Dulu mencintaimu tidak ada dalam rencanaku. Namun suatu hari dengan alasan yang belum aku pahami, Tuhan menempatkanmu menjadi bagian terbaik hati dan pikiranku.
- Alerscha Febrian Dhanurendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan yang panjang
Pernahkah kamu mengalami kesedihan dalam hidup ini? Mungkin hampir setiap orang pernah mengalami kesedihan dalam hidupnya , mulai kesedihan yang ringan sampai kesedihan yang berat. Berbagai peristiwa menyedihkan dapat terjadi dalam kehidupan siapa pun, meskipun usaha untuk mengatasinya sudah dilakukan secara maksimal seperti penyakit berat, kelainan bawaan dan yang lainnya .Ketika menghadapi masalah kadang seseorang merasa tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, kehilangan semangat dan ia merasa sendiri.
Vy merasakan kesedihan itu, ini sudah hari ke-7 ia hanya berada di dalam kamarnya dengan jendela yang tertutupi tirai. Tidak seorang pun yang mampu menembus pintu kamar gadis itu, kecuali sosok mungil di depannya yang sedang duduk sambil meminum susunya.
Vy menatap dalam sosok bayi berusia 9 bulan di depannya yang kadang tertawa, bertingkah lucu dan juga ketiduran.
Sudah tujuh hari yang terlewati tanpa sosok Ryan dan Elena di rumah ini. Sudah tujuh hari lamanya Vy menjadi gadis yang sangat menyedihkan. Hari-hari berganti seolah menyayat bagian-bagian dari tubuh Vy, sakit sekali rasanya.
Ryan dan Elena dinyatakan meninggal di tempat dalam perjalanan menuju puncak. Hari itu Ryan dan Elena hendak menghadiri bakti amal, tapi takdir membawanya pergi sangat jauh, bahkan beda dunia.
Jangan tanyakan bagaimana Vy, seorang gadis yang masih sangat belia ini menghadapi kepergian kakak-kakaknya. Jika bisa, ia juga ingin menyerah pada kerasnya hidup juga pada kesakitan yang tiada habisnya. Vy bahkan lupa bagaimana cara menghirup udara yang benar selama kakaknya pergi.
Anak kecil itu merangkak menuju Vy, duduk dipangkuan Vy dan menyandarkan kepalanya pada dada Vy, seolah itu adalah tempat teraman dan ternyaman baginya.
Tangan Vy terangkat dan mengelus rambut tipis Arunika. Keberadaan Arunika di sisi Vy seolah menyadarkan gadis itu akan dunia yang sedang ia huni sekarang. Orang yang bertanggung jawab atas hidupnya sudah pergi jauh dan sekarang ada sosok kecil yang menggantungkan hidupnya padanya.
Dari luar, Aland, Alana dan Adriel tidak bisa berbuat banyak. Mereka tentu mengerti bagaimana keadaan Vy saat ini. Mereka sangat ingin menyalurkan energi mereka kepada sosok gadis di dalam sana.
"Apa Riel dobrak pintunya aja?" tanya nya frustasi.
Aland mengelus pundak anaknya.
"Tunggu sebentar lagi " katanya.
Jam sudah menunjukkan angka 5 sore, sore ke 7 setelah Ryan pergi.
Alana mengetuk pintu di depannya.
"Sayang, sudah waktunya Arunika untuk bersih-bersih" ucap Alana. Hal ini sudah ia lakukan sejak 6 hari yang lalu. Setiap pagi ia akan memberikan Arunika kepada Vy dan akan mengambilnya lagi saat sore hari. Hal itu ia lakukan agar Vy tidak merasa sendiri, seperti hari pertama kepergian Ryan dan Elena. Selama seharian gadis itu mengurung diri dan baru membuka pintu kamarnya saat mendengar tangisan Arunika. Namun setelahnya, ia kembali menutup pintu kamarnya saat Arunika sudah di sisinya.
Pintu kamar Vy terbuka. Alana sudah siap menerima Arunika.
"Dedeknya tidur" suara itu sangat lirih, nyaris tidak terdengar.
Alana memeluk sosok di depannya, keduanya terjatuh sambil berpelukan di pintu kamar.
"Sayang" Alana mengelus rambut gadis di depannya.
Vy menangis dalam diam, menyembunyikan wajahnya pada leher Alana.
Melihat Vy sudah membuka pintu kamarnya, Aland dan Adriel segera berdiri, hati mereka seakan remuk melihat dua perempuan itu melepaskan tangisannya.
