepaskan!"
Jia berusaha melepaskan tangan Wati dari rambutnya.
"Tidak akan! enak saja!" hardik Wati begitu emosi. Jia melihat Dea masih sibuk membantu Ambar karena terkena cairan obat. Sehingga membuatnya berusaha keras untuk melepaskan diri dari Wati.
"Aku bilang lepas!"
"Jangan harap."
Entah dapat kekuatan dari mana, tiba-tiba Jia berhasil mendorong tubuh Wati hingga terpental jatuh ke belakang. Tubuh perempuan itu langsung jatuh membentur lantai.
"Aduh!" pekik Wati kesakitan.
Melihat Wati yang terduduk di lantai. Dan Dea juga yang masih sibuk dengan Ambar. Jia bergegas membuka pintu kamarnya dan berlari keluar dari ruangan itu.
"Tunggu! Jia kau mau kemana?" Teriak Dea yang berusaha untuk menghentikan Jia.
"Wati apa yang kau lakukan! cepat! kejar perempuan itu!" pekik Dea kepada Wati.
"Ba-baik Nona."
Dengan menahan rasa sakit di pinggang Wati memaksakan diri untuk mengejar Jia yang sudah berada jauh di depannya.
Sementara Jia sendiri tampak berlari menuruni tangga. Tidak ada yang bisa dia pikirkan selain pergi meninggalkan rumah agar bisa menyelamatkan janin nya. Jia tidak rela jika orang-orang jahat itu berbuat buruk kepada calon bayi nya.
Jia terus berlari hingga sampai pintu gerbang. Para penjaga keamanan tampak bingung melihat keadaan Jia yang sangat berantakan. Nona majikannya itu terlihat kacau. Dan seperti nya tidak sedang baik-baik saja.
"Buka pintu gerbangnya cepat!" titah Jia.
Namun para penjaga masih melongo melihat nya."
"Aku bilang buka! sebelum mereka berhasil membunuhku." hardik Jia emosi.
"Tapi nona."
Para penjaga keamanan masih terlihat ragu untuk membuka pintu gerbang. Karena sekarang sedang hujan deras.
"Aku bilang buka!"
Kali ini Jia sudah kehilangan kesabaran. Perempuan itu takut kalau Wati akan berhasil mengejarnya.
"Baik Nona."
Pintu gerbang berhasil di buka, tepat di saat Wati muncul dari balik pintu dan berteriak.
"Jangan biarkan perempuan itu pergi."
Namun terlambat, karena Jia sudah berhasil keluar dari gerbang. Para penjaga pun tidak mungkin lagi bisa mengejarnya.
"Bodoh! kenapa tidak di kejar?" Teriak Wati dengan sangat marah. Dia sudah kehilangan Jia. Bagaimana dia bisa menjelaskan nya kepada Ambar.
Di sisi lain, Jia merasa takut Ambar dan Dea menyakiti calon anaknya terus berlari tak tentu arah. Dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari kediaman Reno Bara beserta dengan orang-orang toxic di dalamnya.
Jia lari dan terus berlari tak tentu arah, hingga dari arah berlawanan dia melihat cahaya terang yang berasal dari lampu mobil yang melintas.
Jia menutup wajahnya dengan tangan, demi menghalau silau cahaya yang menerpa. Jia yang sudah kehilangan banyak tenaga langsung pingsan di tempatnya berdiri dan tidak mengingat apa-apa lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lama lama up-nya pls
biar reno berjuang tapi jgn pisah kan mereka..biar kan mereka bersatu
Masak iya fania dan ibunya yg bnr2 dalang kejahatan nya di maafkan begitu sajaa..lalu bagaimana dgn reno yg menjadi korban mereka