Di saat suasana yang kurang baik akibat kena PHK, seorang gadis bernama Alena malah melihat orang yang hendak bunuh diri.
Namun, bukannya berhasil menyelamatkan malah Alena terjun bebas dari atas gedung tersebut. Alena pasrah saat merasakan dirinya yang sudah tidak berdaya, namun ternyata Alena malah masuk ke dalam sebuah Novel yang sangat dia sukai.
Meski dia tidak suka akhir dari novel itu, tapi dia sangat menyukai sosok antagonis yang berakhir mengenaskan itu. Yah mungkin karena namanya dan nama antagonis itu sama.
Tunggu! Alena kini tersadar dalam tubuh antagonis? Bagaimana bisa? Sedangkan akhir mengenaskan kini berada di hadapannya.
Bagiamana Alena bisa lolos dari maut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Seorang bayi perempuan, mata Bintang langsung berbinar saat dia hendak melihat calonnya. Calon apa? Ah entahlah, entah Bintang akan jadi kakak ataupun menjadi penjaga, yang jelas Bintang sangat bersyukur saat bayi kecil itu lahir.
"Eit! Mau apa?" Mattias menutup mata Bintang yang hendak melihat putrinya, wajah Bintang langsung memerah dan memalingkan wajahnya kesal.
"Dia itu bayi perempuan, kamu laki-laki. Mana boleh melihat sembarangan!" Ucap Mattias berubah menjadi ayah yang begitu posesif.
Orang-orang di sana hanya menggeleng melihat tingkah Mattias yang memang agak keterlaluan. Alena terkekeh saat bayi kecilnya sudah bersih dan di tidurkan di dekatnya.
"Wah, cantiknya!" Puji Bintang hendak memeluk bayi kecil itu yang langsung di halangi oleh Mattias.
"Jangan peluk-peluk sembarangan, dia itu bayi perempuan Bintang!" Ancam Mattias dengan tatapan tajamnya, Alena menggelengkan kepalanya. Mattias bahkan tak tega menyentuh bayinya sendiri dengan tangannya yang kasar.
"Biarkan saja sayang, Bintang juga bahagia." Ucap Alena, Bintang menganggukkan kepalanya setuju.
"Tapi dia ini putri ku sayang, mana boleh laki-laki lain menyentuhnya sebelum aku?" Ucap Mattias posesif, Alena hanya menggelengkan kepalanya melihat ayah satu itu.
"Yasudah, gak papakan sayang. Kasihan Bintang, lihat matanya sampai berbinar-binar gitu." Ucap Alena membela Bintang yang sudah gemas ingin melakukan banyak hal dengan bayi kecil itu.
"Baiklah, awas kalo macam-macam!" Ancam Mattias menodongkan jari telunjuknya. Bintang mengangguk senang dan langsung duduk di tepi ranjang.
"Halo adik bayi? Siapa namanya?" Tanya Bintang, mata mereka akhirnya bersitatap keduanya seolah mengerti dengan tatapan saja.
"Aku Bintang, selamat datang di dunia." Ucap Bintang dengan manisnya, wajah manis dengan mata merah itu mengingatkan Alena pada sosok gadis bermata merah yang menyelamatkan mereka 8 bulan lalu.
"Namnya Alix Altair. Alix artinya bangsawan, meski aku tidak berharap demikian, tapi aku memiliki harapan akan dia memiliki sikap baik dan tenang layaknya bangsawan." Ucap Mattias dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Namanya indah sekali, hai Alix?" Sapa Bintang, Alix tersenyum dengan mata yang tak berpaling dari Bintang.
"Alix, kenapa menatapnya seperti itu? Ayah cemburu nih!" Mattias protes, namun mata Alix tetap setia memandang ke arah Bintang.
"Bayi baru lahir mana bisa melihat sayang, dia hanya mendengar Bintang berbicara saja." Tambah Alena, Mattias yang semula dalam mode cemberut akhirnya kembali tersenyum.
"Alix memang menatap ku ko Bu, lihatlah matanya indah sekali." Puji lagi Bintang, Alena menggelengkan kepalanya merasa gemas.
"Iya, matanya indah. Seperti milik siapa hayo?" Tanya Alena dengan senyum di bibirnya.
"Seperti mawar di taman Bu, indah sekali." Puji lagi Bintang dengan mata yang tak mengalihkan pandangannya.
"Ck, bocah ini!" Pekik Mattias merasa kesal sekaligus cemburu. Jelas-jelas mata Alix sama persis dengan miliknya,Bintang justru mengatakan bila mata Alix mirip dengan mawar.
"Iya, indah bukan?" Tanya lagi Alena merasa takjub dengan kecantikan putrinya sendiri. Mattias tersenyum bangga mendengar pujian itu, karena secara tidak langsung Alena dan Mattias saat ini tengah memuji mata Alix yang sama persis dengan miliknya.
"Sangat indah Bu," Jawab Bintang, semua orang merasa tenang sekaligus bahagia dengan kedatangan warga baru mereka.
Namun, kebahagiaan itu agaknya tak bertahan lama. Sebuah berita dari perbatasan yang mengatakan bila Lapileon menyerang pada akhirnya mengharuskan Mattias untuk turun langsung ke medan perang.
"Sebelum aku pergi, aku ingin menyampaikan wasiat ku pada tanah Altair. Di masa depan Bintang yang merupakan salah satu anggota keluarga ku akan di angkat menjadi Duke Udon dari pegunungan Udon. Selama aku pergi, kekuasaan aku serahkan pada istriku." Ucap Mattias mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Alena menatap kepergian suaminya dengan tubuh dan hati yang bergetar.
"Ayah? Cepat kembali!" Ucap Bintang dengan air mata berlinang, meski dia masih kecil. Namun Bintang sudah mengerti apa yang di maksud dengan perang.
"Iya, jaga ibu dan Alix untuk ku ya?" Pinta Mattias, Bintang menggelengkan kepalanya.
"Tidak ayah, ayah harus kembali dan menjaga kami, kami akan menunggu ayah pulang." Ucap Bintang denan berat hati membiarkan para prajurit dan para penyihir berangkat ke medan perang.
Para manusia suci membentuk benteng pertahanan terakhir. Sebuah berita mengejutkan tiba tak kala Mattias sampai di perbatasan. Air mata Alena dan keluarganya kini tengah menunggunya kembali.
"Ada apa ini?" Tanya Mattias terkejut tak kala melihat benteng kerajaan yang dia bangun kini nampak sudah porak poranda dan rata dengan tanah. Suasana mencekam terasa nyata dengan api dan asap yang mengepul ke angkasa.
"Gawat, iblis menyerang!" Teriak salah seorang prajurit yang lari tunggang langgang. Mattias seketika terbelalak mendengar itu, namun tidak membuatnya mundur selangkah-pun.
Di belakangnya kini ada keluarganya yang harus dia lindungi, tak cukup hanya kata-kata untuk membuat mereka aman. Mattias menatap sangar ke arah para iblis yang bercampur dengan prajurit Lapileon.
"Bed*ebah! Dia justru bersatu dengan musuh bebuyutan manusia. Di taruh di mana otaknya itu!" Pekik Mattias, cahaya di keningnya mulai menyala saat kuda yang dia tunggangi mulai melangkah.
Kuda itu terus melangkah hingga lari dengan kecepatan tinggi, prajurit yang berada di belakang Mattias merasakan aura luar biasa mengerikan. Sebuah tengkorak keluar dari tubuh Mattias dan membentuk sejenis perisai yang melindungi mereka.
"Seraaang!" Teriak Mattias, dengan ke dua tangan mengeluarkan pedang. Para prajurit mengikuti gerakan pemimpin mereka.
Segerombolan iblis bermata merah dengan tubuh gelap dan kepala layaknya capung itu kini nampak begitu mengerikan. Tangan para manusia bergetar hebat namun tak membuat mereka gentar.
"Untuk Altair!" Teriak Mattias, semua prajurit ikut berteriak "Untuk Altair!" Suasana mencekam kian terasa saat ujung pedang mereka mulai bersentuhan dengan lengan para iblis.
Tring!
Trang!
Suara pedang terdengar beradu, gencatan senjata kini tak terelakkan lagi. Pedang mereka tak dapat sedikitpun menyakiti iblis, Mattias tertegun melihat pedangnya yang begitu tajam tak menggores sedikitpun lengan iblis di hadapannya.
Zrak!
Iblis memangkas kaki kuda yang di tunggangi Mattias, Mattias melompat ke belakang hingga beberapa meter jauhnya. Langkah iblis itu begitu cepat hingga saat kuda itu terjatuh, iblis langsung menyerang tubuh Mattias.
Trak!
Suara pergelangan tangan Mattias sekan mau patah, para prajurit juga sudah banyak yang tewas dan terluka parah. Mattias memperhatikan seluruh bagian tubuh iblis tersebut.
Tring!
Tring!
Mattias menyerang dengan membabi buta, dengan kecepatan yang paling cepat yang di miliki Mattias. Kekuatan Mattias terkuras banyak hingga energi di tubuhnya menurun drastis.
Senyum terukir di bibir Mattias tak kala kekuatannya hampir habis, iblis itu kini menyerang Mattias dengan kekutan penuh.
Crak!
Suara leher terpenggal, ...