Anindya Basundari terbiasa menjadi tumbal keluarga semenjak perceraian orang tuanya. Kali ini, dia harus menikahi pria lumpuh menahun agar keluarga baru sang ayah tetap bisa makan. Padahal dia telah memiliki tambatan hati, seseorang yang istimewa di masa lalu.
Ketika dipertemukan pertama kali dengan Adyapi Bumandhala, Anin merasa minder karena lelaki itu terlihat tampan dari segala sisi meskipun cacat, sedangkan dia memiliki gangguan mental. Namun, sisi dirinya yang lembut, bergejolak iba. Ingin membantu pria tersebut untuk pulih.
Mereka menerima perjodohan setelah nadzor walaupun tak saling bicara. Disatukan oleh persamaan nasib, mungkinkah keduanya memiliki kisah masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. MAAF
Binar mata Anindya membola ketika pintu ruang kerja Ad terbuka. Dia melihat suaminya sedang berdiri meski mengenakan sederet peralatan penopang di kaki dan pinggang.
Cengkeraman pada lembar kerja yang dipegang Anin di belakang tubuh, kian mengetat seiring tetes air mata yang kembali turun. "Abang," lirihnya nyaris tanpa suara.
Adyapi yang berdiri menyamping menoleh ke arah pintu. Sudut bibirnya melengkung senyum meski peluh di dahi mulai menetes akibat latihan ini.
"Alhamdulillah, Dek." Masih tersenyum sumringah, Ad mencoba melepas pegangannya pada tongkat penyangga, lalu merentang lengan. "Hug me," ujarnya.
Anindya memejam, kepalanya menengadah seraya tarikan napas yang seakan mencekik leher. Langkah kaki nyonya Ad bergetar kala dia menghambur ke pelukan Ad.
Bruk.
"Jangan pergi, abaikan ucapan papa. Aku tau pasti sangat menyakitkan untukmu," bisik Ad, ikut sendu. Suaranya parau karena getir menyergap tenggorokan. "Kita sudah janji, 'kan?"
Adyapi memeluknya erat, menyandarkan kepala di ceruk leher Anindya. Dia juga sesak ketika Arno menceritakan bahwa Argan mendatangi Museum dan menekan Anin untuk menggugat cerai.
Isakan Anin terdengar, dia melingkari pinggang suaminya dan memeluk erat. Tak ingin kehilangan satu-satunya orang yang paling tahu cara memperlakukan penderita bipolar dengan baik. Tapi keadaan memaksa berlaku melawan hati.
"Maaf," jawab Anin disela tangis. Dia perlahan melepas dekapan Ad dan memandang wajah suaminya tanpa berkedip.
Lembar kertas yang dipegang sedari tadi, tak mampu dia berikan pada Ad. Tangan kanannya seakan lunglai hingga akhirnya map itu terjatuh.
Ad tahu apa isi didalamnya, dia menggeleng pelan sambil terus menatap Anindya dan mencoba meraih lengan sang istri.
"Jangan, Nin. Aku nggak mau, please," ujar Ad, menatap dengan sorot mata pilu. "Dek, kita pindah, yuk. Menjauh seperti yang kamu mau," bujuk Adyapi seraya menggenggam jemari Anin.
Anindya menggeleng. Air matanya masih jatuh tapi terlihat ketegaran di wajah ayu yang terlihat tirus.
Dia tersedu. "Orang lain dapat menikah dan punya anak dengan mudah, lalu menjalani hidup bahagia," ujar Anin masih memandang rupa Ad yang juga sendu. "Tapi, mengapa ini terasa sulit untukku?" imbuhnya bersamaan dengan tetes air mata yang perlahan turun.
Adyapi menggeleng samar. "Sayang," lirihnya hanya berucap bibir, tak ingin membantah ucapan Anin.
Anindya menarik napas panjang, dia menengadah wajah seraya menghembus sesaknya ke udara.
"Mereka nggak tahu seperti apa usahaku menjaga kewarasan. Gimana sulitnya aku mempertahankan semangat di antara tiap fase agar aku nggak kambuhan." Anin tergugu hingga bahu ringkih itu berguncang meski bibirnya mengulas senyum.
Kepala berhijab pun menunduk, jemarinya menepuk dada berharap sakit di dalam hati ikut mereda.
"Mereka nggak akan pernah paham bagaimana aku mati-matian menyeimbangkan pikiran agar baik-baik saja, sebab yang orang-orang itu lihat aku selalu diam dan menurut," ujar Anin, sambil terisak.
Adyapi menarik lengannya agar mendekat, memaksa merengkuh tubuh kuyu sang istri yang tak dia lihat hampir tiga hari ini.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari Ad, dia hanya memeluk istrinya erat meski dalam hati berkecamuk segala rasa.
Arno memilih meninggalkan pasangan Bumandhala di ruang itu. Sejujurnya dia mencemaskan kaki Ad yang lelah menopang bobot terlalu lama, tapi apa mau dikata, Anindya sedang berkeluh kesah.
Sang asisten kini sedikit paham bagaimana cara menghadapi nyonya muda. Adyapi begitu sabar meski dirinya kerap melampiaskan emosi pada si Mbul tanpa Anin tahu.
"Anda keren, Bos. Diri sendiri sakit pun masih sangat telaten dengan Anin," gumam Arno kala bersandar di dinding setelah menutup pintu ruang kerja.
Lelaki itu lantas mengirim pesan pada sang ayah, bahwa makanan perayaan ulang tahun Amanda mungkin sengaja ditukar dengan barang haram.
Sementara di dalam ruangan, suasana masih didominasi keluhan Anin sepaket dengan kesedihannya.
"Maaf atas sikap diam dan cuekku, seakan tak peduli pada Abang ... maaf atas jarak yang kucipta," katanya, saat melepas rengkuhan Ad.
