Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Kebahagiaan Sederhana
Zoe membaringkan sang istri di atas kasur dengan hati-hati, lalu menyelimutinya dan melabuhkan satu kecupan singkat di kening.
"Bobo yang nyenyak, Sayang!" bisiknya. "Kasihan sekali istriku, pasti kecapean banget sampe ketiduran terus di mobil." Tangan Zoe mengusap pelan kepala Shena, sambil tersenyum dan mata yang tak lepas memandang wajah damai istrinya.
Selama dalam perjalanan baik ketika berangkat maupun arah pulang, entah kenapa Shena memang lebih memilih tidur ketimbang menikmati pemandangan yang sejatinya ia rindukan setelah sekian tahun menutup mata. Namun, hal itu tidak terlalu Zoe ambil pusing, dirinya mengira bahwa sang istri masih membutuhkan waktu untuk semuanya.
Di samping itu, berkat bantuan dari seluruh pekerja di rumahnya, Zoe dapat keluar-masuk rumah sembari membopong tubuh Shena dengan sangat mudah dan leluasa. Seluruh pelayan begitu kompak mengamati situasi rumah dan menyabotase CCTV. Meski sejujurnya Zoe sudah kesulitan menaruh percaya pada siapa pun, tetapi ia tak punya pilihan. Sebab setelah semua yang terjadi, Zoe hampir tak lagi bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.
"Terima kasih, semuanya. Kalian boleh pergi!" seru Zoe pada dua pelayan wanita yang berdiri di dekat pintu.
"Baik, Pak. Kami permisi!"
Setelah kedua pelayan undur diri, Zoe pun berbalik badan kembali menghampiri ranjang. Di seberangnya, berdiri seorang laki-laki berpakaian formal mengenakan snelli dan menunduk hormat kepada Zoe ketika dirinya selesai memasang selang infus sebagai bagian dari rencana.
"Kalau sampai semuanya bocor, maka aku tidak akan segan menyeretmu ke penjara, Dokter Andrew!"
Wajah Dokter Andrew tampak menegang, ia berdeham ringan sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Itu tidak akan terjadi, Pak Zoe. Percayalah, saya berada di pihak Anda!"
"Kita lihat saja nanti!" ucap Zoe sembari menepuk pelan bahu sang dokter.
Dokter Andrew sempat menelan kasar salivanya, lalu lanjut berpamitan dan meninggalkan pasangan suami-istri itu berduaan. Setelah pintu tertutup sempurna, Zoe yang semula duduk di samping Shena segera berdiri dan mengunci pintu. Ia lepas pakaiannya, kemudian membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah semua kegiatannya selesai, Zoe pun melilitkan sebuah handuk kecil untuk menutupi sang minions dengan kepala sedikit merunduk, tetesan air berasal dari rambutnya yang basah sesekali terjatuh mengenai perutnya yang memiliki enam kotak.
"Selesai ..., mari kita keluar!" ucapnya pelan sembari berjalan menuju pintu. Namun, tepat ketika tangannya hendak menyentuh gagang pintu, kepalanya tiba-tiba menoleh ke sebelah kanan, disertai bibir yang tersenyum menyebalkan ketika melihat pantulan dirinya melalui cermin.
"Oh, siapa di sana? Kok silau banget?" kata Zoe sambil menyipitkan mata. Laki-laki bertubuh atletis itu mengangkat tangan seolah sedang menghalau cahaya. "Ah, benar ..., itu aku!" Zoe tergelak, lalu setelah puas bercermin sambil mengeringkan rambut menggunakan hairdryer, ia pun menyudahinya dan benar-benar keluar.
Kenarsisan dalam diri Zoe yang dulu sempat tertimbun memang akhir-akhir ini mencuat ke permukaan seiring kembalinya sang pujaan hati. Rasa lega, bahagia, bercampur jadi satu seakan ia diberikan nyawa sekali lagi.
Selesai berpakaian lengkap, Zoe pun bergabung dengan Shena. Merebahkan dirinya secara perlahan lantaran tak ingin sampai mengganggu tidur pulas sang istri. Namun, tepat ketika ia menarik selimut, tiba-tiba saja Shena bergeliat dan perlahan membuka matanya. Gadis itu tersenyum dan menggeser tubuhnya bermaksud memberikan ruang pada Zoe.
"Maaf, Sayang, aku pasti ganggu tidur kamu, ya?" sesal Zoe. Ia urungkan niatnya untuk tidur dan memilih duduk menghadap Shena.
Shena menggeleng. "Nggak, Zoe, aku emang mau bangun, kok. Belum bersih-bersih. Gak enak badan aku lengket banget."
"Ayo!" kata Zoe sambil menyingkap selimut, salah satu kakinya bahkan sudah menyentuh lantai.
"Kamu mau ke mana, Zoe?"