"Adek" Adriel ikut memeluk Vy.
Tubuh Vy bergetar karena menangis. Ia seolah sedang melepaskan tangisannya yang ia tahan beberapa hari ini.
Aland mengusap air matanya yang jatuh, sosok lelaki berwibawa itu duduk bersandar pada dinding sambil mengelus punggung Vy yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
Entah sudah berapa lama mereka dalam posisi tersebut, Alana baru melepaskan pelukannya saat merasakan napas teratur Vy pada lehernya. Ternyata Vy sedang ketiduran.
Adriel mengangkat Vy memasuki kamar gadis itu, dimana Arunika juga tertidur di atas sana. Dengan sangat hati-hati Adriel meletakkan Vy di atas kasur. Tangan besar Adriel merapikan rambut Vy yang menutupi wajahnya. Lingkaran hitam pada mata, rambut yang tidak teratur dan wajah yang pucat seolah menjelaskan kesedihan yang Vy alami selama 7 hari ini.
"Anak kita nggak makan, yah" tangis Alana kembali pecah saat melihat piring-piring berisi makanan yang belum tersentuh.
Aland memeluk istrinya, menepuk pundak istrinya.
"Ayah, bagaimana kalau panggil dokter saja?" tawar Adriel.
Aland menggelengkan kepalanya.
"Biarkan adik kamu tenang dulu, nak." katanya.
Jam 9 malam, kamar Vy sudah kembali bersih. Tidak ada lagi piring-piring yang berisi makanan basi, juga tidak ada lagi barang-barang yang berserakan. Arunika sudah berada dalam pelukan Adriel. Lelaki itu memonopoli Arunika untuk tidur bersamanya.
Sementara Aland dan Alana tidur di sofa bed yang berada di depan kamar Vy.
✨✨✨
Hari ke-8 setelah kepergian Ryan.
Vy perlahan-lahan membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang menembus kaca jendelanya. Entah siapa yang membuka tirai di sana.
"Udah bangun rupanya" Alana mencium kening Vy, mengelus rambut perempuan itu.
Pandangan Vy masih sangat kosong, seolah tidak ada gairah hidup di dalam sana. Mata Vy turun melihat baju yang ia kenakan.
"Ibu yang ganti kok" kata Alana.
Mata Vy berkedip, seolah mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Alana. Ia memang belum mengganti baju selama 7 hari.
"Minum dulu hmm" Alana membantu Vy untuk duduk bersandar dan membantu gadis itu untuk minum.
"Dedek mana?" tanya Vy. Suaranya sangat kecil.
"Dedeknya sedang dijemur, sama Riel kok" jawab Alana.
Vy mengangguk mengerti.
"Ibu turun yah, ambil sarapan buat anak ibu yang cantik ini"
Vy menggelengkan kepalanya.
Alana tersenyum.
"Vy harus makan. Kalau nggak makan, nanti sakit. Kalau sakit, siapa yang akan jagain Dedek" Alana harus pintar-pintar memilih kata-kata yang akan ia ucapkan.
"Tunggu ibu yah, nggak lama kok" Alana mencium kening Vy sebelum meninggalkan gadis itu sendiri di dalam kamarnya.
Alana kembali ke kamar tidak sendiri, melainkan bersama Aland, Adriel dan juga si kecil.
Arunika tertawa saat melihat Vy, tangannya bertepuk, seolah sangat senang.
"Nah, sekarang makan dulu" Aland menyuapi Vy .
"Mam mam" oceh Arunika.
"Iya, aunty Vy lagi mam" Alana menemani Arunika bercakap-cakap.
Adriel tersenyum melihat adiknya sudah bisa makan. Tangannya mengelus rambut Arunika yang ada dipangkuan nya.
"Udah" ucap Vy saat melihat Aland hendak menyuapinya lagi.
Aland mengerti. Ia kemudian membantu Vy untuk minum.
"Jangan pernah merasa sendiri, ayah, bunda dan kakak Riel akan selalu berada di samping putri ayah yang cantik ini" Tangan Aland mengelus rambut Vy.
"Dan yang paling penting adalah, selalu ingat jika Arunika selalu membutuhkan kamu" sambung Riel.
sekali lagi maaf ya thor sbb dr awal baru x ni othor ada typo dlm nulis 🙏🏻😊. selebihnya othor hebat👌
makin kesini makin maniiiiis crt nya