Hidup Wati tidak pernah baik-baik saja. Ia yang sudah ditinggalkan oleh ayahnya sejak dari kecil harus kehilangan ibunya saat baru mulai beranjak dewasa.
40 hari setelah ibunya meninggal Wati mulai mengalami kejadian-kejadian aneh. Ia kerap didatangi sosok perempuan berambut panjang bergaun putih. Sampai akhirnya ia tahu penyebab kematian ibunya yang janggal.
Wati ditakdirkan untuk menjadi seorang pahlawan super di dunia supranatural.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bala Bantuan
Respon yang sangat cepat.
Hari itu juga Wati pergi ke markas departemen gaib. Sebelumnya ia telah memberitahukan masalah yang sedang dihadapinya kepada Hamka.
Wati membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan Salima yang sedang ditawan di Kerajaan Genderuwo.
Departemen Gaib melalui Hamka merespon situasi ini dengan tanggap. Mereka sudah menyiapkan petarung terbaik yang tersedia untuk misi membantu Wati membebaskan Salima.
Ngebut dengan motor berisiknya Wati tiba di markas departemen gaib. Sebuah gedung kosong yang sudah terkenal angker.
Wati langsung naik ke atas.
Di lantai bangunan yang dijadikan sebuah hangar, kandang pesawat udara departemen gaib.
Di sana sudah menunggu personil divisi lapangan yang akan bahu-membahu bersama Wati dan Gaxbot untuk petualangannya kali ini.
Ada Hamka, Idrus Khas alias Manusia Tengkorak, dan Jihan.
Jihan menyambut Wati dengan pelukan.
“Tenanglah semua akan baik-baik saja”, ucap Jihan melihat kondisi Wati yang begitu gusar.
“Tenang saja gadis manis”,
“Aku akan membebaskan jin pendampingmu hidup-hidup”, janji Idrus Khas.
“Ayo kita naik”,
Hamka mengajak anggotanya masuk ke dalam pesawat yang didesain khusus untuk divisi lapangan departemen gaib dengan segala kecanggihan dan keistimewaannya.
Hamka sendiri yang akan mengemudikan pesawat tempur itu.
Pilot utama dari pesawat ini adalah Lavi. Tapi sekarang ia sedang ada misi bersama Akbar.
Mesin sudah dinyalakan. Tapi Hamka belum juga menerbangkannya.
“Apa kita masih menunggu seseorang?”, tanya Wati yang ingin segera berangkat.
“Ya. Kita masih menunggu. Ada yang ingin aku kenalkan kepada kalian”,
“Anggota baru divisi lapangan”,
“Ini akan menjadi misi pertama mereka”, ucap Hamka.
Mendengar pernyataan kepala divisi itu membuat benak Jihan, Wati dan Idrus Khas bertanya-tanya. Siapakah anggota baru yang dimaksud?
“Itu mereka”,
“Bukan seseorang, lebih tepatnya beberapa orang”,
Baru saja dibicarakan para anggota baru itu muncul. Hamka yang menyadarinya langsung menyuruh orang-orang itu naik ke pesawat.
“Naiklah”, lantang Hamka.
“1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8”,
Jihan menghitung orang-orang yang baru saja masuk ke dalam pesawat. Jumlahnya ada delapan orang.
Idrus Khas langsung protes,
“Siapa anak-anak ini?”, tanya Idrus Khas.
Sambil menerbangkan pesawat Hamka menjelaskan.
“Mereka adalah santri-santri dari pondok pesantren”,
“Mereka sama seperti kita. Indigo”,
“Kemampuan mereka juga sudah terlatih. Dari kecil mereka sudah belajar silat”,
“Mereka siap bertarung”, jelas Hamka.
Mereka adalah anak-anak dengan rentang usia 13 sampai 17 tahun. Mereka semua masih berstatus sebagai pelajar.
Kedelapan anak-anak yang semuanya laki-laki itu pun memperkenalkan dirinya satu per satu. Mereka terlihat sopan dan ramah.
Tapi dibalik itu mereka juga tangguh dan sakti.
Mereka telah ditempa dengan serangkaian latihan dan pembekalan yang langsung diawasi oleh Hamka. Mereka adalah generasi baru untuk departemen gaib dari bangsa manusia.
“Aku tidak akan bertanggung jawab dengan keselamatan mereka”, kata Idrus Khas.
“Kau tidak perlu khawatir. Mereka sudah siap. Aku yang akan mengkoordinasi mereka”, jawab Hamka.
Anak-anak itu tampil dengan penuh percaya diri. Fisik mereka tampak kuat. Mereka juga kompak dengan memakai seragam silat berwarna serba hitam.
Jihan dan Wati senang dengan bergabungnya anak-anak itu. Mereka berdua yakin tunas-tunas muda itu kedepannya akan sangat berguna untuk departemen gaib dan untuk umat manusia.
“Semangat adik-adik”,
“Ingat jangan sampai mati terbunuh”, Jihan menyemangati para juniornya.
“Terimakasih kakak”, kedelapan anak itu serempak menjawab.
Pertimbangan Hamka.
Koloni genderuwo adalah bangsa jin yang sebetulnya enggan untuk bersinggungan dengan siapa pun. Parahnya mereka juga tidak memiliki keyakinan.
Selain untuk menyelamatkan Salima yang merupakan anggota dari departemen gaib. Hamka memanfaatkan momen ini untuk menyingkirkan kerajaan genderuwo.
Hamka juga telah berkonsultasi dengan pemimpin tertinggi di departemen gaib.
Hasilnya adalah memang lebih baik jika tempat gaib seperti kerajaan genderuwo yang memiliki cukup banyak penduduk untuk dilenyapkan. Supaya tidak menimbulkan masalah yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Sedangkan untuk kemampuan bertarung. Genderuwo-genderuwo yang berstatus sebagai rakyat biasa tidaklah sulit untuk ditaklukan.
Itulah pertimbangan Hamka mengajak delapan anak-anak untuk latihan terjun langsung ke dalam pertempuran.
Mengenalkan kepada mereka secara langsung bagaimana situasi di dunia gaib yang sesungguhnya. Dan sekaligus untuk mengasah dan menguji mental para anggota baru yang masih berusia belia.
Untuk melawan prajurit-prajurit kerajaan genderuwo biarlah dirinya, Jihan dan Idrus Khas yang maju. Sementara untuk Raja Genderuwo itu jatah Wati dan pedang keramat yang selalu menyertainya.
Hamka optimis dalam misi ini. Ia juga telah mendapat konfirmasi dari Wati bahwa bala bantuan dari Kerajaan Kuntilanak sedang dalam perjalanan.
*
Penyu Raksasa mengarungi lautan gaib.
Dengan kecepatan tinggi dan lajunya yang gagah berani. Menerjang derasnya arus dan hantaman ombak.
Penyu Raksasa jin tua kawan Salima. Ia mengambil jalur yang paling cepat untuk sampai di lokasi tujuan.
Saat ini ia sedang mengantarkan rombongan pasukan. Petarung-petarung hebat yang berasal dari Pulau Gaib.
Pasukan gabungan yang terdiri dari prajurit-prajurit terbaik Kerajaan Kuntilanak dan para pendekar sakti siluman kucing dari koloni siluman kucing di hutan belantara.
Di dalam tempurung Penyu Raksasa mereka sudah tidak sabar ingin segera bertempur.
Rosa kuntilanak merah dan Raja Jonjon kucing putih memimpin mereka.