Ad lagi-lagi menggeleng masih menggenggam tangan Anin. "Enggak, Dek. Nggak pake gini-ginian," ucap Ad lirih dengan tatapan memohon.
Anin menelan saliva susah payah, dia menunduk karena tak lagi sanggup menatap ketulusan di manik mata Ad. Hatinya sangat sakit.
"Meski dipersatukan di rencana indahnya Allah. Anggaplah sekarang kita bagai matahari dan bumi yang saling menjaga," lirih Anin tak lagi kuat menahan laju air mata.
"Aku cuma pengen sama kamu, Anindya!" tegas Ad, memandang lekat istrinya.
Anindya melepas paksa genggaman Ad. Dia mundur selangkah masih dengan tundukan kepala, meski Adyapi berusaha meraihnya lagi.
"Sampai bertemu lagi, di titik terbaik menurut takdir Allah." Anin mengangkat wajah, tersenyum getir melihat paras suaminya meski pandangan terhalang genangan di pelupuk mata.
"Assalamualaikum, Sayang." Anin balik badan, melangkah cepat ketika Ad berusaha menggapainya.
"Enggak, nggak boleh!" seru Ad.
Anin menarik tuas pintu dan berlari. Adyapi hendak menyusul tapi dia lupa jika kakinya telah lama berdiri dan terasa kebas sehingga tidak dapat langsung diajak melangkah.
Bruk. Ad terjatuh. "Deeeekkkkkkk!" teriaknya lantang sambil berusaha beringsut ke arah pintu.
"Bodoh, Ad! Bodoh!!" rutuknya memukuli kaki yang dia seret susah payah. Mata Adyapi pun sudah berkaca-kaca, merasa lemah sebagai suami.
Arno datang tergopoh, terkejut melihat Adyapi terduduk di lantai dan sedang berusaha bangkit. Dia pun meraih tubuh majikannya untuk bangun.
Ad menepis Arno dan mendorongnya menjauh. "Kejar Anin, kejaaarr!" pintanya setengah terisak pada Arno.
Arno tergagap bingung, tapi langsung bangun dan keluar ruangan mengikuti perintah Adyapi.
"Ya Allah." Ad tergugu, duduk di lantai seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lagi-lagi dia didera penyesalan sebab menjadi pria tak berguna. "Aaarrggg!" racaunya putus asa.
Kilatan memori kebersamaan manis mereka melintas. Ad yakin bisa mengendalikan Anin kala itu, tapi kini dibungkam fakta bahwa dirinya belum mampu dan Allah percaya menjaga Anindya.
Beberapa menit berlalu, emosi Ad berangsur membaik. Dia tak henti beristighfar, teringat pesan Anindya untuknya. "Wa alaikumussalaam, Sayang."
"Ampuni aku dan istriku, ya Robb. Aku ridhoi dia pergi dari rumah ini karena hanya sementara ... lindungi kemanapun Anin singgah," lirih Adyapi. Dia lalu berusaha bangun dan meraih kursi rodanya lagi.
Tak lama, setelah semua penopang dia lepas, Arno datang. Sang asisten menyampaikan bahwa Didi akan mengikuti kemanapun Anindya pergi tanpa menemuinya.
"Biarkan Anin tenang dulu, aku akan susul dia nanti." Adyapi meraup wajah kasar, lalu meminta Arno mengambil map yang tergeletak di lantai. "Tolong, No. Isinya apa?" ujarnya.
Arno memungut benda itu lalu menyerahkannya pada Adyapi. Dia pun penasaran apa isi di dalam sana.
Ad menarik banyak lembar kertas dari amplop. Bibirnya mengulas senyum, coretan Anindya selama dua hari di dalam ruang meditasi. Kali ini dia banyak melukis lafadz Allah dan Muhammad, meski dengan tinta hitam.
Namun, lembaran paling bawah membuat wajah tampan Adyapi dilanda murung. Anin menggugat cerai dirinya.
"Kenapa, Bos?" tanya Arno.
Ad tak lantas menjawab, dia melempar map itu ke atas meja dan hanya membawa lembar sketsa Anin lalu keluar ruangan.
Arno pun tak berani menyentuh kertas-kertas itu, dia hanya meneguk ludahnya kasar saat melirik ke atas meja.
Tepat kala akan menyusul Ad, notif ponselnya berbunyi. Pesan masuk dari sang ayah ternyata membuat Arno sangat terkejut.
Adyapi membuka kamar lalu menguncinya. Dia menuju ranjang sebab kepala mulai berdenyut hebat akibat rentetan kejadian tadi. Napas pun ikut memburu. Ad melihat bercak merah di kulit lengan mulai merebak hingga jemari, tapi dia abaikan meski tanda organ vitalnya mulai terasa abnormal.
Suara ketukan di pintu tak Ad hiraukan. Biarlah terjadi bila memang harus demikian. CEO Bumandhala pasrah, toh Anin belum tentu bersedia kembali padanya.
Tok. Tok. "Bos!"
"Booosss!"
.
.
..._____________________________...
...Allah ya Robb, Allah ya Robbi, mudahkanlah urusan kami. 🥹. Nulis ini ditemani suara Ai Khadijah kok melted....
Selamat Anin bakal jadi ibu, sehat sehat bumil sayang
Ayo para Duda semangaaatttt lupakan masa lalu..Move On 🤣🤣🤣🤣
alhamdulillah bangg ad udah bisa berdiri wlaupun pake tongkat mak lampir😅😅
kebahagiaan menghampiri kalian yang sabar akan semua cobaan...
selamat berbahagia untuk kalian bangg ad dan anin😍😍😘😘😘
ehh mom itu kisah mma manda gimana 🤔🤔
ada mas Arno 🤦