"Bantu kamu bersih-bersih, Sayang," sahutnya dengan raut wajah bingung. Menurutnya, memang apalagi? Tentu ia akan membantu Shena membersihkan diri. Seperti yang biasa dilakukannya selama ini.
Shena menarik napas, lalu membuangnya perlahan. "Aku, kan, udah bilang. Kamu gak perlu lakuin itu lagi, sekarang aku udah sembuh, Zoe!"
"Nggak. Aku gak mau kamu kenapa-napa! Pokoknya aku ikut ke kamar mandi, titik!" ujar Zoe bersikeras.
Perdebatan pun terus berlanjut, sampai ketika terdengar bunyi ketukan pintu dari arah luar barulah mereka berhenti. Dengan sigap Zoe langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri.
"Diem dulu, Sayang! Ada yang dateng," bisiknya.
Shena menurut, matanya yang bulat semakin terlihat menggemaskan di mata Zoe ketika gadis itu sesekali mengerjap karena sempat terkejut dengan ulah sang suami.
"Pak, ini saya, Erli!"
Zoe dan Shena saling pandang, di balik selimut yang sama dengan lampu kamar temaram. Keduanya saling memeluk memberikan rasa nyaman dan hangat satu sama lain. Sadar akan situasi yang telah berhasil membuat Shena larut, Zoe pun kembali berbisik, "Mau, ya, aku bantu!"
Shena refleks mengangguk, lalu dengan gerakan cepat Zoe langsung memangku sang istri. Satu tangan Shena membekap mulutnya sendiri guna meredam pekikannya yang sempat lolos.
Seiring Zoe dan Shena sibuk dengan kegiatannya di dalam kamar mandi, Erlita yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar tampak kesal dan uring-uringan lantaran tak jua mendapat sahutan. Jam baru menunjukkan pukul sembilan malam, biasanya Zoe belum tidur dan ia bisa menemui laki-laki itu selagi dirinya mengecek keadaan Shena. Sambil menyelam, minum air, mencari ikan sekalian dengan kerangnya juga. Begitulah harapan Erlita.
"Ish! Pak Zoe ngapain aja, sih, di dalem. Kenapa pintunya pake dikunci segala?" gerutu Erlita.
"Pak, sekarang jadwalnya saya cek kondisi istri Anda! Apa boleh saya masuk?"
Hening, masih tak ada jawaban.
Erlita pun menempelkan telinganya ke daun pintu, coba mencuri dengar berharap bisa menangkap suara dari dalam sana. "Kok sepi banget!" Mulut gadis itu berdecak sambil menghentakkan kaki, lalu pergi dari sana dengan langkah gusar.
Di dalam kamar mandi, Shena sudah melucuti pakaiannya dan kini tengah berendam di dalam bath up. Meski mulanya ia kebingungan harus memulai dari mana. Namun, berkat bantun suaminya kini ia pun merasa lebih baik dan nyaman.
Air muka Zoe terlihat begitu santai, sesekali ia tersenyum di sela kegiatannya menggosok punggung sang istri. Akan tetapi, sumpah demi apa pun hatinya sudah benar-benar tak karu-karuan. Jantungnya berdegup kencang, disertai keringat yang memenuhi pelipis. Tangannya bahkan sedikit bergetar dan kalau ia tak menahannya, sudah pasti Shena akan menyadarinya.
"Kamu ... beneran terbiasa bersihin tubuhku pas lagi koma, Zoe?" tanya Shena.
Zoe sedikit tersentak, tetapi ia buru-buru menguasai diri tak ingin Shena tahu bahwa dirinya tengah ke lain fokus.
"Iya. Kita ..., kita udah jadi suami-istri. Kupikir udah sewajarnya aku yang merawatmu langsung, Sayang."
Shena mengangguk, kemudian timbul niat jail dalam dirinya di kala menangkap ketegangan di wajah sang suami.
Byurr! Shena menyiram wajah Zoe dengan segenggam air.
"Sayang!" kata Zoe dengan wajahnya yang basah. "Aku udah mandi, ih!"
Bukannya meminta maaf, Shena malah tertawa geli melihat raut suaminya yang cemberut seperti anak kecil.
"Oooh. Nakal kamu, ya! Mau main-main sama aku rupanya." Kali ini Shena berteriak, kemudian disusul tawanya yang renyah lantaran Zoe balas menyiramnya. Alhasil, keduanya pun lanjut bermain air.
Suara tawa keras tanpa beban menggema memenuhi kamar mandi. Sejenak, mereka melupakan kepedihan apa saja yang telah dilalui beberapa tahun ke belakang. Kini, Zoe dan Shena larut dalam kebahagiaan sederhana yang mereka ciptakan.
Tuhan, bolehkah kebahagiaan ini lebih lama kurasakan? Sebelum esok hari kembali datang dan melanjutkan kisah rumit yang belum usai.
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih