NovelToon NovelToon
Kecanduan Sama Istri Kakakku

Kecanduan Sama Istri Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duniahiburan / Cintapertama / Berondong
Popularitas:111.6k
Nilai: 5
Nama Author: Qori Maret

Aku Reza, lelaki dewasa yang belum mau menikah karena terlanjur jatuh hati sama kakak iparku.

Sifatku tegas, ramah dan penyayang. Selain itu ketampanan aku yang membuat iparku tidak bisa menghindar setiap kali aku mendekati dia.
Akankah kakakku tahu akan hubungan terlarangku dan istrinya?

Hingga suatu saat, kakakku ketahuan memiliki wanita lain, dan hal itu membuat istrinya kecewa berat, tapi bagiku ini adalah awal yang baik buat aku dan iparku.

Nisa memiliki postur tubuh yang Semampai, ditambah rambut panjang dan senyumannya yang manis, membuat aku semakin yakin suatu saat bisa menggantikan posisi kakakku di hatinya. Akankah semua impianku tercapai?

Mari ikuti konflik percintaan yang menegangkan tapi indah ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qori Maret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pukul lima pagi, suasana masih gelap. Sebuah ojek online parkir di depan toko, sang empunya kemudian mengirim pesan kepada seseorang bahwa, dia sudah tiba.

Tak tunggu waktu lama, seseorang keluar dengan menarik kopor di tangan sebelahnya, sedang tangan yang satunya lagi menggandeng seorang anak kecil.

Mereka menghampiri ojek online tersebut.

"Pak, bawa kami ke mana pun, yang penting jauh dari sini.

Ia mendudukkan anaknya di tengah, ditutupi dengan jaket bulu, lalu ia segera menyusul duduk di belakang motor. Sang empunya motor pun tancap gas meninggalkan toko tersebut.

Hari semakin terang. Seorang Pria tampan nan gagah terbangun dari tidurnya. Ia menggosok-gosok mata dengan tangan, lalu, menoleh ke sampingnya, dimana seorang bocah tidur.

Kosong.

"Sayang, sudah bangun, ya."

Pria itu berbicara sendiri sembari berjalan ke kamar sebelah, memegang gagang pintu dan membukanya.

Kosong.

"Hah, Sayang? Kalian di mana?"

Ia jalan ke arah depan, menyisir setiap samping rak-rak buku yang berjejer.

Kosong.

"Apa kalian keluar untuk Olahraga pagi?

Tapi tidak mungkin. Nisa yang aku kenal selama ini kan tidak pernah keluar untuk berolahraga."

Mengingat sesuatu, ia pun berlari kembali ke kamar. Dibukanya lemari kecil di sudut ruangan.

Kosong.

"Sayang, kalian tidak boleh tinggalkan aku seperti ini! Sayang..!"

"Angkat, kak. Angkat!"

Ucapnya sambil menempelkan ponsel di telinga.

Suara dari seberang langsung terdengar.

"Ada apa? Kamu tahu? Aku sangat terganggu dengan bunyi ponsel ini. Kalau mau selesaikan masalah kemarin, nanti saja. Mami juga masih tidur."

"Kak, tolong aku. Nisa dan Bobi kabur."

"A...apa..aaa.. k..kam...u bil...ang?"

"Cepat, kak! Aku serius. Kita harus mencari mereka, sekarang.!"

"Belum sempat mencuci muka, Risal tak peduli itu. Pikirannya kacau, berharap anak dan mantannya tidak benar-benar pergi. Disambarnya kunci motor , lalu berlari ke luar.

Kurang dari lima menit, ia tiba di toko.

Reza memberikan kunci toko sama karyawan yang sejak tadi sudah datang. Ia panggil untuk masuk lebih pagi, karena ia harus mengurus hal penting, mencari kekasihnya yang kabur.

"Kakak ke arah Selatan, aku ke barat."

Kedua kendaraan beroda empat dan melaju dengan kencang. Setiap pinggiran jalan disisir semuanya oleh mereka, namun nihil.

Di tempat lain, Seorang wanita terus mengarahkan tukang ojek untuk singgah di setiap tempat, guna mencari kost-kostan yang kosong.

Wanita tua yang sedang menyapu dedaunan di bawah pohon berhenti beraktivitas saat dihampiri wanita muda yang cantik bersama seorang bocah.

"Nek, Saya mencari tempat tinggal. Apa masih ada kamar yang kosong?"

"Oh, tentu saja, nak. Masih ada tiga buah kamar kosong. Kalau mau lihat, sini nenek antar."

Nisa menyuruh tukang ojek untuk menunggu, siapa tahu kamar yang ia lihat tidak sesuai di hati.

"Maaf, Nak. Hanya begini kamarnya. Seratus lima puluh ribu per bulannya. Apa nak mau?"

Listriknya sudah nenek tanggung, tapi kamar mandinya umum. Dapurnya juga umum."

Nisa mengangguk tanda setuju. Kasihan anaknya kalau mereka harus putar lagi. Apalagi matahari sudah semakin panas.

Ia menghampiri tukang ojek tadi dan membayar uang sesuai permintaan si abangnya.

ojek pun pergi meninggalkan mereka.

"Nek, saya bayar untuk bulan ini dulu, ya."

Nenek tersebut menerima uangnya dan tersenyum sembari mengacak rambut Bobi.

"Mi, ini kamar baru kita? Kok kecil, sih? Lebih besar kamar di tokonya om Reza."

"Hus! Tidak usah banding-bandingkan, nak. Yang penting kamarnya bersih, tidak ada kecoak nya.

"Oh, Bobi takut kecoak." Dia melompat dan bergelantungan di lengan maminya.

"Sayang, ya ampun. Mami bilang kamarnya bersih, tidak ada kecoak."

Bobi tertawa lebar sambil memukuli lengan mami Nisa dengan manja.

Nisa sebenarnya berat untuk kabur, Karena dia belum menerima gaji bulan pertama kerja sama Reza. Hanya saja, dia tidak mau menunggu. Apalagi ATM miliknya saat masih menjalani pernikahan dengan Risal, tak bisa dibilang sedikit., meskipun tidak juga banyak. Bisa saja dia membuka usaha, karena uang di ATMnya berada di angka dua ratus juta. Sangat cukup untuk membuka usaha kecil-kecilan. Pembawaannya yang santai dan tidak gila belanja membuatnya cukup berhemat. Apalagi mantan suaminya adalah dosen yang gajinya lumayan besar, sehingga uang bulanan yang selalu suaminya berikan, ditambah bonus lainnya, malah dia tabung Sampai sebanyak ini.

Di tempat berbeda, Reza menelepon Risal.

"Kak, sebaiknya kita pulang dulu. Kita juga butuh istirahat. Aku sudah lelah sekali."

Mereka pun setuju untuk pulang sebab, hari semakin siang.

Mami yang sedang sendirian di rumah tiba-tiba mengingat cucunya.

"Bobi, maafkan Oma, ya. Oma sudah menyakiti perasaan mami kamu. Oma khilaf. Oma minta maaf."

Bisiknya pada diri sendiri sambil menghapus air matanya. Mungkin efek dari rumah yang begitu sepi, sehingga dia galau di siang bolong begini. Di sisi lain, dia juga belum tahu masalah yang menimpa Reza dua hari lalu. Belum lagi masalah kaburnya Nisa, dia tidak tahu.

"Tara..Makan siang sudah siap."

Nisa membangunkan Bobi yang sejak tadi kembali tidur. Tadi dia mengunci kamarnya dari luar, lalu pergi ke warung terdekat. Ternyata di sana tersedia nasi uduk dan telur mata sapi, ya jadilah santapan siang yang nikmat bagi mereka berdua.

Seusai makan, pintu diketuk dari luar. Seorang pria gagah berdiri di depan kamar sambil menenteng plastik kresek.

"Permisi, Mbak."

"Oh, maaf, kalau boleh tahu, ini dengan kakak siapa?" Nisa mengulurkan tangan berkenalan dengan pria asing di depannya.

"Maaf, aku Bagus, anaknya Asih (Nenek pemilik kost-kostan.) Tadi kata Ibu, ada orang baru yang ngekost di sini, dan saya disuruh mengantarkan ini, sekalian kenalan. Jelasnya sambil mengulurkan tangan.

"Oh, ya. Aku Nisa, dan ini anakku, Bobi.

kamu anaknya nek Asih?"

"Ya, dia Ibu saya."

Nisa pun mempersilakan Bagus untuk masuk.

Ia menerima pemberian ibu Asih lalu, membukanya. Ternyata itu martabak yang masih terasa panas.

"Ini ibumu buat sendiri, ya."

Nisa pun mengeluarkan martabat tersebut dan menaruhnya, seraya memakan sepotong demi sepotong, begitu juga Bobi. Anak itu lalu pergi ke luar kamar dan mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Kamar ini bersih dan sangat wangi, karena wanita tersebut sudah mengepelnya.

Setelah lama berbincang, Bagus angkat suara.

"Disini paling cocok kalau untuk membuka usaha. Dekat dengan jalan raya, ramai, pula.

"Iya, Kak. Aku juga sedang berpikir untuk membuka usaha. Apalagi di sini sangat ramai. Kira-kira menurut kakak, usaha apa ya, yang harus aku jalankan?"

"Kalau menurut aku, kamu buka kios kecil-kecilan saja."

"Wah, ide bagus, Kak. Aku juga sempat berpikir ke arah situ. Tapi masalahnya aku belum pernah usaha begituan."

Bagus pun meminta Nisa untuk tidak khawatir karena, dia akan sering membantunya dalam mencari stok-stok barang, juga membantu dalam menghitung untung ruginya.

Nisa bersyukur, bisa bertemu orang sebaik Bagus. Walau baru ketemu, tapi perasaan nyaman saat ngobrol membuat ia semakin yakin kalau Bagus sangat berbudi baik.

Bagus sendiri adalah anak satu-satunya Bu Asih. Ayahnya sudah meninggal belasan tahun yang lalu, dan Kost-kostan milik orang tuanya tidak sedikit. Tiga puluh kamar kost dan Sepuluh bangunan rumah sewa sangat cukup untuk menghidupi Bagus dan ibunya. Inilah alasannya sang Ibu tidak mau Bagus mencari pekerjaan lain agar, anaknya fokus menjaga perumahan ini, dan mengurusnya dengan fokus.

Tanpa Nisa sadari, Bagus Beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Dia mengagumi wanita muda ini, sangat santun dan sederhana.

"Maaf, Nisa. Kalau boleh tahu, ayahnya Bobi di mana?"

"Papinya Bobi seorang dosen. Kami baru resmi bercerai Minggu lalu, tapi sekalipun sudah cerai, dia Sangat sayang sama kami. Kami lebih memilih cerai karena aku adalah wanita yang dia nikahi sebagai pelampiasan rasa kecewanya sama kekasihnya. Setelah hampir tiga tahun pernikahan kami, kekasihnya malah datang dan masuk kembali ke dalam hidup mantan suamiku. Mungkin sekarang dia kebingungan mencari keberadaan kami, karena kami pergi secara diam-diam. Aku kesal sama mantan mertuaku."

Sampai di situ Nisa menjelaskan. Dia tidak ingin panjang lebar menjabarkan tentang dirinya, khawatir kalau Bagus salah paham dan menganggap adik iparnya, alias Reza yang membuat mereka bercerai.

Bagus sangat tertarik dengan kisah hidup Nisa. Tanpa disadarinya, ia dari tadi terus saja menatap Nisa. Ada perasaan aneh yang bergejolak di hatinya.

Dia sepertinya tidak terpaut jauh usianya dari Nisa. Umurnya dua puluh lima tahun, sedangkan Nisa dua puluh tiga.

"Kak, ini sudah siang sekali. Aku mau rencana pergi membeli kasur kebutuhan kami yang lainnya. Apa di sini ada tetangga yang memiliki mobil yang bisa kami sewakan?"

"Tak perlu sewa mobil, Nisa. Ada mobilku di rumah. Biar aku saja yang antar kalian. Lagian ini tidak ada kerjaan. Kadang bosan sendiri Sekarang kalian siap-siap, aku akan ke rumah sebentar untuk pamit sama ibu."

Bagus pun pergi ke rumah induk yang hanya berjarak seratus meter dari kamar Nisa.

Beberapa tetangga yang melihat orang baru ini begitu akrab dengan Bagus, mengira bahwa mungkin mereka kenalan dekat. terlihat dari keakraban mereka satu sama lain.

Risal menatap mami Ati sangat lama, lalu tertunduk dan pundaknya bergerak naik turun.

"Kamu menangis, nak?"

Wanita tua itu menggoncang pundak anaknya.

"Iya, Mi. Aku sedih campur kecewa. Aku kecewa sama semuanya.

"Nisa dan Bobi sudah pergi jauh."

"Kaa...mu...ngomong a...pa, nak?"

1
koen
ngasal aja ceritanya
Surati
bagus
Ulufi Dewi
maaf Thor cerita berbelit-belit
🅱︎𝐨𝐛
lanjut Thor
🅱︎𝐨𝐛
lanjut thor
🅱︎𝐨𝐛
Wow
🅱︎𝐨𝐛
wah
Nurul Adawiyah
wah ulat bulu
Aditya HP/bunda lia
dateng lagi ulat bulu
Nurul Adawiyah
nyaris
Qori Maret: Hehehe😃
total 1 replies
Aditya HP/bunda lia
untung saja
Aditya HP/bunda lia
heh .. Bobi jangan macem2 yah kan kamu udah punya pacar yang kerja di cafe itu
Nurul Adawiyah
Auto dijauhi sama Bobi tuh
Nurul Adawiyah
Ayi nggak selevel sama Bobi
Aditya HP/bunda lia
Nah ... ulah si ayi ternyata gimana tuh si Bobi pas nanti tau kelakuan si ayi ...
Aditya HP/bunda lia
si bobi kesambet apa sampe tergoda cewe modelan si ayi
Aditya HP/bunda lia
si Reza emang sangat keterlaluan amat sangat nisa juga gak mau kan anaknya hilang dan itu juga bukan sepenuhnya kesalahan Nisa tapi dia dengan emosi mengusir nisa dan melarang bisa kembali sama anaknya egois banget jadi laki pantas Nisa perlakukan si Reza begitu kurang malah Thor bikin lebih menderita lagi si Reza tuman gemes aku
Nurul Adawiyah
Namanya juga cowok.😂
Nurul Adawiyah
Lanjut, Thor.
Nurul Adawiyah
Semakin tua ya Nisa ku.😄😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!